Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Keberadaan
"Keberadaannya di sini tidak pernah aku harapkan. Tetapi sepertinya ini lebih baik, daripada meratapi kesedihan ini sendirian karena telah dicampakkan." ~Rey Lueic.
.
.
.
Gerakan ombak membuat kapal itu bergoyang pelan, ketika Rey dan Jovi sama-sama berhenti untuk melihat ke sekitar.
"Apa yang lelaki itu lakukan di sini?" tanya Rey tiba-tiba. Pandangannya menerawang jauh, memperhatikan pada barisan kapal yang berjejer rapi di depannya.
"Apakah yang Anda maksudkan adalah tuan Pedro, Tuan?" Jovi mencoba mengkonfirmasi.
Rey berdecak pelan, entah mengapa begitu kesal rasanya meski hanya mendengar nama lelaki itu mengudara. Dia tidak pernah berurusan dengan Pedro Viscout sebelum ini, dan Rey tahu benar seharusnya dia tidak bersikap demikian.
"Dia memiliki beberapa armada yang bersandar di sini," Jovi memilih untuk bersuara. "Seperti informasi yang kita terima, Tuan Pedro baru saja kembali dari Indonesia setelah beberapa tahun menghilang. Kini kabarnya, dia sedang menjalani pendekatan dengan salah satu putri dari keluarga Genneth."
Rey menolehkan pandangan dengan mata yang menyipit.
"Dia sedang menjalani perjodohan?" tanya lelaki itu memastikan.
Jovi menganggukkan kepala dengan takzim, lanjut memberikan penjelasan kepada Rey.
"Seperti itu yang saya dengar, Tuan," jelas Jovi lagi. "Tuan Pedro sempat melarikan diri tahun lalu guna menghindari perjodohan. Tetapi kali ini, sepertinya dia tidak bisa menghindar lagi."
Mata Rey masih menyipit, dengan sekelumit hal yang begitu saja hadir di benaknya.
"Jadi lelaki itu sedang menjalani sebuah perjodohan," gumam Rey hampir terdengar seperti lirihan. "Berani sekali dia menancapkan matanya pada perempuan lain, ketika ada perempuan yang harusnya dia perhatikan lebih baik sekarang."
Jovi mengangguk dengan sabar, meski lelaki itu tidak bisa mendengar jelas apa yang baru saja Rey katakan.
"Tetap awasi dia," perintah Rey kini. "Dan jika nanti dia mengirimkan undangan pernikahan, kau harus pastikan aku datang dengan hadiah terbaik."
Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, Rey sudah lebih dulu beranjak untuk pergi dari tempat mereka berhenti tadi. Tidak lagi melihat Jovi yang menganggukan kepala kini, Rey menuruni kapal itu dengan sangat hati-hati.
Menuju kabin utama, Rey mau tidak mau harus berhadapan kembali dengan perempuan yang tadi meninggalkannya sendirian.
Langkah lelaki itu terhenti, ketika ia melihat Luana duduk di salah satu kursi. Masih memandangi ke tempat yang sama, Luana tampak begitu cantik dengan senyum yang merekah di wajah mungilnya.
Menyeringai dari tempatnya berdiri sekarang, Rey masih berkacak pinggang. Memperhatikan gadis itu beberapa saat, sebelum kemudian ia melangkah untuk bergabung dengan istri palsunya tadi.
"Lihatlah bagaimana kau tersenyum setelah berteriak kepadaku," cibir Rey mendekat, mengambil posisi untuk duduk di sofa tepat di depan Luana.
Sedikit terkejut, Luana sempat tersentak kecil.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya perempuan itu penasaran, seakan tidak mengindahkan cibiran Rey yang menyapanya dengan kalimat tidak biasa.
"Kini kau bahkan bertanya ke mana kita akan pergi? Yang benar saja!"
Sepertinya sang bangsawan belum terima akan perlakuan Luana tadi, saat kini ekspresi wajahnya menunjukkan mimik dingin.
Luana menarik napas perlahan-lahan, tidak ingin merusak mood bagus yang baru saja dia rasakan.
"Apa kau masih marah?" Gadis itu bertanya dengan ekspresi wajah yang disetting sepolos mungkin.
Luana tidak ingin hubungannya dengan Rey memanas karena perselisihan, sebab dia sudah berencana untuk menikmati pelayaran ini sepenuh jiwa raga.
Rey melipat kedua tangan di depan dada, memperhatikan lekat bagaimana Luana kini menampilkan satu senyum di sudut bibirnya.
"Aku hanya bercanda!" kata Luana melanjutkan. "Habisnya kau selalu berteriak kepadaku, padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia yang meminta nomor ponselku, dan aku hanya menjawabnya dengan kebenaran."
Rey tahu. Lelaki itu tahu bahwa Luana tidak melakukan salah apa-apa tadi, karena diam-diam ternyata Rey memperhatikan apa yang terjadi antara Luana dan Pedro dari sisi yang lain.
Mengambil jeda beberapa detik, Rey juga berusaha untuk memadamkan rasa kesal yang masih bercokol di dalam hatinya. Kesal karena kini ada seseorang yang berteriak kepadanya sesuka hati, padahal perempuan itu baru saja masuk ke kehidupannya tidak lebih dari 42 jam yang lalu.
"Lupakan," sahut Rey kemudian. Bola mata lelaki Itu menyelidik. "Tetapi apakah itu benar? Bahwa kau tidak memiliki ponsel?"
Luana hampir tertawa. Ternyata tidak hanya Pedro saja yang tidak percaya, tetapi Rey juga.
"Itu benar, aku memang tidak punya ponsel," kata gadis itu jujur. "Aku terlalu sibuk di kehidupan nyata, sehingga tidak memerlukan alat seperti itu."
Kening Rey berlipat untuk beberapa saat, ketika kini ia tampak terperangah dengan jawaban yang dilontarkan Luana.
Di zaman seperti ini, sungguh aneh rasanya jika seseorang tidak memiliki perangkat komunikasi. Terlebih, untuk seorang wanita bangsawan seperti Luana.
"Sekarang giliranmu," Luana gantian bersuara. "Ke mana kapal ini akan berlayar?"
"Tidak jauh," jawab Rey cepat. "Hanya mengelilingi satu pulau yang ada di depan sana, tetapi kita mungkin akan kembali besok sore."
"Kita akan ke pulau?!" Luana setengah berseru. Tetapi kali ini gadis itu berseru bukan karena amarah, melainkan karena rasa senang yang menyelimutinya.
Rey mengangguk dua kali, memperhatikan bagaimana Luana menunjukkan ekspresi yang 180° berbeda saat mereka berselisih tadi.
Kini wajah cantik itu semakin tampak bersinar, dengan senyum yang sama sekali tidak hilang dari sana.
"Kau begitu senang?" tanya Rey kali ini.
"Tentu saja!" Luana mengedarkan pandangan ke sekitar, saat kini kapal pesiar berukuran mini itu sudah mulai bergerak meninggalkan pelabuhan.
Suara debur ombak menjadi backsound yang terdengar, dengan cuitan burung yang terbang bebas di langit atas sana.
"Kita akan menginap di pulau itu malam ini," jelas Rey memberitahu. "Kuharap kau tidak membuat kekacauan, karena ada pesta kembang api yang harus aku hadiri malam nanti."
Luana mendengarkan dengan seksama, disusul dengan anggukan kepala kemudian.
"Aku bisa tinggal," kata gadis itu. "Tetapi jika kau mengijinkan, maka aku akan ikut dan hanya berdiam diri memperhatikan kembang api saja."
Rey tampaknya setuju, sebab seharusnya memang seperti itu yang terjadi. Dia tidak mungkin meninggalkan Luana, sebab perempuan itu ada di sana bersamanya.
Perjalanan ini sudah dipersiapkannya dari jauh-jauh hari, dan Rey tidak ingin membatalkan sebab undangan pesta kembang api itu juga sudah disanggupinya sejak beberapa bulan lalu.
Bagaimanapun dia harus datang dan menunjukkan wajah di sana, demi mempertahankan eksistensi yang telah ia bangun.
Kini bangkit dari tempatnya duduk tadi, Rey berdiri tegak untuk berencana menuju salah satu lemari di dalam kapal.
Tepat saat lelaki itu hendak berbalik, suara Luana menahan langkahnya.
"Kenapa kau mempersiapkan perjalanan ini, Tuan Rey?" tanya Luana.
Gadis itu mendongak untuk menatap pada Rey, mencari jawaban atas pertanyaan yang begitu saja terlontar.
Dua pasang bola mata itu saling bertautan, ketika Rey mencoba memilah-milih kata untuk menjawab pertanyaan Luana.
Mengawali dengan satu deheman, Rey menyeringai dari sudut bibirnya.
"Ada dua alasan kenapa aku membawamu ikut serta dalam pelayaran ini," kata Rey. "Pertama, karena pelayaran ini seharusnya menjadi hadiahku untuk Beatric, dan kau di sini untuk menggantikan dia."
Luana mendadak gagu, tepat ketika Rey membiarkan nama Beatric mengudara di antara mereka.
Tatapan mata perempuan itu tidak melemah sama sekali, tetapi ia dapat melihat dengan jelas sinar sendu yang kini terpancar dari bola mata Rey.
"Dan yang kedua," sambung Rey lagi. "Aku mungkin tidak menginginkan kehadiranmu, tetapi setidaknya aku tidak ingin sendirian setelah aku dicampakkan."
Begitu saja mengayun langkah, Rey sudah bergerak dari hadapan Luana.
Meninggalkan gadis muda itu dengan gemuruh di dadanya, saat ia hampir saja lupa bahwa eksistensinya tidaklah nyata.
Sebab seharusnya Beatric-lah yang berada di kapal ini, bukan dirinya.
.
.
.
~Bersambung~
Hi, cerita ini update 2 hari sekali ya! Maafkan karena kemampuanku masih segitu, semoga pembaca bersabar demi menantikan kelanjutannya. Again, kesibukan di dunia nyata jadi alasannya. Semoga kita sehat selalu yaaa ❤️
REYANA COUPLE NUMPANG LEWAT SIKIT, WKWKWKW.
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar