Tiara adalah istri pendiam yang selalu dihina Bima karena hanya memiliki toko roti kecil dan belum bisa memberi anak. Saat Bima berselingkuh dan merendahkannya, Tiara diam-diam bangkit membangun usaha hingga sukses besar. Ketika hidup berbalik—Tiara naik, Bima jatuh—lelaki itu menyesal dan ingin kembali.
Namun Tiara yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa diinjak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 24 Tiara Ada di Macau
Lolita sekitar jam tiga sore masih melayani pembeli di tokonya yang terletak di tengah pasar, menjual berbagai macam kebutuhan sembako. Suasana pasar yang ramai membuat Lolita sampai kewalahan. Deretan karung beras, minyak, gula, dan barang dagangan lain hampir ludes diserbu pembeli. Keringat membasahi pelipisnya karena kelelahan, tetapi senyum yang disunggingkannya terasa hambar, menyimpan kepedihan hati yang ia pendam rapat-rapat. Toko sembako miliknya, yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, kini terasa seperti panggung sandiwara.
Tiba-tiba, Bima muncul dari keramaian lorong pasar dan masuk ke dalam toko dengan langkah santai dan wajah pongah seolah-olah tidak ada masalah, mewajarkan sesuatu yang terjadi hari ini. Lolita menarik napas panjang. Pria ini, suaminya, yang seharusnya membantu dan bertanggung jawab, malah menjadi beban dan sumber kekecewaan. Bima mendekat, mengabaikan tatapan beberapa pembeli yang masih tersisa.
"Sayang, kamu capek ya? Maaf sayang saya kesiangan, kamu sih tidak bangunin aku," ucap Bima dengan nada manja dan sok akrab, seolah-olah dirinya benar-benar tidur semalam suntuk di rumah mereka. Sebuah kebohongan yang membuat Lolita muak, tetapi ia memilih untuk bermain. Ia tahu betul Bima tidak pulang, melainkan menghabiskan malam dengan selingkuhannya, Dona. Namun, saat ini, ia ingin Bima merasa berada di atas angin, sebelum ia menjatuhkannya perlahan.
Lolita hanya tersenyum tipis, senyum yang menyimpan ribuan rencana balas dendam. Dia akan bermain sandiwara dengan suaminya itu. Padahal Lolita juga tahu kalau Bima tidak pulang, tidur di rumah, tapi saat ini seolah-olah dirinya yang bersalah. Ia berpura-pura menerima alibi murahan Bima.
"Maaf sayang, aku tadi pagi terburu-buru sehingga lupa bangunin kamu," ucap Lolita seolah percaya begitu saja. Matanya memancarkan kepolosan palsu.
Bima tersenyum penuh kemenangan. Ternyata mengelabui istrinya sangat gampang, pikirnya. "Yes, Lolita tidak marah, berarti dia tidak tahu," batin Bima sambil tersenyum lebar. Ia merasa dirinya cerdas dan Lolita adalah istri yang lugu dan mudah dibohongi. Rasa bersalah? Nol. Yang ada hanya kepuasan karena berhasil lolos dari masalah.
Bima menyandarkan tubuhnya ke rak karung beras, pandangannya menyapu isi toko. "Sayang, aku laper," keluh Bima, seperti anak kecil yang merengek minta jatah makan.
Lolita menatapnya dengan wajah yang dibuat-buat kuyuh dan lelah. "Ohh iya sayang, aku lupa. Kamu makan Indomie saja ya," ucap Lolita.
"Loh, kenapa sayang? Kenapa cuma Indomie?" Tanya Bima panik. Suara paniknya sangat kentara. Makanan enak dan instan adalah hadiah yang ia harapkan setelah semalam bersenang-senang.
Lolita menghela napas yang dramatis, memegang kepalanya seolah pusing tak tertahankan. "Iya sayang, toko ini dulunya saya utang sama rentenir, dan saya telat bayar bulan ini. Mereka datang tadi pagi dan mengambil hampir semua uang kas, akhirnya keuangan toko berkurang drastis," Lolita kembali berdrama. Kali ini, sandiwaranya lebih serius dan menyentuh inti permasalahan Bima: Uang. Utang fiktif ini adalah senjata Lolita.
Seketika, wajah Bima berubah masam. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar. Seluruh rencana manisnya untuk makan besar dan beristirahat sirna. Dia pulang karena lapar, dan uang yang dia ambil semalam dari laci kas toko sudah habis tak bersisa. Semua sudah ia hamburkan untuk Dona, selingkuhannya, membeli tas impiannya dan berfoya-foya siang ini. Rentenir? Utang? Itu berarti tidak ada uang sisa untuknya.
Mau tak mau, Bima harus menelan harga dirinya bersamaan dengan sesuap demi sesuap mie instan yang dibuatkan Lolita. Ia makan di pojokan toko sembako dengan wajah kurang semangat, terlihat jelas kekecewaan dan kemarahan karena rencananya gagal total. Lolita berdiri di depannya, menatap suaminya yang makan dengan lesu, dan dia tidak peduli hal itu. Menurutnya, tidak ada gunanya baik hati sama laki-laki tukang selingkuh. Lolita hanya melanjutkan pekerjaannya melayani beberapa pembeli yang tersisa, membiarkan Bima terpuruk dalam rasa laparnya.
Sementara di tempat lain, Farrel sedang uring-uringan di kantornya yang mewah. Ia adalah kekasih Tiara , dan sejak beberapa hari lalu, ia tidak bisa menghubunginya. Bagaimana tidak? Tiara, semenjak kejadian kesalahpahaman , menolak semua panggilannya. Lebih parah lagi, semua urusan yang seharusnya ia tangani berkaitan dengan tokonya—Toko Roti kini diserahkan sepenuhnya kepada karyawannya.
Farrel merasa sangat frustrasi dan bersalah.
Ia baru saja selesai menyelidiki sebenarnya apa yang terjadi saat itu—ketika ia melihat Bima dan seorang wanita. Ternyata Bima berselingkuh dengan orang lain, dan Lolita yang menuduhnya tanpa bukti karena mengira Tiara adalah selingkuhan Bima. Hati Farrel mencelos.
Seharusnya kemarin ia tidak meninggalkan Tiara, tidak meragukannya. Pasti Tiara sangat kecewa dan terluka karena tuduhan tak berdasar tersebut, apalagi ia tidak membelanya. Kesalahpahaman itu kini menghantuinya.
Farrel membanting ponselnya ke meja. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas. "Kamu tahu di mana Tiara berada?" tanya Farrel dengan nada penuh desakan kepada Fandi, asisten pribadinya.
Fandi, yang sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi, menunduk. "Tidak menemukan apa pun, Bos. Tapi Tiara..."
"Tiara kenapa?!" potong Farrel dengan cepat. Ia tidak bisa bersabar lagi. Pikirannya terlalu rumit.
Entah kenapa, dirinya tidak bisa melepaskan Tiara. Kepergian Tiara meninggalkan lubang besar dalam hidupnya. Fandi tampak keheranan melihat bosnya uring-uringan, tetapi ia takut ikut campur dalam urusan pribadi bosnya.
Tiara hilang kabar, tidak diketahui di mana keberadaannya. Karyawan toko roti pun tidak tahu Tiara ke mana. Semenjak kejadian di Toko Roti, Tiara tidak lagi kelihatan. Rumahnya pun kosong melompong. Seolah-olah Tiara telah menghilang tanpa jejak.
Farrel tidak kehabisan akal. Ia segera menggunakan semua koneksi dan sumber daya yang ia miliki. Ia memeriksa semua daftar penerbangan di hari ini, tetapi tidak ada namanya di daftar manifes. Farrel memeriksa semua hotel—tidak ada pula keberadaan Tiara yang terdaftar. Setiap jejak yang ia coba ikuti menemui jalan buntu.
Farrel lupa jika Tiara memiliki jiwa yang bebas dan impulsif, dan dia pergi ke mana saja tanpa bisa dicegah. Sama seperti saat ini, tanpa ia ketahui, Tiara lagi transit di Singapore untuk melanjutkan perjalanan ke Macau. Farrel tidak mendapatkan informasi detail karena ia tidak mengetahui Nama lengkap Tiara. Selama ini, ia hanya memanggilnya "Tiara," dan data resmi di imigrasi mencantumkan nama lengkap.
Tiara memasuki pesawat, duduk di kursi dekat jendela. Dia tidak peduli apa pun itu. Menurutnya, jika dia tidak bisa mendapatkan kepercayaan orang lain, maka lebih baik ia membebaskan dirinya sendiri, menjauh dari semua keruwetan emosi dan kesalahpahaman.
"Enak juga liburan seorang diri," gumamnya pelan sambil menyamankan posisi duduk. Ini adalah pertama kali ia ke luar negeri, dan ia langsung memilih Macau karena paspor Indonesia masih bebas visa. Sebuah pelarian yang ia putuskan dalam waktu singkat.
"Bahagiakan diri sendiri selagi mampu, terbang ke mana saja selagi mampu," ucap Tiara, suaranya dipenuhi ketenangan. Ia melihat awan-awan yang menakjubkan di langit yang biru, berjanji pada dirinya sendiri untuk menikmati setiap detik kebebasan ini.
Setelah kurang lebih mengudara selama empat jam, akhirnya pesawat mendarat mulus di bandara Macau International Airport. Tiara tak lepas tersenyum. Menurutnya, kebahagiaan itu harus dijemput sendiri.
Selesai proses imigrasi yang lancar, akhirnya Tiara melanjutkan perjalanannya menuju hotel yang dia booking sebelumnya. "Selamat datang di Macau," ujarnya ke girangan.
Dia telah membuat paspor dadakan dan membeli tiket dadakan. Jangan tanya kenapa cepat sekali dapat paspor; jawabannya adalah karena dia memiliki tujuan yang jelas dan lewat jalur percepatan.
Sesampainya di hotel, ia segera check-in lalu memutuskan untuk istirahat sejenak. Sekarang adalah musim gugur di Macau, dan sekarang sudah malam. Ia akan makan malam di sekitar hotel saja.
Farrel meraih ponselnya dengan cepat. Jantungnya berdebar. Pesan itu dari seorang yang juga sedang berlibur ke Macau , "Tiara ada di Macau," bunyi pesan singkat di bawah foto-foto itu. Farrel menatap foto itu lama sekali. Campur aduk rasa lega, cemas, dan tekad memenuhi hatinya. Jarak jauh bukanlah halangan. Ia harus memperbaiki kesalahannya.
"Fandi, siapkan penerbangan paling cepat ke Macau. Sekarang!" perintah Farrel, suaranya kembali dipenuhi otoritas, tetapi kini dengan urgensi yang berbeda.
"Siapakah yang mengirim pesan ke Farrel?