Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah#2
*
*
"Kamu membuatku hilang kesabaran, Sofia!!" balas Satria, berteriak. Pria itu melepaskan jas yang menempel ditubuhnya, melonggarkan dasi dan melepaskannya, melemparnya ke sembarang arah.
Sofia terkesiap, mendapati Satria yang berjalan menghampirinya. Dengan wajah memerah. Rahangnya mengeras. Sorot matanya tajam seperti singa lapar yang siap menerkam mangsa. Melepaskan pakaian yang tersisa di tubuhnya.
Tanpa basa-basi pria itu segera menjatuhkan tubuh tingginya di atas tubuh Sofia, menindihnya. Mengurung Sofia hingga perempuan itu tak bisa berkutik.
Hanya kedua tangan kurusnya yang mampu menahan dada Satria agar tak menempel erat dengan miliknya. Dengan tenaga yang tersisa, Sofia berusaha menghalangi Satria dari tubuhnya. Berusaha menjauhkan dirinya.
Namun, semakin dia berusaha menjauh, semakin beringas juga usaha pria itu untuk terus memaksanya. Hingga tenaganya hampir habis, tetap tak mampu melepaskan diri. Sofia masih berada dibawah kungkungan tubuh tinggi Satria.
Bahkan tangannya kini sudah dalam kendali pria itu. Sebelah tangannya menahan kedua tangan Sofia diatas kepalanya, sementara tangan yang lainnya mencoba melepaskan satu demi satu pakaian yang melekat di tubuh perempuan itu. Merobeknya hingga semua benar-benar terlepas.
Sofia kembali berteriak. Namun Satria segera membungkamnya dengan ciuman kasar dan dalam. Menghisap bibir perempuan itu sangat kuat, membuatnya merintih keras dengan mata terpejam. Kesakitan.
Tangannya bebas menyentuh setiap lekuk tubuh dibawahnya. Meremat apapun yang dia temukan.
Entah kenapa melihat Sofia dalam keadaan seperti itu membuat Satria begitu kalap. Hasratnya meningkat begitu saja ketika mendengar rintihan perempuan dibawahnya. Apalagi ketika Sofia terisak dengan deraian air mata, membuatnya ingin segera menghabisi perempuan itu.
Sofia hampir menjerit ketika tanpa aba-aba Satria memasukinya sekaligus. Tubuhnya bergetar menahan sakit. Isakan kemudian lolos lagi dari mulutnya. Tenaganya bahkan sudah habis, bahkan untuk memohon agar Satria menghentikan hentakannya.
Rasanya sakit.
Yang terdengar hanya isakan, sesekali rintihan terdengar. Sofia memejamkan matanya, menahan segala rasa yang berkecamuk dalam dada. Tetesan demi tetesan air mengalir dari sudut matanya. Jatuh membasahi pipi hingga mengalir ke tempat tidur dibawahnya.
"Kak Niko, ..." Sofia setengah berbisik dalam tangisannya.
Satria terus menghentak dengan menatap wajah sembab yang juga mulai mengalihkan pandangan kearahnya. Tatapan mereka bersirobok. Mata kelam Satria menatap tajam wajah tirus Sofia yang matanya memerah hampir bengkak.
"Kak Nik-ko, ..." rintihan Sofia lagi, dengan air mata yang terus mengalir.
Dejavu menghantam kepalanya, Satria seperti menatap wajah gadis kecil berumur delapan tahun yang sedang menangis dibawah kungkungannya. Kening pria itu mengerut, matanya mengerjap-ngerjap.
Wajah gadis kecil itu masih mendominasi pandangannya. Fia kecil yang tengah menangis merana, memudarkan hasrat yang sempat menggulung akal sehatnya.
Tiba-tiba Satria berhenti menghentak. Melepaskan miliknya dari tubuh Sofia. Napasnya yang memburu berangsur menghembus teratur. Dia tertegun, masih menatap sosok dibawahnya. Fianya, yang tengah menangis tersedu.
Pria itu segera bangkit dan menjauh dari tubuh telanjang Sofia. Kemudian duduk ditepi ranjang. Memegangi kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu di paha.
Satria tersadar.
Kemudian bangkit, menyelimuti tubuh telanjang Sofia dan dengan segera berjalan ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk meredam hawa panas yang tersisa.
Sementara Sofia semakin terisak, meringkuk dibawah selimut.
*
*
Setelah hampir satu jam berada di dalam kamar mandi, Satria keluar dengan keadaan setengah basah. Pria itu hanya mengeringkan tubuhnya secara asal. Kemudian mengenakan bathrobe yang menggantung di capstock.
Sejenak pandangannya tertuju pada sosok yang meringkuk dibawah selimut.
Sofia terlelap. Setelah menangis begitu lama, perempuan itu tertidur begitu saja. Kelelahan setelah menangis dan memberontak.
Satria berjalan pelan mendekati ranjang dimana Fianya terlelap. Menatap wajah Sofia yang matanya membengkak.
Apa yang baru saja aku lakujan?
Satria memejamkan matanya, penyesalan menyeruak dalam dada.
Pria itu segera naik ke tempat tidur, menatap wajah polos Sofia yang masih menyisakan bekas tangisan, menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah dan lehernya. Menatanya penuh penyesalan, kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
Satria membaringkan tubuhnya tingginya disamping Sofia. Merangkul tubuh lemas yang tertidur lelap itu. Memeluknya dengan erat. Sesekali menciumi pundak telanjang perempuan itu.
"Maaf, maaf, ..." bisiknya, sebelum akhirnya diapun jatuh tertidur juga.
*
*
*
Sofia membuka matanya perlahan. Mengerjap berkali-kali. Kepalanya terasa pening. Kedua matanya sakit. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Terakhir kali Satria meninggalkannya dalam keadaan telanjang, menangis tersedu.
Satria!!
Perempuan itu bangkit, melihat sekeliling ruangan yang temaram.
Sepi. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang selain dirinya.
Sofia mencoba berdiri, seluruh tubuhnya terasa sakit dan pegal, sisa pemberontakan tadi malam. Dia mencoba kembali mengingat, apa pria itu berhasil menyetubuhinya?
Terakhir yang dia ingat, Satria menghentikan aksinya secara tiba-tiba kemudian masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu dia tak ingat lagi. Entah karena tidur atau pingsan.
Perempuan itu mencari pakaiannya yang semalam dilempar Satria kesembarang arah. Dan kecewa setelah menemukan pakaian yang seluruhnya telah terkoyak terongok dibawah ranjang. Tak bisa dipakai lagi.
Laki-laki itu, sungguh menakutkan ketika sedang benar-benar marah. Padahal aku hanya menolak pergi bersamanya. Bukan merupakan kesalahan fatal, kurasa. Tapi kenapa dia sebegitu marahnya?
Tubuh Sofia merinding mengingat kejadian tersebut. Ingat betapa beringasnya Satria, sepertinya dia orang yang mampu menghancurkan apapun ketika sedang marah. Dia bergidik ngeri.
*
*
Pintu terbuka dari luar. Satria menyembulkan kepalanya, mengintip keadaan didalam suitroom yang masih temaram. Kemudian masuk, dengan menenteng dua buah paperbag besar dan satu paperbag berukuran kecil.
Pria itu berjalan pelan takut membangunkan penghuni suitroom nya kalau-kalau perempuan itu masih tertidur.
Satria tertegun menatap ranjang yang kosong. Sofia tak disana. Hanya selimut dan bantal yang teronggok berantakan.
"Fia?" panggilnya, dan segera mencari perempuan itu ke setiap ruangan. Nihil.
Sofia tidak mungkin kabur. Dia takan mungkin bisa keluar tanpa keycard. Pintu itu sudah di disain sedemikian rupa sehingga hanya dengan keycard saja orang bisa membukanya.
Satria mulai panik. Kembali menyisir setiap ruangan yang ada di dalam suitroom nya itu. Kalau-kalau Fia nya bersembunyi. Tapi dia tak menemukannya. Hingga lambaian tirai dari pintu balkon yang terbuka membuatnya tersadar, Satria segera berlari mencapai balkon.
Dan disanalah dia, duduk meringkuk disudut teras dengan hanya mengenakan bathrobe putih miliknya. Sofia duduk mengkerut dengan kedua tangan memeluk kaki yang ditekuk.
Satria merasakan hatinya mencelos. Dia pasti ketakutan.
"Fia, ..." Satria bergumam. Setengah berlari menghampiri perempuan itu.
Sofia mendongak mendengar seseorang memanggil namanya, namun segera merapatkan tubuhnya ke tembok ketika melihat siapa yang datang.
Bayangan kejadian semalam ketika pria itu meledak membuatnya ketakutan. Sofia mengkerut begitu rapat ke tembok. Berusaha melindungi dirinya, memeluk tubuhnya sendiri ketika pria itu telah berada di dekatnya.
"Fia, ..." Satria berusaha menyentuh bahu perempuan itu. Sofia menghindar.
"Fia, .." kini mencoba menarik lengannya, terlihat pergelangan tangannya yang membiru bekas cengkeramannya semalam.
"Ampun, ..." Sofia berbisik, suaranya parau.
Satria menghela napas dalam.
"Ampun, Fia nggak akan mengulanginya, pih ..." katanya lagi, terisak. Wajahnya mendongak dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.
Satria segera menarik tubuh ringkih Sofia, mengangkatnya, kemudian membawanya masuk ke dalam. Membaringkan tubuh Fianya di tempat tidur.
*
*
Bersambung ...
like
koment
vote
biar aku makin semangat!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭