Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Beban Kekaisaran
Malam telah larut, kegelapan pekat menyelimuti Istana Naga yang megah. Namun, di aula singgasana yang luas, cahaya remang-remang dari puluhan lentera giok masih benderang, menerangi sosok Kaisar Tianfei. Dia duduk tegak di singgasana naga yang menjulang tinggi, ukiran naga emas melilit sandarannya, seolah memancarkan aura keagungan yang berat.
Di sampingnya, hanya ditemani oleh dua sosok bayangan yang setia: Jenderal Agung yang gagah perkasa dengan baju zirahnya yang gelap, berdiri tegap bagai pilar, dan Kasim Utama yang tua dan kurus, bergerak nyaris tak bersuara.
Kaisar Tianfei, dengan wajah yang tampak lelah namun penuh konsentrasi, tenggelam dalam kertas demi kertas yang disodorkan Kasim Utama tanpa henti. Tumpukan dokumen di sisi kanannya seolah tak ada habisnya, dan yang sudah selesai dibaca menumpuk di sisi kirinya.
Dia membaca satu per satu, dengan teliti, setiap laporan dari ujung-ujung kekaisaran, setiap petisi dari rakyat jelata, setiap memorandum dari para menteri.
Alisnya yang tebal sesekali mengernyit, menandakan kekhawatiran atau ketidakpuasan. Mungkin laporan tentang pemberontakan kecil di perbatasan barat, atau keluhan tentang kekeringan di provinsi timur. Sesekali pula, dia menghela napas dalam, sebuah desahan berat yang menyiratkan beban kekaisaran di pundaknya.
Kaisar ini seolah tak mengenal lelah, membiarkan dirinya sepenuhnya larut dalam lautan informasi, mencoba memahami setiap denyut nadinya. Dalam keheningan malam yang pekat, di bawah tatapan patung-patung naga yang menjulang, Kaisar Tianfei adalah perwujudan tanggung jawab, seorang pemimpin yang memikul seluruh berat takdir Kekaisaran Tianlong di bahunya yang perkasa.
Kaisar Tianfei menghela napas panjang, tatapannya menyapu tumpukan laporan di hadapannya. Dia merasakan dengan pahit betapa memimpin kekaisaran ini menjadi semakin berat. Setiap lembar kertas adalah gambaran beban yang harus ia pikul.
Dulu, kekaisaran adalah simbol kejayaan, namun kini, setiap harinya diisi dengan kabar buruk. Ada pemberontakan yang muncul bagai jamur di musim hujan, memaksa legiun kekaisaran berdarah-darah untuk menumpasnya. Di perbatasan, denting pedang dan pekik perang tak pernah reda, menguras sumber daya dan nyawa prajurit.
Belum lagi intrik politik istana yang tak berkesudahan, tikaman dari belakang yang jauh lebih berbahaya daripada musuh di medan perang.
Para menteri saling sikut, faksi-faksi saling menjatuhkan, membuat kebijakan kekaisaran seringkali berjalan tersendat, bahkan melenceng dari tujuan mulia. Kaisar Tianfei merasa seperti berada di tengah badai, mencoba menjaga kapal raksasa ini agar tidak karam.
Kaisar Tianfei tak bersuara, hanya suara napasnya yang berat kadang terdengar jelas di keheningan aula. Matanya menelusuri laporan demi laporan, mengabaikan tumpukan lainnya yang menunggu sentuhannya. Dia berhenti pada satu gulungan, dahinya berkerut dalam. Sebuah gumaman pelan, nyaris tak terdengar, meluncur dari bibirnya:
"Potensi pemberontakan di wilayah barat..."
Pikirannya segera melayang ke sana. Wilayah barat, sebuah provinsi yang luas dan kaya sumber daya, selalu menjadi titik rawan. Laporan intelijen menyebutkan adanya ketidakpuasan yang membara di antara klan-klan kultivator lokal, yang merasa pajak terlalu tinggi dan otoritas kekaisaran terlalu menekan.
Desas-desus tentang seorang pemimpin karismatik yang mulai mengumpulkan pengikut, berbicara tentang kebebasan dari tirani ibu kota, telah sampai ke telinganya. Ada juga laporan tentang kelaparan sporadis di beberapa distrik terpencil karena praktik penimbunan oleh pejabat korup, yang semakin memicu kemarahan rakyat.
Jika potensi ini meledak menjadi pemberontakan skala penuh, kekaisaran akan menghadapi masalah besar di tiga sisi perbatasan, dan ini bisa menjadi pukulan telak yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Melihat kerutan di dahi Kaisar dan napas beratnya, Jenderal Agung merasa terpanggil untuk berbicara.
"Yang Mulia," ujarnya dengan nada hormat namun tegas,
"Sebaiknya Yang Mulia Kaisar mengambil cuti untuk beristirahat. Kesehatan Yang Mulia adalah yang utama."
Namun, Kaisar Tianfei menolaknya dengan gelengan kepala pelan. Tatapannya tegas, mengisyaratkan bahwa tak ada waktu untuk kemewahan seperti istirahat.
"Kekaisaran ini sudah tidak lagi sehat, Jenderal Agung," jawabnya, suaranya sedikit serak namun penuh tekad.
"Ada terlalu banyak penyakit yang menggerogoti. Aku harus memahami dengan secepat-cepatnya situasi ini, tanpa penundaan sedikit pun. Setiap detik yang hilang bisa berarti satu provinsi lagi yang jatuh, satu nyawa lagi yang melayang."
Jenderal Agung hanya menganggukkan kepalanya pelan, ekspresinya menunjukkan pengertian mendalam. Dia berempati sepenuhnya kepada Yang Mulia Kaisar. Dia memahami beban yang dipikul Kaisar, kesadaran bahwa waktu adalah esensi dalam kondisi kekaisaran yang rentan ini.
Kasim Utama, yang selama ini berdiri diam penuh hormat, akhirnya membuka suara.
"Yang Mulia," katanya dengan suara lembut,
"Laporan dari perbatasan barat wilayah Changwu telah selesai dilaporkan."
Mendengar itu, beberapa petugas istana yang tadinya berdiri di sudut ruangan segera bergerak. Dengan cekatan dan rapi, mereka membereskan berkas-berkas terkait wilayah Changwu yang telah dibaca Kaisar, mengikatnya dengan tali sutra dan menyusunnya ke dalam peti.
Setelah meja bersih dari tumpukan laporan Changwu, Kasim Utama memberi isyarat kepada penjaga yang menunggu di pintu.
"Bawa kotak berikutnya," perintahnya.
Seorang penjaga dengan sigap masuk, membawa sebuah kotak berukuran sedang, terbuat dari kayu yang dipoles halus.
"Yang Mulia," Kasim Utama kemudian memberitahu, menunjuk ke kotak baru itu.
"Ini adalah kotak dari perbatasan wilayah Prefektur Selatan."