“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Pagi Hemei
“Apei harus ke pabrik, aku yang akan mengantarmu ke pasar,” ucap Huang Lhi.
Ana terpaku sejenak, bibirnya bergumam, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Huang Lhi, satu tangannya membuka pintu mobil sebelah kanan, tempat kursi penumpang.
“Hah.” Ana terperangah. “S-saya duduk di belakang saja, Tuan,” jawab Ana, akhirnya.
“Saya ini bukan sopir pribadi mu, Ana. Cepat masuk nanti kau kesiangan,” ujar Huang Lhi.
Ana sedikit ragu untuk menginjakkan kaki ke dalam mobil mewah sang Tuan, ini pertama kali untuknya. Biasanya dia pergi dengan Apei, naik sepeda motor butut.
Semenjak Ana yang bertugas di dapur, semua pekerjaan diserahkan pada wanita paruh baya itu termasuk belanja. Dulu saat Ayi Jung yang memegang dapur, Ayi Ling yang berbelanja, namun sekarang semua berpindah ke Ana dengan alasan Ayi Ling tak kuat berjalan keliling pasar,
Kurang dari dua puluh menit mereka sampai di pasar yang lebih mirip seperti pasar tempel di Indonesia, karena hanya ada dua baris pedagang saling berhadapan, namun cukup lengkap dari mulai sayuran, ikan, daging, beberapa perlengkapan rumah tangga, pakaian, bahkan ada toko asia juga.
Ana lekas menuju kios sayuran langganannya, Huang Lhi mengikuti di belakangnya.
“Biar aku yang membawa tas belanjanya,” gumam laki-laki yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pasar.
“T-tidak usah, Tuan. Ini kotor dan berat,” tolak Ana.
Namun, Huang Lhi terus memaksa, ia sengaja mengambil paksa tas belanja dari genggaman Ana, kemudian kembali mengikuti langkah cepat wanita itu, menyusuri pasar.
Ada raut kagum di wajah Huang Lhi saat melihat Ana berinteraksi dengan para pedagang, senyum ramah, suara halus, tapi tegas, pun ketika wanita itu bertemu sesama pekerja dari Indonesia, berbeda sekali dengan Ana yang ia lihat saat baru saja sampai di kediamannya.
Lebih dari satu jam, Ana menyelesaikan belanjanya, tiga kantong besar berisi sayuran dan daging juga beberapa pesanan barang asia milik Citra dan Tika.
“Lelah?” tanya Huang Lhi saat mereka berjalan menuju parkiran.
Ana yang sedari tadi berjalan sambil menunduk, tersentak kecil, kepalanya menggeleng pelan. “Tidak, Tuan. Saya sudah terbiasa,” jawabnya.
“Kau selalu pergi ke pasar sayur Hemei ini?” Huang Lhi kembali bertanya, sesekali ia menoleh.
“Iya, Tuan.” sahut Ana singkat, bersamaan mereka sampai di parkiran.
“Kenapa tidak berbelanja di supermarket saja, bukankah di sana sayurannya lebih segar, kau juga tak perlu panas-panasan begini.” ucap Huang Lhi sambil menyusun barang belanjaan di bagasi.
“Di pasar jauh lebih murah, Tuan, kita juga bisa memilih yang bagus. Kalau di supermarket, terkadang terlihat segar tapi begitu bungkusnya dibuka, ada saja yang jelek, harga juga relatif lebih mahal,” jelas Ana.
senyum tipis tergaris saat ia melihat Ana mengusap keringat di pelipisnya. Ia kembali bertanya sambil membukakan pintu mobil untuk Ana. “Setelah ini, kita kemana lagi?”
“Langsung pulang, Tuan, saya harus segera menyiapkan makan siang untuk pekerja di pabrik.” Sedikit sungkan, Ana masuk ke dalam mobil.
Huang Lhi tak lagi menyahut, buru-buru berpindah ke kiri setelah menutup pintu. Mobi pun mulai berjalan meninggalkan pasar dan segala hiruk-pikuknya.
Tidak obrolan selama perjalanan pulang, hanya sudut mata Huang Lhi yang sesekali melirik wanita paruh baya di sampingnya.
Sementara itu, di pabrik milik keluarga Huang.
Ny. Huang menatap penuh selidik saat melihat kehadiran Apei Ling, alis lancip wanita itu mengerut. “Bukankah seharusnya kau mengantarkan Ana berbelanja, Ling. Apa dia sudah pulang?”
“Huang Lhi yang pergi mengantar, katanya sekalian ia ingin membeli sesuatu,” sahut Apei Ling, sesuai dengan yang diucapkan sang keponakan saat mengambil alih tugasnya.
“Huang Lhi?” Ny. Huang mengernyit—tak percaya. “Sejak kapan Huang Lhi mau menginjakkan kakinya di keramaian?” ucapnya, sambil menggaruk kepala.
“Entahlah, mungkin dia penasaran dan kebetulan ingin pergi,” sahut Apei, asal.
Ny. Huang masih terdiam di tempatnya, pikirannya tertuju pada Huang Lhi. Sudah beberapa hari ini dia menangkap hal yang berbeda dari putra nomor dua nya itu.
“Apa benar dia jatuh cinta dengan pembantu itu,” gumamnya.
Ia kemudian menggeleng cepat, berusaha menepis rasa curiganya. “Tidak mungkin putra dari keluarga Huang jatuh cinta dengan pembantu, paling tidak harus yang setara, seorang pengusaha.”
Pikirannya terus meyakinkan hati, meski kerap kali ia mendapati tatapan berbeda dari Huang Lhi saat Ana di depan mereka.
Di rumah keluarga Huang suasana tak kalah heboh. Citra bolak-balik menoleh ke gerbang utama begitu mengetahui Ana pergi dengan si Tuan Gunung Es, hatinya tak sabar menunggu Ana kembali hanya untuk menginterogasi.
Begitupun Ayi dan Tika, keduanya bergosip di dapur—membayangkan cerita apa yang akan di bawa Ana sepulang dari pasar sambil menyiapkan sayur yang dimasak untuk makan siang.
“Kira-kira mereka kencan dulu nggak ya, Ayi?” Tika membuka obrolan yang sempat terhenti karena ada paket datang.
“Mungkin belum, Ana ‘kan tepat waktu, pasti dia buru-buru takut telat menyiapkan makan siang,” sahut Ayi Ling.
“Jadi penasaran, mereka gandengan tangan kaya di drama cina kah, atau rebutan membawa tas belanja, apa malah…,” ucapan Tika terputus oleh suara Citra yang berlari dari lantai tiga.
“Kak Ana pulang.”
Bersambung
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?