Inayah, gadis cantik nan solehah, lahir disalah satu desa di kota Semarang harus menjalani takdir yang tak di sangka-sangka sebelumnya.
Tragedi tenggelam di sungai demi menyelamatkan baju kesayangan Ibunya, membawa dirinya harus menerima takdir menikah dengan laki-laki menyelamatkannya.
Menikah didesak warga karena sebuah kesalahfahaman. Menerima takdir adalah keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Inayah yang berprinsip tidak mau berpacaran, dan Mas Gagah yang beberapa bulan lalu di tolak saat melamar kekasihnya. Mereka berdua ditakdirkan menjadi suami istri secara mendadak.
Bagaimana ya perasaan Inayah dan Mas Gagah, campur aduk tentunya.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Nantikan terus ya setiap episodenya, jangan lupa like, komen dan Vote😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Assalamualaikum Readers semuanya, novel Kekasih Halal mohon dukungannya yah dengan cara like (tekan tombol icon jempol di bawah, jangan lupa icon love juga biar selalu tahu jadwal updatenya), komen (kritik, saran, kesan boleh banget😘), dan Vote. Terimakasih ya😘😘
☘️Selamat membaca☘️
Cup...
Secepat kilat Mas Gagah mencium bibirku. Aku terkejut tapi bahagia. Nano-nano rasanya walaupun hanya sedetik.
Aku mengusap bibirku. Air mataku tiba-tiba membasahi pipiku. Wajah Mas Gagah menjadi khawatir.
" Nay ... kenapa menangis?" Maafkan Mas yah?" Aku melihat wajah Mas Gagah yang merasa bersalah.
Aku menggeleng, " Tidak perlu minta maaf Mas."
"Lalu kenapa menangis." Mas Gagah terheran-heran.
"Bibirku sudah tidak perawan,"Celetukku dengan polosnya.
Mas Gagah tertawa terbahak-bahak," Baru bibir atas Nay, belum bibir yang bawah"
Aku mengerucutkan bibirku, " Maksud Mas?"
" Ah tidak." Mas Gagah malah jadi salah tingkah.
Mas Gagah menurunkanku dari pangkuannya lalu menyuruhku segera berganti baju sebelum ia berubah pikiran.
Aku segera memunguti bajuku yang terjatuh di lantai lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Mas Gagah memijat pelipisnya.
" Apa aku akan tahan dengan body bocah itu, yang tertutup ternyata lebih indah, mungil padat berisi, kuning langsat, bersih, Arggghhh fikiranku ini" Gumam Mas Gagah.
Mas Gagah beranjak dari tempat duduknya lalu turun kebawah mencari Bi Asih, ingin di buatkan kopi. Mungkin saja kopi bisa menetralkan fikiranya yang mesum ketika melihat istri mungilnya.
Aku yang selesai berganti baju sudah tidak melihat Mas Gagah lagi di kamar. Aku turun mencari Mas Gagah.
Aku bertanya pada Ibu dimana Mas Gagah berada. Ternyata Mas Gagah ada di taman belakang. Menyesap kopi sambil mengemil serta memainkan ponselnya.
"Mas"
Mas Gagah menatap ke arahku, lalu menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
" Mau?" Mas Gagah menawariku kopi.
" Pahit Mas, aku tidak suka," jawabku.
"Namanya juga kopi Nay, yang manis itu wajahmu dan Mas suka,"ucap Mas Gagah sambil terkekeh.
Seperti biasa bayang-bayang bunga sakura bertaburan menghujani tubuhku😁.
" Mas"
" Kenapa sayang?"
" Kenapa Mas baik sekali denganku?"
Mas Gagah menatapku heran," Ya kan kamu istri Mas Sayang"
Jawaban Mas Gagah benar-benar membuatku sangat bahagia. Aku sangat senang jika Mas Gagah mengatakan bahwa aku istrinya. Seolah semua terasa mimpi karena seminggu yang lalu aku hanyalah seorang Asisten rumah tangga di rumah ini.
" Mas, di pesantren aku suka membaca novel, biasanya kalau menikah karena mendadak atau terpaksa pasti awalnya seperti musuhan." Ah Aku jadi teringat pesantren.
"Jangan samakan kehidupan kita dengan yang ada di Novel dong Nay"😁😁😁😁
"Iya ... iya"
" Eh, Mas kira kamu hanya fokus membaca kitab-kitab di pesantren, ternyata baca novel juga"
" Ya kan buat hiburan Mas"
Aku dan Mas Gagah mengobrol sampai magrib. Mas Gagah mengajakku sholat berjamaah di kamar.
Aku tertegun mendengar bacaan Alquran yang Mas Gagah lantunkan saat sholat. Mas Gagah sangat fasih melafadzkannya.
Selesai sholat aku lalu bertanya pada Mas Gagah perihal bacaan Alqurannya. Mas Gagah menjelaskan jika sebelum sekolah di Jepang Mas Gagah juga sekolah agama dan mengaji seperti anak-anak pada umumnya.
Waktu awal-awal di Jepang juga Mas Gagah masih rajin sholat dan mengaji. Tapi lambat laun karena pergaulan dan lingkungan, Mas Gagah perlahan berubah meninggalkan kewajibannya.
Mas Gagah merasa sangat lelah dengan kehidupan saat itu. Walaupun memiliki segalanya tapi Mas Gagah tidak memiliki ketenangan hati. Hingga akhirnya saat malam itu mabuk dan ditolong olehku lalu aku membaca ayat-ayat Alquran di depannya, Mas Gagah merasa hatinya tenang.
Saat itu Mas Gagah mulai mengerti dengan apa yang selama ini Ia cari. Terlebih lagi saat Aku mengajaknya ke masjid. Mas Gagah semakin yakin jika ketenangannya ada pada saat Ia melakukan ibadah.
Mas Gagah juga bercerita bahwa dirinya merasa takut karena sudah lama tidak melaksanakan kewajibannya.
Aku mendengarkan apapun yang Mas Gagah ucapkan. Setelah Mas Gagah selesai bicara, Aku tersenyum," Semangat ya Mas, jika takut hujan siapkan payung. Takut tak lulus, belajarlah. Takut dari binatang buas, menghindarlah. Jika kita takut pada Allah, maka mendekatlah"
Mas Gagah menunduk, " Apa Allah masih peduli dengan Mas Nay?"
Aku menggenggam telapak tangan Mas Gagah, " Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi, Aku menyesuaikan diri dengan sangka hamba-Ku terhadap Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam hatinya, Ku ingat dia dalam hati-Ku.
Kalau dia mengingat-Ku dan menyebut-nyebut Ku di depan umum, maka Ku ingat dan Ku sebut-sebut dia di khalayak yang lebih baik. Siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Dan siapa yang mendekat sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa.
Dan siapa yang datang kepada Ku dengan berjalan, Aku datang menyambutnya dengan berlari,"
Mas Gagah menatapku sepersekian detik, lalu memelukku erat. Aku tahu Mas Gagah butuh ketenangan.
Mas Gagah melepaskan pelukannya. Menatapku lalu mengecup dahi ku cukup lama, mataku terpejam merasakan kehangatan bibir Mas Gagah. (Yang jomblo, tutup mata please😁😁😁)
"Mas sayang kamu Nay," Bisik Mas Gagah.
Mas Gagah lalu merapikan alat sholatnya sementara Aku masih diam membisu. Hatiku meremang mendengar bisikan sayang dari Mas Gagah.
Jika boleh, ingin sekali moment saat Mas Gagah mengucapkan sayang, bumi sejenak saja berhenti berputar. Aku ingin semuanya terhenti agar aku bisa lebih lama menikmati adegan terindah itu.
" Nay"
Aku langsung tersadar dari lamunanku. Aku segera merapikan mukenah dan sajadahku.
" Iya Mas"
" Mas Mau makan dikamar berdua denganmu, makanannya dibawa di kamar saja yah, kita makan di balkon berdua, biar romantis"
" Ih, romantis kok di balkon sendiri, gratisan banget, katanya uangnya banyak sampai tidak habis 10 turunan" Ledekku.
" Yah, uangnya mau buat beli sawah di kampung." Mas Gagah balik meledekku.
Kami berdua tertawa berbarengan.
Aku turun ke bawah menyiapkan makan malam di dalam kamar. Sementara Mas Gagah sedang menyusun lilin-lilin agar terlihat benar-benar romantis.
menurut ku ya thor 🤭✌