Jika cinta tak harus memiliki, aku rela untuk melakukannya! Biarkan aku saja yang menanggung akibatnya karena telah menjatuhkan hatiku ke padamu..
Cinta itu seperti matahari yang menyinari bumi, selalu menerangi kegelapan dan tak meminta balasan...
Mungkinkah cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan ataukah mendapat balasan?
Inilah kisahku, ikuti aku dan cerita hidupku...
Hai Sky, aku menyukaimu.. By Cloud...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angela Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C & S 24
Selamat malam semuanya, maaf baru bisa up, mohon dukungannya yaa, dukung karya keduaku ini, cerita haluku 😂😂😂🌺🌺
_______________________________________
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, bukan menuju ke rumah Claudya tapi melewati jalan yang berlawanan arah. Claudya tak mengerti akan dibawa kemana dirinya saat ini oleh om Ricko. Claudya duduk di belakang kemudi bersebelahan dengan Dewa.
Dewa tahu Claudya merasa tak nyaman dengan adanya dirinya dan juga om Ricko. Ia berniat untuk mencairkan suasana.
"Cloud!" panggil Dewa.
Claudya menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu memanggilku dengan nama itu?" tanya Claudya disertai tatapan meminta jawaban. Dewa tersenyum manis.
"Siapa yang nggak kenal dengan Cloud sih?" bukannya menjawab, Dewa malah membalas dengan pertanyaan pula.
Kening Claudya berkerut dalam. Ada sebuah tanda tanya besar menghampirinya. Apakah Dewa selama ini tahu tentang identitasnya sebagai Dj Cloud?
Claudya tak mau menerka - nerka, baiknya ia tanyakan saja langsung pada orangnya. Dewa memandang takjub pada gadis yang duduk di sebelahnya.
Andai kamu bukan anak dari tante Maura, mungkin saja aku bisa menjadikanmu kekasihku...
"Wa! Dewa!" panggilan Claudya membuyarkan lamunan Dewa. Dewa terkesiap lalu mulai mengolah kata dalam pikirannya.
"Iya, ada apa Cloud?" tanya Dewa.
"Please, jangan panggil aku Cloud. Aku nggak mau orang - orang tahu bahwa aku seorang penyiar radio!" pekik Claudya.
"Kamu malu?"
Claudya menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu, aku nggak mau orang - orang tahu identitasku. Aku hanya ingin orang mengenalku sebagai Claudya, bukan Cloud. Hanya segelintir orang yang tahu statusku sebagai seorang penyiar radio dari pemilik stasiun radio heart fm. Kamu bisa kan menjaga rahasia ini?" pinta Claudya dengan nada memelas.
Ingin rasanya Dewa mengerjai gadis cantik yang ada di hadapannya yang tengah mengatupkan kedua tangan memohon padanya untuk menyembunyikan rahasia kecil ini. Tapi ia tak tega, dan hanya mengangguk tanpa berkata apapun.
"Janji ya?" Claudya masih mendesaknya dan menyodorkan jari kelingkingnya. Dewa menatap Claudya lekat - lekat.
Claudya menarik jari kelingking Dewa dan mengaitkan dengan jarinya.
"Janji kelingking!" seru Claudya sambil tersenyum manis. Dewa melepaskan tautan jari keduanya dengan berdebar - debar. Bahkan ia merasa dirinya tengah terbang ke awan di perlakukan seperti itu oleh Claudya.
Hati Dewa berdesir. Tampaknya ac di mobil membuatnya kepanasan ataukah karena perasaannya yang tengah menggebu - gebu menahan diri untuk tak berani berlama - lama menatap Claudya?
"Om, ac nya tolong ditambahin. Gerah nih!" Dewa mengalihkan topik lalu melihat ke luar jendela mobil. Lelaki itu menahan malu. Ia merasa bersalah pada perasaannya sendiri karena menyukai Claudya.
🌺 🌺 🌺 🌺
Dua pasang mata melihat perdebatan dua lelaki yang mereka sukai dengan hati yang kacau. Bukan Senja dan Surya melainkan Mentari dan Bulan yang berada tak jauh dari mereka. Awalnya Mentari sengaja datang ke taman fakultas untuk memberi kejutan pada Arjuna, malah kini dirinya yang mendapat kejutan dari lelaki yang telah memporakporandakan hatinya.
Claudya? Seistimewa apa dirinya hingga dua laki - laki itu memiliki perasaan padanya? Batin Mentari.
Tanpa terasa air mata gadis itu menetes perlahan hingga membasahi pipinya. Bulan yang berada persis di sebelahnya mencoba menenangkan dengan mengelus bahu Mentari.
"Kamu sabar ya, aku akan buat perhitungan sama perempuan yang namanya Claudya!" bisik Bulan supaya keberadaan mereka berdua tak diketahui oleh Arjuna dan kawan - kawan.
Usut punya usut, yang memperkenalkan dan mendekatkan Dewa pada Mentari adalah Bulan. Jadi dengan semangat Bulan ingin menyatukan kembali Mentari dengan Arjuna. Tanpa diketahui oleh Bulan, bahwa selama ini Arjuna menerima Mentari hanya karena kasihan. Bulan benar - benar mengira perhatian Arjuna pada Mentari murni cinta, padahal salah besar.
"Nggak perlu, Bulan. Aku sudah punya cara sendiri. Kamu berjuanglah untuk mendapatkan Sky. Aku selalu mendukungmu," ucap Mentari lirih.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi - tapian, aku nggak mau menerima bantahan apapun. Aku bisa menyelesaikan masalah kecil ini, karena aku tahu Arjuna masih mencintaiku. Kejar Sky, aku yakin cintamu yang begitu besar padanya akan mendapat balasan," dukung Mentari dengan yakin, Bulan mengangguk mengiyakan. Mereka berdua saling melemparkan senyum misteri.
🌺 🌺 🌺 🌺
" Kita akan kemana, om? "tanya Claudya pada om Ricko yang belum juga sampai pada tempat tujuan.
"Sabar ya, Claudya. Sebentar lagi kita sampai. Mami kamu juga akan menyusul kesini setelah urusannya selesai," jawab Om Ricko dengan penuh kasih sayang dan bernada lembut pada calon anak sambungnya.
Urusan? Kenapa Mami nggak bilang apapun sama aku? Apa ada hal yang ditutupi dari aku selama ini?
Claudya mengangguk saja tanpa menjawab satu patah katapun. Dewa melihat wajah Claudya dari samping hingga tak berkedip. Ada sesuatu hal yang tak bisa dipungkiri oleh lelaki seperti Dewa, bahwa Claudya adalah gadis yang cantik dan ditambah lagi kepribadiannya juga baik dan menarik.
Sayang hanya bisa menjadi saudara... Mungkin nggak ya Claudya menjadi milikku... Harap Dewa dalam hati, karena tak mungkin keinginannya ia utarakan langsung pada gadis ayu yang menarik hatinya tersebut.
Tak perlu menunggu lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah restoran jepang yang biasa didatangi Claudya bersama sang ibu. Namun hari ini lain cerita, karena mau tak mau ia harus menikmati makanan kesukaannya bersama om Ricko dan juga Dewa, orang yang masih asing bagi dirinya.
Kali ini Claudya tak berada di tempat yang sama dengan banyak orang yang bisa leluasa saling menatap, saat ini om Ricko sudah mereservasi ruangan atau bilik khusus sehingga apa yang mereka bicarakan tudak bisa didengar oleh orang lain.
Sepuluh menit kemudian, Mami datang dengan terburu - buru. Dan duduk di samping sang putri yang masih belum paham maksud pertemuan mereka malam itu.
"Ehem..." Mami berdehem memecah kesunyian dan mencoba mencairkan suasana yang tiba - tiba dingin. Salahkan pada AC ruangan tersebut atau pikiran empat orang di dalam ruangan itu tengah berkecamuk satu sama lain! Lagi - lagi AC yang disalahkan, padahal tugasnya hanya mendinginkan dan menyegarkan ruangan, tapi tetap saja namanya sedari tadi dibawa - bawa.
"Sebenarnya tujuan Mami bawa aku kesini apa? Tolong jangan berbelit - belit, Claudya lelah, Mi," tanya Claudya dengan lesu. Ia malas sekali saat ini, yang ia pikirkan adalah segera sampai rumah dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Biar aku saja, Ra!" ucap Om Ricko melirik Mami dan mengambil tanggung jawab untuk menjelaskan pada Claudya. Claudya semakin penasaran dengan maksud dan tujuan mereka membawanya ke tempat ini.
"Claudya, om dan Mamimu meminta ijin untuk menikah. Kami berdua saling mencintai dan ingin bersama hingga maut memisahkan. Apakah kamu bersedia dan mengijinkan kami bersama?" tanya om Ricko dengan penuh harap.
Claudya menatap sang ibu dan calon papa tirinya bergantian. Ada rasa ragu dan bingung menjadi satu. Tak semudah itu menerima kehadiran pria dewasa dalam hidup Claudya bersama sang ibu dan memaksanya untuk memanggil ayah pada pria tersebut. Pria yang baru dua tahun dikenalnya, dan akan menjadi pendamping Mami.
"Boleh Claudya bertanya satu hal?" tanya Claudya penuh selidik.
Mami dan om Ricko mengangguk bersamaan.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Claudya santai tapi terlihat serius.
"Kalau tidak ada aral merintang, insyaallah bulan depan," jawab om Ricko tegas, Claudya menarik salah satu sudut bibirnya dan tersenyum sinis.
"Kalau kalian sudah memutuskan hari H, kenapa harus minta persetujuan dari Claudya? Apakah itu hanya formalitas?" desak Claudya. Claudya beranjak dari posisinya, menyambar tas dan keluar dari ruangan itu.
Dewa menghentikan pergerakan om Ricko dan tante Maura yang hendak mengejar Claudya.
"Biar Dewa saja yang menjelaskan pada Claudya, om dan tante tunggu disini saja. Permisi!" pamit Dewa dan segera keluar mengejar Claudya yang belum jauh.
"Claudya! Tunggu!" pekik Dewa sambil berlari mengejar langkah kaki Claudya yang semakin cepat.
🌺 🌺 🌺 🌺
sini peluk (づ ̄ ³ ̄)づ
Salam dari Clarissa ❣️
Salam dari "CLARISSA"