Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis yang tinggal di panti asuhan, Qinan namanya. Qinan adalah putri yang terbuang dan dibesarkan di panti asuhan. Kemudian Qinan diasuh oleh janda yang mempunyai satu anak.
Dipanti asuhan Qinan mempunyai sahabat lelaki dan perempuan yang bernama Tiara dan Zio. Qinan harus berpisah dengan sahabatnya karena mereka diasuh oleh orang tua angkatnya masing masing. Namun nasib Qinan berbeda dari sahabatnya, Qinan harus menghadapi konflik batin yang bertubi tubi dan Qinan harus merelakan kebahagiannya untuk menggapai impiannya. Hingga harus merelakan cita citanya demi membalas budi orang tua asuhnya. Meski berat, Qinan tetap mengabulkan permintaan ibu asuhnya untuk menikah dengan lelaki tampan dan kejam yang bernama Angga Wilyam. Meski Angga banyak dikagumi oleh wanita wanita cantik namun Angga tidak meresponnya. Angga tetap pada pendiriannya wanita hanya mencintai harta dan tahta bukan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angga mengerjai Qinan
Ferdi masih saja tertawa mendengar penuturan dari Vino yang membuatnya terhibur, meski perasaan Ferdi menjadi sedih teringat dengan adik perempuannya yang juga belum dapat ditemukan.
Sebenarnya tidak hanya Ferdi saja yang bersedih, semua yang sedang berkumpul di dalam hati masing masing merasakan kesedihan dengan alasan yang berbeda namun semuanya menutupi kesedihannya dengan cara tetap saling menjaga perasaan satu sama lain, dan berusaha saling menghibur.
Ferdi yang kehilangan seorang adik perempuannya, Angga kehilangan keseimbangan pada fisiknya, Vino kehilangan seseorang yang dicintainya ditambah lagi wanita yang dimaksud menjadi Istri sahabat nya sendiri, begitu juga dengan Qinan merindukan sosok keluarga yang belum bisa ditemukan.
Kini Vino hanya bisa berpura pura biasa biasa saja didepan orang yang dicintainya dan juga didepan sahabatnya.
"Kapan nih kita kumpul di Restauran Ferdi, kita sudah lama tidak nongkrong bareng, kita terakhir nongkrong waktu kita benar benar masih menjadi seseorang yang sangat pemalas." Ucap Vino penuh harap.
"Benar juga ya, kita sudah lama tidak nongkrong bareng, bagaimana kalau minggu pekan." sahut Ferdi.
"Baik lah, atur saja waktunya," jawab Angga singkat.
Waktu terasa sudah hampir larut malam, Ferdi maupun Vino berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang dulu ya brother," cepat pulih kembali agar bisa mengajak istrimu jalan jalan, dan bulan madu di luar Negeri." Bisik lirih Vino di telinga Angga. Sedangkan Angga senyum senyum dan bergidik ngeri mendengar penuturan dari Vino.
"Aku pamit pulang juga ya Angga,semoga lekas pulih agar kita bisa kemana mana seperti dulu lagi dan buat kamu Qin sabar ya.. Angga pasti sembuh." Ucap Ferdi menyemangati.
"Kalian tidak nginap saja disini, sudah hampir larut malam," ucap Tuan Wilyam mengagetkan.
"Aaah lain kali saja Paman, sekarang Angga sudah punya Istri dan pastinya sudah ada yang menemani tidurnya. Nanti kalau kita menginap disini sepertinya kasian Vino Paman, sebab tidak ada yang bisa dipeluk. Kalau Angga pasti nyenyak tidur nya iya kan Angga ? secara ada Qinan disampingnya. Lah Vino bagaimana Paman? stok Qinan hanya satu Paman." Jawab Ferdi dengan menggoda dan meledek Vino, dan menyindir Angga, yang sepertinya belum pernah tidur bareng sama Qinan. Fikir Ferdi.
"Kamu jangan buka kartu fer, kita sama jomblo nya, aah kamu membuka rahasia kita berdua tentang guling hidup." Ucap Vino menimpali dengan senyum meledek.
Sedangkan Qinan dan Angga mapun Ayahnya hanya senyum senyum mendengar lelucon Vino dan Ferdi.
Setelah Ferdi dan Vino pulang, rumah Tuan Wilyam terasa sepi, Angga dan Qinan segera masuk kamar untuk beristirahat. Karena terasa sangat mengantuk dan lelah Qinan langsung terlelap dari tidurnya, Qinan sampai lupa untuk mengunci pintu nya dan masih sedikit terbuka. Sedangkan Angga yang sedari tadi memandangi Qinan tidur diatas sofa terasa tidak enak perasaannya, tiba tiba Ayah Angga melihat pintu kamar Putra nya masih terbuka dan mencoba mengingatkan untuk menutup pintu kamar. Tapi pandangan kedua mata Ayah Angga tebelalak melihat Qinan menantunya tidur diatas sofa terlihat sangat menyedihkan dibalik kebohongan depan Ayah mertua nya.
'Jadi selama ini kalian berbohong didepan Papa, dan dugaanku benar jika Angga masih Dingin seperti dulu dan belum berubah. Semua terlihat manis hanya didepan orang orang sedangkan ketika hanya berdua seperti tidak saling mengenal. Sungguh kamu wanita hebat Qinan, hatimu sungguh mulia meski kamu tersiksa batinmu tetapi kamu tidak pernah menampakkannya. Sampai kapan Angga akan terus terusan memperlakukan Qinan sedingin ini. Aku harus berbuat sesuatu agar mereka tidak tidur dengan terpisah.' Gumam Tuan Wilyam dengan perasaan sedih dan meninggalkan pemandangan yang sangat mengiris hati.
Sedangkan Angga tidak bisa tidur dengan nyenyak, Angga hanya menatap langit langit dengan perasaan yang campur aduk. Ingin membangunkan Qinan untuk pindah tidurnya disamping Angga, tap Angga teringat dengan ucapannya sendiri, bahwa Angga tidak mau disentuh oleh Qinan. Terkecuali Qinan sendiri yang menyentuh nya.
Tiba tiba Qinan terbangun dari tidurnya, Qinan dibuat kaget melihat Angga yang belum tidur. Qinan menatap Angga dengan heran, karena biasanya Angga selalu tidur dengan nyenyak.
'Ada apa dengan Angga? bukankah Dia kalau tidur lupa situasi, bahkan dengan mudahnya memainkan suara khas nya. Tapi kenapa malam ini sangat berbeda sikapnya, bahkan kedua mata nya masih terlihat segar dan belum mengantuk. Coba aku tanyai, apakah menjawab pertanyaanku dengan latus atau bahkan bisa selembut sutera.' Gumam Qinan dengan tatapan penasaran.
"Belum tidurkah..." ucap Qinan membuka suara, sedangkan Angga hanya diam tidak merespon ucapan Qinan karena sedang sibuk memainkan ponselnya. Justru Qinan sendirilah yang menjadi geram.
Ini orang sebenarnya mendengarkanku atau tidak sih!" menyebalkan. Gumam Qinan kesal.
Sedangkan Qinan langsung menuju kamar mandi untuk membuang hajatnya, dan setelah itu Qinan turun untuk mengambil air minum, tiba tiba suara Angga terdengar begitu saja.
"Jangan lupa ambil kan ku air hangat." Titah Angga begitu saja.
Sedangkan Qinan hanya geram dan kesal yang disembunyikan.
'Enak banget jadi Bos itu ya, apa apa tinggal suruh, giliran ditanya balik hanya diam, itu namanya mau nya menang sendiri.' Gumam Qinan kesal.
Sampailah Qinan dikamar dan membawa air hangat untuk Angga. Namun setelah berada didalam kamar Qinan langsung memberikan air minum tersebut kepada Angga.
"Bantu aku naiki kursi roda, karena aku tidak bisa tidur."Titah Angga.
"Baik lah, aku bantu memapahmu." Jawab Qinan.
Angga pun mendekatkan ke sofa, entah apa yang ada difikiran Angga. Sampai sampai harus bekerja keras untuk mendapatkan target yang di incar nya.
"Dekatkan aku ke sofa tempatmu tidur." Titah Angga kembali, Qinan pun nurut saja apa yang Angga perintah.
"Bawa kemari air minumnya aku jadi haus setelah pindah tempat." Ucap Angga bohong.
Angga pun menerima gelas dari Qinan tapi apa lah daya, kerja keras Angga pun akhirnya berhasil pada tahap pertama.
"Aduuuuh! bagaimana sih kamu, ngasih gelas tuh yang benar, kamu sengaja ya biar kamar ini menjadi kotor. Lihat lah selimut kamu jadi basah sendiri." Ucap Angga dengan senyum yang ditahan.
Kini Qinan benar benar geram dubuatnya, ingin rasanya berteriak sekuat mungkin namun Qinan sadar hanya Istri bayaran. Fikir Qinan lesu.
Qinan hanya diam dan tidak membalas perlakuan dari Suaminya. Karena percuma tidak ada menangnya jika berurusan dengan Angga Suaminya sendiri.
Qinan mengambil selimutnya yang basah begitu juga dengan bantalnya. Qinan menaruhnya ditempat pakaian kotor. Lalu Qinan menyibukkan diri untuk membaca buku dibawah sofa dan bersandar,tanpa memperhatikan di tempat tidur Suaminya sudah tersedia selimut dan bantal yang begitu rapih. Angga hanya menatapnya dengan heran tanpa mencoba meminta selimut ataupun bantalnya.
"Apa kamu masih membutuhkan Gajih yang sangat besar,hingga sudah larut malam begini kamu masih menyibukkan diri dengan buku bukumu itu, apakah kamu tidak mengantuk?" Tanya Angga.
"Tidurlah,tidak usah menanyai ku tentang kesibukan ku ini." Jawab Qinan datar.
Angga pun akhirnya menepuk nepuk bantal disampingnya dengan senyum licik.
"Tidurlah disampingku, kamu tidak perlu tidur di sofa lagi. Jika kamu masih takut jangan khawatir masih ada guling untuk pemisah antara kamu dan aku. Tenang saja aku tidak bisa berbuat apa apa, secara kondisi fisikku saja seperti ini. Memalukan jika aku sampai menggoda kamu." Ucap Angga meyakinkan.
Sedangkan Qinan tidak punya cara lain untuk menolaknya, jugaan Qinan sudah sangat lelah dan juga mengantuk. Dengan berat hati Qinan akhirnya tidur disamping Angga meski dengan pembatas guling. Setidaknya masih ada jarak untuk menjadi pemisah. Fikir Qinan.
Galuh apa vino....