NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:933
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Kilasan Memori Masa Lalu

"Kau ini cerewet sekali! Minum saja kubilang, jangan banyak tanya!" potong Benjamin sengit. "Kalau kau mau sembuh, ya minum! Kalau tidak mau, buang saja ke tempat sampah! Dan kalau nanti ramuan itu habis dan kau butuh lagi, minta saja padaku."

Benjamin merogoh sakunya sekali lagi, lalu melemparkan secarik kertas lecek ke atas pangkuan Evelyn.

"Ini nomor telepon rumahku. Hubungi saja jika kau butuh. Anggap saja ini... imbalan," Benjamin menjeda kalimatnya sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Anggap saja imbalan karena kau telah berhasil memindahkan kamar kumuhmu itu dari ingatanku."

Sring!

Belum sempat Evelyn mencerna kalimat terakhir itu, tubuh tinggi Benjamin mendadak melebur menjadi serpihan cahaya keemasan yang berkilau, lalu menghilang sepenuhnya dari pandangan dalam sekejap mata.

Evelyn tertegun, menatap kosong ke arah ruang hampa di depan ranjangnya. "Hah? Dia menghilang lagi?"

Evelyn menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Ia sadar betul bahwa pria berambut merah itu memang bukan manusia biasa. "Ck. Dasar pria aneh. Dia sendiri yang cerewet melarangku datang ke rumahnya, tapi dia juga yang memberiku nomor telepon rumahnya."

Evelyn menunduk, menatap botol kaca berisi ramuan merah terang dan secarik kertas lecek di pangkuannya secara bergantian. Kehangatan aneh perlahan menyusup ke dalam hatinya, mengaburkan rasa pening yang sejak tadi mengusik kepalanya. Ia pun menyimpan kertas itu di saku piyamanya.

"Apa benar cairan ini bisa menyembuhkan penyakitku?" gumamnya heran. Ia membuka tutup botol kaca itu dan menatapnya lebih lama. "Apa salahnya kalau aku coba?"

Ia menghirup aromanya yang sangat harum. "Hmm, harum sekali. Jangan-jangan rasanya enak seperti sirup stroberi. Aku tidak sabar untuk meminumnya."

Glek... glek... glek...

Evelyn meminumnya hingga tandas. Namun...

"Hweee... pahit sekali! Rasanya sangat tidak enak. Penampilan dan aromanya sangat menipu. Ah sial, aku terlanjur menghabiskannya."

Evelyn buru-buru menyambar botol air mineral di atas meja lalu meneguknya.

Glek... glek... glek...

Ia meletakkan kembali botol air itu, sementara botol kaca ramuan tadi langsung dibuangnya. Namun tak lama kemudian, rasa sakit yang hebat tiba-tiba menghantam kepalanya.

Dug! Dug! Dug!

Rasa sakit itu jauh lebih menyiksa daripada penyakit glioblastoma yang selama ini dideritanya.

"Arrgghh!" Evelyn mengerang kesakitan. Ia buru-buru menjatuhkan dirinya di ranjang kamar resor, lalu mencoba meraih tubuh Sofia yang tengah terlelap di ranjang sebelah dengan niat meminta bantuan. Namun sayang, ia tidak sanggup. Rasa sakit yang luar biasa itu berhasil melumpuhkan tubuhnya dalam sekejap.

"Sakit... sakit sekali. Pria itu sepertinya memberiku racun, bukan obat," ucapnya lirih sambil mencengkeram kepalanya.

Ternyata, obat penyembuh dari Benjamin tidak hanya bekerja pada fisiknya, melainkan juga berhasil membangkitkan ingatan lama yang seharusnya terkubur dalam diri Evelyn.

Tiba-tiba, kilasan memori bergerak cepat seperti pusaran angin di dalam kepalanya, berputar-putar tanpa kendali. Serasa dihantam gada berkali-kali, kepala Evelyn sakit bukan main. Napasnya terengah-engah dan dadanya terasa dihimpit benda berat.

"Sayang, kau di mana?"

"Viona, pulanglah nak. Kami rindu denganmu!"

"Maaf Viona, aku tidak bisa ikut denganmu. Aku tidak mau merepotkanmu atau keluargamu lagi."

Kesadaran Evelyn perlahan kembali seiring dengan rasa sakit di kepalanya yang berangsur pulih. Namun, suara-suara serta penglihatan memori yang tak pernah ia ketahui sebelumnya mendadak menetap di benaknya.

"Elisa..." gumam Evelyn lirih dengan bibir bergetar.

Air mata luruh seketika, membasahi pipinya yang pucat. Evelyn—yang selama ini hatinya mengeras seperti batu akibat vonis kanker glioblastoma hingga hampir tidak pernah bisa menangis—malah menumpahkan air matanya malam itu juga.

"Elisa... kaukah itu? Kenapa wajahmu bisa ada di dalam sisa ingatanku? Siapa aku yang sebenarnya?" bisik Evelyn pada kesunyian kamar.

Di dalam kepalanya, kilasan memori itu melambat, menampilkan visual yang lebih jelas. Ia melihat sepasang suami istri bertubuh agung. Gurat kepanikan, kecemasan, serta rasa kerinduan yang teramat dalam terpatri jelas di wajah rupawan mereka yang tidak menua. Aura mereka begitu murni—menegaskan secara mutlak bahwa mereka bukan manusia biasa, dan jelas bukan mendiang orang tua angkatnya, Karina dan Davin.

Namun, yang paling mengejutkan adalah kepingan memori berikutnya. Evelyn melihat sosok sahabat dekatnya saat masih bersekolah di SMA Luminara, sebelum ia pindah ke Vespera.

Di dalam ingatan itu, temannya tampak masih sangat kecil, sama persis dengan wujud masa kecil Evelyn sendiri. Gadis kecil itu selalu bersikap sangat dewasa dan bijaksana, jauh melampaui usianya yang fana.

Seingat Evelyn, ia baru mengenal Elisa saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA Luminara High School yang terletak di Kota Luminara—kota tempat Evelyn dibesarkan oleh Davin. Namun, penglihatan barusan memutarbalikkan logikanya. Jika mereka baru berteman saat remaja, mengapa ada memori masa kecil di mana Elisa sudah mendampinginya dengan wujud anak-anak?

Apakah Elisa juga bukan manusia biasa? Apakah sahabatnya itu sengaja dikirim untuk menjaganya selama ia terasing di dunia manusia?

Evelyn perlahan bangkit dari lantai yang dingin, napasnya kini berangsur stabil. Efek ramuan merah Benjamin perlahan meredakan badai di kepalanya. Rasa pening akibat glioblastoma yang biasanya menyiksa setiap hari, kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh aliran energi hangat yang asing namun terasa sangat familier.

Ia menatap secarik kertas lecek berisi nomor telepon Benjamin yang kembali ia ambil. Tekad baru kini menyala di sepasang netranya. Ia tidak hanya harus membalas dendam; ia harus mencari tahu rahasia yang disembunyikan oleh Kota Luminara, Elisa, dan takdir gila yang mengikatnya dengan para makhluk immortal ini.

****

Pagi pun menjelang.

Evelyn dan rombongan siswa SMA Vesperania telah bersiap untuk melanjutkan agenda study tour mereka hari ini. Destinasi kali ini adalah Gua Museum Laut, sebuah tempat bersejarah yang terkenal menyimpan banyak keajaiban dan artefak mistis dari masa lalu.

Bus pariwisata yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di dekat pesisir pantai.

Tak jauh dari sana, Nerissa—sang pemilik toko suvenir lokal yang sebenarnya adalah nenek Kaelen sekaligus Ratu Mermaid terdahulu—berdiri anggun di depan tokonya. Wanita cantik dengan rambut berwarna pink pastel yang mencolok itu tampak sedang menanti kedatangan seseorang dengan tatapan cemas.

Begitu turun dari bus, Evelyn melangkah berdampingan dengan Sofia. Tanpa sengaja, rute berjalan mereka melewati depan toko suvenir milik Nerissa.

Evelyn sempat membeku sejenak, memasang insting waspada. Namun, ia menyadari bahwa nyanyian mistis berfrekuensi aneh yang sempat menyiksa telinganya kemarin kini telah lenyap sepenuhnya. Tubuhnya juga terasa jauh lebih bugar berkat khasiat ramuan merah dari Benjamin semalam. Evelyn menghela napas, merasa sedikit lega.

Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.

"Nak. Bisakah kita mengobrol sebentar?"

Sebuah suara selembut sutra menginterupsi langkah Evelyn. Nerissa melangkah maju, menghalangi jalannya dengan seulas senyuman hangat yang tampak penuh teka-teki.

Evelyn tersentak, lalu mencoba menolak dengan halus. "Maaf, Nyonya, tapi saya harus segera menuju Gua Museum Blue Waves bersama rombongan. Saya takut ketinggalan barisan."

"Hanya sebentar saja, Nak," bujuk Nerissa, tatapan matanya mengunci lekat-lekat sosok Evelyn. "Bila perlu, nanti aku sendiri yang akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu ke sana. Percayalah padaku. Aku sudah menjadi penduduk asli Blue Waves sejak lama. Apa kau meragukanku? Aku juga sudah meminta izin kepada salah satu guru pendampingmu tadi."

Evelyn terdiam sejenak. Didikan keras mendiang ayahnya yang seorang ghost hunter memperingatkannya untuk tidak mudah memercayai orang asing di wilayah mistis seperti ini. Namun, aura wanita berambut pink ini tidak memancarkan niat membunuh seperti Kaelen.

Evelyn menoleh ke arah Sofia yang menatapnya bingung. "Baiklah, tapi benar-benar hanya sebentar, ya. Sofia, kau pergilah duluan bersama rombongan. Nanti aku akan menyusul."

"Baiklah kalau begitu. Jangan lama-lama ya, Eve! Aku duluan!" Sofia melambaikan tangannya, lalu berlari kecil mengejar rombongan murid yang lain.

Setelah sosok Sofia menjauh, Evelyn kembali menatap wanita paruh baya misterius di hadapannya. "Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Nyonya?"

"Duduklah dulu. Kita bicarakan hal ini di dalam toko," ajak Nerissa.

Mereka berdua melangkah masuk, namun langkah Evelyn mendadak terhenti di ambang pintu. Di dalam ruangan, tampak Kaelen sedang duduk dengan kondisi yang sangat berantakan.

Wajahnya penuh lebam keunguan, sementara tangan, kaki, hingga pundaknya terbalut perban putih. Pria itu hanya mengenakan kaus longgar dan celana pendek, duduk menunduk kaku tanpa pergerakan berarti.

Evelyn mengeraskan rahang. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatan tentang kejadian mengerikan semalam kembali berputar di kepalanya, memicu amarah yang membuat dadanya bergemuruh. Ia sama sekali tidak sudi memaafkan Kaelen.

Nerissa yang menyadari perubahan atmosfer itu segera menarik lembut tangan Evelyn. "Nak, ayo masuk. Aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu, agar kesalahpahaman antara cucuku dan kau bisa cepat selesai."

Meski enggan, Evelyn akhirnya melangkah maju. Ia mengambil tempat duduk di sofa, tepat di seberang Kaelen dan di samping Nerissa.

Wanita paruh baya itu menghela napas panjang. Sebagai seorang mantan Ratu Mermaid, ia harus tetap menjaga wibawa dan bersikap tegas.

"Nak Evelyn... maafkanlah cucuku ini,"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!