Brisella merupakan seorang koki dengan karir cemerlang. Namun, segalanya hancur ketika ia dikhianati rekan kerjanya dan diselingkuhi sang suami. Hidupnya berakhir hingga dia terlempar ke dunia lain.
Jiwa Brisella berpindah ke tubuh seorang Tuan Putri dari kerajaan miskin yang terjerat banyak utang. Dia bernama Brisella Sizilien. Setelah mengetahui kondisi kerajaan yang amat memprihatinkan, Brisella diharuskan berpikir dan bertindak membangun kerajaan ini kembali.
Sanggupkah nanti Brisella memanfaatkan kemampuan memasaknya untuk melunasi utang-utang kerajaan serta memakmurkan kerajaan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xeiralana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Penyembuhan Hestio
Brisella mengendap diam-diam menuju istana kediaman Hestio – putra mahkota sambil membawa sepiring bubur serta segelas teh tawar. Untung saja pengawasan di istana putra mahkota lebih longgar sehingga dia bisa masuk ke kamar Hestio tanpa kendala.
Aku tidak boleh ketahuan. Jika pelayan dan kesatria lain tahu, nanti mereka pasti mengiraku melakukan sesuatu yang membahayakan untuk kakak.
Setiba di samping ranjang Hestio, sejenak Brisella terpaku menatapi wajah pucat Hestio. Tampilan luar sang kakak tampak begitu mirip dengannya. Warna rambut mereka sama persis, kata Portia mata Hestio juga berwarna hijau emerald. Namun, paras Hestio lebih menyerupai Razen dan Cassis.
Di sela ketidaksadaran Hestio, sesekali terdengar suara erangan kesakitan dari mulut Hestio. Pemuda berumur 20 tahun tersebut punya situasi nan amat menyulitkan di tengah konflik istana yang tidak berkesudahan. Melihat dari kondisi Hestio, penyakit kelainan mana alias penyumbatan akar mana yang diidapnya terlihat sangat parah.
“Kakakku kenapa kau harus melalui hal seberat ini?” Brisella memandang sendu Hestio sembari mengusap kening kakaknya yang basah karena keringat. “Baiklah, aku akan membantu menyembuhkanmu! Jangan khawatir, adikmu takkan membiarkanmu mati begitu saja.”
Brisella menyuapi dengan pelan bubur yang sudah dia buat susah payah. Dia bersyukur menemukan bahan makanan yang bagus ketika berkunjung ke Kota Yelind.
Sesaat Brisella menyuapi Hestio, samar-samar kedua mata Hestio terbuka sedikit dan melihat bayangan Brisella di sana. Akan tetapi, dia tak punya kekuatan untuk sekedar menggerakkan bibir memanggil nama adiknya.
Brisella ….
Beberapa detik seusai disuapi Brisella, Hestio merasakan sakit yang menggerogoti badannya perlahan mereda. Api panas membakar organ dalam Hestio seakan-akan tersiram air dingin nan begitu menyejukkan. Akibat hal itulah, Hestio dapat memejamkan mata dengan tenang tanpa harus takut rasa sakit di tubuhnya kian bertambah parah.
Mulai hari itu, Brisella rutin mengunjungi dan menyuapi Hestio selama sepuluh hari berturut-turut. Hingga di hari ke sepuluh, tepatnya pukul delapan malam, Corinne yang berencana memeriksa kondisi Hestio mendadak mematung di ambang pintu masuk.
“Y-Yang Mulia … A-Anda s-sudah sadar?”
Saking kagetnya Corinne, tiba-tiba dia menjadi gagap. Hestio yang kemarin masih berbaring tak berdaya di tempat tidur, kini di hadapannya tengah berdiri dan melompat-lompat kegirangan. Padahal Corinne mengetahui pasti bahwa nyawa Hestio berada di ujung tanduk.
“Oh, halo, Corinne.” Hestio menyapa Corinne dengan senyum khas yang selalu dia tunjukkan ke orang lain selama ini.
“Tidak mungkin … aku pasti sedang bermimpi.” Corinne menampar pipinya, dia bisa merasakan sakit di bekas tamparan itu. “Ternyata ini bukan mimpi,” gumamnya lagi.
Corinne buru-buru masuk ke dalam kamar mendekati Hestio.
“Berbaringlah, Yang Mulia. Saya akan mengecek kondisi tubuh Anda,” ucap Corinne.
“Baiklah.”
Hestio dengan patuh berbaring di atas ranjang. Corinne berulang kali mengecek denyut nadi hingga detak jantung Hestio. Berulang kali pula dia memakai sihirnya untuk memeriksa tubuh bagian dalam sang putra mahkota.
Dia masih terkejut, diam di tempat seperti batu. Logika Corinne tidak mampu mencerna apa yang terjadi di depan matanya.
“Sulit dipercaya … akar mana Anda tidak lagi mengalami penyumbatan. Bagaimana bisa Anda selamat dari penyakit kelainan mana yang terkenal ganas dan selalu berujung pada kematian? Yang Mulia, apa Anda mengetahui sesuatu? Selama berabad-abad, belum ada kasus orang yang selamat dari penyumbatan mana.”
Corinne menatap serius Hestio. Berharap ada jawaban yang dapat menjawab berbagai pertanyaan nan menggila di otaknya.
“Aku juga tidak percaya tiba-tiba selamat dari maut. Ini berkat Brisella, tampaknya dia punya bakat istimewa,” kata Hestio membuat Corinne kembali tercengang.
“Berkat tuan putri? Bakat istimewa apa maksud Anda? Tolong jelaskan kepada saya, Yang Mulia,” ujar Corinne mendesak Hestio.
Kemudian Hestio menjelaskan apa yang dia lihat serta rasakan selama tidak sadarkan diri. Corinne tidak percaya, berkali-kali mencoba membantah penjelasan Hestio. Namun, dia perlahan menyadari sesuatu tentang Brisella.
Aku mengerti sekarang. Rupanya benar ada yang aneh di balik tangan tuan putri. Beliau punya kemampuan yang tidak pernah ada sepanjang sejarah dunia. Nanti aku pikirkan lagi, aku harus mengabari raja soal ini.
Corinne bergegas keluar kamar menuju istana kediaman Razen. Wanita itu tidak sabar memberitahu Razen kabar baik tentang putra mahkota. Entah ekspresi macam apa yang nanti diperlihatkan Razen.
“Kenapa kau terlihat buru-buru sekali, Corinne? Apa kondisi Hestio semakin parah?” tanya Razen melihat irama napas Corinne tak beraturan. Dia pikir Hestio mengalami penurunan kesadaran kembali seperti biasanya.
“Yang Mulia, Anda harus mengunjungi putra mahkota sekarang juga. Beliau … beliau telah sadarkan diri,” tutur Corinne bermimik serius.
“Apa?! Hestio sudah sadar? Kalau begitu, aku akan pergi melihatnya.”
Razen lekas pergi meninggalkan setumpuk dokumen di atas meja. Dia belum mendengar sepenuhnya perihal kepulihan Hestio. Hanya mendengar Hestio sadar saja membuatnya sesenang ini. Apalagi bila dia tahu bahwa Hestio telah pulih sepenuhnya.
“Hestio!”
Hestio terperangah mendengar suara lantang Razen yang memanggil namanya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia mendengar jelas seperti saat ini.
“Hestio, syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana tubuhmu sekarang? Di bagian mana yang masih dirasa sakit? Ayah sangat mengkhawatirkanmu.” Razen memeluk dan menatap Hestio penuh haru.
“Ayah, aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah sehat.”
Perkataan Hestio sontak membuat Razen melepaskan pelukannya.
“Kau sudah sehat? Bagaimana bisa?” Razen pun mengalihkan lirikan matanya ke Corinne, mengisyaratkan dia meminta penjelasan dari dokter yang telah merawat Hestio.
“Itu benar, Yang Mulia. Putra mahkota telah pulih 100%. Aliran mana beliau kembali stabil dan jalur akar mananya tidak lagi mengalami penyumbatan. Selamat, Yang Mulia, saya menyatakan putra mahkota berhasil kembali dari ambang kematian,” kata Corinne.
Razen masih sulit untuk percaya. Dia bingung sebab jelas dia mengetahui dengan baik apa itu penyumbatan akar mana.
“Anda pasti bingung, Yang Mulia, tetapi ini semua berkat tuan putri. Beliaulah yang punya peran besar menyelamatkan putra mahkota. Beliau menciptakan keajaiban melalui masakannya.” Corinne kembali berucap.
“Apa? Jadi, Hestio pulih berkat Brisella? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Hestio sekali lagi memberi penjelasan serupa sebelumnya. Dia menceritakan secara detail bagaimana adiknya itu diam-diam menyelinap ke dalam kamar dan menyuapinya bubur bercampur kaldu.
“Ternyata itu yang terjadi. Tolong panggil Brisella kemari.” Razen memberi perintah pada salah seorang kesatria.
“Jangan Ayah marahi Brisella. Dia menyelinap karena takut orang lain mengiranya melakukan sesuatu yang membahayakan nyawaku,” ujar Hestio.
“Aku takkan memarahinya. Tenang saja.”
Tak butuh waktu lama sampai Brisella tiba di hadapan Razen dan Hestio. Betapa terkejut dia kala itu mendapati Hestio telah bangun dari ketidaksadarannya.
“Wah, Kakak sudah sadar? Bagaimana tubuhmu? Apa kau masih merasakan sakit seperti sebelumnya?” Brisella dengan langkah girang penuh semangat menghampiri Hestio. Tiada yang lebih mengejutkan daripada melihat Hestio sudah sadar.
jgn biarkan permaisuri jahat menang, kalo dia licik maka lawan dgn cara lebih cerdik lagi