Fazza, seorang CEO muda, tampan dan tajir melintir, lebih memilih bertunangan dengan remaja putri yang baru kelas satu SMA yang usianya terpaut cukup jauh-tujuh tahun.darinya.
Fazza datar dan kaku, sedangkan tunangannya mash mengharap perhatian yang lebih darinya.
semoga suka ya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto?
"Namanya Fazza Artha Mahendra. Menguasai bisnis konstruksi, ekspor import, bahan tambang, alat berat, dan transportasi, Bos," lapor seorang laki laki kekar yang berpakaian seragam pengawal.
Juga terdapat beberapa pengawal yang ada di sana
Laki laki bule yang menerima laporan itu memiliki bola mata berwarna hijau.
Mereka saat ini sedang berada di ruang privat di sebuah club yang sangat mewah.
"Fazza," desisnya. Dia pernah dengar nama itu. Perusahaan yang tertera pada laporan pengawalnya juga bukan kaleng kaleng.
Dia pun pernah dengar nama perusahaan itu di negaranya.
"Tapi rumornya dia sudah punya kekasih." Pengawal itu memberikannya beberapa foto Fazza yang sedang bersama seorang gadis muda yang sangat cantik.
Bibirnya tersenyum miring. Hatinya terlihat puas. Dia Brian Poenix, mantan Tiara Jena.
Ngga lama kemudian dia melangkah keluar setelah menyimpan beberapa foto itu. Berbaur dengan orang orang di dalam club.
Sambil menikmati tegukan minuman alkoholnya, bahunya bergoyang mengikuti musik dari DJ perempuan yang tampak sangat seksi.
DI itu sangat menikmati musik.yang dia pilih. Badannya pun bergoyang seolah tiada lelah Dari bibirnya yang tampak tipis dan merah menyala ngga henti hentinya berteriak, seolah menyemangati mereka yang sedang berjoget.
Pusat perhatian pun terfokus padanya. Sepertinya sang DJ menjadi daya tarik orang orang yang mendatangi club ini.
Netra elang Brian pun terfokus padanya. Gadis itu energik, cantik dan seksi.
Dia menyeringai melihat gadis itu berani mengedipkan sebelah mata padanya dengan ekspresi nakal.
Gadis itu ngga takut dengannya rupanya Padahal dia menampakkan wajah yang dingin saat melihat aksinya.
Tapi Brian baru kini merasa heran dengan dirinya, matanya tak teralihkan seperti mata laki laki liar lainnya yang ngga beranjak dari DJ Itu
Sepertinya sudah satu jam berlalu, gadis yang berprofesi sebagai DJ itu selesai menunaikan tugasnya.
Brian agak terkejut melihat seorang laki laki muda datang dan menyelimuti bahunya dengan coat panjang dan berlalu pergi.
Dia menyeringai lagi, menyadari gadis itu berprofesi DJ hanya untuk bersenang senang saja.
Tanpa sadar kaki Brian bergerak mengikuti kemana mereka akan pergi. Dia penasaran.
Sementara itu DJ tadi yang pergi bersama laki laki muda itu menuju ke pintu keluar club.
"Hentikan kebiasaan keluar malammu yang ngga jelas ini," omel laki laki muda tampan yang kira kira sepantaran umurnya dengan DJ itu.
"Daddy dan mami aja ngga marah."
"Merek ngga tau kamu nge DJ di club. Jika saja mereka tau, pasti semua kartumu akan dibakar," sarkas laki laki muda itu sambil berkacak pinggang.
Terdengar tawa renyah sang DJ melihat kekesalan laki laki muda di depannya.
"Kita itu simbiosis mutualisme, Devin. Mau aku jelek jelekin kamu di depan anak tante Lala?" ejeknya senang.
Laki laki muda itu mendengus kesal mendengar ancamannya.
"Belum lagi masalahmu dengan Bang Fazza. Aku ini sepupunya. Bisa aja aku kasih tau Bang Fazza kalo kamu udah balik," tawanya lagi.
"Dia pasti sudah tau," sahut Devin datar.
Agni tambah keras tawanya senang melihat penderitaan Devin.
Dasar menyebalkan, umpat Devin membatin kesal. Gadis yang sedang tertawa itu Agni. Sepupu Fazza yang bekerja di perusahaan Nathan-yang juga sepupunya
Dia terpaksa menerima permintaan daddy Agni untuk menemani anak gadisnya yang pamitnya mau nge DJ di ultah teman.
Mungkin Daddy dan maminya sudah dapat bocoran kebohongan Agni, hingga secara khusus minta tolong pada papinya, agar dia mau pergi untuk mengawal Agni.
"Salah sendiri bongkar rahasia Bang Fazza," kekehnya lagi.
Devin kembali mendengus Ngga ada yang menyalahkannya karena hal satu itu. Bahkan semua orang mengucapkan terimakasih padanya karena akhirnya Fazza bisa tunangan, dan akan segera menikah.
Ponsel di saku jas Devin bergetar.
"Ayo, pulang," ujar Devin saat melihat siapa yang menelpon. Di berjalan cepat keluar dari club dengan Agni mengikutinya sambil terus tergelak.
"Ya, om," ujarnya begitu mengangkat telpon. Daddynya Agni
Brian yang berada ngga jauh dari mereka berdua, bergeming sambil memperhatikan tingkah kedua muda mudi itu.
Pembicaraan tadi cukup jelas dia dengar. Hanya saja dia masih ragu.
Timbul idenya untuk mengetes kalo dugaannya nggak salah.
Brian sengaja melewati Agni sambil menjatuhkan selembar foto Fazza.
"Tuan.... anda menjatuhkan foto ini," seru Agni sambil mengambil sehelai foto yang jatuh dari jas laki laki di depannya. Karena pencahayaan yang remang remang Agni ngga jelas memperhatikan foto siapa itu. Lagi pula bukan urusannya mengetahui siapa yang ada di dalam foto itu.
"Terima kasih," ucap Brian sambil menerima foto tersebut dari tangan Agni.
Agni memperhatikan sejenak laki laki ini untuk mengingat.
Bibirnya tersenyum samar. Rupanya laki laki bermata hijau yang mendapat hadiah spesialnya. Satu kedipan mautnya. Dirinya ngga pernah memberikannya pada sembarangan orang.
"Sama sama." Tapi matanya terpaku saat pencahayaan mulai jelas jatuh ke foto yang seolah ngga sengaja terbentang di depan matanya. Hanya sebentar sebelum dimasukkan kembali oleh laki laki itu ke saku jasnya
Mengapa dia punya foto Bang Fazza dan tunangannya?
Melihat Keterpakuan Agni meyakinkan Brian, kalo dugaannya benar.
Dengan tak acuh, Brian memasuki club lagi.
"Hei....," seru Agni tersadar bermaksud mengejar. Tapi lengannya telanjur dicekal Devin.
"Malah mau masuk lagi. Om nyuruh bawa kamu pulang," omel Devin sambil menariknya keluar lagi dari club.
"Heh, dodol! Aku mau ngejar laki laki tadi," sentak Agni hingga cekalan Devin terlepas.
"Ngapain ngejar laki laki bermata ijo itu?" Devin menatapnya penuh selidik. Tadi dia sempat memperhatikan interaksi Agni dan laki laki tadi.
"Kamu tadi lihat warna matanya ijo?"
"Iya," sahut Devin malas. Dia harus segera mengantar Agni pulang.
"Vin, kamu lihat ngga foto yang aku pungut tadi?" Mata Agni menatap ke arah dalam club.
"Nggak. Emang foto siapa. Bukan urusan kita. Ayo, kita pulang." Devin melangkah lebih dulu. Dia malas melanjutkan obrolan yang ngga penting
"Dia punya foto Bang Fazza sama Vanda."
Langkah Devin tertahan. Dia menatap gadis yang suka menyusahkannya dengan tajam.
"Serius. Aku sempat lihat."
Keduanya bertatapan.
"Ikut aku."
Kali ini Devin menarik tangan Agni, mengajaknya masuk lagi ke dalam club.
Cukup lama dicari tapi ngga ketemu.
"Mungkin di ruang privat?" cetus Agni
Devin ngga menyahut. Kalo di ruang privat, ngga mungkin bisa mereka masuki, walaupun mereka mengenal pemilik club ini.
*
*
Malamnya setelah Fazza mengantarnya pulang, dia ngga bisa tidur. Yang dilakukannya hanya berguling guling dengan bibir penuh senyum di atas ranjangnya. Perkataan mamanya masih terngiang ngiang di telinganya. Membuat jantungnya sampai sekarang ngga berhenti berdebar keras.
Flashback On
Vanda sudah ngga merasakan sepinya malam ini. Karena tumben mama dan papanya ada di rumah. Seperti sengaja menunggu kedatangannya bersama Fazza.
Bahkan Papanya sempat menahan Fazza, sedangkan mamanya membawanya pergi ke kamarnya
"Tadi keluarga Fazza datang melamar kamu, meminta segera menikahi kamu, sayang. Kamu mau?" tanya mamanya langsung dengan wajah berseri seri.
Jantung Vanda hampir copot karenanya.
Tadi Fazza juga melamarnya.
Nafas Vanda seolah berhenti. Dia ngga tau apa yang harus dia katakan.
"Putri mama akan jadi milik laki laki lain."
Mama memeluknya erat. Matanya berkaca kaca.
"Maafkan mama dan papa yang kurang memperhatikan kamu," ucap mamanya tersendat. Permintaan keluarga Fazza membuat hatinya bahagia bercampur sedih.
Bahagia karena putrinya beruntung mendapatkan laki laki baik seperti Fazza.
Sedihnya karena baru merasa selama ini hanya memiliki sedikit waktu saja bersama putrinya.
Mendengar ucapan mamanya membuat tangis Vanda pecah begitu saja. Kata kata mamanya sangat menyentuh perasaannya.
Pelukan ibu dan anak ini pun semakin erat .
Endflasback
●
●
Bentar lagi part konflik ya.....
Terimakasih selalu mampir♡♡
.
wanita cukup dikejaar 😁🤭
ngeri...ngeri ...karena cinta 🤦♀️