Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akal licik Alan
Anna baru saja pulang bekerja, ia belum sampai melepas sepatunya. Tiba tiba dari arah pintu suara di ketuk dari luar. "Genzo?" Anna berjalan mendekati pintu lalu membukanya. "Ayah?" Anna tidak percaya jika Alan ada di depan rumahnya.
"Anna.." sapa Alan menundukkan kepalanya sesat.
"Ibu mana?" mata Anna menatap sekitar halaman rumahnya, tapi Elama tidak ada.
"Ibumu sakit Anna," ucap Alan menundukkan kepalanya.
"Ibu sakit apa Yah? lalu di mana Ibu sekarang?" tanya Anna berjalan lebih dekat ke arah Alan yang berdiri terpaku.
"Ibumu ingin ketemu, bisa kau ikut ayah?"
Anna terdiam sesaat. "Tentu Yah," sahut Anna dengan senang hati. Tanpa menaruh curiga sedikitpun. Alan memberikan helm pada Anna lalu ia naik ke atas motor, lalu mereka meninggalkan tempat.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di area parkiran hotel, Anna turun dari atas motor dan melepas helmnya. "Ayah, kenapa kita kesini?" tanya Anna masih belum mengerti.
Alan turun dari atas motor, "Ibumu di sini Nak, kami menginap di sini. Tasya juga ada di sini." Alan terus membohongi Anna.
"Oya? aku mau ketemu Tasya, sudah lama tidak melihatnya." Anna tersenyum lalu meletakkan helm di atas motor.
"Ayo kita masuk." Alan berjalan dengan santai masuk ke dalam hotel. Di ikuti Anna dari belakang. Gadis itu merogoh saku celananya mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat pada Genzo. Kalau dia ada di hotel untuk menemui Ibunya. Lalu ia memotret punggung Alan untuk di kirimkan pada Genzo sebagai bukti kalau dia tidak berbohong. Setelah itu, ia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Langkah mereka terhenti di depan pintu no 03. Alan melirik sesaat ke arah Anna. Lalu tangannya mulai mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka, Alan langsung menarik tangan Anna masuk ke dalam. Anna menoleh ke arah Alan dengan tatapan bingung. "Di mana Ibu?"
Alan hanya diam, lalu balik badan keluar dari kamar. Anna berusaha mengejar Alan. Ayah!
Namun seseorang mencekal lengan Anna dan menariknya mundur ke belakang. Pintu langsung di tutup dan terkunci rapat. Anna menatap tajam pria yang ada di hadapannya. Pria itu tersenyum menyeringai, rambutnya yang panjang terikat rapi. Hidungnya mancung dan bibirnya sensual, rahang yang besar. Tengah berdiri menatapnya tajam seakan ingin menelan Anna bulat bulat.
"Kau?" ucap Anna. Ia ingat dengan pria yang berada di rumah Alan tempo hari.
Dominic menganggukkan kepalanya, berjalan menghampiri Anna, pria yang dalam keadaan setengah mabuk itu langsung memeluk tubuh Anna erat dan mengangkatnya ke atas tempat tidur. Anna menendang perut pria itu hingga terjungkal ke bawah. Saat Dominic berusaha bangun, Anna mengambil ponselnya lalu menghubungi Genzo. Belum sempat Anna bicara, Dominic mencekal tangan Anna dan berusaha merebut ponsel Anna. Dengan sekuat tenaga, Anna mempertahankan ponselnya. Terdengar suara Genzo dari ponsel memanggil Anna.
"Anna!"
"Sayang, tolong aku!" jerit Anna lalu ponsel terlempar jauh ke lantai. Dominic langsung menekan tubuh Anna lalu menciumi wajahnya. Anna yang memiliki bela diri, mengumpulkan tenaganya lalu menarik rambut Dominic dan menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Anna. Dominic langsung bangun dan menarik kemeja Anna hingga kancingnya terlepas semua.
"Mau kemana kau, gadis liar!" seru Dominic menarik rambut Anna hingga terpelanting kebelakang. Kembali Dominic naik ke atas tubuh Anna dan mencengkram kedua tangan Anna. Dengan agresif, bibirnya menelusuri wajah Anna lalu ke leher dan dadanya. Anna tidak mau menyerah. Kaki kanannya mengunci kaki kiri Dominic. Sementara tangan kiri menjauhkan wajah pria itu dari dadanya. Kaki kanan langsung menendang kembali perut Diminic. Hingga pria itu mengerang kesakitan. Anna langsung turun dari atas tempat tidur, menuju pintu kamar. Namun Dominic menarik lengan Anna dengan kasar lalu menghempaskannya ke lantai. Membuat kepala gadis itu terbentur lantai.
"Aahk! Anna mengerang kesakitan.
Sementara di tempat lain, Genzo bergegas menemui Alan dan memaksanya untuk memberitahu di mana Anna. Di bawah ancaman karena Genzo membawa dua orang anggota polisi. Akhirnya Alan menunjukan di mana Anna berada.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di hotel. Berkat adanya Polisi, pihak hotel mau membukakan pintu kamar yang di tempati Dominic. Genzo melihat pakaian Anna sudah sobek dan terbuka, ia tengah menghajar Dominic habis habisan. Pria yang setengah mabuk itu, bisa Anna lumpuhkan. Genzo langsung berlari memeluk Anna dan membuka jaketnya untuk menutupi tubuh Anna. Dalam pelukan Genzo, gadis itu menangis. Sementara dua Polisi tadi mengamankan Dominic serta mengambil beberapa barang yang bisa di jadikan alat bukti. Berikut keterangan Alan dan pihak pekerja hotel. Kedua anggota pihak berwajib itu akan membawa kasus Anna ke ranah hukum dan memproses Dominic lebih lanjut lagi.
Genzo membawa Anna keluar dari hotel, sementara Alan melarikan diri entah kemana tanpa sepengerahuan Genzo dan Anna.
"Untuk proses selanjutnya, kami butuh bukti bukti lain." Pihak berwajib meminta Anna untuk di visum sebagai bukti.
Anna tidak keberatan. Setelah itu, Dominic di bawa ke kantor Polisi. Beberapa paparazi ada di lokasi dan mengambil gambar Dominic. Malam itu juga, berita penangkapan Dominic tersiar di berbagai media. Siapa yang tidak kenal dengan Dominic. Seorang milyuner terkenal dan memiliki pengaruh besar di dua Negara.
"Sayang, apa kau baik baik saja?" tanya Genzo menatap wajah Anna yang terlihat kusut.
Anna menganggukkan kepalanya. "Aku baik baik saja, untung kau datang tepat waktu." Anna memeluk tubuh Genzo erat.
"Kita pulang, untuk sementara kau pulang ke rumahku. Nanti aku carikan rumah yang layak buatmu." Genzo mencium kening Anna dengan dalam. Rasa sayangnya terhadap Anna semakin besar. Ia tidak perduli lagi hal lainnya selain Anna.
Di sisi lain, ada yang begitu dalam mencintainya. Di sisi lain, orang yang seharusnya menjaga dan melindungi gadis itu, berbalik dengan Genzo. Mereka selalu membuat Anna menderita. Inikah hidup? Anna tidak mengerti dengan jalan hidupnya.
"Ya Rabb, mengapa mereka yang kuanggap keluarga, aku bela mati matian justru sering mencelakaiku. Haruskah aku memaafkan untuk kesekian kalinya?" ucap Anna dalam hati.
Kesabaran itu luas melebihi samudera, tapi Anna hanyalah manusia biasa. Bukan wonder woman. Yang harus kuat dalam menghadapi apapun. Anna gadis biasa yang butuh pelukan seorang Ibu, kasih sayang kedua orangtuanya, yang sampai detik ini belum ia dapatkan. Anna tidak mengerti mengapa? perlahan air mata menetes di pipinya.
Genzo melirik ke arah Anna sesaat. "Sayang, hapus air matamu. Kau sudah aman."
Anna menyeka air mata dengan telapak tangannya, menoleh ke arah Genzo dan tersenyum samar. Lagi lagi pria itu menjadi penyelamat hidupnya.
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐