Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Aku siap
Ana baru saja selesai memasangkan dasi untuk Hugo, butuh waktu beberapa menit lamanya untuk melakukannya. Selain grogi karena Hugo terus-menerus menatapnya, tangan lelaki itu juga kerap menyentuh tepi rambutnya dan menyelipkannya ke balik telinganya.
“Selesai.” Ana mengembuskan napas dengan wajah lega. Ia mengusap pelan kerah kemeja Hugo, merapikan ujungnya yang sedikit menekuk lalu bersiap melompat turun dari atas meja. “Eh?”
Hugo tersenyum menanggapi keterkejutan Ana saat kedua tangannya secara spontan memegang pinggang wanita itu dan membantunya turun dari atas meja. “Terima kasih sudah membantuku memasang dasi," ucap Hugo kemudian, lalu melangkah ke depan lemari kaca dan merapikan penampilan dirinya lagi. “Ana, Aku sudah memutuskan. Kita akan pergi bersama ke acara reuni nanti malam.”
“Aku?" Ana mengernyit sembari menunjuk da danya sendiri, dibuat terkejut untuk kedua kalinya oleh ucapan Hugo barusan. "Apa Aku tidak salah dengar. Tuan mengajakku ke acara reuni teman sekampus, Tuan?" Ana langsung menggeleng seraya menggerak-gerakkan jemari tangannya.
"Yup!" Hugo menganggukkan kepala. Dari balik cermin di depannya, sekilas ia melihat Ana menggelengkan kepalanya. Ia balik badan dan berjalan cepat ke arah Ana. Sekarang ganti ia yang mengerutkan keningnya. "Ada apa? Apa Kau tak mau datang ke acara reuni itu bersamaku?"
“Tidak, Tuan. Saya tidak mau!” tolak Ana. “Aku orang luar, bukan alumni kampus Tuan.”
“Siapa bilang Kamu orang luar? Kita akan segera menikah, Kamu bagian terpenting dalam hidupku saat ini. Reuni itu diadakan sekaligus sebagai ajang silaturahmi para alumni bersama keluarga termasuk juga pasangannya. Jadi, sudah sewajarnya kalau Aku mengajakmu hadir di sana.”
Ana sebenarnya malas bertemu dengan Livia dan mamanya, lebih baik ia menghindar dari pada datang hanya akan memancing keributan dengan mereka. “Tapi, Tuan ...”
“Tidak ada tapi-tapian dan jangan merasa sungkan. Banyak kok alumni yang datang bersama pasangan barunya.” Kata Hugo lagi sambil melirik arloji ditangannya. Tak terasa sudah jam setengah delapan pagi. Setengah jam lagi ia harus berada di kantornya untuk bertemu kembali dengan klien. "Aku harus berangkat ke kantor sekarang."
Ana mengesah pelan, tak bisa membantah lagi. Ia mengikuti Hugo keluar dari kamarnya, berhenti sejenak untuk menatap punggung tegap itu berjalan menuruni anak tangga sebelum Ana kembali melanjutkan langkahnya. Saat melewati meja makan, Ana baru tersadar kalau pria itu bahkan belum sarapan.
“Maafkan Aku, Tuan.” Ana melirik meja makan di mana terdapat roti dan gelas minum Hugo yang masih utuh dan tak tersentuh. Hugo pasti belum sarapan tadi, dan itu gara-gara dirinya yang telat bangun lagi. “Tuan pasti belum sarapan, kan? Gara-gara Aku terlambat bangun pagi, Tuan juga jadi telat ke kantornya.” Imbuh Ana lagi dengan nada menyesal.
“Tenang saja, bik Ani sudah menyiapkan bekal sarapan untukku di kantor.” Hugo tersenyum sembari memperlihatkan kotak makan yang berada di atas meja pada Ana.
“Syukurlah kalau begitu, bik Ani memang cekatan.” Puji Ana seraya menarik napas lega.
Hugo kembali tersenyum, untuk mengurangi rasa bersalah Ana padanya, Hugo meraih gelas minumnya dan meneguknya cepat. "Aku sudah menghabiskan minumanku. Giliranmu nanti yang harus menghabiskan sarapanku," kata Hugo dengan sorot mata lembut menatap lekat mata Ana.
"Ba-ik, Tuan." Wajah Ana menghangat, pipinya bersemu merah. Terlebih saat Hugo mengusap rambutnya sebelum berlalu dari hadapannya.
Hugo tersenyum simpul. Ana memang sudah membuatnya terlambat, tapi Hugo tak pernah sekali pun menyesalinya. Ia justru merasa senang, dan itu tergambar jelas di wajahnya ketika ia datang ke kantor dengan wajah cerah dan senyum tak lepas dari bibirnya.
“Tuan?” Mitha yang berdiri menyambutnya di depan pintu dan sudah siap melontarkan pertanyaan terkait keterlambatannya datang, terpaksa harus menelan kembali ucapannya.
Hugo terus tersenyum dan menatapnya, “Aku siap bertemu dengan mereka. Katakan kalau Aku menunggu di ruanganku sekarang,” perintahnya pada Mitha.
“Baik, Tuan.” Mitha bersiap memanggil dua orang klien perusahaan yang sedang duduk menunggu di lobi lantai dua ruang kerja Hugo.
Sebelum beranjak dari sana, Mitha mengintip ke dalam ruangan menatap punggung Hugo yang berjalan menuju meja kerjanya. Ia mendengar lelaki itu menyanyikan lagu cinta. Ada apa gerangan bos hari ini, ia terlihat begitu semringah sekali pagi ini? Mitha bertanya dalam hati, penasaran karena selama beberapa tahun ini tak pernah melihat atasannya itu seceria seperti saat ini.
“Maaf, Saya datang terlambat. Ada beberapa hal yang sangat mendesak yang perlu penanganan khusus dari Saya pagi tadi,” kata Hugo meminta maaf setelah saling berjabat tangan pada kedua orang tamunya yang datang.
“Tidak masalah, Tuan. Kami sangat maklum tentang hal itu,” sahut salah satu klien.
Setelah berbasa-basi sebentar saling menanyakan kabar, mereka lalu bicara serius tentang kerja sama yang akan mereka lakukan. Hingga tak terasa waktu cepat berlalu, tahu-tahu hari sudah menjelang siang. Jam sebelas siang pertemuan mereka selesai dan berhasil mencapai kata sepakat.
Hugo lalu mengajak kedua orang tamunya itu menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh Mitha dan asistennya Yuda. Setelah jam makan siang, Hugo mengajak Yuda keluar kantor. Mereka mengunjungi salah satu butik ternama di kota itu dan memesan gaun untuk Ana.
Sementara Hugo kembali ke kantor, Yuda diberi tugas mengantar gaun itu ke rumah. Ana yang kebetulan sedang berada di teras depan, terkejut menerima bingkisan kotak untuknya. Yuda hanya mengatakan padanya kalau semua itu Hugo yang memberikan.
Yuda berpamitan untuk kembali ke kantor, dan Ana bergegas ke kamarnya untuk membuka kotak dari Hugo. Saat kotak itu terbuka, terselip kartu berisi catatan kecil tulisan tangan Hugo untuknya.
Kau adalah satu-satunya wanita yang membuatku harus mempertaruhkan segalanya demi masa depan kita yang lebih berharga.
“Hugo,” bisik Ana lirih, ia taruh kartu itu di dadanya sambil memejamkan mata mencoba meresapi arti kata di dalamnya. Ana membuka mata perlahan, lalu menatap isi di dalam kotak. Perlahan tangannya bergerak mengeluarkan gaun indah berwarna kebiruan itu dari dalam sana. “Cantik sekali.”
Ana lalu menggantung gaun itu dengan sangat hati-hati, untuk beberapa saat lamanya terus dipandanginya. Menjelang petang saat ia tengah bersiap-siap, bik Ani mengetuk pintu kamarnya. Ia datang bersama dua orang wanita yang katanya akan membantunya merias diri, dan ternyata semua atas perintah Hugo.
Ana menurut, ia menerima semua dengan hati senang. Lepas magrib mereka mulai merias Ana, dan hasilnya sungguh luar biasa. Ana tampil cantik dan memukau dengan gaun yang dikenakannya. Saat melihat tampilan dirinya di cermin, Ana mengakui kalau segalanya terlihat sempurna untuknya.
Tepat jam tujuh malam Hugo datang menjemputnya. Tak ada kata yang terucap dari bibir lelaki itu begitu melihat penampilan Ana, hanya matanya saja yang seolah bicara. Ana merasakan jantungnya berdegup kencang, ia melangkah dengan kaki gemetar di bawah tatap mata Hugo. Lelaki itu juga tampak memukau dengan pakaian yang dikenakannya.
Hugo membukakan pintu mobil untuknya, Ana melangkah masuk dan saat menunduk tanpa sengaja lengan kuat Hugo menyentuh kulit bahunya yang sedikit terbuka. Sentuhan itu menimbulkan sensasi aneh di perutnya.
“Kamu cantik sekali, Ana.” Ucap Hugo ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Ana tersipu malu, pipinya langsung merona. “Terima kasih, Tuan juga tampan sekali.”
Hugo manyun, “Ana, berhenti memanggilku Tuan. Aku bukan Tuanmu, tapi calon suamimu. Kita akan segera menikah, lebih baik sekarang Kau ubah panggilanmu itu.” Tegur Hugo mengingatkan.
“Maaf, Aku lupa kalau malam ini kita adalah pasangan.”
“Panggil Aku sayang, Aku juga akan membiasakan diriku memanggilmu seperti itu.”
“Sayang?”
“Iya, sayang.”
Wajah Ana kembali merona, Hugo tertawa melihatnya. Mau tidak mau Ana ikutan tertawa, suasana perlahan mencair dan perjalanan malam itu menjadi lebih menyenangkan.
Mereka tiba di tempat tujuan, Hugo membantu Ana turun dari mobil. Ia menggenggam tangan Ana saat melangkah masuk ke tempat acara. Sulit bagi Ana untuk tetap bersikap tenang bila Hugo terus merapat padanya. Lelaki itu sering kali menundukkan wajah saat bicara padanya, begitu dekat jaraknya hingga sekilas mata tampak seperti tengah menyentuh lehernya.
“Hugo!” suara teriakan seseorang membuat Hugo memelankan langkahnya. Ia menoleh ke sumber suara, dan menemukan Rio sahabatnya tengah duduk di salah satu meja bersama rekannya yang lain.
“Kita ke sana, Aku akan kenalkan Kamu dengan teman-temanku.” Ajak Hugo sambil memegang lengan Ana.
Ana tersenyum mengangguk, belum jauh langkahnya ia melihat seseorang duduk di salah satu meja yang akan mereka lewati tengah menatap ke arah mereka.
“Ana!” Livia melambaikan tangan padanya, tersenyum ramah mengacungkan gelas minumnya pada Ana. “Ayo, gabung bersama kami.”
Ana menghentikan langkahnya, sejenak ragu balas menatap Livia yang terus melambai padanya sebelum akhirnya memutuskan untuk datang menghampirinya. Ia menarik lengan Hugo di sebelahnya, mengangkat dagu dan mengarahkan pada Livia yang kini tersenyum menatap ke arah mereka berdua. “Aku harus ke sana menemui Livia dulu.”
Hugo pun tampak ragu, ia menatap Livia sesaat sebelum beralih menatap Ana. “Apa Kau yakin ingin bergabung bersama dengannya?”
“Aku hanya ingin menyapanya saja,” sahut Ana, lalu melepas pegangan tangan Hugo di lengannya. Ia tersenyum sebelum melangkah menuju Livia.
Wanita itu menyambutnya dengan gembira, tampak senang karena Ana mau bergabung bersamanya. “Selamat datang Ana,” ucapnya lalu memeluk Ana sambil berbisik parau di telinganya. “Aku senang akhirnya bisa melihatmu datang malam ini, ada yang ingin kutunjukkan padamu. Apa Kau sudah siap bergabung bersamaku, Ana?”
Ana menarik diri dari pelukan Livia, ia mendengar nada ancaman dibalik ucapannya. Ana berusaha tenang meski matanya sempat melihat tatapan sinis Livia saat melihat penampilannya. “Aku siap,” jawab Ana tanpa ragu.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹