Katanya, jatuh cinta adalah rasa sakit yang indah. Namun apa jadinya jika yang mencintai hanya satu pihak?
Ralia adalah salah satunya, ia menjadi korban sebuah perasaan indah namun menyakitkan bagi dirinya. Dimana, Ia harus menikah dengan seseorang yang Ia cintai diam-diam, namun tak tahu apakah cinta itu terbalaskan atau tidak.
Pernikahan yang harus Ia jalani dengan Alvan, ternyata memang bukan sebuah perjodohan, bukan pula sebuah perjanjian bisnis.
Pernikahan mereka terjadi karena ibu dari Alvan menginginkan Ralia sebagai menantunya. Karena tidak ingin disebut sebagai anak durhaka, maka Alvan pun bersedia menjadi suami Ralia, meskipun Ia masih mengharap cinta dari Dara, mantan kekasihnya.
Akankah cinta sesungguhnya hadir dalam pernikahan mereka, atau bahkan cinta itu akan berubah menjadi kebencian dari keduanya?
Ig @atri.auliaa304
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atri Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hingga malam tiba, Ralia masih ditemani Nidia dan Ia memikirkan perdebatan suami dan mertuanya. Ia tak benar-benar tidur sore tadi, Ia mendengar apa yang mereka bicarakan. Kondisi tubuhnya sudah membaik berkat Nidia yang telaten merawatnya. Sesuai permintaan Nidia, Dikta datang tanpa tahu ada apa dan harus apa. Nidia tidak memberitahunya secara rinci dan hanya memintanya datang ke apartemen Alvan saja.
"Nak Dikta. Antar Ibu sama Ralia ke klinik ya! Gak sibuk kan?" Soktak bukan hanya Dikta yang terkejut, Alvan dan Ralia pun sama-sama terkejut. Pasalnya masih ada Alvan kenapa harus Dikta?
"Loh... tapi--"
"Alvan gak akan mau nganterin Ibu. Kan sekarang dia bodyguardnya Dara. Kamu tahu kan?" Dikta mengangguk sambil tersenyum paksa menanggapi Nidia yang terlihat begitu kecewa pada Alvan.
"Dikta gak pernah mampir ke sini?" Tanya Nidia selanjutnya.
"Eh? Eng-enggak tante. Terakhir ke sini kan pas nganterin Ralia aja." Jawab Dikta sebenarnya ragu menjawab karena takut salah berbicara.
"Aih pantas saja. Kamu gak tahu ya Ralia sakit lambung dan gak makan 3 hari? Suaminya gak punya tanggung jawab." Nidia semakin terang-terangan menyindir Alvan yang saat ini tengah berada di dapur untuk mengambil minum.
"Bu..." lirih Ralia langsung dimengerti oleh Nidia.
"Kamu jangan belain Alvan. Sekali-sekali kamu itu gak boleh kalah dari suami. Apa lagi suaminya kayak gini. Ibu emang gagal ngedidik anak Ibu sampai dia tega ngebiarin istrinya gak makan berhari-hari dan hanya memikirkan mantan pacarnya aja." Dikta tak lagi ingin bicara. Ia begitu terkejut mengapa bisa Alvan setega ini pada Ralia.
"Bu..." ucap Ralia dan Alvan serentak. Meskipun mereka berbeda ungkapan, namun hal itu berhasil membuat Alvan menoleh kepada Ralia yang memilih memalingkan wajahnya dari sang suami.
"Lia gapapa Bu. Gak usah ke dokter." Ujar Ralia mendahului Alvan.
"Nggak. Pokoknya kamu harus ke dokter. Biar gak keterusan. Syukur-syukur kalau Ibu ada di sini kan? Yu! Mungpung Dikta sudah ke sini. Kamu gak keberatan kan Dikta?" Dikta mengangguk Ragu mendapati pertanyaan menekan yang dilemparkan Nidia padanya. Itu tidak terdengar seperti ajakan, tapi lebih tepatnya sebuah ancaman. Dengan terpaksa, Ralia bersiap dan mengikuti langkah Nidia.
"Bu.... kenapa gak ajak Alvan?" Tanya Alvan berhasil menghentikan langkah Nidia yang sudah melewati pintu. Nidia beralih memutar tubuhnya dan saling berhadapan dengan Alvan yang kini menyusul mereka.
"Harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri. Kalau memang kamu ada niat nganter Ralia, harusnya dari kemarin-kemarin. Bukan sekarang pas udah ada Ibu. Kamu gak akan ngerti Alvan. Jangan pura-pura peduli sama Ibu atau Ralia. Nyatanya kamu lebih peduli sama Dara yang jelas bukan siapa-siapa."
"Tapi Bu..."
"Tapi apa lagi? Udah ya! Jangan ngomong sama Ibu lagi. Selama kamu masih berhubungan sama si Dara, Ibu gak akan anggap kamu anak. Ibu kecewa punya anak yang gak bisa muliakan istrinya sendiri. Kalau kamu gak pernah buat salah, silahkan kamu benci Ralia. Tapi kalau kamu mengaku masih suka buat salah, jangan anggap orang lain seperti sampah. Ibu gak pernah ajarin kamu kayak gitu sama orang. Apa lagi sama istri kamu sendiri." Kini nada bicara Nidia semakin terdengar tegas. Alvan menunduk seraya memalingkan pandangannya dan membiarkan ketiga orang itu berlalu dari hadapannya. Ucapan Nidia ada benarnya, namun baginya untuk menyapa Ralia saja, Ia tak mau.
Di perjalanan, Nidia terus membicarakan Alvan. Ia terlanjur kesal pada anak bungsunya itu. Dan beberapa kali Ia meminta maaf pada Ralia karena tak bisa membuat Alvan baik padanya. Dikta semakin yakin untuk menyelidiki tentang insiden tempo hari. Ia memaki dirinya sendiri karena ceroboh membiarkan Ralia mengobrol dengan Dara.
"Bu... di rumah kak Karisa ada CCTV kan?" Tanya Dikta setelah Nidia berhenti bicara.
"Ibu kurang tahu nak. Karisa tidak memberitahu Ibu." Jawab Nidia sejenak mengingat pada rumah Karisa.
"Emm Bu. Aku mau minta izin boleh gak?" Tanya Dikta selanjutnya.
"Izin apa?" Nidia mengernyitkan alisnya tanda Ia penasaran dengan apa yang akan Dikta mintai izin darinya.
"Dikta boleh jagain Ralia gak Bu? Takutnya Alvan masih belum terbuka hatinya dan masih marah sama Ralia, sebagai gantinya Dikta yang jaga Ralia. Dikta janji kok gak bakal ngapa-ngapain. Cuman jagain sama siap sedia kalau Ralia butuh apa-apa." Jelas Dikta langsung dimengerti oleh Nidia. Namun tak ada jawaban, Nidia masih memikirkan permintaan Dikta tersebut. Bagaimana bisa pria yang bukan suami Ralia begitu peduli pada Ralia? Sedangkan Alvan yang merupakan suami sahnya saja tidak peduli sama sekali.
"Tapi kamu bener tulus bantu Ralia kan?"
"Iya Bu. Dikta gak ada niatan apa-apa kok. Dikta gak mau aja nanti Ralia sakit lagi sendirian. Kan kalau misal Ibu pulang, ada aku gantinya buat beliin makanan atau nganterin ke dokter."
"Ibu gak akan larang, tapi Ibu juga gak begitu ngasih izin. Kalian kan bukan suami-istri. Ibu takut ada kesalahpahaman nantinya. Tapi kalau kamu niatnya bantu, sekali-sekali gak apa-apa. Jangan keseringan ya! Ibu gak mau denger gosip selingkuh-selingkuh kayak gitu."
"Enggak Bu. Dikta bisa jaga batasan kok. Ibu tenang aja, Dikta akan anggap Ralia sebagai adik Dikta. Biar Ibu gak mikir macem-macem ya!"
"Apa kamu percaya sama Ralia? Maksud Ibu, kamu percaya Ralia gak dorong Dara?"
"Dikta percaya Bu. Dikta yakin Ralia gak mungkin lakuin hal itu. Yang ada bisa jadi Dara yang sengaja fitnah Ralia."
"Andai Alvan itu kayak kamu ya?"
"Ibu... udah jangan dibahas..." lirih Ralia menatap harap pada Nidia agar tidak terus membicarakan insiden kemarin.
Dikta menepikan mobilnya di salah satu klinik yang tak terlalu jauh dari apartemen Alvan. Nidia mengantar Ralia untuk menunggu, sementara Dikta yang mendaftar. Kondisi Ralia memang sudah membaik, namun masih terlihat jika Ia gemetaran dan lemas. Setelah menunggu beberapa antrian, akhirnya nama Ralia disebut dan Ia segera memasuki ruangan pemeriksaan.
"Ada keluhan yang dirasakan?"
"Mual, pusing, sama lemes Dok." Jawab Ralia seraya membaca papan nama sang Dokter. Silvia. Dokter muda yang sangat cantik.
"Mualnya gimana? Sampai muntah?"
"Enggak sih Dok. Mualnya kayak mu aja gak bisa muntah."
"Udah nikah?"
"U-udah Dok."
"Terakhir mens kapan?"
"Hah?" Entah kenapa, Ralia mendadak panik mendapati pertanyaan yang terasa ambigu ini. Benar, jika diingat, Ia sudah telat haid 2 minggu. Namun pikiran itu Ia tepis agar tidak menjadi pemicu stres berkepanjangan nantinya.
"Bulan lalu Dok. Seperti biasa, masih normal." Jawab Ralia selanjutnya. Ia tak ingin Dokter memeriksa hal lain selain lambung. Karena Ia hanya berpikir jika saat ini, Ia tengah merasakan gejala lambung yang sedang kumat.
"Boleh saya periksa?"
"Bo-boleh Dok."
Ralia kemudian berbaring dan dokter cantik itupun memeriksa Ralia mulai dari detak jantung, hingga perut yang kemungkinan menjadi penyebab gejala-gejala yang Ralia rasakan itu muncul.
"Telat makan ya?" Tanya Dokter lagi. Ralia hanya mengangguk lalu turun dan kembali duduk di kursi.
"Ini saya kasih obat lambung, terus pereda nyeri di kepala, sama vitamin ya! Tapi, sebaiknya saya sarankan untuk memeriksakan dulu kandungan kakak."
"Saya yakin gak hamil kok Dok."
"Saya hanya menyarankan. Karena denyut nadi kakak meningkat, bisa jadi kakak sedang hamil."
"Ah Dokter. Gak mungkin lah Dok. Saya belum siap."
"Kalau enggak, test aja dulu ya! Nanti untuk memastikannya bisa ke dokter kandungan. Kalau masih belum percaya, bisa kakak USG langsung untuk lihat ada kantung janin atau tidak."
"I-iya Dok. Makasih." Setelah mengatakan kalimat itu, Ralia berlalu dan menunggu resep obat dari apoteker. Dikta menyadari perubahan sikap Ralia setelah keluar dari ruang pemeriksaan, wajahnya seperti tertekan, dan tatapannya kosong seakan tengah bergelut dengan isi pikiran.
Bersambung