"Apa tidak ada cara lain Pak?, mungkin jika cacat di salah satu kaki dan tangan saya masih bisa menerimanya tapi ini tuli dan bisu, bagai mana saya bisa berkomunikasi dengannya?" ucap Frayogha yang tidak bisa mengerti dengan permintaan seorang pimpinan sebuah pondok pesantren yang memintanya menikahi putrinya yang tuli dan bisu, hanya karena dia ingin menghalalkan makanan yang telah dia makan.
Di paksa untuk menikahi seorang yang tidak dia kenal, dan katanya tuli juga bisu, rasanya jika menikahpun pernikahan mereka tidak akan lama atau mungkin sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Habiskan!
Ainur yang sudah kehilangan nafsu makannya langsung membawa nasi gorengnya kedepan, untuk di berikan kepada Yogha yang entah sedang menunggu apa di teras rumah.
"Ini makanlah!" ucap Ainur sambil menyimpan nasi goreng yang telah dia buat tadi di meja yang berada di dekat Yogha.
Yogha tidak langsung menerima nasi tersebut karena merasa curiga takut jika nasi tersebut sudah diberi sesuatu untuk menjahilinya.
Dengan tatapan penuh curiga Yogha pun menatap Ainur melihat apakah ada kebohongan di matanya.
"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Ainur saat Yogha menatapnya dengan penuh rasa curiga.
"Bagai mana aku tak curiga, kau pikir saja! tadi kau enggan memberikan nasi goreng itu, tapi sekarang kau malah memberikan semua nasi itu kepadaku, atau jangan-jangan kau sudah meludahinya?"
"Astagfirullah..., kau pikir, aku sudah gila" ucap Ainur dengan kesal karena hanya orang gila yang meludahi makanan mereka.
"Jika tidak mau, ya sudah, aku akan membuangnya" ucap Ainur lagi, sambil mengambil nasi yang tadi sudah dia simpan di meja dekat Yogha.
"Eh..., jangan dibuang, biar aku makan!" ucap Yogha menahan piring yang baru di ambil Ainur.
"Ya sudah habiskan! tanpa sisa, jika aku melihatmu tidak menghabiskannya, aku tidak akan memberikanmu makanan yang telah aku buat lagi!" ucap Ainur dan setelah itu anur kembali masuk kedalam rumah.
Yogha yang sejak awal memang menginginkan nasi goreng tersebut langsung memakannya.
Sementara Ainur yang masuk rumah langsung menuju kamar, dengan air mata yang entah kenapa tidak bisa ditahan.
Ainur menangis seperti itu karena rasa lelah yang sedang dia rasakan, sehingga membuatnya lebih sensitif tapi biasanya dia akan kembali membaik setelah menangis.
Yogha yang sudah selesai makan langsung menuju kamarnya karena ada barang yang harus dia ambil sebelum pergi menemui Bagus, untuk membujuk sang sahabat sekaligus asistennya yang masih merajuk karena kesal padanya yang membiarkan Ainur pergi.
Namun baru saja Yogha sampai di lantai dua, samar-samar terdengar di telinganya seseorang yang sedang menangis.
Yogha menajamkan pendengarannya dan setelah yakin jika suara itu suara tangis Ainur barulah dia mengetuk pintu kamar Ainur dengan sebuah pertanyaan dibenaknya "Kenapa dia menangis? apa karena tersinggung dengan ucapanku, tapi ucapanku tadi, tidak terlalu pedas jika dibandingkan dengan ucapanku yang sudah-sudah."
Yogha teus mengetuk pintu tersebut tanpa henti karena merasa kawatir dan baru diketukan ke lima pintu di buka dan menampilkan Ainur dengan mata yang memerah dan suara yang serak has orang yang baru menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Yogha kawatir karena setelah satu bulan tinggal bersama Ainur, ini pertama kalinya dia mendengar Ainur menangis.
"Tidak apa-apa mas, aku hanya ingin menangis saja," ucap Ainur yang melihat guratan kekawatiran di wajah Yogha.
"Kau ini, mana ada orang menangis tanpa sebab? apa karena salah satu ucapanku tadi? jika ya maafkan aku aku tidak bermaksud membuatmu menangis" tanya Yogha masih dengan kekawatirannya.
Ainur yang mendengar ucapan Yogha barusan tersenyum miris di balik cadarnya karena melihat kekawatiran dari seorang Yogha padanya sebagai Nurr bukan Istrinya.
"Tidak mas, aku menangis mungkin karena lelah dengan kegiatan baruku," jelas Ainur yang memang benar adanya, karena dulu setelah dia pulang menuntut ilmu dari negri orang, dia dilarang keluar rumah jika bukan untuk hal yang penting, dan dia juga yang tadinya tidak bercadar dipaksa untuk bercadar oleh Abinya.
Abinya berbuat seperti itu karena ingin menjaga Ainur dari pandangan yang kurang baik dari para santrinya yang memang laki-laki semua, karena pesantren yang di pimpin orangtua Ainur memang pesantren kusus pesantren untuk laki-laki.
"Baiklah, oh ia apa kamu mau ikut denganku" ajak Yogha yang berpikir jika dia mengajak Ainur bertemu Bagus, Ainur akan melupakan rasa lelahnya.
"Tidak mas, aku ingin istirahat saja" tolak Ainur karena menurutnya dari pada pergi keluar rumah lebih baik dia beristirahat.
"Baiklah, tapi jika ada apa-apa kabari aku?" ucap Yogha masih dengan rasa kawatirnya.
Ainur mengangguk sedang dalam hatinya dia merutuki sikap Yogha yang baik padanya tapi tidak pada istrinya.