"Status kita sudah menikah." Ucap Jade tiba - tiba pada Dustin.
"Apa - apaan kau!!" Dustin tidak terima.
Tapi Jade benar - benar masa bodo dengan suara keberatan Dustin dan justru langsung memberikan buku nikah yang entah bagaimana caranya sudah ada di sana.
"Dua bulan, hanya dua bulan. Setelah dua bulan, kita akan berpisah." Jade berucap dengan tegas.
Demi menjaga kedamaian keluarga, Jade si gadis dingin dan Dustin si pria anti wanita terpaksa terikat dengan kerjasama konyol dan membawa nama pernikahan di dalamnya. Jade terpaksa menyetujui bujukan bosnya yang mengatakan bahwa pernikahan itu hanya akan bertahan dua bulan saja, dan Jade menyetujui itu.
Nyatanya lebih dari dua bulan mereka masih terikat dalam kerja sama itu, dan justru tumbuh perasaan pada salah satu dari mereka. Bisakah dua orang keras kepala itu saling jatuh cinta nantinya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 24. Jade pemabuk yang rusuh.
Jade menuangkan anggur kedalam dua gelas tinggi setelah makan malam selesai, dia memberikan satu gelas untuk Dustin dan satu gelas lagi untuk dirinya.
"Perayaan tidak lengkap tanpa anggur, mari bersulang." Ujar Jade, Dustin pun bersulang dengan Jade dan meneguk anggur itu dengan sekali teguk.
Mereka berpindah dari meja makan ke ruang tengah dan terus saja bersulang sampai Jade mabuk. Jade termasuk orang yang tahan dengan minuman beralkohol, tetapi Jade sudah menghabiskan dua botol minuman dengan Dustin.
"Kamu sudah mabuk, jangan minum lagi." Ujar Dustin. Sementara Dustin masih terlihat biasa saja, bahkan dia tidak sama sekali terpengaruh dengan kadar alkohol yang dia minum.
"Mana ada aku mabuk, aku gadis yang kuat." Ucap Jade dengan mata yang sudah teler.
"Kamu tahu, kucingku baru saja melahirkan waktu aku kemari, aku belum melihat apakah anaknya perempuan atau laki - laki, dan ada berapa ekor. Mereka pasti sudah besar - besar sekarang." Jade terus saja mengoceh sejak tadi, Dustin hanya bisa terkekeh mendengar ocehan Jade yang random.
"Dalam dunia binatang tidak ada perempuan dan laki - laki Jade, yang ada jantan dan betina." Ujar Dustin.
"Toh jenis kelaminnya sama." Celetuk Jade. Dustin selalu kalah debat saja sejak tadi.
"Kucingku sangat malang, dia hamil tapi suaminya meninggal, dia jadi mengandung tanpa suami." Ujar Jade. Jade menyenderkan tubuhnya di sofa, dia sudah benar - benar mabuk.
"Anaknya jadi lahir tanpa ayah.." Gumam Jade lagi dengan mata terpejam.
"Kasihan.. Setidaknya aku merasakan kasih sayang ayah walau sebentar, tapi kucingku tidak." Gumam Jade lagi.
Dustin melihat Jade yang tiba - tiba menangis, ia tertegun.. apakah hanya seekor kucing saja bisa membuat Jade menangis?
'Sebenarnya dia memiliki hati yang lembut.' Batin Dustin.
"Sudah, jangan minum lagi, kamu sudah teler." Ujar Dustin dan menggendong Jade untuk dia pindahkan ke kamar.
Jade bangun ketika dia mendengar suara degup jantung. Dia meraba bantalnya dengan mata yang masih terkantuk - kantuk, tapi dia heran karena bantalnya keras.
"Kenapa bantalku keras begini." Gumam Jade dengan mata masih terpejam.
"Dug! Dug! - Dug! Dug!" Jade langsung membuka mata setelah dia menyadari bahwa bantalnya berdegup. Dia pun mengangkat kepalanya dan ternyata bantalnya adalah dada Dustin yang sedang tertidur pulas.
'Astaga! Apa yang aku lakukan!? Kenapa Dustin ada di kamarku!?' Batin Jade terkejut.
Dia lebih terkejut lagi ketika melihat posisinya yang sangat kacau di atas tubuh Dustin, Dia telungkup dengan separuh badannya berada di atas tubuh Dustin.
'Aiisshh.. Jangan - jangan aku sudah berbuat yang aneh - aneh padanya semalam.' Jade merutuki dirinya.
Jade bangun pelan - pelan dari atas tubuh Dustin tapi tiba - tiba Dustin menahan tangannya dan menariknya kembali kedalam dekapannya.
"Jangan pergi kemana - mana, anak nakal. Tanganmu bisa terluka jika kamu terus memukuli samsak tanpa sarung tinju." Gumam Dustin dengan mata terpejam.
'Eh?? Anak nakal? Sialan, aku di katai anak nakal.' Batin Jade.
Jade berdiam diri di dalam pelukan Dustin sambil dia mengingat - ingat apa kiranya yang sudah dia lakukan sampai berakhir seperti itu dengan Dustin.
***Flashback ingatan Jade***..
"Lepas Dustin, aku sedang mengalihkan emosi di hatiku." Jade mabuk sedang memukuli samsak tinju, tapi di halangi Dustin.
"Kamu sudah mabuk, ayo aku antar ke kamarmu." Ujar Dustin.
"Tidak ada yang mabuk - huk!" Ujar Jade sambil cegukan.
"Lain kali aku tidak akan membiarkan kamu minum, kamu rusuh saat mabuk." Ujar Dustin dan menggendung tubuh Jade seperti karung beras.
"Oi - Oi aku bukan babi, kenapa kamu menggendongku begini- huk!" Jade terus mengoceh.
"Hehe, aku terbang yuhu.. Babi Jade terbang.." Celoteh Jade dan tubuhnya di lemparkan keatas ranjang.
***Flashback ingatan Jade selesai***..
"Astaga, aku benar - benar anak nakal." Gumam Jade setelah mengingat sedikit dari ingatannya saat mabuk.
Jade kembali beringsut dari atas tubuh Dustin dengan sangat pelan, tapi kali ini Dustin terbangun dan tatapan keduanya bertemu. Jade mematung ketika Dustin menatapnya dangat serius, jantungnya jadi berdebar tidak karuan sekarang.
"Kamu sudah bangun??" Tanya Dustin, dan Jade mengangguk.
Dustin pun melepaskan pelukannya dari Jade dan Jade beringsut dan duduk di ranjang, Dustin juga akhirnya duduk dan keduanya merasa canggung sendiri.
"Ekhem! Hoy, lain kali jika tidak kuat minum, jangan minum. Kamu sangat rusuh saat mabuk." Ujar Dustin, lalu bangun dan pergi dari kamar Jade.
"Haissh!!!" Jade langsung membungkus dirinya sendiri dengan selimut setelah Dustin pergi.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Gumam Jade di dalam selimut.
Sementara di kamar Dustin, jantung Dustin masih saja berdegup kencang. Dia masih merasa keheranan sendiri dengan dirinya yang memeluk Jade semalaman, lalu wajahnya menjadi merah setelah dia mengingat telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak dia sentuh.
***Flashback ingata Dustin on***..
Dia menggendong Jade setelah Jade mengoceh tidak jelas tentang kucingnya, ia berencana mengantar Jade kekamar agar Jade bisa beristirahat. Tapi saat mereka hampir sampai di depan pintu kamar Jade, Jade memberontak dan turun lalu lari begitu saja menuju ruang olah raga.
Dustin khawatir Jade membentur sesuatu jadi dia mengejarnya. Di dalam ruang olah raga.
"Papa bodoh! padahal mama sangat mencintai papa tapi papa buta. Papa lebih memilih nenek sihir berambut aneh itu." Maki Jade. Jade sedang memaki ayahnya sendiri.
"Malina, aku akan membuat kamu membayar atas semua dosa yang kamu lakukan pada mamaku, aku akan pastikan aku akan mengirim kamu ke penjara." Jade terus mengoceh sambil memukuli samsak tinju.
"Jade, kamu bisa melukai tanganmu nanti." Ujar Dustin yang mencoba menahan Jade.
"Mama juga bodoh.. padahal papa sudah jahat kepadanya, tapi mama masih saja mencintainya dan melindungi dia. Kenapa mama tidak biarkan papa mati menyesal saja- huk!" Jade sangat kacau.
Saat Jade mabuk memang selalu melampiaskannya pada samsak tinju, dan dia masih terbawa naluri lamanya ketika mabuk. Dustin yang tidak mengerti itu hanya khawatir karena Jade tidak menggunakan sarung tinju, ia khawatir jari - jari Jade terluka.
"Jade ayo, bukankah kamu sudah membantu papamu, kenapa masih memakinya?" Ujar Dustin.
"Aku sedang kesal, jangan ganggu aku." Ujar Jade.
Dustin mencoba menahan dan menarik Jade, tapi Jade yang terus memberontak itu membuat cekalannya meleset dan menyentuh bagian payud\*ra Jade, Dustin pun reflek melepas tubuh Jade sampai kepala Jade membentur samsak.
"Aduh! Kamu memukulku!? Ohh.. kamu juga mau menjadi musuhku?" Celoteh Jade pada samsak tinju sambil mengusap kepalanya.
"Maaf, aku tidak sengaja melepas tanganmu." Ujar Dustin, dan kembali mencekal tangan Jade yang hendak memukul samsak tinju.
"Lepas Dustin! aku sedang mengalihkan emosi di hatiku." Jade mabuk sedang memukuli samsak tinju, tapi di halangi Dustin.
"Kamu sudah mabuk, ayo aku antar ke kamarmu." Ujar Dustin.
"Tidak ada yang mabuk - huk!" Ujar Jade sambil cegukan.
"Lain kali aku tidak akan membiarkan kamu minum, kamu rusuh saat mabuk." Ujar Dustin dan menggendung tubuh Jade seperti karung beras.
"Oi - Oi aku bukan babi, kenapa kamu menggendongku begini- huk!" Jade terus mengoceh.
"Hehe, aku terbang yuhu.. Babi Jade terbang.." Celoteh Jade dan tubuh Jade di lemparkan keatas ranjang.
Jade masih saja terus betontak hendak keluar akhirnya Dustin menahannya dengan cara memeluk Jade kedalam dekapannya. Lelah memberontak, akhirnya Jade tertidur di dalam dekapan Dustin. Tapi Dustin yang jadi susah karena posisinya Jade berada di atas tubuhnya dan memeluk tubuhnya selayaknya guling.
Ia menunggu sampai Jade melepaskan tubuhnya tapi ternyata Jade semakin erat bahkan menggesek - gesekan pipinya di dada Dustin, seakan mencari spot yang nyaman.
"Uhmm.. Nyamannya." Gumam Jade.
Lelah menunggu akhirnya Dustin juga ikut tertidur di kamar Jade.
***Flashback ingatan Dustin selesai***..
"Astaga.. kamu pria brengsek, Dustin." Gumam Dustin lalu menampar pipinya sendiri.
...TO BE CONTINUED.....