Roro Prameswari adalah seorang yang bersekongkol dengan setan dan meminta dukun untuk memberikan susuk kecantikan agar dirinya cantik paripurna dan bisa menggaet pemuda tampan nan mapan yang dia idamkan.
Siapa sangka, dengan usahanya melakukan ritual pemujaan kepada setan, dia bisa memikat suami dari Widuri si Kembang Desa yang selama ini adalah wanita yang menjadi saingannya.
Setelah Roro berhasil menjadi istri kedua dari Galuh Wiguna, istri pertama dari Galuh yang bernama Widuri, sering mengalami perlakuan semena-mena dari Galuh dan ibu mertuanya dan sering mengalami hal-hal mistis yang membuat dirinya bergidik ngeri.
Bagaimana kisah mistis yang dialami Widuri selanjutnya? Yuk intip ke cerita selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Sekti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Yang Mencekam di dusun Guguran
Tepatnya di malam hari, lampu dalam rumah milik keluarga pak camat dalam keadaan mati. Kini Roro Prameswari berdiri dibalik pintu sambil memandangi Dedemit yang berambut kribo yang menatap tajam ke arahnya. Terlihat pak Darto dan Lasmini masih saling menindih dalam keadaan tanpa busana membuat suasana menjadi bergidik ngeri.
"Tolong Rani! Tolong kami! Tubuh kami tidak bisa digerakkan. Kami harus bagaimana ini?"
Pak Darto kini menangis karena tubuhnya terasa sakit dan di bawahnya Lasmini yang berbaring dengan tubuh lemah dan lemas hingga dia kesulitan untuk berkata-kata.
Roro bingung harus bagaimana. Lalu dia teringat dengan Tuhan lalu di melantunkan doa-doa dan bacaan ayat kursi.
Beberapa menit kemudian, lampu mulai menyala kembali dan Dedemit itu sudah menghilang. Hati Roro kini agak lega. Dia semakin tahu bahwa dengan tobatnya dia kepada Tuhan, dia akan selalu dilindungi dari Dedemit yang berwajah mengerikan.
Namun, saat itu, dia masih melihat pemandangan yang tak enak dipandang yakni badan pak Darto g*ncet dengan istrinya sendiri yakni Lasmini. Padahal mereka sudah terikat oleh pernikahan sah. Kenapa mereka bisa mendapatkan kesialan yang seperti itu?
"Bapak. Sebaiknya saya bilang ke warga atas kejadian ini bagaimana? Kasihan Nyonya Lasmini dia terlihat sangat lemas," tanya Roro kepada pak Darto untuk meminta pertimbangan dari majikannya tersebut karena dia takut salah.
"Rani! Kamu jangan sok jagoan deh. Jangan mengambil perhatian suami saya. Saya sudah kesakitan ini! Haduh. Ini bagaimana, sayang?"
Iktikad baik Roro malah dihina oleh Lasmini yang masih keras kepala dan tidak mengingat Tuhan malah mengumpat.
"Lasmini! Rani itu tidak salah. Dia harus memanggil warga untuk menolong kita. Jika kita seperti ini terus, kita akan bernasib buruk."
Darto dongkol dengan sifat asli istrinya yang ternyata sangat buruk. Dalam keadaan seperti itu malah menyalahkan Roro dan menolak bantuannya.
"Saya benci dengan kamu Rani! Cepat panggil warga yang bisa dipercaya! Jangan menyuruh seluruh warga ke sini. Saya malu!" perintah Lasmini dengan nada sinis dan membentak.
Lalu Roro mengangguk dan segera keluar dari rumah untuk meminta pertolongan dari warga. Dia mulai berlari kecil menuju rumah tetangga yang terdekat. Dia mulai menggedor pintu dengan irama yang nyaring namun pelan agar penghuni rumah tidak marah.
Beberapa menit kemudian, pintu yang terbuat dari kayu yang dicat berwarna coklat itu mulai terbuka. Tampak bapak-bapak dengan rambut rapi dan masih memakai sarung.
"Ka-kamu siapa! Malam-malam begini kelayapan," jawab bapak-bapak tersebut dengan suara nyaring.
Bapak itu kaget dengan sosok Roro karena wajahnya sangat buruk. Dan sedikit ngeri melihat wajah Roro saat ini.
"Tolong Pak. Juragan saya pak camat sedang dalam bahaya. Berkenan kah bapak untuk menolongnya?"
Roro menundukkan wajah karena malu dan gugup karena dia tidak percaya diri dengan wajahnya.
"Memangnya kenapa Dengan pak camat?" tanya bapak-bapak itu memastikan.
"Beliau tidak bisa lepas dari badan istrinya karena terlihat mereka sedang melakukan jatah malam Jum'at Kliwon."
Tanpa diduga hari itu adalah malam Jum'at Kliwon. Dan kini, pak camat dan istrinya sedang mengalami masalah yang serius.
"G*ncet maksud kamu?" tanya kembali bapak itu untuk memastikan.
"Be-benar Pak," jawab Roro sambil terbata-bata.
"Yasudah. Saya bilang istri saya dulu! Dan memanggil kerabat saya!"
Dengan segera bapak-bapak itu masuk ke dalam rumahnya untuk berpamitan dengan kelurganya.
Beberapa detik kemudian, bapak itu keluar dan berlari menuju suatu rumah. Tidak lama, dia mengajak yang seorang bapak-bapak juga yang memakai pakaian rapi dan memakai penutup kepala.
Lima menit, Roro dan kedua bapak tetangga tersebut sudah sampai di rumah pak camat. Mereka menuju bilik kamar yang ditunjukan oleh Roro.
Terlihat, pak camat dan istrinya masih dalam posisi semula yakni pak camat berada di atas dan menindih istrinya.
Lalu bapak itu segera mengambil selimut untuk menutupi bagian tubuh kedua pasangan tersebut.
"Tolong saya pak Danu. Pak Dadang. Kami sedang dalam kesakitan yang teramat sangat."
Pak camat memelas meminta pertolongan kepada kedua tetangganya tersebut. Terlihat bapak-bapak tersebut kaget dan mengucapkan kalimat-klimat Tuhan.
"Bapak. Neng Lasmini harus berdoa sebanyak-banyak nya kepada Tuhan. Kami tidak bisa membantu. Hanya Tuhan yang bisa menolongnya. Apa kita bawa ke klinik saja. Tetapi ini tengah malam. Kami takut akan tersesat di Pintu Gerbang Dunia Ghaib. Seperti beberapa warga dari dusun kita sudah ada yang mengalami nasib sialnya karena tengah malam akan ke klinik.
Pak Danu yang berambut rapi memberi nasihat kepada pak camat dan Lasmini agar banyak mengingat Tuhan. Hanya kepada Sang Pencipta lah mereka bisa lepas dari suatu ujian tersebut. Mereka tidak berani ke Klinik karena takut akan celaka karena ini Malam Jum'at Kliwon.
"I-iya. Pak. Lasmini. Ayo kita berdoa semoga kita bisa lepas dari jeratan yang menyakitkan ini."
Pak camat menyuruh istrinya untuk berdoa dan banyak mengingat Tuhan.
"Tolong! Sakit! Tolong!"
Bukannya malah mengingat Tuhan, Lasmini malah berteriak secara histeris karena kesakitan yang luar biasa. Hingga beberapa warga bangun mendengar teriakan tersebut.
Beberapa menit kemudian para warga tetangga dusun Guguran berduyun-duyun ke rumah pak camat. Mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Satu per satu para warga akhirnya melihat pak camat dan Lasmini kini tengah g*ncet dan Lasmini semakin lama semakin mengerang kesakitan.
Ibunya Lasmini pun datang dengan perasaan tidak karuan dan malu melihat anaknya yang dulu dia banggakan kini dia mengalami nasib sial.
"Kamu kenapa Nduk? Kok jadi seperti ini. Gusti. Berikan keselamatan anak saya."
Ibu dari Lasmini mendekati pasangan suami istri malang tersebut dan tangisnya tumpah tak terbendung.
"Ibu! Semuanya ini gara-gara Rani. Dia manusia terkut*k. Sebelum datang nya dia kami tidak mengalami nasib sial seperti ini. Apalagi, wajahnya sangat buruk rupa!"
Dalam kesakitanya, Lasmini malah menghina Roro dan menyalahkan kejadian itu adalah ulah dari Rani alias Roro. Banyak para warga yang menggelengkan kepala atas sikap buruk Lasmini.
"Sebentar. Neng Lasmini istighfar. Jangan menuduh orang sembarangan. Neng harus introspeksi diri."
Pak Danu menasihati Lasmini agar tidak menuduh orang sembarangan hanya karena wajah yang buruk rupa. Roro yang dituduh seperti itu, matanya berkaca-kaca dan masih berdiri di pojokan pintu masuk bilik milik majikannya.
'Tuhan. Menjadi buruk rupa itu ternyata menyakitkan. Kuatkan hati hamba. Ampuni dosa-dosa hamba,' tangis Roro dalam hatinya sambil mengeluarkan kata keluh kesah kepada Tuhan.
Malam semakin pekat. Dentang waktu kini menuju tengah malam. Longlongan suara hewan kini menambah suasana yang menyedihkan menjadi semakin mencekam. Dengan tiba-tiba terjadi tragedi g*ncetnya tubuh pak camat dan Lasmini dan membuat mereka tidak bisa pisah.
Lalu, tiba-tiba datang pak Mahmud yang dipanggil oleh warga untuk meminta solusi atas masalah yang dialami pak camat dan Lasmini. Lalu pak Mahmud segera membaca doa-doa dan mengusapkan tangannya di wajah Lasmini dan pak Darto.
"Sakit! Tidak!"
Arrgh!
Saat itu, Lasmini berteriak histeris dan kesakitan serta mulutnya mengeluarkan banyak d*rah. Raganya lemas. Wajahnya terlihat pucat dan sayu.
eh ini tengah malam nemu hantu sungai ...
masuk ahhhh ...