Jalinan kasih sejak di bangku sekolah, membuat Dirga dan juga Niar memantapkan hati untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Saling melengkapi menjadi alasan yang kuat untuk Dirga meminang pujaan hatinya.
Di malam itu, Dirga membawa Niar ke rumahnya. Tujuannya untuk dikenalkan kepada kedua orangtuanya. Namun, keadaan berkata lain. Dirga ternyata sudah mempunyai calon istri yang orangtuanya rahasiakan darinya. Dan besok, mereka akan menikah.
Kabar yang sungguh mengejutkan, bukan. Datang dengan rona bahagia dan pulang dengan rasa sesak di dada. Itulah yang Niar rasakan. Dengan senyuman penuh luka, Niar menatap manik mata Dirga dan berkata, "aku lepaskan kamu untuk perempuan itu."
Apakah Niar benar-benar rela melepaskan Dirga sepenuhnya? Atau mereka memiliki ikatan cinta yang kuat, yang membuat mereka tidak bisa terlepas satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Tajam
Niar tahu, Dirga tidak suka dengan ucapannya tadi. Apalagi menyangkut tentang kedua orangtua Dirga. Niar memang tidak tahu bagaimana cerita selengkapnya. Namun, ada kekecewaan yang mendalam yang Niar lihat dari manik mata Dirga.
Niar mengecup lembut kening Dirga yang sudah terpejam dengan dengkuran halus. "Ay, maafkan aku. Karena aku hubunganmu dengan kedua orangtua mu merenggang," sesalnya.
Niar terus menggenggam tangan Dirga tak terasa matanya pun ikut terpejam. Dari balik pintu luar, Kenan melengkungkan senyum kebahagiaan. Wajar saja jika Bossnya terus mencari Niar. Ekspektasinya tentang Niar ternyata salah besar. Niar adalah wanita cantik, lembut dan juga baik hati.
Niar mengerjakan matanya karena mendengar suara adzan magrib. Dilihatnya Dirga sedang menatap Niar dengan penuh cinta.
"Kamu akan sakit jika, tidur di situ," ucap Dirga.
"Aku ketiduran, Ay," sahutnya.
"Kamu udah minum obat?" Hanya gelengan yang menjadi jawaban dari Dirga.
Dengan telaten, Niar menyuapi Dirga makanan yang baru saja diantar oleh perawat dan membantunya meminum obat.
"Kamu belum makan, Sayang. Makanan yang dibelikan Kenan pun pasti sudah dingin. Aku pesen lagi, ya."
"Gak usah, Ay. Walaupun dingin makanan ini tetap enak kok," jawab Niar seraya tersenyum.
Tak hentinya Dirga melengkungkan senyum melihat Niar menikmati makanannya dengan lahap. Niarnya tidak berubah, tetap menyukai makanan yang pedas.
"Sayang, kalo kita sudah menikah kurangin ya makan-makanan pedasnya. Belajar makan makanan sehat," ujar Dirga.
"Iya Ay, ucapanmu itu tidak berubah dari dulu," balas Niar dengan menyunggingkan senyum.
Mereka terus berbincang dan bercanda ria. Tak terasa waktu sudah malam dan Niar pun mengantuk. Dirga berbagi kasur dengan Niar agar kekasihnya tidak merasa pegal dan sakit setelah bangun tidur. Dengan nyenyaknya, Niar tidur memeluk tubuh Dirga.
Tiga hari sudah Dirga dirawat di rumah sakit. Hari ini Dirga sudah diperbolehkan pulang. Niar terus menemani Dirga selama di rumah sakit. Dan dia pun akan merawat Dirga hingga Dirga benar-benar dinyatakan pulih. Tidak Niar hiraukan panggilan dari bunda dan kakaknya. Niar hanya ingin bersama orang yang dia sayangi.
Tibanya di apartment, Dirga terus menggenggam tangan Niar. Karena Dirga tahu, letak apartment Jicko tidak jauh dari apartmentnya.
"Kamu istirahat dulu, ya. Aku ke ruangan kerja dulu. Ada beberapa berkas yang harus aku cek," ucap Dirga.
"Ay, kamu kan belum pulih betul. Tunda dulu lah pekerjaan kamu," kata Niar dengan nada yang sedikit meninggi.
Dirga merengkuh pinggang Niar lalu mengecup puncuk kepalanya. "Hanya sebentar, Sayang. Aku janji," ucapnya.
Akhirnya, Niar menyetujuinya dan Dirga masuk ke ruangan kerja sedangkan Niar merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak lama, mata Niar terpejam dan masuk ke alam mimpi.
Satu jam sudah Dirga bergelut dengan pekerjaannya. Setelah semuanya beres, dia keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam kamar. Senyumannya mengembang dengan sempurna melihat wanita yang dicintainya sedang terlelap.
Dirga mendekat ke arah Niar, membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Niar. "Aku ingin segera memilikimu, Sayang. Dan aku tidak akan melepaskan mu lagi."
Malam pun tiba, Niar mencoba merenggangkan ototnya yang sudah terlalu kaku namun, lengan kekar berada di atas tubuhnya. Niar pun tersenyum bahagia karena Dirga sedang terlelap dengan damainya.
Rasa cintanya terhadap Dirga tidaklah berubah, malah semakin bertambah. "Aku sangat bersyukur karena kamu telah kembali bersamaku," gumam Niar.
Perut Niar sudah berbunyi, menandakan minta diisi. Niar membangunkan Dirga dengan sangat lembut. Menekan-nekan pipi Dirga hingga Dirga membuka matanya.
"Aku lapar, Ay," kata Niar.
Bukannya marah Dirga malah tertawa dan langsung mengecup singkat bibir Niar. "Mandi dulu, nanti kita nyari makan di bawah."
Niar pun sangat antusias dan langsung mengecup pipi Dirga sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah semuanya rapi dan wangi, Dirga menggenggam tangan Niar menuju parkiran. Karena mereka akan ke rumah makan yang Niar suka.
Langkah Niar terhenti ketika dia melihat Jicko yang sedang menatapnya tajam.
"Ay ...."
****
Happy reading ...
. bosaan