Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Belum juga menjawab pertanyaan dari pria itu, Camelia sudah di buat meremang dengan sentuhan lembut tangan pria itu yang meski seorang pria, tangannya malah begitu halus di lehernya.
"Aku sudah mengatakan, jika ada yang kamu butuhkan. Kamu bisa mencariku, kamu bisa masuk ke rumah itu, dan mengatakan Camelia datang mencariku. Aku pasti akan segera menemui mu" kata Adjie membuat Camelia membuka matanya yang terpejam dan menjauh sedikit dari pria yang sentuhannya sangat berbahaya itu.
"Tidak, kamu pasti salah tuan, bagaimana kamu bisa menduga hal itu? aku tidak datang." kata Camelia yang merasa tidak ingin membuat Adjie terlihat dengannya.
"Benarkah?" tanya Adjie.
"Tentu saja, mana bisa kami para kembang keluar dari lentera malam? itu tidak mungkin!" kata Camelia yang memang mengatakan yang sebenarnya, tidak akan ada kembang yang bisa keluar dari lentera malam di malam hari. Itu adalah hal yang mustahil.
"Apa yang tidak mungkin bagi seorang Camelia" kata Adjie yang membuat Camelia kembali menoleh ke arahnya.
Adjie lantas menarik tangan Camelia dan menuntun Camelia untuk duduk di atas pangkuannya yang sudah duduk di sebelah kursi di dekat tempat tidur.
"Apa kamu tidak percaya padaku karena aku jarang kemari?" tanya Adjie.
Camelia memalingkan wajahnya, dalam hatinya dia berkata.
'Kamu dayang setelah dua tahun, itu bukan jarang lagi. Tapi mungkin kamu memang tidak ingat aku!' omel Camelia dalam hati.
Meskipun begitu, Camelia cukup sadar diri. Dengan apa yang dia lihat kemarin malam, dia pun tak mungkin mengatakan apa yang dia batin itu. Pria yang sudah memiliki segalanya, kenapa dia harus pergi ke sebuah rumah bordill di sebuah desa pinggir muara.
"Saat pertama kali aku datang, sebenarnya itu tidak sengaja. Ayahku benar-benar membuatku tertekan, aku harus kuliah dengan nilai terbaik, harus menjadi seseorang yang paling kompeten, harus membuat keluargaku bangga padaku. Saat itu usiaku baru 24 tahun, dan itu sangat berat bagiku. Aku mendengar dari seorang kusir delman yang aku tumpangi saat itu, ada sebuah tempat yang bisa menghilangkan stress dan sakit kepalanya. Dia mengajakku ke tempat ini, saat itu kita bertemu. Aku menutup matamu saat itu, karena malam itu juga adalah pertama kalinya bagiku"
Deg
Jantung Camelia berdetak dengan kencang mendengar pengakuan dari Adjie.
"Rasanya sangat sulit meninggalkan mu, tapi aku di bawa keluar oleh salah satu ibu gemuk yang katanya penjaga para kembang" kata Adjie lagi.
Pria itu lantas memeluk Camelia dan menghirup aroma tubuh wanita yang memang selalu membuatnya teringat padanya.
"Dia tahun itu aku berada di luar negeri, aku mengambil pendidikan paska sarjana di Belanda. Jujur saja setiap hari aku lalui dengan terus mengingatmu Camelia, aku langsung datang kemari saat pesawatku mendarat, tapi beberapa hari kemudian, ayahku..."
Camelia sedikit menoleh ke arah Adjie, dia mulai sangat tertarik dengan semua cerita Adjie.
"Ayahku meninggal karena sakit, dan aku harus mengurus semuanya. Perusahaan, pabrik, dan melanjutkan perguruan bela diri yang ayahku dirikan. Semua itu hampir 24 jam menyita waktu, tapi kemarin malam, aku lihat seorang wanita berselendang dari atas balkon rumahku, masih mengelak kalau itu bukan kamu?" tanya Adjie pada Camelia.
"I.. Iya, itu aku" akhirnya Camelia mengaku.
"Sekarang katakan, apa yang membuatmu sampai mengambil resiko seperti itu pergi ke rumahku?" tanya Adjie yang menarik kepalanya dan memposisikan Camelia duduk miring, supaya Adjie bisa melihat wajah Camelia.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi aku... aku ingin kamu menantuku, menjadi kepala desa, desa muara" kata Camelia yang juga sejenak membuat Adjie terdiam.
Dia tidak tahu kalau wanita yang memang dia sukai itu punya ambisi yang begitu besar, bukan besar lagi, tapi sangat tinggi.
Menjadi kepala desa, itu tidak mudah di tempat seperti ini. Tempat dimana yang yang lebih berkuasa dari pejabat publik. Dimana kekerasan masih di perbolehkan, dimana asal ada uang, perbuatan jahat seolah akan selalu memang. Ayah Adjie mendirikan perguruan bela diri juga karena hal-hal seperti itu.
Di kota, sudah ada hukum yang baik dan mengatur segalanya. Sehingga orang tidak bisa semena-mena, karena ada sanksi yabg berat. Kalau di desa seperti ini, yang kuat yang berkuasa, yang punya banyak uang akan di lindungi oleh yang kuat itu. Adjie cukup heran dengan apa yang di inginkan Camelia itu.
Tapi dia memang sudah merasa kalau Camelia itu bukan wanita biasa. Bagaimana tidak, di usianya yang terbilang sangat muda. Dia bisa menjadi kembang yang paling populer, dan predikat itu sudah dia sandang selama empat tahun. Adjie pun merasa harus bertanya lebih banyak tentang apa yang menjadi tujuan wanita yang ada di atas pangkuannya itu.
"Apa yang membuatmu ingin menjadi kepala desa?" Adjie.
"Kalau kamu membantuku, aku akan katakan. Kalau tidak, aku tidak akan katakan" kata Camelia menjawab dengan tegas pertanyaan Adjie.
Adjie tidak bisa untuk tidak terkekeh. Wanita di depannya itu memang punya aura seorang ratu. Dan dia tidak berdaya untuk menjawab tidak.
"Baiklah, aku akan membantumu dengan segala kemampuanku. Aku berjanji, sekarang katakan, apa yang membuatmu menginginkan jabatan yang begitu riskan seperti itu?" tanya Adjie tetap dengan nada datar tapi enak di dengar.
"Aku ingin. menutup semua rumah bordill di desa ini" kata Camelia dengan yakin.
Adjie mengerti sekarang, Camelia yang dulu pertama kali dia lihat, memang adalah seorang gadis yang masih sangat muda. Dengar-dengar usianya baru 16 tahun saat itu. Di usia seperti itu, kalau di kota bahkan belum di perbolehkan untuk menikah.
Tapi Camelia yang terjerumus di tempat ini malah harus melayani banyak sekali pria di usianya yang masih belia itu.
"Aku tidak mau lagi, ada wanita seperti ku. Yang di jual oleh kerabat sendiri, dan di paksa untuk kehilangan mimpi dan harapan..." Camelia menunduk sedih.
Adjie mengerti betul perasaan Camelia. Adjie mengusap lembut wajah Camelia.
"Aku pasti membantumu, sekarang apa rencanamu untuk menarik simpati masyarakat desa ini, agar mereka mengenalmu?" tanya Adjie.
"Itu dia masalahnya tuan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bisa tolong beri aku saran?" tanya Camelia membuat Adjie terkekeh pelan.
"Baiklah, kita akan bicarakan ini dengan baik. Kamu ada pulpen dan kertas?" tanya Adjie.
Camelia langsung melompat dari pangkuan Adjie dan mengambil pulpen juga kertas dari lemarinya.
"Aku akan menulis syarat yang harus kamu penuhi dulu ya. Setelah menyelesaikan semua syarat ini, aku akan menuliskan semua yang harus kamu siapkan, nanti kita pikirkan sama-sama apa program kerja kita" jelas Adjie yang semakin membuat Camelia bersemangat.
Sepertinya dia sudah benar, kemarin datang ke rumah Adjie. Yah, meskipun balik lagi.
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍