[Tidak lanjut]
Asano Yuji, tiba-tiba meninggal karena kesalahan teknis Dewa. Sebagai permintaan maaf Dewa memberikannya kesempatan untuk reinkarnasi dan hidup kembali, tapi....
"Kenapa aku berada di tubuh seorang putri kerajaan? Apakah Dewa mempermainkanku."
Bagaimana hidupku setelah ini? Aku laki-laki lo! Kenapa aku malah menjadi perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spesial Chapter 4 ( Alex POV)
Setelah mengikuti perjalanan orang yang baru saja kutemui. Tempat yang kami kunjungi bukanlah tempat dimana banyak kesenangan atau keceriaan justru sebaliknya..
Tempat ini terlihat seperti desa kumuh, apa dia tinggal di sini?
Memikirkan hal tersebut aku bertanya tapi berusaha untuk tidak melukai hatinya.
"Ya... ini merupakan desaku apa ada yang salah?"
"T-tidak."
Aku menundukan kepala. Sesuai dugaan dia orang yang berasal dari desa kumuh ini. Tempat ini terlihat cukup kotor dan tidak layak di huni.
Tapi...
Entah kenapa para penduduk di sini terlihat sangat ceria seolah sangat menikmati hidup mereka. Ini merupakan tindakan rasa bersyukur yang luar biasa.
Mereka saling berbincang-bincang satu sama lain, saling membantu, bergotong royong, anak-anak seumuranku terlihat berlari kemana-mana dengan pakaian kotor dan kusutnya. Tidak ada satupun keegoisan yang tampak disini, sangat berbeda dengan Kerajaan.
Meskipun tampak menjijikkan tapi di sini justru terlihat manusiawi. Sebuah tempat penuh kebahagiaan.
"Bagaimana menurutmu tentang desa ini?"
Ketika aku terus memperhatikan pemandangan desa ini, sosok pria yang berdiri di depanku bertanya dengan penuh penasaran.
"...Bagaimana mengatakannya, ya? Tempat ini cukup bagus, terlihat penuh kebahagiaan di setiap wajah orang."
Mendengar jawabanku, dia tersenyum. "Kamu benar. Disini adalah tempat yang bagus meskipun kami kekurangan uang, tapi kami hidup bahagia."
Ini terbilang ucapan yang bagus tapi mengingat dia adalah pecandu judi dan pemalak anak kecil ucapan tersebut terlihat tidak pantas bagiku.
"Lalu kenapa kamu malah berjudi? Dan bahkan meminta uang di anak kecil?"
Atas pertanyaanku dia terlihat terkejut dan tersenyum kecut sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Haha... kalau yang itu agak sedikit beda."
Aku menatapnya dengan pandangan merendah. Apa bedanya?
"Yah jangan terlalu pikirkan hak yang barusan! Aku hanya ingin mengembalikan modal atas kekalahanku!"
Dengan kata lain, anda baru saja berjudi dan kalah.
Memikirkan kalau orang dewasa adalah sampah seperti dia membuatku tidak habis pikir dan menghela napas. Kuharap kedua orang tuaku tidak seperti dia.
"Ah kita sudah sampai!"
Berhenti melangkah kami menatap sebuah rumah tua yang terlihat cukup kecil, atap-atap terlihat bolong dan lantai yang terbuat dari kayu terlihat tidak terawat.
"Ini adalah rumahku!"
Mengatakan hal tersebut dia memegang gagang pintu rumah dan hendak masuk. Tapi aku masih terdiam di depan rumah.
"Ada apa? Kamu boleh masuk lo!"
"...Kalau begitu, permisi."
Aku menundukan kepala dan masuk ke rumah tersebut dengan sopan. Di dalam terlihat cukup rapi walaupun rumahnya tidak layak. Dan terlihat seorang gadis muda yang sedang memanaskan air hangat dengan kayu bakar.
Apa dia istrinya atau semacamnya ...?
Orang yang berada di sampingku terlihat cukup tua mungkin sekitar tiga puluh tahun ke atas jadi sudah sewajarnya dia punya istri, tapi respon yang kudapatkan cukup mengejutkan.
"Hei dari mana saja kamu dasar bodoh!!"
Dilihat dari suara tegas dari sang gadis tampaknya dia bukanlah istri atau semacamnya.
"Hii... maaf!"
Pria yang berdiri di depanku dengan sangat cepat berjongkok dan meletakkan kepalanya di lantai.
Melihat respon penakut dari pria tersebut aku hanya bisa berpikir betapa menyedihkannya orang ini.
"Hah! Maaf katamu ...? Tidak hanya suka membuang uang kamu juga tidak pernah pulang. Dasar tidak berguna, setidaknya tetaplah berada di sisi istrimu yang cantik ini!"
Mengatakan hal tersebut dia memerah dan berteriak. Oke tampaknya mereka memang memiliki suatu hubungan.
"Maaf... aku tidak punya pilihan lain."
"Dengar Leo! Aku tidak mau menikah dengan uang hasil seperti itu! Dan aku tidak akan menerima kamu yang tidak pulang ke rumah."
Mendengar perkataan mereka aku menjadi sedikit tahu masalahnya, jadi alasan kenapa orang yang berdiri disampingku—Leo suka judi adalah demi menikah dengan gadis ini.
"Leo... di mana dirimu yang suka berpetualang dan mengalahkan monster? Melakukan misi, melawan beberapa kejahatan. Dulu kita sering melakukan hal tersebut, tapi—"
"Cukup dengan pembicaraan itu!"
Kobaran api tampak menyala dan membakar kayu bersamaan dengan itu, suasana menjadi hening.
"Maaf aku tidak bermaksud berteriak," ucap Leo menundukan kepala.
"Tidak. Justru aku yang meminta maaf, seharusnya aku tidak membahas perihal ini."
Aku semakin bingung dan mengerutkan kening, Sebenarnya apa hubungan merek? Mengatakan hal seperti berpetualang dan lain-lain.
"Kamu terlihat membawa anak, siapa dia?" tanya gadis tersebut dengan tatapan dingin seolah curiga denganku.
Jangan bilang dia mengira bahwa aku anak haramnya.
Leo tiba-tiba merangkulku dari belakang. "Aku ingin mengadopsinya apa boleh?"
Aku maupun gadis tersebut tentu terkejut akan perkataan yang di luar dugaan tersebut. Kami membuka mata lebar.
"...Leo maaf, aku tahu kamu p-pasti kerepotan. Karena aku tidak akan pernah bisa menghasilkan keturunan karena itulah kamu menginginkan dia, kan?" Dia tampak mengeluarkan air mata dan menangis.
Baik. Ucapan dia kali ini aku tidak bisa paham.
"Tapi... sepertinya mengadopsinya adalah pilihan yang bagus!" Kembali ceria dia tersenyum.
Tunggu kalian tidak menunggu jawabanku!
"Bagaimana denganmu, apakah kamu mau. Alex?"
Dia serius akan keinginannya. Sebenarnya menerima permintaan mereka adalah hal konyol dan tidak masuk akal, kami baru saja saling bertemu mana mungkin aku percaya.
"Maaf..."
Itulah jawabanku. Aku bukan orang bodoh yang mau menerima resiko.
Mendengar jawaban tegas dariku, gadis itu dan Leo yang sebelumnya tersenyum kini memudarkan senyuman tersebut dan bermuka masam.
"Kamu benar, hahaha... tentu kamu pasti curiga dengan kami," ucap Leo sambil menggaruk rambutnya.
Aku hanya menggigit bibir dan terdiam. Apakah aku mengatakan hal yang salah? Memikirkan hal tersebut aku tanpa sadar membuat ekspresi yang jelek.
"Sudah lupakan tentang apa yang aku katakan dan ayo makan." ucapan lanjutan dari Leo.
Aku mencoba melirik ke arah gadis itu dan dia terlihat mengeluarkan ekspresi sedih. Aku benar-benar merasa bersalah.
Hari itu meskipun dengan suasana canggung kami menghabiskan waktu hingga malam untuk makan bersama.
Rasa masakan dari kediaman Leo sangatlah sederhana dan menyegarkan mulut, tapi situasi kami barusan membuat semua tidak menjadi ceria.
Hingga pada malam hari, kami selesai akan perkumpulan kami dan Leo mengatakan sesuatu.
"Ikut aku sebentar, Alex!"
Dia terlihat mengeluarkan ekspresi seriusnya, aku hanya menganggukkan kepala.
Kami berjalan untuk beberapa saat dan berhenti di sebuah jalan yang dipenuhi oleh pepohonan.
Kami benar-benar terhenti. Di sana hanya ada aku dan dia, sungguh situasi yang sepi.
"Jadi kaku mau apa?" tanyaku.
"Alex, apakah kamu tertarik akan dunia luar?"
"Apa maksudmu!?"
Aku mengepalkan tangan. Dunia luar? Meskipun akan menjadi bohong jika tidak tertarik, tapi kedua orang tuaku mati karena berpetualang. Jadi mana mungkin aku cinta yang namanya dunia luar.
"Asal kamu tahu. Aku dulunya adalah petualang, walaupun tidak memiliki nama besar tapi aku sangat senang berkelana ke penjuru dunia. Omong-omong aku selalu pergi bersama Linda— gadis yang selalu bersamaku."
"Jadi apa hubungannya denganku?"
"Asal kamu tahu pada suatu hari terjadi hal yang tidak diinginkan. Kami diserang oleh monster tingkat tinggi, dan kami kesusahan dalam melawannya. Linda sendiri terkena luka fatal, dia bahkan kehilangan organ, sehingga dia tidak akan punya anak kedepannya. Jadi aku ingin mengatakan kepadamu bahwa petualangan tidak seindah yang kamu kira."
Aku sudah tahu hal seperti itu.
"Mungkin bagimu aku terdengar seperti gagal, tapi jangan salah paham! Aku berhasil. Setidaknya aku berhasil melindungi Linda, walaupun aku harus menerima luka hingga aku tidak bisa lagi berjalan sebagai petualang."
"Jadi apa yang mau kamu sampaikan kepadaku? Aku tidak peduli akan cerita darimu!"
Dia terdiam seperti mengatur kata-kata.
"Walaupun bahaya, tapi lakukan hal yang kamu mau... Aku yakin kamu bisa melindungi hal yang kamu cintai. Meskipun aku orang gagal, tapi aku bisa melindungi Lianda."
Aku membuka mata lebar, jadi dia menyadari tentang aku yang sedikit tertarik tentang petualang.
Bagiku dunia luar adalah hal yang menarik, tapi aku hanya takut bila sesuatu seperti ayah dan ibu terjadi karena itulah aku memutuskan untuk melupakan keinginan tersebut.
Walaupun sebenarnya dalam lubuk hatiku aku mau.
Setelah mengatakan hal tersebut dia terus bercerita tentang perjalanan luar biasa dia yang telah dialami. Aku hanya terdiam dan mendengarkan semua dengan seksama.
dan ketika semua ceritanya habis aku meneteskan air mata.
Sudah kuduga aku memang tertarik untuk melihat dunia luar.
"Jadi bagaimana?"
Sepertinya yang dikatakan oleh Liana benar. Dunia luar dan petualangan adalah hal yang menarik, sudah kuduga aku tidak bisa melupakan keinginanku ini.
Jadi dengan tegas aku menjawab. "Ya aku tertarik."
Hari itu adalah hari penting dimana aku memberanikan diri untuk melakukan hal yang ku mau. semua ini berkat perkataan dari Leo yang berhasil memberikan keberanian.
Aku memutuskan untuk masuk akademi bersama Liana dan menjadi petualangan. Aku ingin bersama dan melindungi gadis itu. Melihat dunia luar bersama adalah hal yang menarik.
****************
"Hah."
Aku menatap jendela akademi dan mengingat beberapa masa lalu yang cukup memalukan.
Sedikit melirik ke bangku pojok tempat Liana duduk dan dia tidak ada.
Aku menghela napas. Dia belum juga datang dan ketika aku memikirkan hal tersebut.
Brak
Dua orang yang paling kukenal tampak berjalan menuju kursi.
Dia adalah alice dan Liana. Alice adalah gadis akhir-akhir ini yang kutemui. Dia terlihat manis, tapi entah kenapa aku punya firasat yang agak lain darinya.
Dan disampingnya ada liana. Dia adalah gadis yang kuanggap sebagai keluarga sendiri, mereka berdua adalah hal paling penting bagiku.
aku tidak akan membiarkan semua berpisah.
Ketika mereka sampai di kursi mereka aku berjalan menghampiri mereka dan tersenyum.
"Pagi."