Kehidupan yang pahit di saat remaja, sungguh membuat Keyra sering menangis. Hidup dengan ibu yang sendirian. Karena menolong seorang teman yang dirundung, Keyra menjadi target selanjutnya.
Pertemuan yang tidak sengaja dengan seorang berandalan geng motor, membuat Keyra semakin kewalahan. Ia tidak tahu, dia dengan lelaki itu menjadi semakin dekat. Ternyata, Aprilio sama sakitnya seperti Keyra.
Keyra mau membantu masalah Aprilio, dengan syarat lelaki itu harus sedia melindungi Keyra, selalu.
Bagaimana kisah keduanya melewati kehidupan remaja mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Tikus
...SELAMAT MEMBACA! ...
...Jangan lupa likeenyaa yaaa...
"AAAAA! TIKUS!" Teriakan Keyra dari kamar membuat Aprilio berlari dari teras ketika mendengarnya. Tidak lupa, Aprilio mengambil sapu yang berada di samping pintu kamar. Lalu, Aprilio membuka pintu kamar, melihat Keyra yang sudah berdiri di atas tempat tidur. Wajah gadis itu ketakutan.
"Mana, Key?" tanya Aprilio, sambil mengangkat sapu di tangannya, bersiap-siap.
Keyra membuka wajahnya yang tadi dia tutup dengan tangan. Napasnya memburu. Bagaimana tidak takut? Saat ia sedang mengambil pensil di bawah ranjang, tiba-tiba tikus besar berlari ke arahnya, hampir saja mengenai wajah.
Karena sangat ketakutan, Keyra langsung melompat ke atas ranjang.
Keyra menggeleng-gelengkan kepala menjawab pertanyaan Aprilio. Dia juga tidak tahu tepat ke mana hewan itu pergi.
Aprilio celingukan, melihat ke segala sisi. Namun, dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan tikus itu. "Halu kali lo," celetuk Aprilio.
"Gak! Beneran ada!" Keyra menentangnya. Dia menggerakkan tangannya, menunjukkan tangannya ke arah Aprilio. "Segini," katanya, mengibaratkan kepalan tangannya adalah ukuran tikus itu.
"Gede banget. Serius?" Keyra mengangguk. Aprilio jadi ngeri setelah Keyra menunjukkan ukurannya. Dia juga sebenernya tidak suka melihat makhluk itu.
Karena tidak menemukannya setelah Aprilio memeriksa kamar, dia berpikir bahwa tikus itu sudah pergi. "Udah. Nanti kalau keluar, biar gue tangkep," ujar Aprilio.
Aprilio menyandarkan sapu itu di dinding. Dia melihat Keyra masih berdiri di sana. "Turun, Keyra!" pinta Aprilio.
Keyra menggeleng-gelengkan kepala. "Lo mau berdiri di situ terus?" tanya Aprilio. Keyra hanya diam tidak menjawab. "Turun! Ayo, makan di luar! Gue laper."
Gadis itu masih diam, melihat ke kanan dan ke kiri. "Key," panggil Aprilio.
Keyra menelan ludah. Sungguh, dia takut jika turun dari sana dan tikus itu akan keluar dan melewati kakinya. Keyra hanya melangkah satu langkah membuat Aprilio menghela napas berat.
Aprilio mendekat, merentangkan tangannya membuat Keyra bingung. Gadis itu mengangkat alisnya. "Gue gendong," ucap Aprilio.
"Eh? Gak-gak! Gak mau!" bantah Keyra.
"Ya udah, cepetan turun!"
Akan tetapi, Keyra masih ragu-ragu untuk menurunkan kakinya.
Aprilio berdecak. Tidak mau berlama-lama, dia menarik tangan Keyra dan menggendong gadis itu secara paksa. "Lama," seloroh Aprilio.
Keyra melihat wajah lelaki itu dengan sangat dekat, bahkan tadi pipinya mereka sengaja bersentuhan. Dan, kakinya melingkar di tubuh Keyra.
Mereka sangat dekat sekarang.
Aprilio menurunkan Keyra di ruang tengah. "Berat lo," ungkap Aprilio, sambil meregangkan tubuhnya.
"BB gak sampai 50, udah berat?"
"Oh, gue ngerti," ucap Aprilio. Dia menarik sudut bibirnya. "Yang berat itu dosa-dosa lo."
Keyra mendesis kesal, tangannya melayang hendak memukul Aprilio. Namun, dia menahannya dan menghembuskan napas panjang. "Beli lem tikus sekalian," ujar Keyra.
.....
"Mau makan apa?" Aprilio mengeraskan suaranya, sebab berbicara saat di tengah jalan, biasanya akan membuat telinga seketika tuli.
Keyra mendekatkan wajahnya ke telinga Aprilio. "TERSERAH!" jawab Keyra, dengan berteriak.
Masalahnya, suara keras Keyra berada tepat di sana dan membuat telinga Aprilio seketika berdengung. Lelaki itu lantas menjauhkan kepalanya. "Gue gak budek!" tegur Aprilio, sambil menggosok-gosok telinganya. "Mau pecah rasanya."
"Sorry," ucap Keyra, dengan pelan.
"HA? LO BILANG APA?" tanya Aprilio, sebab Keyra terdengar bergumam tidak jelas.
Keyra langsung tersentak kaget. Sepetinya, karena dia berteriak di telinga Aprilio, membuat lelaki itu sepertinya tuli. "Tuh, kan! Telinga lo emang bermasalah," celetuk Keyra.
"Yah! Ini gara-gara lo!"
"Gue udah bilang maaf!" Lagi-lagi, Keyra berbicara tepat di telinga Aprilio. Lelaki itu sontak memekik keras. "Gak ngomong sama lo lagi, deh," gumam Keyra.
"Telinga gue jadi cuma bisa denger angin, kan," gerutu Aprilio. Menggerakkan tangannya untuk melakukan apapun terhadap telinganya.
Malam yang ramai. Suara klakson mobil di tengah macet meramaikan jalanan, juga mobil berlalu lalang. Lampu-lampu jalan menerangi. Bulan hari ini tak terlihat cerah, dia ditutupi oleh awan hitam.
Bak sepasang merpati yang selalu bersama, Keyra dan Aprilio menikmati sepiring nasi goreng bersama. Tidak ada lagi penjual makanan berat di sana. Terpaksa, mereka hanya bisa mendapatkan satu porsi.
Kemungkinan besar, satu porsi nasi goreng itu tidak akan mengenyangkan, tetapi lebih baik dari pada perut akan keroncongan. "Buat genjel perut, Vin. Nanti bisa buat mie instan aja di rumah," tutur Keyra.
Pada akhirnya, Keyra hanya makan seperempat dari satu porsi karena nasi goreng tersebut lumayan banyak. Keyra sudah mengatakan kenyang dan menyuruh Aprilio saja yang menghabiskan. "Makan lo dikit amat, pantesan kurus kayak lidi," seloroh Aprilio.
Apa seorang lelaki hidupnya tidak akan tenang, jika sehari saja tak mengatai perempuan? Lalu, mungkinkah mereka berpikir bagaimana perasaan lawan jenisnya itu?
Keyra juga sudah berusaha makan banyak, tetapi takdir dan darah buyutnya mungkin memang seperti itu. Terlahir langsing? Lagian kurus tidak seburuk itu, dibandingkan kelebihan berat badan.
"Jangan body shaming! Lo juga kurus, cacingan?" balas Keyra, tidak terima. "Kurus ngatain kurus."
Aprilio tersenyum miring sejenak. "Gue tinggi, jadi gak kelihatan kurus. Sedangkan lo?"
Keyra tidak menyangka, mulutnya sampai menganga mendengarnya. "Ngeselin! Musuhan kita!" pekik Keyra, memutar tubuh membelakangi Aprilio.
"Marah lo?"
Keyra tidak menjawab, dia melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya sinis melihat ke depan. "Putus aja lah kita!" seloroh Keyra.
Aprilio secara refleks menarik rambut bagian belakang Keyra, membuat gadis itu kesakitan. Namun, Aprilio dengan cepat menariknya. "Eh, spontan gue," ujarnya, ketika Keyra menghadapnya tiba-tiba. "Gak sengaja. Tangan gue gerak sendiri."
Keyra tidak mengucapkan sepatah kata, dia hanya mengelus kepala bagian belakangnya yang terasa sakit dan gatal karana Aprilio menarik rambutnya. Akan tetapi, Keyra melemparkan tatapan tajam.
"Jangan putus, gue cuma bercanda," ujar Aprilio. Atas dasar apa dia menolak untuk berpisah? Agar tetap terlepas dari perjodohan orang tuanya kelak, atau hal lain seperti cinta?
Tidak mendengar atau melihat respon Keyra, Aprilio meraih tangan Keyra dan menggenggamnya membuat gadis di depannya tercekat. "Sorry, ya?" tutur Aprilio.
.....
Keyra baru saja merebahkan tubuhnya di kasur. Namun, terdengar suara berdecit dari bawah tempat tidur. Dia kembali membuka mata. Lalu, Keyra mendudukkan tubuhnya dan mendengarkan dengan saksama.
Suara decit yang lumayan keras dari bawah membuat Keyra ngeri. "Tikus?"
Tidak lama setelah Keyra mengatakan itu, dia melihat tikus besar tersebut berlari menabrak barang-barang di kamar hingga menimbulkan bunyi yang ramai. "Vin! Kevin!" panggil Keyra, berteriak.
Aprilio yang hendak tidur di sofa, kembali bangun dan berdecak. Dia melangkah ke kamar, membuka pintu.
Saat Aprilio menarik pintu tersebut, tikus itu berlari keluar melewati kaki Aprilio hingga lelaki itu meloncat-loncat dan naik ke tempat tidur. "Gede banget!" celetuk Aprilio, berdiri di samping Keyra.
Nyali Aprilio menjadi ciut setelah melihat bentuk hewan yang terlihat hitam dan besar tersebut. "Lo takut juga?" pekik Keyra, menggeleng-gelengkan kepala melihat Aprilio.
"Jijik, Sialan." Aprilio bergidik ngeri.
"AAAAA!" teriak Keyra begitu melihat tikus besar kembali masuk ke kamar dan berlari ke bawah ranjang. "Di--di bawah."
Aprilio dan Keyra saling menatap. "Lo mending tidur di luar dulu, aja," ucap Aprilio.
Sebelum keluar, Keyra melemparkan lem tikus ke bawah tempat tidur. Lalu, dia segera berlari dari kamar.
"Terus, gue tidur di mana?" tanya Keyra, menatap Aprilio yang sudah tiduran di atas sofa.
"Di bawah," jawab Aprilio.
"Gak! Nanti kalau tikusnya lewat lagi, gimana?"
Aprilio diam, menatap gadis yang berdiri di depannya. "Ya udah, tidur di sini!" pinta Aprilio, menggeser badannya.
"Berdua?" Aprilio menganggukkan kepala. "Ta--tapi, jangan macem-macem!" peringatan Keyra.
Aprilio menganggukkan kepala.
Terpaksa, Keyra harus tidur berdempetan dengan Aprilio di sofa yang cukup kecil itu. Keyra membelakangi Aprilio, memeluk tubuhnya sendiri sebagai pengaman.
Aprilio bergerak sedikit, kemudian Keyra refleks ikut bergeser karena mereka bersentuhan.
Keyra hampir terjatuh, dengan cepat Aprilio menahan tubuh gadis itu dengan cara memeluknya dari belakang.
"Vin?" Keyra bergeming, lelaki itu tak kunjung melepaskan tubuhnya.
"Gini aja. Biar lo gak jatuh," ucap Aprilio.
Malam itu, mereka tidur di satu sofa bersama, dengan Aprilio yang mendekap tubuh kecil Keyra.
...Asksksk tidur bareng ciyeee...
...Komen cie untuk couple kitaa...
...Sambil nunggu update, bisa dongg buat mampir di story aku yang lainn...
...DI SINI DIJAMIN SERU! GAK AKAN NYESEL DEH KALAU BACA COUPLE YANG SATU ITU HEHEHE...
...Tapi jangan kaget sama endingnya yaa😆...
...Langsung ke sana aja kalau penasaran xixi...
...😁👍...