NovelToon NovelToon
SUKI

SUKI

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Romansa-Teen school / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:216.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dini Salim

Di tahun kedua sekolahnya, Suki mencoba untuk mencari kisah cintanya seperti orang-orang kebanyakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Salim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24.Heartbeat

"Bersamamu, duniaku lebih berwarna."

*

Senin pagi setelah Upacara Bendera, anak IPA dua sudah berisik masing-masing, tak menyadari sang ketua kelas sudah memasang wajah jutek dan maju ke depan kelas.

"Semuanya, dengerin gue baik-baik!" seru Wendra memukul-mukul penggaris ke papan tulis membuat anak-anak menaruh perhatian padanya. "Bu Rika hari ini nggak masuk, nggak ada tugas, WOI UDI, BARON, POKEY DIEM ANJING!" seru Wendra marah.

Udi, Baron dan Pokey langsung diam membantu terkejut menyudahi sorakan gembira mereka. Pokey yang awalnya naik di atas meja mau joget segera kembali duduk manis sementara Baron mematikan musik, kemudian Udi menyeletuk.

"Masih pagi elah, Wen, kalo ketua kelasnya aja emosian, gimana dia bisa mimpin kelas," kata Udi tanpa melihat wajah Wendra yang kini datar menahan emosi.

Suki yang memerhatikan itu agak takut. Wendra tak pernah seemosi ini.

"Yaudah, sini lo gantiin gue," kata Wendra tajam, menggebrak papan tulis dengan kepalan tangannya. "Cepet!"

"Aduh, udah dong napa jadi panas gini," kata Vivi maju mengambil penghapus yang jatuh dan meletaklannya ke tempat semula. Ia menatap Wendra heran. "Wen, jangan terlalu emosi, apalagi ngerusak peralan kelas. Bisa berabe gue," keluh seksi peralatan itu.

Wendra menatap Vivi datar. "Lo coba ada di posisi gue."

"Hah?" Vivi menganga tak mengerti.

"Hadeuh, ngatuk gue," celetuk Haru di kursi pojok, menguap meremehkan suasana tegang ini. "Baperan lo, Wen."

Rana ikut maju, mengetuk-ngetuk meja guru dengan tangan, gadis yang biasanya ramah itu kini memasang wajah serius. "Plis, dengerin, hargain yang ngomong di depan," mohon sekretaris kelas itu dengan nada lelah.

"Ngomong apaan sih?" tanya Pokey yang sedari tadi diam.

"Apaan?" tanya Kiko ikut-ikutan.

"Apasih anjir tegang amat berasa rapat paripurna aja," celetuk Doni masih tak mengerti.

"Emang lo pernah ikutan rapat paripurna?" tanya Budi meladeni.

"Kagak," cengir Doni bodoh. "Emang rapat paripurna apaan?"

Udi dan Haru jadi ketawa ngakak. Yang lain melihat mereka, kemudian tersadar dan langsung tertawa.

"Doni goblok." Rena mengumpat.

"Harus dicoret dari KTP nih," kata Ovi sambil tertawa bercanda.

"Bakar aja bakar," kata Hilda menambahkan.

Suki terdiam memerhatikan mereka, merasa sesuatu akan terjadi karena suasananya janggal.

"Ck." Fenna merasa harus ikut andil, gadis itu maju ke depan dan melepas sepatunya begitu saja. Membuat anak-anak menatap heran. "Sekali lagi ada yang ngomong dan bercanda, gue lempar pake sepatu."

"Dan lo masuk BK ntar," balas Udi masih keras kepala.

"Bisa diam nggak sih kalian semua?" tanya Wendra lelah sambil mengusap wajahnya frustasi. Matanya sayu seperti mau menangis. Membuat anak-anak berbisik dan mulai mendengarkan. "Lo pikir hidup ini bercanda doang?"

Udi masih sempat membalas. "Ya iyalah, kalo serius artinya lo nggak menikmati hidup—"

"Coba lo jadi gue."

"Jadi aku sebentar sajaaaaa, oooo," nyanyi Haru mulai meleluconkan Wendra.

"Ru, bisa diem dulu nggak?" gertak Rana tak tahan.

Haru hanya mencibir, kemudian kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja, ingin tidur saja. Suki agak was-was ketika Fenna mengangkat sepatunya, hendak melempari Udi yang kini sibuk mendengarkan musik lewat earphone.

Tapi Wendra menahan lengannya dengan datar. "Lo cewek."

"Iyalah Fenna itu cewek, siapa sih yang nggak tau?" celetuk Doni sarkas. "Udahlah, Wen, jangan sok bener jadi ketua, sok galak sok tegas. Nggak usah sok peduli deh. Mau muntah gue liatnya," kata Doni frontal.

"Yaudah, gue di sini juga mau gitu. Gue mau berenti jadi ketua kelas kalian," balas Wendra kesal, membuat beberapa anak terkejut. "Capek gue ngurusin kalian yang pada egois gini. Iya gue baperan, iya gue nggak becus, iya gue lemah. Harusnya sebagai ketua kelas gue bisa nyatuin kalian, tapi nyatanya gue nggak bisa."

Wendra tertawa lirih. "Kenapa?"

"Karena kita emang gini. Egois, nggak pernah pengen bersatu dan saling bantu. Selalu mengandalkan satu orang kalo ada kerja kelompok atau satu kelas. Nggak pernah sadar diri. Ke kantin sendiri-sendiri nggak pernah bareng-bareng ajak yang lain. Banyak juga yang menyendiri," kata Wendra membuat Suki tersindir. "Sampe anak kelas lain seenaknya masuk kelas dan bikin salah satu anak emosi sampe mukul dan terluka. Kelas kita emang serendah itu."

Suki benar-benar tersinggung, ia tak menyadari Wendra tak menyukainya.

"Terus bisa-bisanya ada anak cewek yang maen ke klub sama anak kelas lain. Ada juga yang sampe labrak anak baik-baik di kelas lain." Wendra seperti laporan, membuat anak-anak terkejut mereka diperhatikan sebegitunya oleh Wendra padahal cowok itu selalu terlihat sibuk dengan bukunya. "Anak cowok juga pada cemen nggak ada yang ikutan OSIS, kerjaannya main, nilai bagus nggak."

"Kalian malu-maluin kelas tau gak." Wendra berkata tajam. "Citra anak IPA 2 udah buruk banget. Banyak kasus, nilai pada anjlok."

Anak-anak terdiam lama.

"Udahlah, kelas IPA 2 bubar aja. Gue juga mau pindah ke IPS."

"Hah?!"

"Wen, serius lo?" tanya Rana panik.

Wendra mengangguk kecil. Cowok itu dengan lesu mengambil tasnya tanpa kata kemudian keluar kelas sebelum berpesan, "sekarang pelajaran kimia ke lab."

Suki merasa sedih.

*

"Anak IPA 2 tuh, ada Suki pasti," kata Felik memberitahu Zidan ketika melihat rombongan IPA 2 melewati koridor pinggir lapangan, tempat IPA 4 sedang berolahraga.

"Ha? Mana?" tanya Zidan semangat.

"Sana samperin mumpung Pak Meky belum dateng," suruh Felik mendorong punggung Zidan.

Zidan segera berlari mendekati rombongan itu. Felik tertawa kecil melihatnya. "Dasar bucin."

Zidan akhirnya sampai di koridor tempat melintasnya rombongan. Namun ia sudah lama mencari, Suki tak terlihat di sana. Membuat Zidan mengernyit dan segera menoel pundak seorang cewek yang berjalan paling belakang.

Cewek itu menoleh, langsung membekap mulutnya kaget mendapati wajah Zidan yang seputih porselen menatapnya tepat di mata. Mengenali Zidan sebagai orang yang baru-baru ini sering ke kelasnya.

"Ada Ucil nggak?"

"Hah?"

"Ah, maksud gue Suki." Zidan segera mengoreksi. "Ada nggak?"

"Suki?" tanya cewek itu heran. "Gue Rena. Lo nyariin gue kali."

"Dih." Zidan memutar bola mata. "Gue nyari Suki."

"Suki lagi sama Wendra." Rena menjawab apa adanya. "Kenapa?"

"Wendra siapa?"

"Wendra ya Wendra. Ketua kelas kita, yang nggak tau kenapa hari ini rada emosian gitu."

"Terus Suki dipukulin sama Wendra?" tanya Zidan khawatir.

Rena tertawa, tanpa sadar sudah nyaman mengobrol dengan Zidan dan ditinggal rombongan. "Ya nggaklah, orang Suki yang nyeret Wendra nggak tau mau apa."

"Suki nyeret Wendra? Ke mana?"

"Nggak tau," jawab Rena agak kesal. Ia menoleh, kemudian terkejut dengan mulut terbuka. "Sial, gue ditinggalin! Udah ya ah, dadah!" serunya kemudian begitu saja berlari mengejar rombongannya meninggalkan Zidan yang masih saja bingung.

"Maksudnya apasih anju kok gue kesel."

*

"Lah, jadi semua ini cuma setingan?"

Suki bertanya tak percaya mendengar penjelasan Wendra tentang tadi. Suki merasa tak tenang jika tak langsung bertanya dengan menyeret Wendra ke bawah tangga terdekat ketika perjalanan menuju laboratorium.

Wendra tertawa ringan. "Lo payah banget sampe nggak nyadar."

"Udi bentar lagi ultah, biar tau rasa dia ditinggalin temen."

Suki mengela napas lega. "Gue kira beneran, bikin deg-degan tau nggak."

"Kan biar surprise gitu kayak di film-film."

"Emang Udi siapa sih sampe kita harus kayak gini?"

Wendra mengangkat alis terkejut. "Lho, lo nggak nyadar?"

"Apa?"

"Udi tuh banyak banget jasanya." Wendra tersenyum merasa geli akan menceritakan kebaikan Udi yang slegean itu. "Dia suka dateng pagi, lo pikir buat apa? Dia bersihin kelas. Terus agenda suka udah keisi aja, sama siapa padahal Rana sama Ovi yang sekretaris aja merasa jarang nulis? Sama Udi. Lo tau kenapa kelas nggak pernah kecolongan? Karena Udi suka ngunci sama buka kelas pake kunci rahasianya. Terus siapa yang bela kalau kelas kita nggak boleh ada yang masuk tanpa ijin? Udi."

Suki terdiam, tertegun begitu saja. Mereka amat egois karena tak tau apa-apa tentang teman padahal sudah bersama satu tahun lebih.

Iya, Suki dan Udi waktu kelas sepuluh berada di kelas yang sama, X7. Kemudian kini satu kelas lagi. Suki benar-benar buta tentang Udi.

"Kenapa gue tau?" Wendra bersuara lagi. "Karena gue memerhatikan semua orang."

Suki mengacungkan jempol. "Lo emang ketua kelas terbaik!"

"Yang mengetuai kelas paling suram dan pada egois."

*

"Lik, yakin ini Ucil? Kok cantik banget," kata Zidan masih ngotot tak mau percaya sambil meneliti kembali sebuah foto yang kemarin sore diambil Felik. "Gue mikir semaleman, tetep aja nggak yakin ini Ucil."

"Dan kalo ini Ucil, berarti dia lagi jalan sama anjing bulldog pakeannya item-item gitu kayak teroris." Zidan misuh-misuh sendiri.

Membuat Felik ngakak begitu saja. "Nggak sadar dulu juga lo pakeannya item-item pas jalan ama Suki?" tanya Felik geli. "Berarti lo juga bulldog dong."

"Setidaknya kulit gue putih bersinar nggak item kek ini cowok."

"Tumben banget lo pamer fisik," kata Felik terkejut. "Dibilang ganteng sama cewek di kelas aja udah nyalain laser."

"Gue tuh gak ganteng."

"Lah?"

"Tapi tampan."

"Shit," umpat Felik menyesal kepo.

"Yah, yang penting ini bukan Ucil," kata Zidan kembali meyakinkan diri sendiri.

"Udah, ini tuh Ucil, dan sekarang lo lagi cemburu makanya nggak mau percaya ini tuh Ucil," kata Felik memutuskan seenaknya bikin Zidan melotot protes, tapi Felik segera membungkamnya. "Lagi sama cowok yang lebih ganteng dari lo."

"Ini gue lempar ya hp lo," ancam Zidan.

"Hp gue di Nafhira, itu hp lo. Silahkan kalo mau dilempar," sahut Felik tenang.

Zidan mengumpat tanpa suara, lanjut meminum es jellynya dengan kelas.

"Gue kepikiran Ucil mulu kalo nggak ketemu," kata Zidan curhat begitu saja. Mengedarkan pandangan ke seluruh kantin berharap ada Suki. Dan seperti yang Zidan duga, Suki tak akan ke sini kalau tidak dipaksa. "Nggak malem, nggak siang."

Felik mengembuskan napas bosan. "Coba deh lo inget-inget, tiap malem lo selalu ganggu gue dengan ngomong kayak gitu," keluh Felik mengeluarkan unek-unek. "Coba lo sekarang datengan Suki, bilang suka, pacaran, jadi nggak kepikiran terus sampe sama ketua kelasnya aja cemburu."

"Lo kira gue gila ya?" tanya Zidan protes. "Gue nggak suka sama Ucil dan nggak akan pernah pacaran sama dia. Masa gue pacaran sama kucing sendiri."

"Hadeuh, Zidan, sahabat terbaikku, capek deh aku ngomong sama kamu, kan malem kemaren udah gue jelasin, coba inget-inget," kata Felik manis. Matanya mengedip-ngedip sambil tersenyum paksa menahan emosi melihat wajah Zidan yang berpikir keras.

Menelusuri ingatannya tentang malam-malam itu.

Malam pertama Zidan mulai memikirkan Suki, ketika selesai reuni. Zidan mengajak Felik ngopi dan akhirnya curhat tanpa Zidan sadari.

"Lik, kok gue deg-degan?"

"Kan lu idup, bangke."

"Lah, katanya gue idup, kok lo bilang gue bangke?"

"Alah udah, serah, gue mau tidur jangan ngajak ngobrol."

"Dih gitu temen. Gue butuh bantuan lo nih. Tolong kasih pengertian kenapa gue jadi gini."

"Udah, anggap aja lo lagi bahagia jadi deg-degan."

"Bahagia kenapa?"

"Bukannya lo abis reuni trus ketemu mantan gebetan kan? Meskipun itu cinta anak SD. Pasti lo deg-degan kan."

Zidan terdiam lama. "Gue nggak punya gebetan tuh pas SD."

"Yaudah sekarang lo lagi mikirin siapa?"

"Ucil?" Zidan menjawab ragu.

"Nah, berarti lo seneng ketemu dia."

Malam kedua Zidan memikirkan Suki. Ketika hendak tidur, Zidan mengajak Felik membaca materi biologi yang ujung-ujungnya jadi ngobrol seperti malam sebelumnya.

"Lik, kok gue nggak pernah liat dia keluyuran di sekolah ya?"

"Dia siapa?"

"Ucil anjir."

Felik mengembuskan napas, mulai mengingatkan diri bahwa Ucil yang dimaksud Zidan bukan kucingnya melainkan Suki.

"Ya emangnya elo, nggak betah diem di kelas makanya suka kena semprot guru-guru bukannya belajar malah keluyuran nggak jelas."

"Ya abisnya gue bosenlah, di kelas nggak ada yang wah gitu."

Kan elo yang wahnya, Dan. batin Felik agak gengsi.

"Emang kelas Ucil kayak gimana sih?"

"Ya, kalau lo penasaran kenapa nggak langsung kepoin aja sih."

"Apaan ah malu gue."

"Biasanya juga malu-maluin, Dan."

"Kampret lo, tapi bener sih."

"Nah, kan gue seneng kalo lo yang bilang sendiri."

"Kok gue deg-degan nunggu besok ya."

Hari esoknya Zudan menguntit Suki karena malu jika menampakkan diri secara langsung. Dari situ, Zudan tahu beberapa fakta tentang Suki yang membuatnya khawatir di malamnya.

Zidan kembali curhat pada Felik.

"Lik, gue kasian sama Ucil. Kayaknya nggak punya temen deh. Apa dia takut temennya itu kayak gue yang suka ngusilin dia?"

"Taulah, lo mikir aja sendiri."

"Apa gue ajakkin main ya?"

"Ide bagus tuh."

"Hadeuh, gue deg-degan lagi, gila."

"Jangan-jangan lo suka lagi sama dia?"

"Alah, ngaco lo."

Hari berikutnya Zidan mulai berani menampakkan diri dan mengutarakan perasaannya selama ini. Dan seperti sebelumnya, malamnya Zidan kembali kepikiran. Malam itu Zidan sehabis pulang kerja kelompok SBK dengan Suki.

"Lo pengen terus deket dan kalo deket jadi deg-degan?"

"Iya, Lik. Aduh, gila gue. Nggak bisa berhenti senyum."

"Itu artinya lo suka beneran sama dia."

"Hah? Kok bisa?"

"Gini, pertama kali lo kepikiran karena ketemu. Kedua, lo kepikiran karena penasaran. Yang ketiganya lo kepikiran karena kasihan, dan yang terakhir, kali ini lo suka beneran sama dia."

"Gue masih nggak yakin."

"Tunggu bentar lagi, pasti lo bakal yakin."

Esoknya, Zidan memantapkan tekad untuk membawa Suki jalan-jalan. Agak malu, tapi untungnya ada Felik yang membantunya. Hari itu Zidan sadar, ia menyukai Suki, sebagai seorang perempuan.

Namun, malamnya ia kembali kepikiran.

"Lik, anju kok hati gue perih ya."

"Kenapa? Emangnya lo apain hati lo?"

"Gue ama Suki tadi ketemu cowok, gue lupa namanya, tapi mereka pelukan gitu. Gue kesel liatnya, makanya langsung gue pisah sebelum sesuatu yang berbahaya terjadi."

"Itu namanya cemburu, goblok."

"Yee, kok bisa gitu?"

"Cinta emang gitu. Bikin kepikiran, bikin deg-degan, bikin pengen terus ketemu, terakhir, bikin cemburu."

"Hadeuh, capek gue mengingat. Oke, sekarang gue inget semua perkataan lo, Lik," cetus Zidan setelah berpikir lama. "Gue suka sama Suki."

"Nah, gitu." Felik tersenyum lebar.

"Tapi darimana lo tau gue suka sama Suki sementara gue yang ngalaminnya nggak sadar sama sekali?" tanya Zidan heran.

"Karena dengan degupan jatung, kita bisa mengetahui perasaan seseorang," kata Felik bijak. "Yang sebenarnya."

"Lo bisa denger suara degupan jantung gue? Serem amat, jir."

Felik menoyor kening Zidan kesal. "Nggaklah, bego. Gue tau karena lo cerita."

"Dan lo tau apa yang lucu?" tanya Felik menahan senyum.

"Apa?"

"emenjak lo jatuh cinta, lo berubah." Felik tertawa geli. "Lo yang asalnya abu-abu, kinimulai berwarna.m

Panjang skl ya

Oke deh sekian, lanjut besok

1
sa._.efsoup
SUPARMAN SIALAN 😭😭
MY BOY ZIDAN 😭😭
sa._.efsoup
gelo gelo geloooo 😭😭😭 when yh
sa._.efsoup
AWWWW 😭😭😭
Arni 1705
sedih yak MAk😭
Arni 1705
lapangan sekolah ... dulu waktu klas 10pernah dihukum satu klas hormat tiang bendera. wkwwkk Keinget terus ampe sekarang
Arni 1705
suki gampang amat berdebar"...
Arni 1705
Arman dan tao...
bau" dendam nih
Naufal Tan Arsenio
keren ..awal yg bagus..jarang nemu penulis yg apik dan kata2nya bagus
dwitiarina kristiti
Ini maksudnya 'The Truth'?
~YanSin~
Kocak asli..
Curhatnya Zidan ke Felix tuh kocak.
absurd ala2 anak abegeh 🤣🤣
~YanSin~
Rutinitas Suki mirip gw 🤣
Suki Feci
bagus bnget lho ini novel..
tulisan ny ringan rapi dan keren
semoga semakin bnyak yg baca
Winsulistyowati
Suka.Asiik.Critanya..gk Pjng..kurang dr 100 episode..Siip..Thor Sehat n Brkarya Trus y Thor Say..💪💪👍👍🖐️
Winsulistyowati
Cidan...Cidan..kasihan kmu sayang..
Winsulistyowati
Haruse Omong ae Trus Trang Zidan..Biar Suki Tau..meski kurang prcaya
Winsulistyowati
Waduuh..difitnah apa dikompori ni Thor..Moga Suki..Isa Memilih.mana Teman yg Tulus Hati..
Winsulistyowati
Sabar Zidan...Maju Trus Pantang Mundur..💪💪🥰♥️
Winsulistyowati
Zidan Uda Jatuh Cinta Sma Suki..tpi GK.Ngerasa y Thor..Hmm..♥️🥰
Winsulistyowati
Mampir ni Thor..🖐️💪👍
Karmila Mila
ini novelnya udah lama aq baru nemu.

padahal ceritanya seruuuuu,tp sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!