Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Adik-adik
Tidak ada kasih sayang dari Klara untuk ibunya, tapi dia tetap tidak mengusir ibu karena memikirkan kedua adiknya. Mungkin mereka tidak ingat, Clarissa dan Erick pernah membantunya beberapa kali.
Saat itu mereka masih kecil, saat ibu tidak menerimanya. Ada Erick yang masih sangat kecil, anak itu memiliki hati yang lembut. Erick memberikan payung lewat celah gerbang kecil.
Anak itu punya senyum cerah, tapi hari itu ia tidak tersenyum dan malah menitikkan air mata. Dia sangat kasihan melihat keadaan Klara yang kehujanan di luar karena ayahnya tidak memperbolehkannya bertemu ibu lagi, ditambah ibu juga tidak ada keinginan berjuang untuk menemuinya.
Tidak hanya Erick, Clarissa juga pernah membantu Klara, dia membawakan roti untuk Klara. Malam ketika Klara sangat lapar setelah dipaksa pulang oleh ibunya naik angkot.
Walaupun itu sudah sangat lama, dan kedua adiknya sudah tumbuh besar. Ditambah bisa jadi kedua adiknya juga tidak ingat sama sekali pada kebaikan mereka itu. Tapi Klara akan terus mengingatnya.
"Apa rencana kalian ke depan?" tanya Klara. Dia ingin mendengar pendapat kedua adiknya.
"Cari kerja, gue kan lulusan universitas ternama," jawab Clarissa. Membanggakan diri.
Klara sudah lama tidak mendengar kabar adiknya, tidak disangka Clarissa sudah sebesar ini.
"S1?" tanya Klara.
"S2 dong, Kakak ngremehin gue banget."
Klara tersenyum simpul, tidak menyangka adiknya sudah tumbuh menjadi cantik dan cerdas. Padahal dulu terlihat sangat takut memberikannya roti.
Klara tidak bisa lupa tatapan Clarissa waktu itu, dia sangat takut ketahuan oleh ayah ibunya.
"Ternyata kamu cerdas, setidaknya kamu menggunakan fasilitas ayah kandungmu dengan baik."
Bisa kuliah sampai S2, tentu Clarissa bukan orang yang hanya bermanja-manja tanpa memikirkan masa depan. Walaupun jutek padanya, tapi Klara tahu itu hanya karena pengaruh dari ibu.
Clarissa menahan senyum, ia berdehem dan kembali makan. Dia senang dipuji kakaknya.
"Kalau kamu, Erick?" tanya Klara.
"Masih kuliah, lo nyuruh gue putus kuliah terus kerja?" tanya Erick sinis.
Matanya nyalang menatap Klara, anak-anak yang melihat itu langsung bersiap melindungi ibunya. Arsel sampai meletakkan sendok. Dia mengawasi keadaan, takut ibunya dilukai.
"Siapa yang nyuruh kamu kerja? Kalau mau kuliah ya silakan."
Klara mengambil minum, ia menoleh ke sebelah kiri, barisan anak-anak sangat tegang, kecuali Halim yang sangat enjoy makan dengan menggerak-gerakkan kakinya.
Bocah itu menikmati steak sapi hingga mulutnya belepotan, dibanding Arsel atau Chika. Halim memang sangat berbeda sendiri, di usianya yang sudah masuk TK nol kecil, dia tidak menerapkan table manner.
Padahal Ayahnya orang besar, sering diundang makan bersama keluarga ternama. Klara tidak berani membawa Halim kalau anak itu belum menguasai table manner.
"Kakak tahu sendiri kita nggak punya biaya," ucap Erick.
"Klara, kamu harus biayain adek kamu kuliah. Juga bilang ke suamimu itu suruh masukin Clarissa ke kantornya. Kita ini keluarga."
Mendengar itu Klara tersenyum kecut, andai dia tidak menikah dengan Kyos, mana mungkin Ibu menganggapnya keluarga.
"Atas dasar apa aku mau ngelakuin itu?" tanya Klara sembari bersandar.
"Kamu--"
"Dengar, Ibu nggak pernah berjasa apapun padaku. Selama puluhan tahun, ibu mendatangi ku baru sekarang, dulu saat aku ngemis di depan rumah ibu, apa ibu mau keluar dan menganggapku keluarga?" tanya Klara.
Ibu tidak bisa berkata-kata, dia hanya mengepalkan tangan.
Klara memandang anak-anaknya, mereka menatap Klara dengan bingung.
"Anakku yang paling besar berusia 10 tahun, apa selama itu Ibu pernah datang untuk menjenguk cucu ibu?" Tanya Klara lagi.
"Apa pantas orang tua yang mengunjungi anaknya, seharusnya kamu dan Kyos yang datang ke rumah ibu. Kenapa malah sekarang menyalahkan ibu?" Tanya balik ibu, dia tidak mau kalah.
Klara menyangga dagu, "aku sudah sering ke rumah ibu, tapi selalu diusir tuh."
Suasana kembali tegang, para pelayan terdiam. Begitu juga adik-adik dan anak-anak Klara. Kecuali Halim yang mejanya berantakan. Dia juga makan menggunakan tangan walaupun di tangan kirinya ada garpu.
"Mama ngantuk, hoam ...." Halim yang belepotan menguap. Dia hampir mengucek matanya jika pengasuh tidak mencegah.
Klara berdiri, "Cuci tangan Halim, lalu hawa ke kamar. Arsel, Chika. Kalian kembali ke kamar."
"Baik, Ma."
Arsel dan Chika turun dari kursi, mereka mengikuti perintah ibunya dan meninggalkan ruang makan. Tidak ada yang nafsu melanjutkan makan. Semuanya tampak tidak nyaman dengan keadaan ini.
Klara mendatangi Halim di kamarnya, anak itu sudah cuci tangan dan digantikan baju tidur oleh pengasuh.
"Sini sayang, tidur."
Klara menepuk ranjang, Halim segera berlari dan melompat ke kasur. Bocah itu sangat senang dibacakan dongeng oleh ibunya.
"Ma, Timun Mas."
Halim menyodorkan buku mengantar tidur, berjudul Timun Mas dan Raksasa. Klara segera duduk di ranjang, tepat di samping Halim yang berbaring.
Klara menarik selimut, Halim tampak sudah sangat nyaman. Klara mulai membacakan dongeng itu dengan santai. Halim mendengarkan sembari matanya hampir terpejam.
"Selamat tidur sayang," ucap Klara. Dia mengecup kening putranya sebelum beranjak pergi.
Kamar ditutup, sebelum kembali ke kamarnya. Klara menyempatkan diri melihat kamar Chika. Lagi-lagi terdengar Chika dengan mengobrol dengan mahluk halus bernama Vivi.
Hati Klara menjadi panas, dia segera pergi meninggalkan kamar Chika.
Kyos pulang larut malam, bahkan bisa dibilang hampir pagi. Klara sudah biasa, kadang malah Kyos tidak pulang berhari-hari karena dinas ke luar negeri.
Pagi harinya, Klara baru bercerita pada Kyos bahwa Chika punya teman ghaib yang diberi nama Vivi.
"Kalau nggak ganggu kehidupan Chika, biarin aja. Anggap buat temen Chika."
Kyos menanggapnya remeh, sama seperti saat Chika hampir mati ketika usianya baru 3 tahun.
"Mas nggak inget kejadian dulu? Chika hampir mati. Aku nggak mau kayak gitu lagi."
"Sekarang Chika udah besar, dia bisa bedain mana benar dan salah. Kalau dia memutuskan berteman dengan mahluk itu, maka kita harus menghargai keputusannya."
"Nggak bisa, aku udah panggil Pak Tendi, nanti siang dia datang dan bakal memagari rumah ini supaya teman Chika bernama Vivi nggak bisa masuk."
Klara bersikeras, dia tidak mau Chika menjadi anak indigo, ia tetap ingin Chika normal atau setidaknya tidak memiliki teman mahluk ghaib.
"Sampai kapan kamu nggak bisa menerima kemampuan Chika?" Tanya Kyos. lelah dengan sifat keras kepala istrinya.
"Sampai Chika hidup normal tanpa berteman dengan mahluk halus," jawab Klara. Di terlihat sangat membenci kemampuan Chika.
Kyos mengembuskan napas berat lagi, dia tidak bisa menasehati Klara karena dari dulu Klara memang menentang keras tentang kemampuan Chika. Kyos menduga bahwa Klara punya trauma dengan kemampuan itu.
nyimak aah