Naki adalah putra tunggal yang menjadi ahli waris keluarga Buranaphan. Ia dibuang ke pulau tak berpenghuni oleh ibu tirinya karena tak mau kekayaan Buranaphan yang melimpah jatuh ke tangan anak tersebut.
Anak itu tumbuh besar dilingkungan ganas bersama hewan-hewan buas. Ia dirawat oleh sepasang Kingkong mandul yang tidak memiliki keturunan sampai besar dan bisa bertahan hidup sendiri.
Pada suatu hari takdir mempertemukan Naki dengan Diana. Si gadis polos baik hati yang berniat liburan dan menyatu dengan Alam di pulau Ninian. Nahas, kapal pribadi yang ditumpangi Ana menunju pulau tujuannya hancur tertabrak ombak. Dan membuat gadis itu berakhir terdampar di pulau tak berpenghuni bersama Naki
"Siapa kamu?" Ana menatap cowok aneh yang diperkirakan tinggginya lebih dari dua meter.
Dia masih diam memperhatikan setiap inci tubuh Ana dengan pandangan bingung seperti baru pertama kali melihat seorang wanita.
"Woi, kamu siapa Monster?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh Tuhan
Apa yang dilakukan Naki membuat perut Ana seketika mual. Rasanya ia ingin memuntahkan sesuatu, tapi perutnya yang kosong tidak bisa dibohongi. Ana hanya mampu merasakan mual tanpa bisa memuntahkan apa pun dari dalam sana.
Masih dengan posisi yang sama.
Tangan Ana masih di sana tanpa berkutik sedikit pun. Meski matanya terpejam, Ana seolah dapat melihat bentuk dan ukuran melalui indra perabanya. Betapa besarnya. Betapa mengerikannya. Semua hal itu benar-benar tergambar jelas meski matanya tidak melihat secara langsung.
Bagaimana bisa lelaki itu menyuruh Ana menyentuh benda keramat yang seharusnya dijaga baik-baik? Dasar tidak tahu diri, pikirnya.
"Na ... Naki?" Gadis itu masih tak berani menatap ke bawah. Pandangannya tertuju pada wajah Naki yang kini juga menatapnya.
Oh,Tuhan!
Dalam hati gadis itu menjerit. Ia bisa merasakan betapa gemetarnya tangan itu saat ini. Bahkan, jemarinya mulai basah akibat terlalu banyak mengeluarkan keringat.
"Benarkan, Ana? Kamu adalah sumber masalah yang membuat dia bangun," tukas Naki. Sekarang dia malah menyalahkan Ana dengan tidak tahu dirinya.
"Kamu yang membuat dia jadi seperti ini. Setiap kali ada kamu dia selalu bereaksi," ujar Naki menggunakan nada bicara polosnya. Saking polosnya Ana ingin sekali mendaftarkan Naki ke taman kanak-kanak. Mungkin dengan begitu Naki bisa belajar jadi pria normal dari tahap enol.
Tak lekas menjawab, Ana menarik napas dalam-dalam supaya emosinya mereda. Pelan, dia menarik tangannya yang gemetar untuk melepas benda di genggamannya.
"Naki ... kali ini kamu sungguh keterlaluan." Gadis itu langsung mengubah ekspresinya menjadi marah ketika berhasil lepas dari jerat si pedang kegelapan.
Tidak!
Sekarang Ana harus menarik ucapannya tentang julukan pedang kegelapan.
Apa yang dipegang tadi benar-benar tidak layak disebut pedang. Dia lebih pantas disebut monster kematian!
"Bukankah aku sudah bilang, semua manusia itu punya bagian sensitif yang tidak boleh dipegang?" jelas Ana penuh penegasan. Ia berusaha mengingatkan Naki jika lelaki itu lupa.
"Waktu itu aku pernah melarangmu memegang buah daadaku. Sama seperti aku, kamu juga seharusnya menjaga bagian itu supaya tidak dipegang oleh sembarangan orang."
Mendengar itu, Alis Naki berkerut. Tampaknya Naki tidak setuju dengan pendapat Ana.
"Memangnya kenapa? Aku tidak masalah kok kalau kamu mau pegang-pegang ini aku!" Naki menjawab dengan entengnya.
Ough!
Ana menepuk jidatnya gemas. Naki memang tidak masalah, tapi Ana baru saja mendapatkan mara bahaya karena berhasil menyentuh apa yang seharusnya tidak disentuh.
Ingin sekali ia menjelaskan lebih rinci tentang bahaya melakukan hal yang mereka lakukan tadi. Namun, Ana takut Naki semakin pintar dan membuat dirinya makin kewalahan.
"Aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan padamu. Tapi yang jelas kamu tidak boleh bersikap seperti itu! Jangan bertanya kenapa, dan jangan diulangi!" tegas Ana penuh penekanan.
"Kenapa jadi kamu yang tidak suka? Aku saja tidak masalah dipegang ininya, kok! Lagi pula apa yang istimewa dari lubang keencing ini?" kesal Naki tak mengerti.
Padahal dia hanya penasaran kenapa benda itu suka bangun tiba-tiba. Tapi Alih-alih mendapat jawaban ia malah dimarahi oleh Ana.
Apa salahnya?
Apa salahnya bertanya karena tidak tahu, sungut lelaki itu. Dia menatap Ana kesal.
Sepertinya Ana juga menyadari kalau Naki marah karena tidak mendapatkan jawaban yang dia mau.
"