Aldiro adalah pria nakal yang terkenal, hingga ia bertemu dengan Elina yang berhasil merubah hidupnya menjadi lebih baik. Bagi Aldiro, Elina adalah hidupnya bahkan segala-galanya.
Keduanya menjalin hubungan, dan disaat Aldiro merasakan kebahagiaan tiba-tiba Elina mengkhianatinya dengan seorang pria yang sangat Aldiro kenal.
Merasa di khianati dan di hancurkan, Aldiro kembali menjadi pria nakal. Ia ingin Elina kembali menjadi miliknya karena hanya wanita itu yang bisa memperbaiki hatinya yang hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Mata Reva kembali menatap Aldiro yang sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangannya dari atas panggung.
"Kamu orang yang suka bicara, bukankah kamu pacarnya ?." Tanya Dekta sembari terkekeh.
"Kamu harus menyerah, karena kamu tidak akan bisa memenangkan pertarungan ini." Tambah Dekta lagi.
Tapi Reva mengabaikan ucapan Dekta, ia terus memperhatikan Aldiro walaupun pria itu masih menatap ke atas panggung. Tentu saja ia tahu semuanya, apalagi ketika Aldiro menatapnya dengan tajam ketika sedang panik karena keadaan Elina. Semua itu sudah menjelaskan semuanya.
Ketika Aldiro dan Elina kembali dari pulau itu, tidak ada sedikitpun Aldiro mengucapkan apa-apa pada Reva. Hanya Elina yang datang menemuinya untuk mengucapkan terima kasih. Padahal Reva berharap setidaknya mendengar beberapa kata atau sedikit penjelasan dari Aldiro.
Tetapi pria itu terlalu sibuk dengan keadaan Elina, bahkan orang lain saja tidak di biarkan masuk ke kamar Elina setelah gadis itu di periksa oleh tim medis. Tatapan membunuh akan Aldiro berikan pada semua orang yang akan mengajukan pertanyaan pada Elina, cara Aldiro merawat Elina dan cara Elina memperlakukan Aldiro sudah menjelaskan hubungan yang mereka miliki.
"Aku tidak datang kesini untuk mendapatkan rasa sakit ini." Ucap Dekta tiba-tiba yang menarik perhatian Reva.
Gadis itu sedikit tersinggung mendengar ucapan Dekta barusan, ia memalingkan wajahnya dan memberikan senyum sinis pada Dekta.
"Kamu harus melupakannya." Sambung Dekta lagi.
Kedua mata Reva berkaca-kaca "Aku tahu." Jawabnya dengan suara serak. Kepalanya menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang hampir menetes.
Tidak lama kemudian lagu yang di bawakan Elina berakhir, banyak para mahasiswa yang naik ke atas panggung untuk menampilkan bakat masing-masing. Kemal tersenyum saat mendekati Elina yang sudah kembali ke tempat duduknya.
"Suaramu bagus sekali, El." Puji Kemal sambil menepuk bahu Elina.
Elina tersenyum "Kamu juga harus menyanyi Mal, bukakah kamu bilang dulu kamu pernah ikut paduan suara waktu SMA."
"Itu sudah lama sekali. Konyol." Balas Kemal tersipu, ia kembali menepuk bahu Elina.
Keduanya tertawa sambil terlibat berbagai percakapan, sehingga tidak menyadari Aldiro datang dan sudah duduk di sebelah Elina. Pria itu hanya duduk diam sambil memainkan ponselnya..
"Selanjutnya mari kita panggil tamu kita yang sudah seminggu ikut membantu kita disini, Reva sayang, ayo naik ke atas panggung." Ucap Leo yang langsung mendapat tepuk tangan meriah dari para siswa.
Elina dan Kemal menoleh ke panggung, dan melirik ke arah Aldiro. Keduanya terkejut saat mengetahui pria itu sudah ada di dekat mereka.
"Al." Panggil Elina.
"Hmm." Jawab Aldiro, tapi ia tidak mendongak karena terus memainkan ponselnya.
Elina menghela napas, tangannya meraih tangan Aldiro. Aksi itu berhasil menarik perhatian Aldiro hingga membuat pria itu mendongak.
"Ada apa ?." Tanya Aldiro.
Elina memberi isyarat pada Aldiro agar melihat ke atas panggung, pria itu mengangkat alisnya tapi tetap saja mengikuti tatapan Elina.
"Aku tidak pandai menyanyi." Reva memulai ucapannya, suara sedikit gugup "Aku juga tidak pandai menari. Aku adalah tipe orang yang selalu mencoba melihat di mana aku seharusnya berada. Sayangnya, aku masih belum bisa menemukan kelompok di mana aku seharusnya berada." Matanya dipenuhi dengan amarah ketika ia berbicara, seolah mengingat semua saat ia mencoba menyesuaikan diri dengan tekanan orangtuanya di bahu kirinya lalu kepentingannya sendiri di sebelah kanan.
"Tapi selama satu minggu, semua orang memperlakukan ku dengan baik, seolah-olah aku salah satu dari kalian, terutama tim balet. Terima kasih semuanya, karena membuatku merasa bahwa aku benar-benar di miliki"
Semua orang terdiam ketika mendengarkan gadis kecil cantik itu yang hampir menangis di depan. "Aku tidak akan bisa bertemu dengan kalian semua jika bukan karena calon suamiku," Reva tersenyum menggoda pada Aldiro yang hanya diam menatapnya. "Terima kasih juga untukmu, Al." Ia menyeringai pada Aldiro, meskipun semua orang tampaknya merasakan kepedihan di balik senyumnya.
Bagusss banget thor ceritanya,,,gantung bacanya 😔☹️
kapan-kapan mampir yuk ke novel aku makasih