➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24#Jejak Rasa Rindu
Langkah kaki terus berlari menyusuri rerumputan hijau seraya memeriksa sudut sisi taman yang tampak dari video. Rasa tak sabar yang kian mendekap hangat, ia tetap berusaha tetap tenang. Pandangan mata kesana kemari hingga tak sengaja menabrak seseorang begitu berbalik bersambut suara pecah yang mengagetkan.
"Tuan ini bisa lihat gak? Sekarang aku harus pesan makanan yang baru lagi." tukas orang itu menatap nanar mie ayam yang berhamburan di atas rumput. Padahal seharusnya sudah di berikan pada bos tapi auto gagal. "Lain kali tuh lihat-lihat ...,"
"Sorry," Rey mengambil kartu nama dari dalam dompet, lalu memberikan tanpa menunggu persetujuan. Diletakkannya kartu ke tangan si korban, "Hubungi saja, aku akan ganti rugi. Sorry ya."
Kendala yang bisa saja mengubah masa depan tak bisa menjadi penghalang. Tatapan mata menelisik diabaikan, langkah kaki pergi begitu saja tanpa penjelasan. Kepergian Rey membuat orang yang ternganga mengerjapkan mata heran.
"Itu orang kenapa? Abis kecelakaan atau lagi patah hati? Semoga saja baik-baik saja." Kartu di tangan ia masukkan ke saku kemeja, lalu kembali melangkahkan kaki ke arah dimana ia datang untuk memesan mie ayam kembali.
Sementara di sisi lain taman. Al sibuk melakukan panggilan, pria itu kesal karena pengiriman barang mengalami masalah yang tidak terduga. Apalagi saat ini tidak ada sang aunty yang biasa mengurus masalah ekspor, impor. Mau, tak mau harus melibatkan diri agar masalah segera teratasi.
Kesibukannya membuat Asma bosan. Tanpa permisi, gadis itu menyingkap selimut, lalu perlahan menurunkan kaki satu per satu. Kemudian berusaha untuk berdiri, rasa nyeri tak mampu menahan tubuh kian terasa tapi sebisa mungkin diabaikan hingga melangkahkan kaki seraya melepaskan pegangan dari kursi roda.
Keadaannya yang tak sebaik itu, justru dipaksakan berjalan meski harus melangkah pelan. Satu langkah maju menghampiri deretan bunga melati yang menjadi pagar taman pembatas. Aroma semerbak harum memberikan semangat tuk diraih tanpa menyerah.
Apa yang terjadi pada Asma? Tubuhnya menolak obat yang baik untuk memperbaiki ingatan. Gadis itu mengalami trauma yang menyebabkan hal tidak terduga. Masih bisa berjalan hanya saja membutuhkan waktu sampai keadaan batin membaik dan pikiran mau berdamai dengan dirinya sendiri.
Di sisi lain, kesehatan juga harus tetap dijaga lebih dari sebelumnya sehingga dokter menyarankan memakai kursi roda sembari rawat jalan. Sebenarnya ia diharuskan menginap di rumah sakit tetapi setelah mempertimbangkan keseluruhan. Al sendiri memutuskan membawa pulang Asma.
Suasana rumah sakit dan rumah tentu saja berbeda. Seperti saat ini, Asma bisa tersenyum menikmati suasana luar ruangan dan bertemu orang-orang. Langkah kakinya hampir mencapai pagar tumbuhan melati. Senyuman manis merekah menghiasi wajahnya.
"Sedikit lagi, ayo, Shine." Semangatnya pada diri sendiri.
Kebahagiaan sederhananya menghadirkan rasa yang selama ini hilang entah kemana. Debaran di dalam hati bersambut suara detakan jantung tak berirama. Embusan semilir angin meriapkan helai rambut tanpa perlawanan. Tatapan mata tak berkedip beralih menatap ke depan sana.
Apa yang terjadi padanya? Apa yang ia cari? Rasa yang menyeruak berteriak mengharapkan asa. Kenapa jiwanya menjerit? Perasaan semakin gelisah tak karuan menghantam keraguan di dalam hati. Apa yang ia tunggu dalam pencarian kosong.
Rasa yang tak mampu dijabarkan. "Apa aku jatuh cinta dengan bunga melati?" tanyanya konyol pada diri sendiri. "Kenapa jantungku tidak aman? Perasaan macam apa ini, bahkan di sebelah Mr. Madness pun aku biasa saja."
Kebingungan Asma hanya ia seorang yang merasakannya tetapi tidak dengan si pemilik tatapan mata dari arah lain yang penuh kerinduan dalam kebahagiaan. Rasa haus kasih sayang mulai tercurahkan. Langkah kakinya terhenti menatap sang gadis impian.
"Butterfly," gumamnya mengangkat tangan memegangi dada yang berdebar tak karuan. Jiwanya kembali menyala terbakar asa nyata. Kerinduan kian membuncah ketika tatapan mata sang istri terlihat merindukannya juga.
Semilir angin yang berembus mengubah waktu hanya miliknya. Tatapan mata menelisik pahatan wajah manis, kelopak mata berkedip, helaian rambut menari mengikuti arah angin dengan senyum tulus yang tersungging menghiasi wajah. Pemandangan terbaik sejak rasa di hati tak mampu memahami arti cinta.
Kebahagiaan itu menghentikan langkah kakinya, "Aku sangat merindukanmu, terima kasih telah kembali. Jangan pergi dariku lagi, Asma."
Niat hati apa dan justru berdiam diri menikmati pemandangan di depan sana. Tanpa Rey sadari, Al yang selesai melakukan panggilan. Pria itu tersentak kaget begitu melihat kursi roda yang kosong tapi seketika lega karena Asma masih berdiri di sekitarnya.
Al berjalan menghampiri Asma yang berdiri tanpa melakukan apapun. "Shine, apa yang kamu lakukan? Dokter bahkan belum memberikan izin untuk kamu berdiri terus."
Hening tidak ada sahutan. Perubahan alam pun tak disadari Al karena cintanya bukanlah milik Asma. Ikatan hati terajut mengalir begitu saja. Seperti debaran detak jantung yang saling menguatkan rasa di antara Rey dan Asma. Pasutri itu menikmati detakan yang sama, keduanya tenggelam dalam rasa rindu yang membelenggu.
Namun raga tak mampu bertahan, keadaannya tak sebaik itu dan tiba-tiba goyah. Gadis itu tak mampu menahan tubuhnya sendiri yang akhirnya oleng limbung ke belakang. Al yang menyadari itu sigap menangkap dan langsung memeluk erat.Rasa khawatir membuat pria itu mengangkat tubuh gadisnya.
"Gadis nakal, apa yang kamu lakukan hmm. Kita pulang saja," bisik Al tetapi tak bisa di dengar Asma yang masih melamun tak karuan arah. Diamnya sang kekasih hati menghadirkan rasa tak nyaman. "Are you okay, Shine?"
Apalah arti pertanyaan ketika pikiran terbang melayang. Hatinya tak tenang seakan penantian panjang mencapai tujuan tapi kenapa ia merasakan hal seperti itu? Ketika orang yang ia anggap sebagai orang terdekat berada di sisinya. Lalu siapa lagi yang mampu merebut emosi dengan belenggu di jiwa.
Penantian jawaban tak sanggup lagi. Sadar akan perubahan arah perasaan sang gadis pujaan hati. Al melangkahkan kaki meninggalkan tempatnya berdiri tanpa permisi. Aalagi menanti kepastian dari Asma. Langkah yang menjauh membuat Rey tersentak kembali merengkuh kesadarannya.
"BUTTERFLY!" panggilnya berteriak seraya melangkahkan kaki berlari dari tempatnya berdiri.
Suara panggilan itu terdengar jelas menyusup mengusik pikiran Asma. "Turunkan aku." pintanya pelan tetapi cukup di dengar Al hanya saja pria itu enggan menuruti keinginan sederhananya. "Mr. Madness, aku mau ...,"
"Jangan berdebat denganku. Kita akan pulang dan itu keputusan final." tegas Al tak ingin berargumen.
Bukannya menghentikan langkah kaki, Al semakin mempercepat jalannya tanpa mempedulikan kursi roda yang masih tertinggal di taman. Pria itu menjauh dari rasa yang tidak bisa dijelaskan. Takut, gelisah, khawatir, semua rasa bercampur menjadi satu. Apa yang terjadi?
Punggungnya hilang di balik pagar tanaman hijau setinggi dua meter yang berbatasan dengan tempat parkir. Sementara Rey yang berlari sekuat tenaga kehilangan jejak. Lagi-lagi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri. Rasa bahagia kembali memudar hancur berkeping-keping. Debaran detak jantung kian meningkat meninggalkan sesal.
"Aaaarrggghhhhh ... " teriakannya menggema menyayat hati yang mendengar. Putus asa kembali datang menyapa membawa keyakinan yang tersisa. "Asma, kenapa kamu pergi lagi? Kembalilah! Apa kamu tidak merindukanku? Please, jangan tinggalkan aku seperti ini ...,"