NovelToon NovelToon
Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:100k
Nilai: 5
Nama Author: Mphoon

Ig : indayle_mphoon
Fb : Mphoon
Tiktok : mphoon99

Hiduplah pasutri disebuah desa terpencil, kehidupan yang romantis dan harmonis semakin terkikis akibat ujian hidup yang terus menerpa mereka. Salah satunya adalah ujian ekonomi yang kian mencekik kehidupan keduanya.

“Mas, kapan ya kita bisa makan enak kaya yang lain? Apakah selamanya hidup kita akan seperti ini? Kalau begitu mending kita pisah aja, Mas. Aku sudah tidak sanggup menjalani rumah tangga seperti ini.” keluh Bulan, dengan rasa lelahnya.

“Astagfirullah, Dek. Istigfar, jangan berbicara seperti itu. Ingat, Allah paling benci dengan kata perpisahan. Apa kamu lupa kesuksesan seseorang itu harus disertai ikhtiar, doa dan juga tawakal. Jika salah satu tidak kita tanamkan, niscaya kesuksesan akan jauh dari hidup kita,” balas Bintang, penuh nasihat.

Bisakah mereka melewati ujian bahtera rumah tangga dengan akhir yang bahagia? Atau perpisahan menjadi jalan terbaik untuk keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mphoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewasa Sebelum Umurnya

"Mas ke depan dulu ya, kalau kamu udah selesai membereskan pakaiannya. Lebih baik kamu istirahat, tenangi pikiranmu supaya emosi di dalam dirimu bisa mereda."

"Mas tahu saat ini mungkin kamu lagi capek dengan semua masalah perekonomian kita. Akan tetapi pesan Mas cobalah sedikit saja bersabar, insyaallah suatu saat nanti kita bisa hidup seperti apa yang kamu inginkan."

Samudra berbicara sambil berdiri, lalu dia melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu kamar.

Baru saja Samudra mau membuka pintu, tiba-tiba dia kembali mengurungkannya ketika mendengar perkataan istrinya yang sedikit membuatnya mulai terpancing.

"Mas 'kan punya Om dan Tante yang kaya, kenapa Mas tidak minta pekerjaan aja sama mereka? Kenapa harus susah payah seperti ini? Seharusnya Mas juga bisa dong jadi orang kaya lagi sama seperti dulu punya segalanya, cuman kenapa Mas malah memilih diam aja!"

"Apa Om Faisal sama Tante Dena pelit? Sehingga mereka tidak mengizinkanmu bekerja dengannya? Jika benar begitu, seharusnya kamu tidak usah lagi-lagi mengizinkan Raka bertemu sama mereka setiap saat!"

"Ingat, Mas. Kalau mereka bisa pelit masalah pekerjaan, aku pun juga bisa pelit masalah Raka, Mas. Lagi pula dia siapa? Cuman Om dan Tantemu, bukan orang tuamu. Jadi biarkan saja, toh kita juga hidup tidak tergantung sama mereka!"

Samudra yang mendengar itu langsung berbalik dengan pandangan datar, melihat Bulan sedang berada di balik lemari kayu.

Sebenarnya Bulan tidak tahu jika sebelumnya Samudra sempat beberapa kali di tawari, hanya saja dia menolak keras demi dia mau berjuang lebih keras lagi untuk menafkahi keluarganya tanpa bantuan siapa pun.

"Sudah cukup kamu bicara, Bulan! Kali ini kamu sudah sangat-sangat keterlaluan, baru beberapa saat tadi kamu meminta kita untuk pisah dan sekarang kamu malah ingin memisahkan Raka dengan Oma Opanya? Apa kamu tidak pernah melihat betapa bahagianya Raka bertemu mereka?"

"Sampai kamu memisahkan mereka, sama saja kamu telah merenggut kebahagiaan anakmu sendiri. Raka itu anak yang pintar, penurut, baik dan juga ceria. Kebahagiaan dia itu tidak terletak pada harta, melainkan kasih sayang orang terdekatnya. Dia bisa kehilangan mainannya, tetapi dia tidak bisa kehilangan orang yang sangat dia sayangi!"

"Sampai sini, kamu paham? Kebahagiaan itu tidak selamanya tentang harta, jika kamu tidak percaya maka buktikan semuanya sendiri. Nanti kamu akan menemukan jawabannya, meski waktuku terlalu banyak di luar rumah, akan tetapi aku jauh lebih memahami apa yang Raka inginkan dari pada kamu!"

"Silakan kamu pisahkan anakmu dengan Oma Opanya, tapi jangan menyesal jika suatu saat Raka akan menjadi anak pembangkang dan juga tidak lagi nurut denganmu. Atau bisa jadi dia akan membenci Bundanya sendiri, karena kamu sudah merenggut kebahagiaanya!"

Degh!

Mendengar perkataan suaminya, Bulan langsung terdiam mematung. Seegois apapun dia, tetapi jika mendengar kata anak membuat hatinya tersentuh.

Ya, memang Bulan mau memberikan yang terbaik untuk Raka. Cuman jika caranya itu malah membuat Raka menjadi bersedih, maka dia mengurungkan niatnya untuk memisahkan Raka dengan Oma Opanya.

"Udah Mas mau ke Masjid dulu, lebih baik sekarang kamu istirahat jangan mengerjakan sesuatu yang membuatmu lelah, karena masih ada hari esok. Kalau perlu ambil wudhu, terus shalat sunnah supaya pikiranmu menjadi tenang. Mas tidak mau sampai Ibu mendengar perdebatan ini, kasihan dia. Sudah seharusnya Ibu istirahat dan selalu bahagia, bukan malah jatuh sakit karena memikirkan permasalahan kita."

"Ya sudah, Mas pamit. Pintunya kunci saja, Mas pulang habis subuhan. Assalammualikum,"

"Wa-waalaikumsalam."

Samudra pergi dalam keadaan wajah yang sedikit di tekuk, meski dia sedikit kesal dengan tingkah istrinya. Akan tetapi, Samudra masih menjulurkan tangannya untuk disambut oleh Bulan sebelum dia pergi.

Setelah itu Samudra keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ruang tengah, disaat Samudra mau membuka pintu utama tiba-tiba dia mendengar teriakan yang sangat nyaring.

"Ayahh!"

Raka berlari, ketika baru saja dari kamar mandi bersama dengan Neneknya, tak sengaja melihat Samudra berjalan kearah pintu keluar rumah.

"Ayah mau temana? Kok mayam-mayam mau pelgi cih, emangna Ayah ndak antuk? Tan, ini udah aktunya tita bobo ya tan, Nek?"

Ibu Dara mengangguk sambil tersenyum saat cucunya yang sangat pendek itu, dengan polosnya segera menatapnya meminta persetujuan darinya.

Samudra yang sudah berbalik, refleks langsung menyamaratakan tinggi anaknya sambil memegang kedua pundaknya.

Beberapa detik mereka saling pandang memandang, sampai akhirnya Samudra menjelaskan sesuatu yang membuat anaknya mengerti.

"Ayah mau izin ke Masjid dulu ya, boleh?" ucap Samudra, tersenyum.

"Hem, ndak boyeh!"

"Ayah halus bobo cama Bunda, alo anti Ayah pelgi-pelgi kacian Bunda cendilian di kamal. Tan Laka agi bobo cama Nenek, maca nanti Bunda bobo cendili. Pokokna ndak boyeh, no no no!"

Raka menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia tidak mau jika Bundanya merasa kesepian. Apa lagi Raka biasanya selalu menemaninya tidur bersama Samudra, akan tetapi untuk malam ini Raka memilih tidur bersama Neneknya.

Otomatis jika Samudra pergi, maka Bulan akan sendirian. Sementara Raka tidak bisa melihat Bundanya bersedih, setiap hari.

Tanpa sepengetahuan Samudra, Raka yang masih usia 4 tahun itu sudah peka terhadap perasaan orang. Jadi ketika tadi dia sedang jalan-jalan bersama dengan Bundanya, ada beberapa tetangga yang mengolok mereka.

Disitulah Raka tahu kalau Bundanya sangat sedih saat diejek oleh beberapa tetangga yang tukang gosip, jadi itu alasan kenapa Raka memilih tidur bersama Neneknya, supaya Ayahnya bisa berduaan sama Bundanya yang sedang bersedih.

"Loh kok, Raka begitu ngomongnya. Itu tidak baik, Sayang. Jika ada orang yang mau pergi ke Masjid seharusnya Raka mendukungnya, bukan melarangnya karena itu merupakan perbuatan yang baik. Kecuali, orang itu akan pergi jalan-jalan yang tidak ada manfaatnya baru Raka boleh memarahinya."

Samudra berusaha membuat anaknya mengerti dengan bahasa-bahasa yang mudah di pahami oleh anak seusianya. Ya walaupun usia Raka masih 4 tahun lebih, ternyata dia memiliki pemikiran yang tidak di sangka-sangka bisa lebih dewasa dari usianya.

"Ya Ayah, Laka tahu. Api ...." Raka menghentikan perkataannya saat dia kembali mengingat bahwa Bulan melarangnya, untuk menceritakan kejadian tadi pada Ayahnya.

"Tapi, apa Sayang? Katakan sama Ayah, apa yang Raka ketahui hem? Ingat bukan, Ayah selalu bilang. Kalau ada masalah kita harus saling berbagi, supaya kepala Raka tidak pusing memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu Raka pikirkan."

Samudra bisa memnbaca pikiran anaknya, meski usianya masih sangat kecil. Cuman Raka adalah anak yang luar biasa, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari Ayahnya sampai-sampai dia harus melarangnya untuk pergi.

"Raka, ayo Sayang. Katakan ada apa, hem? Raka tidak biasanya loh melarang Ayah ke Masjid, jadi bisakah Raka bercerita sedikit saja sama Ayah apa yang ada di pikiran Raka sekarang?"

"Tapi, sebelum Raka cerita kita duduk di sana yuk. Kaki Ayah pegel nih, masa iya Ayah harus begini mulu nanti bisa-bisa Ayah tingginya kebalap lagi sama Raka hihi ...."

Samudra tertawa kecil membuat Raka pun ikut tertawa, itulah mereka ketika sedang dilanda masalah mereka akan murung sejenak dan kembali tertawa meski masalah itu belum sepenuhnya selesai.

Kemudian Raka dan Samudra bergandengan sambil berjalan ke arah ruang tengah. Dimana Samudea dan Raka duduk berdua diatas karpet bulu, sementara Ibu Dara dia meminta izin untuk kembali ke kamar karena dia mau meminum obatnya sebelum tidur.

Ibu Dara sebenarnya udah tahu apa yang akan Raka katakan, karena sebelumnya Raka sudah menceritakannya sehingga membuat Ibu Dara paham kenapa Samudra memilih untuk malam-malam pergi ke Masjid.

Perlahan Raka mulai menceritakan kejadian tersebut dengan versi anak-anak pada umumnya, disini bukan karena Raka anak tukang ngadu ya. Melainkan Raka tidak mau melihat Bundanya selalu bersedih, jadi dia meminta tolong pada Ayahnya untuk menghibur Bundanya.

...***Bersambung***...

1
Senja
bulan tdk bersyukur dpt suami kyk samudra yg super duper sabar
IN_DAYLE: Namanya juga manusia, Kak. Kadang suka lupa 😭
total 1 replies
Erina Munir
thooor..tolong jngn bikin meninggal yaa...othoor baiiik deeh...aku jdi ikut sedih nihh thoor
Erina Munir
othor lgi ngasih sakitnya yg sulit2 gituh...
Erina Munir
kocak juga tuh pada
Erina Munir
bikin sembuh ya thoor...samudranya
Erina Munir
thoor ...jnhn d bikin samudra meninggal ya. kesian thoor mereka
Erina Munir
ehh..ga taunya...samudra k tempatnya dzaky...atasannya bulan..ya kan thoor
Erina Munir
yaahh jepriii..jeprii...uddaah tinggalin ajjaa pere kaya gitu maah udh ketauan htinya buriik..
masa ga bisa ngebedain siih...yg burik sama yg nggaa
Erina Munir
hahaa...ketemu raka s bocah kritis
Erina Munir
ya Allah semoga samudra ga apa2..kesian klo kenapa2...
Erina Munir
klo menurut aku siih ini pasti kerjaannya si asisten dzaky...siapa lgii...yg taukan dia
Erina Munir
hayyo bulaan...terbuka doong sama suamimuu
Erina Munir
dasar nih yg julid2 musti d basmi niih
Erina Munir
selesai sudah
Erina Munir
hahaaa kena luh dzaky...makanya jngn kebablasan...hatii2...banyak kuping beterbangan
Erina Munir
booss eror meureuun
Erina Munir
waduuhh hrs tebel iman niih...mulutnya pda kaya bakso mercon level 10...hadeehh
Erina Munir
waduuhh....mulai deh bergosip riaa
Erina Munir
innalillahi ...mungkin ini yg terbaik...kasian juga ibu dara...klo sadar pun terus2an menahan sakit yg d derita...
Erina Munir
naahh ini yg samudra takutin..
bulan ga apa.
.eh bosnya kenapa kenapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!