Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 24 [Arc: Desa Harapan]
Hawa dingin mulai menusuk kulitku, padahal aku yakin kami sempat menyalakan api unggun. Bahkan ini baru musim semi, harusnya udara juga tidak akan sedingin ini.
Aku mulai membuka mataku. Gelap— tidak ada seorang pun disini.
"Tolong! Hentikan!"
Ada yang berteriak?!
Aku mulai membalikkan badan. Dalam sekejap aku langsung berpindah tempat. Aku menyaksikan sepasang suami istri wild beast yang terlihat ketakutan di pojok ruangan.
"Ampuni kami! Kami tidak akan mengulanginya lagi!"
"Kami melakukannya karena terpaksa!"
Kenapa mereka terlihat begitu ketakutan? Aku mulai menengok ke sumber rasa takut mereka. Dan aku seakan tak percaya dengan hal yang baru saja kulihat.
Dia— diriku sendiri. Wajahnya sangat mirip denganku, hanya saja tinggi kami sedikit berbeda. Ia juga mengenakan seragam militer. Apakah dia adalah diriku di masa lalu? Apa yang telah kuperbuat hingga pasangan ini begitu ketakutan?
"Papa? Mama?" ada anak kecil datang dan ia melihat kami.
"Jangan mendekat Arnold!"
Anak kecil ini Arnold?! Aku kembali teringat perkataan Arnold kalau diriku pernah membunuh orangtuanya tujuh tahun yang lalu. Jangan-jangan, ini kejadian saat itu?!
"Pengganggu." diriku di masa lalu mulai mengarahkan telapak tanganku ke arah Arnold kecil.
"Tidak!"
"Kumohon! Kalau mau membunuh, bunuh saja kami! Tapi kumohon, ampuni nyawa anak kami!"
Mereka berdua merengek layaknya anak kecil.
"Sesuai keinginan kalian." diriku yang lain mulai mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah pasangan itu. Kilatan cahaya mulai terlihat keluar.
"Hentikan!" Aku bergegas menghentikan diriku yang lain. Namun sia-sia, saat hendak ku sentuh, tubuhku langsung menembus tubuhnya. Seakan keberadaanku disini hanyalah ilusi.
Duar!
Suara ledakan kecil. Aku mulai melihat ke arah pasangan itu— mereka sudah terkapar tidak bernyawa dengan kepala mereka yang hilang— hancur lebur karena meledak. Darah menciprat ke seluruh ruangan.
Aku menatap ke arah diriku yang lain dan seakan tak percaya pernah melakukan hal seperti ini.
"Papa… Mama…"
Aku mulai menatap ke arah Arnold kecil. Ia menangis, matanya terbelalak seakan tak percaya dengan hal yang baru saja ia lihat. Tubuhnya menggigil ketakutan.
"Kembalikan… Kembalikan Papa dan Mama!" Arnold menerjang ke diriku yang lain. Ia menggigit pergelangan lenganku. Diriku yang lain langsung melepaskan gigitannya dan melemparnya hingga menghantam tembok ruangan yang terbuat dari kayu.
Diriku yang lain mulai mengepalkan tangan kanannya dan meninjukannya ke arah Arnold.
"Hentikan!" aku kembali mencoba menghentikan diriku yang lain, meskipun itu sia-sia.
Duuaar!
Sebuah lubang besar terbentuk dari tinjuku di atas kepala Arnold. Mungkin sudah tidak bisa disebut lubang lagi— hampir seluruh bagian rumah ini kini hancur hanya karena satu pukulan dari diriku yang lain.
Arnold semakin ketakutan. Ia gemetar hebat dengan air matanya yang tidak bisa berhenti menetes.
Aku menatap ke arah diriku yang lain. Apakah aku memang terlihat seperti ini? Mengambil nyawa orang lain dengan begitu mudahnya.
"Pembunuh…"
Ruangan tiba-tiba berubah menjadi gelap. Ada yang mencengkram kakiku dari bawah.
Ada orang— matanya berlubang— tanpa bola mata dan mengeluarkan darah. Kepalanya penuh luka yang meneteskan cairan merah. Bukan hanya satu, tapi banyak sekali orang-orang berpenampilan menyeramkan yang memegangi kakiku— dan perlahan memegang bagian tubuhku yang lain.
"Pembunuh… pembunuh… mati… mati…"
Siapa sebenarnya orang-orang ini?! Sebagian dari mereka terlihat tidak asing— mereka adalah orang-orang yang aku bunuh saat pertarungan tadi. Tapi apa maksudnya semua ini?! Aku tidak salah— kalian duluan yang memulainya!
Aku menengok ke arah lain. Ada Adi dan Riri. Tapi, perlahan mereka berjalan menjauhiku— semakin menjauh. Sementara aku terus di telan rasa putus asa ini.
"Haah! Haaah… Kh— mimpi…" aku terbangun dari tidur dengan begitu berkeringat. Kepalaku sedikit sakit, jadi aku memeganginya sebentar. Hal yang baru saja kulihat, apakah itu mimpi? Tidak— aku yakin itu bukan sekedar mimpi. Mungkinkah sisa ingatanku?
Aku menengok ke sebelah. Gadis mungil itu tertidur dengan lelap. Aku tidak mau membangunkannya, lebih baik aku cari angin segar. Sebelum pergi, aku membakar beberapa kayu agar nyala apinya tetap stabil dan menghangatkan gadis itu.
Aku baru sadar, Adi tidak ada di sekitar sini. Tapi beberapa perlengkapannya masih ada. Mungkin ia juga mencari angin segar.
Aku mulai berdiri. Menyapukan pandanganku untuk mencari keberadaan Adi. Ketemu— ia tengah duduk bersama Paman Bonar. Aku kemudian menghampiri mereka.
"Tidak bisa tidur?" Paman Bonar mengucapkannya tanpa menoleh ke arahku. Yah, hanya ada kami berempat di sini, sudah pasti ia tahu siapa yang mendekat.
"Begitulah." aku kemudian duduk di sebelah kiri Paman Bonar. Sementara Adi ada di sisi kanan Paman.
"Kau terlihat pucat Azura. Kau tidak apa-apa?"
"Hanya sedikit mimpi buruk."
"Kalian berdua sudah mengalami hari yang berat. Aku tidak kaget kalau kalian susah untuk tidur. Kalian sudah berjuang." Paman Bonar kemudian mengelus-elus kepala kami.
"Terimakasih, karena sudah menolong kami."
"Seharusnya aku yang berkata begitu. Dengan selamatnya kalian, setidaknya Muruka bisa sedikit tersenyum. Dan anak-anak Vega juga merupakan anakku juga."
"Muruka?"
"Dia itu putri dari Bu Vega, Azura."
Heh?! Bu Vega punya anak?! Lalu kenapa dia malah mendirikan panti? Bahkan aku tidak pernah melihatnya disana.
"Paman, apa maksud Paman dengan anak Bu Vega adalah anak Paman? Paman ini suaminya Bu Vega?"
Adi menggeleng pelan sembari memegangi kepalanya.
"Ahaha, bukan seperti itu. Vega adalah kenalanku, kami adalah sahabat yang pernah bersama menjadi anggota Ashiah. Dia bahkan menceritakan kisah masa kecilnya hingga sangat terperinci kepadaku."
"Heh, bagaimana kisah Bu Vega saat masih kecil?"
"Dia itu anak buangan. Ditelantarkan oleh orangtuanya karena ia buta. Bagi ras Wild Beast, memiliki indra yang lengkap dan tajam adalah harta yang sangat berharga, kehilangan satu saja itu adalah aib bagi mereka. Vega kecil akhirnya dipungut oleh salah satu mantan anggota Ashiah— dia adalah kepala sekolah Akademi Sirius. Ia diangkat menjadi anaknya dan di didik keras disana. Vega berusaha keras menajamkan indranya yang lain demi menutup penglihatannya. Disisi lain, ia sadar kalau ia adalah salah satu pemilik sihir nul elemen. Ia menjadi lulusan terbaik di angkatannya saat itu dan di cap sebagai sebuah harta kekaisaran yang sangat berharga..."
Jadi itu alasan Bu Vega menyuruh kami pergi ke Akademi Sirius. Untuk menemui Ibu angkatnya— memangnya Ibu angkat Bu Vega masih hidup ya?
"Tak lama setelah lulus, Vega memutuskan masuk ke militer. Popularitasnya melesat cepat karena ia tidak pernah gagal dalam misi dan kekuatannya terus berkembang pesat. Dalam sekejap ia meraih posisi Kapten Divisi. Beberapa tahun kemudian, Vega memutuskan menikahi salah satu kenalannya di militer. Mereka mulai hidup bahagia. Tapi, suami Vega meninggal dalam sebuah misi, saat itu Vega tengah mengandung anak. Setelah putri mereka lahir, Vega menitipkan putrinya pada Ibu angkatnya, berharap putrinya tidak akan ikut campur dalam urusan militer dan berakhir seperti suaminya. Tapi, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Maksud dari 'buah jatuh tidak jauh dari pohon' itu apa?"
Adi kemudian melempariku dengan kerikil. "Kau ini jangan menyerobot pembicaraan. Tidak sopan tahu. Arti kalimat tadi ialah sifat sang anak tidak jauh dari orangtuanya."
"Setelah itu, Vega kembali ke militer dan tak lama, ia diangkat menjadi salah satu anggota Ashiah berkat karir dan kekuatannya. Bahkan setelah menjadi anggota Ashiah pun, ia terus berkembang— ia bahkan sampai di titik dimana ia di cap sebagai 'Dewa'."
"Dewa? Jangan-jangan…"
Paman Bonar mengangguk. "Ia menjadi seorang ras superior, Rex-Lupus. Kalian melihat tanda di sekitar matanya kan? Itu adalah tanda ia adalah seorang ras superior. Setiap ras superior memiliki sedikit pembeda dari ras awal mereka. Seperti Druid yang memiliki rambut berwarna putih."
Kupikir tanda di sekitar mata Bu Vega itu hanyalah riasan belaka.
"Bertahun-tahun Vega mengabdi pada kekaisaran, ia memutuskan berhenti. Ia mengajak beberapa bawahannya dan pergi ke sebuah desa terpencil untuk hidup bahagia dan berniat membawa putrinya kembali. Tapi, tanpa Vega sadari, ia memakan karmanya sendiri karena menelantarkan putrinya. Putrinya— Muruka malah masuk ke kemiliteran. Sama seperti Vega, Muruka berkembang pesat seperti Ibunya dan dengan cepat ia mendapat tempat di Ashiah."
"Kenapa mereka tidak mencoba bertemu saja? Bukannya anggota Ashiah lebih leluasa untuk pergi ke segala penjuru kekaisaran?"
"Jangan salah paham tentang hal itu. Kami pergi hanya untuk menjalankan misi, tidak lebih. Ada beberapa pantangan juga yang harus kami ikuti. Sebagai pelindung terkuat di kekaisaran, kami harus memutus segala hubungan dengan keluarga, teman, dan orang-orang terdekat kami. Bagi musuh, keluarga adalah sasaran empuk untuk menghancurkan kami. Kalau perasaan kami hancur, maka kami tak lebih hanya orang biasa di mata musuh. Di sisi lain, keselamatan orang banyak jauh lebih penting daripada satu dua orang. Mengorbankan keluarga dan orang tersayang adalah hal mudah bagi kami. Walaupun kenyataannya tak semudah itu, kami harus menerimanya. Ini adalah konsekuensi dari gelar yang kami pegang. Meskipun begitu, kami masih diperbolehkan menemui keluarga kami setahun sekali. Ya, hanya sekali, agar kami tidak lupa dengan pantangan kami..."
Aku terdiam. Tidak kusangka orang dengan segala kekurangan dan kisah tragis di masa lalunya, masih bisa tersenyum dan membantu anak-anak yang kesusahan. Sedangkan aku malah…
"Saat tiba di desa kalian, sejujurnya aku tidak percaya jika Vega bisa kalah. Setidaknya, butuh 5 orang anggota Ashiah atau lebih, maupun seorang ras superior untuk bisa membunuh orang setingkat Vega. Tapi, melihat semua mayat itu, aku harus mengubur harapanku kalau Vega masih hidup."
"Apa Paman tahu siapa mereka? Aku hanya mendengar kalimat "Blank". Memangnya mereka siapa? Kenapa mereka membunuh orang-orang?"
"Mereka adalah organisasi penyihir gelap. Singkatnya mereka orang jahat. Bukan hanya Blank, terdapat organisasi jahat seperti Black Grimoar dan masih banyak lagi. Hanya saja ada yang janggal. Kenapa mereka mengincar Vega kalau mau menghancurkan militer dan kekaisaran. Mereka seharusnya tahu kalau Vega sudah bukan lagi anggota Ashiah."
"Karena Bu Vega seorang ras superior?"
"Tidak— orang yang sudah keluar dari kemiliteran sudah terlepas dari aturan— yang berarti Vega berhak lari dan menghindar. Ia tidak wajib melindungi orang lain lagi meskipun ia bisa. Dan lagi, setidaknya para petinggi organisasi harus turun tangan hanya untuk membunuh Vega. Kenapa mereka mau melakukan hal beresiko seperti itu. Atau mereka sudah punya orang-orang sekuat Vega…" Paman Bonar terlihat berpikir sangat keras. "Lupakan saja. Jika ku teruskan, aku takut kalian akan ikut campur. Masa depan kalian masih panjang."
Paman Bonar benar. Aku— kami ingin sekali membalaskan kematian keluarga kami. Tapi, kami tidak bisa— tidak dengan kekuatan kami yang sekarang. Kami harus bertambah kuat.
Paman Bonar mulai mengganti topik pembicaraan. Malam itu pun kami habiskan dengan berbincang dan saling mengenal satu sama lain.
Paman Bonar sampai kaget karena tahu aku sebenarnya hilang ingatan dan mencoba mencari tahu sisa ingatanku.
"Heh, kau ini, hilang ingatan?"
"Iya. Aku ditemukan di tengah hutan oleh gadis mungil itu dan akhirnya dibawa Bu Vega ke panti…" Paman Bonat menatapku dengan heran. "A— ada apa Paman?"
"Tidak— aku hanya merasa pernah melihatmu di suatu tempat. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengingatnya."
"Benarkah?!" jika ucapan Paman Bonar benar, mungkin aku bisa mengingat siapa jati diriku dan masa laluku.
"Maaf, kurasa itu hanya perasaanku saja. Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya."
Sepertinya aku tidak boleh terlalu berharap.
btw mkasih mo lanjutin y thor