Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.
Cinta tak kenal paksaan, cinta tak kenal status, cinta tak kenal usia.
Seperti yang terjadi pada Monica Alandra Putri. Rasa sayangnya pada teman baik ibunya, Egi Pramuja, tumbuh menjadi rasa cinta ketika dia sudah dewasa. Namun sayang, Egi sudah memiliki perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Beribu-ribu cara Monica lakukan untuk memisahkan mereka, tetapi malah semakin menjauhkan dirinya dari Egi.
Ketika Monica ingin menyerahkan hatinya untuk orang lain, Egi datang membawa cinta untuknya. Kebimbangan datang di hati Monica, yang akhirnya membuat Monica terlibat cinta segitiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan memaksa
Jangan lupa like, Rate, koment, dan tambahkan ke favorit kalian.
Happy reading ❤️❤️❤️
Monica membunyikan klakson mobilnya di depan rumah dengan gerbang menjulang tinggi berwarna gold. Monica sedikit terkejut mengetahui rumah Panji di kawasan perumahan elite, serta rumah yang nampak besar dengan desain eksterior klasik.
Seseorang nampak keluar dari pos penjagaan di depan rumah megah itu. Panji langsung menurunkan kaca mobil di sampingnya. "Pak Maman, tolong bukain pintunya," pinta Panji dengan sopan pada laki-laki yang bekerja sebagai Satpam di rumahnya.
"Eh, Den Panji." Penjaga di rumah Panji nampak sedikit terkejut melihat Panji berada di dalam mobil Honda jazz merah itu. Tanpa menunggu waktu lama, pak Maman langsung membuka pintu gerbang berwarna gold tersebut.
Monica membunyikan klakson kembali sebelum ia masuk ke rumah Panji. Monica memarkiran mobilnya di halaman rumah besar itu. Monica membuka pintu, ia turun terlebih dahulu untuk membantu Panji keluar dari mobil.
"Terima kasih Monica, tapi kamu tak perlu melakukan ini. Aku sudah baik-baik saja." Panji terkejut atas apa yang di lakukan Monica, ia tak mau jika merepotkan seseorang.
"Baik-baik saja dari mana. Wajahmu sangat pucat," sambar Monica. Panji tersenyum senang ternyata Monica masih peduli padanya. Panji mengajak masuk Monica masuk kedalam rumahnya.
Panji mempersilakan Monica duduk di ruang tamu. Monica tak henti-hentinya menatap seisi rumah Panji. Sungguh bagian dalam rumah itu terlihat besar dan luas, lebih luas dan besar dari rumahnya. Mungkin kalau Monica berjalan-jalan di dalam rumah itu sendiri, ia akan tersesat.
"Den Panji"
Monica dan Panji menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedang berjalan keluar dari arah dapur.
"Bi Rumi," sapa Panji. Bi Rumi, beliau adalah orang yang mengasuh Panji sejak ia baru lahir. Kesibukan kedua orangtuanya yang mengurus bisnis masing-masing membuat Panji tak jarang sekali bertemu dengan orang tuanya bahkan kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya. Beruntung Bi Rumi mendidik Panji dengan sangat baik, hingga akhirnya Panji menjadi pribadi yang baik dan pintar. Panji juga selalu menghormati kedua orang tuanya meski mereka jarang meluangkan waktu untuk dirinya. Bi Rumi selalu memberikan Panji pengertian kalau ayah dan ibunya bekerja keras untuk dirinya, untuk memenuhi setiap kebutuhannya.
"Den Panji sudah pulang?" tanya Bi Rumi pada Panji.
"Sudah, Bi" jawab Panji.
"Wah.. Den Panji bawa pacar ya?" Aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Bi Rumi. "Cantik, Den"
Panji tersenyum canggung pada Monica. "Namanya Monica, Bi. Dia hanya teman Panji, bukan pacar."
"Den Panji ini, suka malu-malu," ujar Bi Rumi mengembangkan senyum Monica.
"Sudah deh, Bi. Jangan bikin Panji malu di depan Monica." Bi Rumi terkekeh melihat wajah anak asuhnya itu terlihat malu.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Kamu istirahat saja." Monica tersenyum ke arah Panji.
"Den Panji sakit?" tanya Bi Rumi, raut wajah Bi Rumi yang tadi nampak berseri kini berubah menjadi khawatir. Bi Rumi makin khawatir saat melihat wajah pucat anak majikannya.
"Hanya sedikit sakit kepala, mungkin ini karena aku kecapean saja." Panji menutupi rasa sakitnya yang sebenarnya sudah datang kembali.
"Kamu beneran tak apa-apa?" Monica memperhatikan Panji, ia tahu kalau Panji sedang menahan sakit karena sesekali Panji menutup mata serta terlihat beberapa kali menghembuskan nafas berat.
"Iya, tenanglah Monica. Aku akan istirahat, pasti sakitnya nanti akan hilang." Monica mengangguk. Ia kembali berpamitan kepada Panji dan Bi Rumi.
"Maaf Monica, aku sudah merepotkanmu." Panji berdiri untuk mengantar Monica ke pintu keluar.
"Jangan sungkan, Panji." Monica berjalan menghampiri Panji. "Tetaplah di sini, kamu tidak perlu mengantar ku keluar. Jagalah dirimu baik-baik." Panji membalas itu dengan senyum.
"Monica..!" panggil Panji saat Monica sudah melangkah.
Monica berbalik, melihat ke arah Panji.
"Tetaplah tersenyum," ucap Panji dan berhasil mengambangkan Monica.
💔💔💔💔
Monica sudah meninggalkan halaman rumah Panji. Mobil Honda jazz merah hadiah ulang tahun dari ayah kandungnya, Rehan. Belum jauh Monica melaju, ia di suguhkan pemandangan yang menyayat hati. Monica melihat Egi dan Talita. Terlihat Egi sedang mencium kening Talita di samping mobil Egi sebelum Talita masuk kedalam sebuah rumah besar yang tak jauh dari rumah Panji. Ternyata rumah Talita tak jauh dari rumah Panji, mereka bertetangga.
Melihat pemandangan indah namun menyakitkan membuat Monica tak bisa membendung air matanya. Jika saja ia tahu kalau rasa sakit karena sebuah penolakan akan sesakit ini, Monica akan lebih memilih tak akan jatuh cinta pada seorang Egi Pramuja.
Monica mematikan mesin mobilnya, ia tak kuasa menahan sakit hatinya. Monica menunduk memeluk setir mobilnya. Ia mengeluarkan sakit hatinya dengan menangis tersedu-sedu. Monica sendiri tak mengerti kenapa rasa cinta pada Egi tumbuh begitu dalam, padahal Monica sendiri tak bertemu dengan Egi sudah berpuluh-puluh tahun. Terakhir dirinya bertemu pada saat ia masih umur lima tahun. Sampai saat Monica kembali bertemu dengan Egi saat menjemputnya di Bandara. Saat itu, Monica belum menyadari kalau laki-laki itu adalah om kesayangannya. Dan entah kenapa, pada saat Monica tahu laki-laki itu adalah Egi, ada rasa sedikit berbeda di hati Monica terhadap Egi.
Cukup lama Monica menangis pilu di dalam mobilnya. Sampai Monica mengingat sesuatu yang Panji pernah katakan padanya.
Jika kita mencintai seseorang dengan tulus, maka janganlah merusak kebahagiaannya.
"Mungkin memang benar, kebahagiaan Om ada pada Tante Lita," guman Monica.
Monica menghapus air matanya. Monica juga sudah tak melihat mobil Egi di depan gerbang rumah Talita. Monica menghembuskan nafas beratnya, ia akan mencoba untuk melupakan Egi. Monica berfikir mungkin memang benar Egi bukanlah jodohnya dan takdir hidupnya bersama Egi hanya sekedar hubungan tak lebih dari seorang keponakan untuknya.
Monica kembali melajukan mobilnya. Di sepanjang perjalanan, Monica masih saja memikirkan Egi. Jika saja hatinya bisa dipaksa untuk memilih, Monica akan lebih jatuh hati pada ketulusan Panji. Namun apa daya, raja di hatinya ialah Egi Pramuja.
Monica menghembuskan nafas berat setelah sampai di rumahnya. Sungguh perjalanan yang melelahkan, rumah Panji yang cukup jauh dan juga kemacetan lalu lintas di Jakarta membuatnya pulang tepat di jam makan malam.
Monica mendengar nada pesan di ponselnya setelah ia keluar dari mobilnya. Monica tersenyum melihat nama di layar ponselnya.
Panji
Sedari perjalanan Panji memang selalu bertanya pada Monica, apa ia sudah sampai apa belum.
"Manis sekali"
Monica masuk ke dalam rumahnya sambil tersenyum membalas pesan dari Panji. Monica terus berjalan menuju kamarnya dan tak menyadari ada orang tuanya dan juga Egi yang sedang menunggunya di ruang tengah.
panji juga knp ga jujur aja...