Ig: @nabilakim28
"Bukan mau gua jadi brandalan kayak begini!" -Hera-
Hera adalah seorang siswi SMA yang dikenal sebagai badgirl, langganan pindah sekolah dan hobi berantem sama cowok.
Bukan karena brokenhome, bukan karena dihianati, bukan karena dendam .... Terus kenapa dia jadi bad girl? Apa alasannya?
"Gue gak bisa janji untuk bahagiain lo selamanya, ataupun bersama lo untuk selamanya. Tapi gue janji cinta gue cuma milik elo" -Sean-
Sean cowok dingin yang paling ganteng, irit ekspresi dan bicara, ngomong lebih dari lima kata aja adalah satu kejadian yang langka!
Terus ngimana jadinya kalo bad gril kayak Hera ketemu sama ice kayak Sean?
Note: ini bukan cerita dimana cewek berusaha untuk mencairkan si pria es ..., tapi si pria es yang berusaha untuk membuat si bad girl tobat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keduapuluhtiga
Bukannya karena aku tidak percaya, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri
-Hera nggak ngambek kok-
S E L A M A T M E M B A C A
Henry sedang duduk dengan damai di kamarnya yang sangat berantakkan, sambil menonton film horor. Cowok itu memeluk batalnya sendiri. Dia sebenarnya gak berani nonton horor hanya saja dia gak mau diketawain sama kak Riana kalau nonton trus dia jerit\-jerit saking takutnya. Padahalkan Hera takut juga, tapi kak Riana gak pernah ketawain Hera tuh.
Tok tok ....
Sumpah ingin rasanya Henry menjerit ketika mendengar suara ketokan pintu kamarnya. Untungnya dia bernapas lega ketika melihat kepala adiknya menyembul ke dalam kamar. Itu Hera, dengan membawa bantalnya yang gede banget. Entah kenapa Henry punya firasat yang gak enak dengan kedatangan kembarannya saat ini. Dia pasti minta nginap!.
"Kak ...," ujar Hera pelan. Dari situ Henry dapat menyimpulkan bahwa gadis itu sedang bermasalah, pasalnya Hera itu sangat jarang memanggilnya dengan sebutan kakak. Dan jika begitu dia pasti sedang ada masalah.
"Apa? Gak bisa tidur?" tanya Henry lembut, sumpah dia nggak bisa marah ketika melihat Hera sedang mode puppy gini.
Hera mengangguk menanggapi pertanyaan kakaknya itu, Henry menepuk kasur di sampingnya menyuruh Hera untuk tidur di sampingnya. Hera langsung membaringkan tubuhnya di samping Henry, sambil memeluk pinggang Henry. Adiknya sedang mode manja ternyata.
"Kenapa, hm?" tanya Henry masih terfokus dengan film horornya.
"Sean jahat!" jawab Hera, Henry kaget dong ... kan bisanya Hera selalu nempel sama Sean, kok sekarang malah bilang kalau Sean jahat. Mereka lagi berantem pasti.
"Jahat kenapa?" Henry mematikan tvnya, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Hera hingga ke leher gadis itu.
"Dia nyembunyiin sesuatu dariku,"
"Sean selingkuh?"
"Ihhh enggak, dia gak selingkuh,"
"Trus kenapa?"
"Dia tadi dapat telpon dari seseorang, kayak telpon ancaman gitu ... terus namaku juga ada, kayaknya ancam Sean pakek namaku gitu. Tapi Sean pas aku nanya, dia nggak jelasin apapun. Kan kesel," jelas Hera sambil mainin rambut Henry gemes.
"Bagus dong," jawab Henry seadanya dan langsung dilihat tajam oleh Hera. "Bagus apanya?! Masa main rahasia\-rahasian sama pacar sendiri."
"Iya bagus, terus kalau kamu udah tau rahasia dia yang sebenarnya ... kamu bisa apa? Sean itu tipikal orang yang mikirnya kejauhan, dia gak mau ngambil resiko dengan nempatin orang yang dia sayang ke dalam bahaya. Jadi, kamu percaya aja sama Sean ... saat ada waktu yang pas dia pasti akan langsung cerita kok," jelas Henry panjang lebar. Hera akhirnya mengiyakan perkataan Henry. "Ok, sekarang tidur!" perintah Henry sambil mengusap pelan rambut kembarannya itu.
Tak berselang lama, Hera langsung terlelap dalam tidurnya ... terlihat dari napasnya yang menjadi lebih teratur. Henry bangun dari tidurnya, dia mengusap kepala kembarannya sebelum mengambil handphone\-nya yang terletak di atas nakas.
20 panggilan tidak terjawab dari 'Sean'.
"Wahh gila, kayaknya mereka beneran berantem."
Henry langsung menelepon balik sahabatnya itu. Dan hanya hitungan detik panggilan Henry langsung dijawab oleh Sean. Padahal ini sudah jam satu malam dan biasanya cowok dingin itu sudah tidur jam segini, tapi kayaknya kali ini dia tidak bisa tidur juga hehe.
"Kenapa?" tanya Henry basa basi. "Hera gimana? Apa dia baik\-baik aja?" Bukannya menjawab Sean malah bertanya balik.
"Hera?" Henry melirik ke arah Hera yang sedang terlelap di sampingnya sambil terus bergumam. "Sean jahat!" Sepertinya gadis itu sedang mengigau. "Dia baik\-baik saja, sedang tidur, dan dia ngigau bilang lo jahat wkwk ...," jelas Henry. Sean terkekeh. Akhirnya dia bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa pacarnya itu baik\-baik saja.
"X meneleponmu lagi?" tanya Henry dengan nada datar, ekspresi yang semula ramah langsung berubah datar begitu saja. Sean hanya menjawabnya dengan deheman pelan. Henry menghela napas, akhirnya rahasia yang dijaga oleh dua sahabat itu dikit demi sedikit terbuka.
"Sepertinya lo harus bertidak, udah ada kabar dari Tristan?" tanya Henry lagi, sambil mengusap halus rambut Hera yang jatuh menutupi kelopak mata gadis itu. "Belum, kata Tristan dia sudah ketahuan ... besok dia akan kembali ke Indonesia, dan gue mau minta bantuanmu akan hal itu." Henry mengerutkan dahinya hingga alisnya hampir menyatu. Tidak biasanya Sean meminta bantuannya.
"Bantuan? Apaan?" tanya Henry bingung, semoga ini bukan permintaan yang aneh\-aneh.
"Lo gantiin gue besok untuk ketemu sama Tristan, nanti lo kasih tau gue si Tristan ngomong apa aja," jelas Henry. Dia kaget, karena biasanya Sean yang langsung ketemu sama Tristan gak pernah pakek perwakilan segala. Lagian Sean dan Tristan itu temen dari kecil, beda sama Henry yang temen ketemu gede.
"Kenapa gak lo aja?" tanya Henry bingung.
"Gue sibuk."
"Sibuk apaan lo? Tidur? Lo kan mageran orangnya," sindir Henry sambil terkekeh.
"Sibuk untuk dapatin hati adek lo lagi," jawab Sean singkat lalu langsung memutuskan panggilan telpon. Henry langsung kicep dibuatnya.
"Tak ku sangka punya temen sebucin ini!"
😊😊😊
Pagi ini Hera sedang bete, sangat badmood. Pasalnya dia sedang jam olahraga dan parahnya jam olahraga dia itu sekalian dengan jam olahraga kelas Sean. Ingin rasanya dia bersembunyi saja di balik Gina.
Gina memandang heran ke arah temannya yang sedang bersembunyi di balik pohon. Padahal biasanya dia berdiri paling depan, apa lagi sekarang Sean lagi main basket sama Chandra. Gina sebenarnya mau nonton Chandra, tapi kan kasian kalau Hera ditinggal sendiri ... dan berakhirlah Gina menemani temannya itu yang sedang bersembunyi.
"Kenapa sih?" tanya Gina bingung. "Nggak tau! Gak suka liat Sean bodoh!" Ok, Gina bisa langsung menyimpulkan kalau Hera sedang berantem dengan Sean.
"Kalian berantem?" tanya Gina lembut.
"Nggak!" bantah Hera, tapi siapapun tau kalau itu semua bohong.
Tiba\-tiba ada seseorang yang berjalan mendekati mereka, Gina tersenyum lega ketika melihat siapa yang berjalan mendekat. Itu Sean. Sepertinya dia harus memberikan privasi untuk pasangan yang satu ini. "Kamu masih marah?" tanya Sean lembut. Sumpah ini pertama kali dalam hidup Hera dia mendengar Sean ngomong kayak gini. Sean duduk di samping Hera, namun Hera makin bergeser menjauh dari Sean.
"Nggak marah," jawab Hera seadanya.
Sean tersenyum simpul lalu mengusap kepala Hera pelan, Hera sempat tersihir sebentar sebelum akhirnya menghindar, 'ayolah Hera, jangan mudah luluh!' batin Hera.
"Aku belum bisa jelasin semuanya ke kamu, aku belum siap kalau kamu tau ... gak ada yang tau kamu akan baik\-baik aja atau enggak kalau aku kasih tau yang sebenarnya, aku nggak mau kamu terluka ... tolong pahamin itu," jelas Sean panjang lebar. Tolong kasih tau Hera kemana perginya Sean yang dingin dan irit bicara. Karena sekarang Sean sedang sangat hangat dan banyak bicara.
"Beri aku waktu," ujar Hera langsung berdiri dari duduknya. Dia langsung pergi tanpa menoleh ke belakang, awalnya Sean ingin mengejar ... tapi sepertinya dia harus memberikan Hera waktu terlebih dahulu.
😎😎😎
"Kok lo yang datang sih?" tanya cowok berambut merah sambil menyeruput lemon tea miliknya. Henry menatap cowok ganteng itu dengan tatapan selidik. Dari atas sampai bawah, dan dari bawah ke atas.
"Ngapain lo liat gue kayak gitu? Suka lo ya?" tanya cowok ganteng berambut merah itu.
"Ihh jijik cogan suka sama orang kayak lo," balas Henry. "Tapi Tris, lo kok bisa berubah sih? Dulu lo burik banget ... kok dalam setahun jadi cakep? Jangan\-jangan lo oplas ya?" tanya Henry seenak jidat.
Tristan\-\-\-nama cowok berambut rambut merah\-\-\-itu hanya bisa ngelus dada mengahadapi teman yang udah lama gak ketemu secara langsung. "Enak aja lo bilang gue oplas, orang gue cogan dari lahir kok," balas Tristan tidak terima, "udah ah! Ganti topik."
Henry langsung mengubah ekspresinya menjadi datar. Dia tau maksud 'ganti topik' ya dikatakan oleh Tristan. "Wow, makin lama lo makin mirip Sean," ejek Tristan sebelum mengeluarkan sesuatu dari kantong jaket kulitnya\-\-\-sebuah flash disk. Henry langsung mengambilnya cepat, dan menghubungkan flash itu ke labtop miliknya. Dia dapat melihat beberapa folder yang diberi nama urutan angka yang tidak Henry mengerti. Henry membuka salah satu folder yang bernama '10'?
Folder itu berisi beberapa foto anak laki\-laki\-\-\-sepertinya foto yang sudah agak lama\-\-\-dan data anak laki\-laki itu. "Daffa Vandrian Querta, emm ... benar dari keluarga Querta ya. Tapi anak ini siapanya Dennis Querta?" tanya Henry to the point.
"Anaknya, anak laki\-laki satu\-satunya keluarga Querta," jelas Tristan disela kegiatannya meminum minumannya. Henry membolakan matanya kaget, jika benar begitu maka anak laki\-laki ini adalah X yang mereka incar, tapi ini hanya anak sepuluh tahun yang tidak berdaya. "Lo pasti gila, masa iya anak umur sepuluh tahun ini yang jadi X?" ujar Henry ragu. Dia terus memandang foto yang terpampang jelas di layar labtopnya.
"\*\*\*\* banget lo Hen, itukan foto dia waktu umur sepuluh tahun, sekarang dia udah gede kali\-\-\-seumuran dengan lo," jelas Tristan. Henry menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Lagian mana mungkin anak sepuluh tahun itu jadi X yang membuat seorang Sean kewalahan.
"Trus foto dia sekarang mana? Gue mau liat tampang orang yang ngamcem calon adik ipar gue ...," ujar Henry. Tristan hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, cowok bersurai merah itu hanya tersenyum simpul sebelum berkata, "gak ada," ujar Tristan. Henry mengerutkan keningnya, hingga alisnya terlihat hampir menyatu.
"Maksudnya? Lo gak berhasil dapat foto si Daffa ini pas gede?" tanya Henry bingung. Tristan hanya tertawa terbahak\-bahak dengan sesekali menyeruput minumannya yang hanya tinggal es batu dan beberapa potongan lemon.
"Maksud gue, emang dia gak punya foto pas gede, karna dia gak bisa gede ...." Henry makin bingung dengan penjelasan Tristan yang ngaur.
"Gue bingung maksud lo apaan? Gimana caranya dia gak gede? Emangnya dia makhluk halus? Goib gitu?"
"Bukan karena itu, tapi karena dia mati sebelum sempat gede."
Henry langsung cengo, dia masih loading dengan penjelasan yang diberikan oleh Tristan. "Gue ada nyertain surat kematiannya tuh," ujar Tristan lalu menunjuk ke arah labtop yang sedang dimainkan oleh Henry.
"Jadi maksud lo X udah mati? Trus siapa yang ngamcam Sean selama ini?" tanya Henry kembali.
"Bukan udah mati, tapi seharusnya udah mati ...," jelas Tristan santai.
😳😳😳
Hera menatap cerminan bayangan dirinya sendiri di cermin, dia menghela napas untuk kesekian kalinya\-\-\-entah lah dia terlalu malas untuk menghitungnya. Sebenarnya apa yang harus dilakukannya? Apa dia berlebihan dengan marah kepada Sean? Tapi ... dia tidak terima dengan kenyataan Sean menyembunyikan sesuatu dari dirinya\-\-\-dia tidak terima itu!.
Jika boleh jujur, Hera akan mengatakan kalau sekarang dia rindu Sean. Rindu Sean yang ngechat nya untuk hal\-hal sepele seperti mengucapkan selamat malam, rindu Sean yang menunggu dirinya tiap pagi untuk berangkat sekolah bareng, rindu Sean yang mengecup dahinya. Dia rindu Sean\-nya.
Apa sebaiknya dia mengakhir masalah ini? Tapi ... harga diri Hera mau dibawa kemana?! Tapi dia tidak ingin kehilangan Sean. 'Aku rindu pelukan Sean,' batin Hera. Tanpa dia sadari air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya. Gawat! Dia tidak mau penyakitnya kambuh\-\-\-tidak untuk saat ini.
Buram ... perlahan penglihatan Hera menjadi buram. Cahaya yang sedari tapi terlihat jelas perlahan mulai meredup. Penyakitnya yang sudah lama tidak kambuh akhirnya kambuh lagi. Hera mencoba menenangkan dirinya, dia meraba\-raba dinding kamar mandi ... setidaknya dia harus ke luar dari kamar mandi, dan mencari obatnya di nakas kamarnya. Hera berjalan perlahan, tapi sial dia tersandung meja belajar yang terletak di depan kamar mandi. Seharusnya dia terjatuh, iya seharusnya. Namun dia tidak mendaratkan mukanya ke lantai karena sebuah tangan menahannya untuk terjatuh.
"Kamu nggak apa\-apa?" tanya seseorang dengan nada panik. Hera sangat mengenal suara itu\-\-\-suara yang dirindukannya saat ini.
"S\- sean?" Hera mencoba meraba wajah kekasihnya itu. Sean mengapai tangan Hera dan membawanya menyentuh pipi Sean. Hera kembali menangis, kali ini bukan tangisan sedih\-\-\-tapi tangisan haru.
"Iya ini aku ...," ujar Sean. Setelah itu dia membantu Hera untuk berdiri. Tapi sepertinya agak sulit, karena kaki Hera memar setelah tersandung meja. Sean yang menyadari hal itu langsung mengendong Hera, "ah! Ka\-kamu ngapain?" tanya Hera kaget. "Gendong kamu," jawab Sean singkat. Hera langsung ngeblush dibuatnya. Emang Sean yang paling bisa buat hati Hera degdegan seperti sedang naik wahana Viking.
Sean mendudukkan Hera di atas kasurnya, Sean kemudian memijat pelan pergelangan kaki Hera yang terlihat sangat sakit\-\-\-sampai biru gitu memarnya. "Kamu habis nangis?" tanya Sean. Hera hanya mengangguk, toh dia emang habis menangis. Sean bangun, dan langsung memeluk Hera kuat, gadis itu hampir terjungkal ke belakang jika tidak ditahan oleh Sean.
"M\- maaf, maaf, maaf, maaf ...," ujar Sean. "Se\-sean? Sesak ...." Sean langsung melepaskan pelukannya dan menatap Hera khawatir, "maaf ... kamu nggak apa\-apa?" tanya Sean khawatir. Hera tertawa, mungkin hanya dia yang bisa melihat sisi absrud Sean seperti ini.
"Iya nggak apa\-apa," jawab Hera. Walau sekarang penglihatannya masih kabur, dia dapat membayangkan bagaimana ekspresi khawatir Sean.
"Hera," Sean menggenggam tangan Hera sebelum melanjutkan kalimatnya, "maafin aku, aku bukannya gak mau cerita sama kamu. Tapi aku takut ... aku takut kamu kenapa\-kenapa ... aku gak mau kehilangan kamu. Tapi aku sadar dengan sikapku yang seperti ini aku hanya akan berakhir kehilangan kamu\-\-\-dan aku tidak mau hal itu. Jadi kalau kamu mau maafin aku, aku akan jelasin semuanya ... tapi kumohon, kita balikan ya? Jangan marahan lagi, aku rindu kamu," jelas Sean panjang lebar. Hera tersenyum mendengar Sean berbicara sepanjang itu tanpa henti, sepertinya dia berhasil mengubah balok es yang satu ini.
Hera memeluk leher Sean, dia menangis dipelukan Sean. "Gak perlu jelasin apapun, because i trust you ... maafin aku juga yang egois dan kekanak\-kanakan. I miss you and i love you ...," ujar Hera. Sean tersenyum menanggapinya, akhirnya Hera nya kembali lagi.
Namun sepertinya adegan romantis di atas harus berhenti sesaat karena seseorang yang tidak diundang main nyelonong masuk ke dalam kamar Hera. "YA AMPUN KALAU ZINA LIAT TEMPAT WOI! MATA GUE MASIH POLOS!" teriak Henry langsung keluar kamar Hera.
\-TBC\-
ps: aku baper sendiri nulis chapter ini, gak tau kaliannya baper atau gak?😂
tapi aku ingin mereka berdua putus aja dulu.