Kehidupan rumah tangga Vira dan Vicky luar biasa sempurna, kasih sayang yang tidak pernah Vira rasakan karena Vira seorang yatim piatu ia dapatkan dari sang suami dan Ibu mertuanya. Namun dunia selalu berputar bukan? Konflik dan intrik mulai menyusup ke dalam kehidupan rumah tangga Vira saat ia menerima kerabat sang suami masuk ke dalam rumahnya dengan tangan terbuka. Rumah tangga dengan pondasi yang kokoh perlahan mulai goyah karena gerilya sang kerabat yang diam - diam menginginkan posisi Vira. Akankah rumah tangga Vira dan Vicky bertahan, atau Vira akan menyerah mempertahankan cinta sejati dalam hidupnya? Dan adakah orang yang akan menyelamatkan Vira dari dera siksa yang didapatkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinta Aryanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Waktu menunjukkan jam 07.30 pagi, Vira segera turun dari ojek online yang ia tumpangi, ia kemudian merapikan rambut dan bajunya, ia juga memastikan bahwa sepatu kerja berwarna hitam yang ia pakai masih mengkilat, sepatu itu ia beli bersama Tuti kemarin sore di pasar, harganya yang murah membuat Vira ketak ketir bila sewaktu - waktu heels sepatu itu akan lepas ketika ia berjalan.
Gedung mewah yang menjulang tinggi kini tampak di depannya, beberapa orang terlihat berlalu - lalang di depan gedung itu, hotel tersebut memang telah memiliki banyak karyawan terbaik yang dipindahkan dari hotel - hotel cabang milik grup hotel tersebut. Vira kemudian mengedarkan pandangan mencari sosok security di sekitar situ, ia kemudian mendekati pos security yang berjarak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Setelah mendapatkan arahan dari security, Vira kemudian berjalan menuju tempat para pelamar kerja berkumpul sesuai dengan arahan security tadi. Vira berhenti di depan sebuah ruangan di sebelah basement, ia kemudian mengetuk pintu itu pelan.
Seorang pria berbaju formal kemudian mempersilakan Vira untuk masuk, kedatangan Vira mengundang perhatian para pelamar kerja yang sudah berada disana, Vira tersenyum dan menggangguk sopan sebelum kemudian ia mendudukkan dirinya di kursi kosong.
Vira melihat jam yang melingkar di tangannya yang putih, ia kemudian menghela nafas lega karena ia datang sebelum waktu yang ditentukan di email yang ia terima kemarin sore setelah seminggu lamanya ia menunggu panggilan untuk wawancara kerja di hotel ini.
Pintu terbuka kembali, beberapa orang dengan baju yang sama dengan Vira kemudian masuk dan segera menduduki kursi yang kosong, hanya sekitar 2 sampai 3 kursi yang masih kosong.
Ruangan itu hening, meskipun banyak sekali pelamar yang tengah duduk disana, kebanyakan dari mereka memperhatian Vira dari ujung kepala hingga ujung kaki, yang laki - laki kemudian tertunduk malu dengan pipi bersemu merah begitu beradu pandang dengan mata cantik Vira, sementara yang perempuan sibuk berbisik dan tersenyum kecil penuh ejek mungkin karena penampilan Vira yang kelewat sederhana, Vira tak peduli itu.. ia sudah melewati titik terendah dalam hidupnya, pandangan merendahkan dan ejekan tidak seberapa dibanding derita yang ia rasa akibat kehilangan anaknya.
Suara derap sepatu menyita semua perhatian, seorang lelaki paruh baya dengan penampilan yang sangat rapi dan terlihat kharismatik berdiri di depan di dampingi oleh beberapa orang yang terlihat sama rapinya, ia memperkenalkan diri sebagai kepala personalia di hotel tersebut dan kemudian memberikan briefing mengenai tahapan tes yang akan dilalui hari ini.
Setelah selesai briefing, semua pelamar diarahkan untuk masuk ke dalam ruangan tes tertulis. Disana para pelamar diharuskan untuk menulis data diri dan posisi pekerjaan yang diinginkan sebelum kemudian melaksanakan tes tertulis. Vira yang menyadari janya mengantongi ijazah SMA kemudian menuliskan posisi waitress sebagai pekerjaan yang ingin ia lamar.
...****************...
Sementara itu di ruangan management hotel tampak terjadi kesibukan, sang CEO dikabarkan akan melakukan pemeriksaan dadakan dan mengawal soft opening hotel tersebut. Beberapa orang nampak tengah diberikan instruksi untuk menyiapkan helipad untuk kedatangan sang CEO, sementara para direksi tengah berkutat dengan laporannya masing - masing yang akan disampaikan kepada sang CEO.
Di dalam area dapur restoran hotel juga terjadi kesibukan yang luar biasa, sang kepala chef tengah memberikan briefing kepada para stafnya untuk menyajikan hidangan untuk sang CEO dan memastikan tidak ada kesalahan nantinya
Hal yang sama juga terjadi di dalam kamar presiden suite yang akan dipakai oleh sang CEO untuk tinggal selama disana, kepala house keeping tengah memberikan instruksi kepada stafnya agar memastikan kamar tersebut telah benar - benar bersih dan ra, mengingat sang CEO dikabarkan adalah orang yang perfeksionis.
Pihak keamanan hotel juga tengah melakukan briefing untuk memastikan bahwa hotel telah benar - benar dalam keadaan aman, berhubung yang akan datang nanti adalah orang yang sangat penting yang membutuhkan penjagaan keamanan extra
Kabar kedatangan CEO tersebut juga di dengar oleh para pelamar yang sedang berjuang dengan tes tertulis mereka, sesaat setelah bagian personalia mengumukan adanya lowongan pekerjaan extra yaitu posisi sebagai sekretaris pribadi sang CEO selama ia berada di hotel tersebut, kesempatan langka tersebut diberikan sang CEO sebagai bentuk motivasi untuk calon karyawan yang akan bergabung dengan perusahaannya.
Vira tampak tak peduli, satu - satunya hal yang ia inginkan sekarang adalah ia diterima bekerja sebagai waitress di hotel tersebut, mengingat tabungannya yang sudah sangat minim. Vira benar - benar fokus mengerjakan tes tertulisnya dan berdo’a semoga ia lulus dan mendapatkan kesempatan untuk bekerja disana karena gaji yang ditawarkan di hotel tersebut lumayan besar bahkan untuk posisi seorang waitress.
Waktu menunjukkan jam 09.00 pagi ketika kemudian bagian personalia mengumumkan bahwa waktu untuk tes tertulis sudah habis. Vira bernafas lega, ia yakin dengan hasil tes yang ia kerjakan, sekarang ia hanya harus bersiap untuk tes berikutnya yaitu tes wawancara yang akan menentukan diterima atau tidaknya ia bekerja disana.
Para pelamar kemudian diarahkan untuk menuju suatu ruangan besar, tempat mereka akan mengikuti tes wawancara oleh para staf personalia yang sudah bersiap di meja masing - masing, para pelamar kemudian dipersilakan duduk di kursi kosong yang telah disediakan.
...****************...
Suara baling helikopter terdengar nyaring, para direksi telah berdiri rapi di pinggir helipad.. beberapa diantaranya tampak memegangi rambut mereka yang berantakan diterpa angin akibat baling - baling helikopter tersebut.
Setelah mendarat sempurna, 2 orang bodyguard yang berperawakan sangat tinggi dan kekar dengan setelan jas rapi dan earpiece di telinga mereka tampak turun dari helikopter, mereka kemudian mengedarkan pandangan ke semua penjuru sebelum kemudian mengangguk pada orang yang masih berada di helikopter, 2 orang kembali turun berjas rapi dan mahal; yang satu berwajah tampan khas bule dengan tubuh tinggi dan atletis, sementara yang 1 lagi berwajah tampan khas Timur tengah dengan tubuh yang sangat tinggi dengan badan yang kekar, orang tersebut kemudian mengangguk pada orang yang masih berada di dalam heli yang tak lain adalah sang CEO
Seorang laki - laki yang sangat tampan menawan kemudian turun dari helikopter tersebut, hidungnya mancung, dengan bibir merah, bulu - bulu halus menghiasi wajahnya yang putih bersih, kaca mata hitam bertengger di hidungnya itu, setelan jas yang rapi dan mewah melekat di tubuhnya yang tinggi dengan badan yang atletis, salah satu ciptaan Tuhan berwujud sempurna, senyumnya ramah dengan jabatan tangan yang erat dan hangat pada setiap direksi yang setia menyambutnya.
Tak ada satu pun yang ingin mengalihkan perhatian darinya, pesonanya membuat siapa pun terhipnotis, siapa pun akan mengira kalau dia adalah seorang aktor atau seorang model.
Rombongan CEO dan para direksi kemudian turun menuju lobby hotel tersebut dengan menggunakan lift khusus direksi dan management
Di lobby sebagian jajaran direksi dan karyawan sudah berjejer rapi menyambut kedatangan sang CEO, satu per satu tangan mereka dijabat dengan erat dan bersahabat oleh sang CEO yang terkenal ramah tersebut, kaum hawa yang berada disitu memandangnya tak berkedip dan salah tingkah dengan jantung yang berdebar. Beberapa karyawan sibuk mengabadikan moment kedatangan orang nomer satu di hotel tersebut.
Setelah acara penyambutan selesai, sang CEO digiring untuk melihat satu per satu ruangan di hotel tersebut, mulai dari area front desk tempat receptionist menerima tamu, area dapur dan restaurant, ballroom, bar dan lounge, hingga ke area house keeping. Sang CEO yang terkenal perfeksionis teliti meninjau satu per satu ruangan - ruangan tersebut
...“Pak Yonto, saya dengar hari ini sedang ada penerimaan karyawan baru.. apa betul? Tanya sang CEO pada Pak Yonto yang tak lain adalah General Manager hotel...
...“Iya betul sekali Tuan, penerimaan karyawan baru sedang berlangsung di ruangan lantai bawah” jawab Pak Yonto sopan...
...“Bisa kita kesana, saya ingin melihat calon - calon karyawan saya Pak” ...
...“Baik Tuan, mari saya antarkan kesana” ...
Rombongan kemudian bergerak menuju lift yang kemudian mengantarkan mereka ke ruangan tempat diadakannya sesi wawancara
Derap sepatu terdengar di sepanjang koridor menuju ruangan tersebut, beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan rombongan segera berhenti dan mengangguk patuh.
Begitu sampai sang CEO berjalan melambat, menelusuri satu per satu karyawan yang tengah sibuk dengan sesi wawancara, cukup lama ia memindai satu per satu calon karyawannya dari luar ruangan,
hingga kemudian netra sang CEO menangkap sosok seorang perempuan disana, perempuan cantik dengan rambut berwarna agak kecokelatan, kulitnya putih bersih, bulu mata yang lentik, bibir berisi yang merah merekah, duduknya yang sopan dan anggun, dari semua orang disana wanita itu ibarat magnet yang membuat semua orang ingin melihatnya.
Alexander Yusuf Danuarja Al Maktoum, nama sang CEO yang kini tengah merasakan gelenyar aneh dalam hatinya melihat Vira, debaran jantungnya tak beraturan, raganya seolah ingin berlari dan memeluk wanita tersebut.
...“Tuan?” Francis yang tak lain adalah sekretaris pribadi Alex membuyarkan lamunannya...
Alex berdehem menetralkan hatinya yang tak karuan melihat Vira
...“Ah iya, bisa kita ke ruangan saya sekarang Pak Yonto” Tanya Alex dengan netra yang tak lepas memandangi Vira...
^^^“Baik Pak, mari saya tunjukkan” Jawab Yonto sigap^^^
Rombongan kemudian berjalan menuju lift kembali, yang kemudian membawa mereka ke lantai 15 tempat dimana kantor CEO berada.
Para bodyguard mendahului memasuki ruangan tersebut, mereka memeriksa setiap sudut memastikan bahwa ruangan itu aman untuk Alex
Setelah dipastikan aman, Alex kemudian masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh kedua asisten pribadinya yaitu Francis dan Umar. Para rombongan direksi kemudian pamit untuk kembali ke ruangan mereka masing - masing setelah menyerahkan laporan mereka pada Alex
Alex mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, ia menyandarkan punggung kekarnya ke sandaran kursi, bayangan wanita yang ia lihat tadi tak bisa lepas dari ingatannya, rasa keingin tahuannya terkulik, ia kemudian meminta Francis untuk memanggil Pak Yonto ke ruangannya
Beberapa saat kemudian, Pak Yonto tergopoh datang ke ruangan Alex
...“Ada yang bisa saya bantu Tuan? Tanyanya sopan...
...“Iya Pak, sepertinya saya sendiri yang akan menyeleksi calon sekretaris pribadi saya, bisa tolong Bapak atur?” Ucap Alex ...
...“Siap Tuan, saya akan segera sampaikan ini pada manager personalia” ...
...“Baik, saya tunggu laporannya” ucap Alex sambil tersenyum ramah...
Francis dan Umar yang berada di ruangan itu saling berpandangan, mereka tentu heran dengan bos mereka sekarang karena tidak biasanya Alex ikut turun langsung menyeleksi sekretaris pribadinya. Alex tersenyum bahagia, baru kali ini ia merasakan getaran sehebat itu dalam hatinya, bayangan wajah Vira memenuhi pikirannya.
hei hei hei bu ningrat...... ngk semua mertua bego kaya lo kena hasutan orang....lngsng lo bls budi. koplak