Squel dari novel; "Terpaksa menerima perjodohan"
Menjadi seorang pewaris keluarga kaya raya membuat Kenzo dan Tiara harus lebih berkompetensi. Keadaan menuntut mereka untuk belajar di luar negeri, berkuliah di universitas bergengsi demi mendapatkan pendidikan yang terbaik.
Kenzo yang merupakan mantan brandal sekolah telah mengusik bagian dari member geng campus; Black Swan yang terkenal sangar. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan rahasia di balik geng mereka. Keadaan yang terasa mengancam membuat Kenzo memilih menyembunyikan hubungannya dengan Tiara, demi keselamatan sang istri.
Siapa sangka, saat Kenzo berusaha bergabung dalam geng campus tersebut. Dia mengetahui kalau Dominic Herbert; sang ketua black swan si senior nomor satu di kampus ternyata pacar dari sepupunya Renzela.
Mampukah Kenzo bergabung dalam geng campus itu demi menjaga Tiara dari bullying mahasiswa lain?
Dan rahasia apa sebenarnya yang selalu Dominic tutupi?
Ikuti cerita selengkapnya!☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanam saham.
"Dad. Semuanya di luar kendali," Kenzo langsung mengeluh, setelah bicara dengan Bernard dia langsung menghubungi Daddy nya mencari solusi. Jika hanya mengurus perusahaan mungkin dia bisa, tapi sekarang dia tidak punya kuasa karena sang Uncle yang memegang tahta, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Baru juga di suruh mengawasi Bernard kau sudah mengeluh, bagaimana nanti kalau sudah memegang perusahaan?" Kenan menimpali dengan begitu enteng, bukan karena apa-apa, hanya saja ada banyak hal yang sedang dia urus, jadi berusaha lakukan tanggung jawabnya seorang diri, tanpa turun tangannya langsung.
"Ini lebih rumit, Dad. Aku lebih baik disuruh memegang perusahaan dari pada bekerja di belakang, sungguh memuakkan harus bekerja tanpa memegang tahta, semua saran ku tidak didengar Bernard." Kenzo berusaha menjelaskan, bahkan saking kesalnya pada Uncle nya dia tanpa sadar menyebut nama lelaki itu dengan begitu kesal.
"Kenzo biarpun begitu dia Uncle mu," Kenan sampai menghela nafas, buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya tapi tetap saja walau dia selalu kesal pada Bernard dia akan menegur putranya agar bisa sedikit lebih sopan pada sosok pamannya itu walau memang lelaki itu benar-benar memuakkan. "Jelaskan apa yang terjadi?" tanyanya penasaran, Kenzo tidak akan mengeluh seperti ini kalau masalahnya tidak begitu rumit.
"Uncle terlalu ceroboh, Dad." Kenzo kembali bicara dan berusaha menceritakan semuanya, tentang pengeluaran dana yang begitu besar serta ancaman dari beberapa perusahaan yang mengincar perusahaan Aunty nya, "Ada beberapa perusahaan yang sedang mengincar perusahaan Oskar company, mereka adalah penjahat perusahaan yang selalu memanipulasi sebuah perusahaan, bahkan mereka sedang dalam incaran polisi disini." jelasnya lagi. Bahkan dia langsung menceritakan kalau Paman nya itu tidak mendengarkan penjelasan ataupun saran dari nya, meski perusahaan sudah masuk dalam perangkap mereka.
Kenan sesaat terdiam, memang bukan hanya di luar negeri, di Indonesia pun kasus seperti ini kadang-kadang terjadi, kejamnya dunia perbisnisan membuat setiap orang di butakan tahta dan kekayaan sampai berlomba-lomba menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semaunya. Dan itulah tanggung jawab paling berat seorang pemimpin untuk bisa mempertahankan perusahaan nya dari ancaman orang-orang syirik di luar sana. "Pergerakan apa yang sudah mereka lakukan?" tanyanya memastikan.
"Kerjasama yang mencekik, dan tawaran suntikan dana dengan begitu cuma-cuma. Mereka bekerjasama melakukan tugasnya masing-masing tanpa mencurigakan, bahkan pihak kepolisian pun tidak ada yang mengira kalau itu sebuah rencana perampasan."
Mendengar itu Kenan berpikir sejenak, "Apa yang kau sarankan pada Uncle mu itu?" tanyanya lagi.
"Aku menyuruhnya untuk tidak menerima suntikan dana itu, aku yakin itu hanya sebuah jebakan. Tapi Uncle tidak mendengarkan saran ku sedikitpun." Kenzo kembali menjelaskan, mungkin bagi Bernard itu sebuah keuntungan, terlebih sepertinya tidak ada dana lain selain menerima tawaran investor itu untuk menutupi dana yang sudah keluar.
Kenan sampai menarik nafas, dia bisa mengerti posisi putranya sekarang, tapi tetap saja dia tidak bisa berbuat lebih terlalu ikut campur masalah kekayaan Ayah mertuanya, jika dia terlihat mencolok, bisa-bisa Bernard memutar balikkan fakta seolah dia yang paling berkuasa akan aset-aset keluarga Nugraha; yang merupakan peninggalan Ayah mertua mereka. "Daddy tidak bisa berbuat lebih. Untuk menegur Bernard dan meminta kuasa di perusahaan hanya bisa melalui Aunty mu sendiri, ataupun kau bisa meminta bantuan Mommy, Mommy pasti bisa membantu menegur Bernard." ucapnya memberi saran, itu adalah cara mudah, itupun jika Bernard bisa di ajak kerjasama.
"Namun jika mengingat Bernard yang keras kepala rasanya itu sangat susah, tapi ada satu cara lagi yang lebih kuat, Ken." timpal nya lagi.
"Apa, Dad?"
"Kau harus menanam saham di perusahaan Oskar company." jawab Kenan dengan lugas, terlebih jika mau bermain halus untuk menguak kejahatan orang-orang yang mengincar perusahaan, putranya itu harus meladeni mereka, dengan pondasi model besar untuk tetap memperkuat perusahaan.
"Menanam saham?" Kenzo sampai mengulang kembali sarana sang Daddy, bukan dia tidak mengerti apa maksudnya, tapi uang dari mana, "Menanam saham sama saja kita membangun sebuah perusahaan, butuh uang yang banyak, Dad. Terlebih Daddy pun pasti tidak akan memberikan uang dengan cuma-cuma." keluh nya lagi. Dia lebih tahu tentang Daddy nya yang akan selalu berhati-hati mengeluarkan dana terlebih jika dana itu bersangkutan dengan perusahaan.
"Daddy tidak membicarakan tentang uang Daddy ataupun uang perusahaan, melainkan tentang aset kalian." timpal Kenan dengan tersenyum kecil di balik sambungan telepon nya. Bukankah aset putra dan menantunya sudah cukup membengkak tersimpan bertapa di bang. Kenapa tidak di gunakan dan di investasikan.
"Jika hanya menggunakan tabungan ku tidak apa-apa, Dad. Namun pasti tetap tidak akan cukup, tapi tidak sampai harus menggunakan tabungan Tiara juga, itu miliknya aku tidak bisa menggunakan itu begitu saja." timpalnya dengan suara melemas. Dia sedikit malu sendiri, pasalnya jumlah tabungannya lebih sedikit dari pada tabungan Tiara. Bagaimana tidak, uang mas kawin pemberian nya yang berjumlah dua miliar, gajih perbulan dari kantor yang fantastis, dan nafkah perbulan dari nya yang jumlahnya tidak sedikit tidak pernah Tiara gunakan, membuat tabungannya membengkak bahkan jangankan untuk menanam saham, membeli perusahaan Oskar company saja uang istrinya itu masih banyak sisa.
Tapi tetap saja dia yang akan malu jika harus menggunakan uang itu untuk mempertahankan aset Kakeknya. "Malu lah, Dad. Aku sudah menguras tenaganya memanfaatkan kepandaiannya, bahkan jiwa dan raga nya saja sudah dia pasrahkan untuk ku, masa sekarang harus menguras uang nya juga. Aku bukan uncle Bernard, Dad."
Kenan sampai terkekeh, Kenzo tetap lah Kenzo putranya yang memiliki gengsi yang tinggi, malah so-soan bawa nama pamannya lagi, "Ken, ini bukan mau menguras uang Tiara, tapi berusaha untuk saling melengkapi dan bekerjasama, cobalah bicarakan baik-baik, istri mu pasti mengerti." ucapnya berusaha menasehati. Dia sudah bisa menebak kalau Bernard tidak akan semudah itu memberikan kekuasaan di perusahaan untuk putranya, makanya hanya dengan cara itu putra dan menantunya itu bisa mengendalikan perusahaan sesuai kemauan mereka.
......................
"Ken, kenapa?" Tiara menatap Kenzo dengan begitu heran, kenapa pagi-pagi begini wajah suaminya terlihat begitu kusut seperti pakaian yang belum disetrika, "Apa sakit?" tanya lagi karena suaminya malah langsung rebahan di pangkuannya, padahal dia sedikit sibuk duduk bersila di sebuah tikar menghadap laptop nya yang masih menyala, membuatnya kasihan dan langsung mengelus kepala suaminya itu.
"Sudah kacau." Kenzo menjawab singkat matanya sampai perlahan terpejam, harus berurusan dengan Uncle yang bodoh rasanya membuatnya lelah, "Apa kita pulang saja ke Indonesia," tuturnya lagi malah ngelantur, dia masih belum tega jika membahas saran sang Daddy untuk menanam saham, karena tidak tega jika pada akhirnya harus menggunakan uang Tiara.
Tiara sampai di buat heran, sejak kapan semangat suaminya ini jadi melemah seperti ini, "Apa serumit itu sampai membuat mu mau menyerah begitu saja." tangannya kembali mengelus kepala Kenzo, dia tahu seberapa besar beban yang di tanggung suaminya ini tapi tidak harus menyerah begitu saja. "Bicara lah aku bisa membantu mu apapun itu!" timpalnya lagi.
Kenzo sampai kembali membuka matanya dan langsung menatap Tiara, wanita ini memang yang terbaik sampai selalu mengerti tentang keadaan nya, "Sebelumnya maaf, maaf aku selalu saja menarik mu dalam masalah keluarga ku, alih-alih membuat mu bahagia, hidup mu selalu dipersulit karena semuanya." lirihnya dengan tatapan sendu. Dari awal sampai akhir istrinya itu selalu saja terbawa dalam masalah keluarganya.
Tiara sampai tertegun, kenapa tiba-tiba, "Kamu kenapa si, kenapa minta maaf, aku nyaman hidup seperti ini, malah aku senang karena kau selalu ada untuk ku dan selalu bisa membuatku terus merasa nyaman di samping mu," dia jadi salah tingkah kan, padahal kurang baik apa coba suaminya, kenapa masih saja terus merasa bersalah. Dia sampai mengusap wajah Kenzo untuk tidak memasang wajah bersalah seperti itu. "Aku istrimu, sudah sewajarnya aku terlibat dalam masalah mu dan harus membantu mu." timpal nya lagi, seolah berkata apapun itu katakan saja dia pasti akan membantunya.
"Aku barusan bicara dengan Daddy," Kenzo mulai bicara serius, tangannya dengan cepat menyentuh punggung tangan Tiara yang sedang mengelus-elus rambut nya, dan menuntunnya untuk bergerak menutup matanya, "Katanya cara terbaik untuk bisa mendapatkan kekuasaan di Oskar company adalah dengan cara kita menanam saham di perusahaan," tuturnya lagi.
Tiara sesaat terdiam, nasehat dari sang Daddy memang tidak pernah bisa di ragunan, selalu saja memberikan mereka saran yang lebih menantang terlebih jika berkaitan dengan perusahaan, didikan dari sang Daddy begitu keras, "Ayo lakukan, jika Herbert dan antek-anteknya terus bergerak halus, kita bisa membuat pondasi yang kuat, biar Herbert sadar kalau salah besar mereka telah mengusik kita," timpalnya tanpa beban.
Kenzo sampai tersenyum kecil, inilah menantu keluarga Wijaya, wanita ini bahkan lebih bar-bar dari dugaannya, sampai berani menantang Herbert dan antek-anteknya, tapi sekarang bukan itu masalahnya, "Apa tidak apa-apa aku menggunakan tabungan mu?" tanyanya ragu. Bahkan dengan cepat dia mengangkat telapak tangan Tiara dan perlahan mengecupnya, "Tabungan ku tidak sebanyak itu jika harus di gunakan untuk menanam saham," ucapnya lagi dengan lirih. Seperti pribahasa yang mengatakan, kalau uang suami adalah uang istri, tapi tidak dengan sebaliknya, dia jadi tidak bisa sesuka hati meminta Tiara mengeluarkan uang nya.
"Kenapa tidak, jika itu untuk kebaikan bersama gunakan saja," Tiara langsung menjawab dengan begitu enteng, toh semua uang di tabungannya juga pemberian suaminya.
"Semudah itu?" Kenzo sampai tertegun, sudah kalang kabut sendiri takut Tiara merasa terbebani, tapi ternyata tanpa berpikir panjang istrinya itu langsung memberikannya, "Kau tidak keberatan?" Kagum dan heran, kenapa bisa punya istri sebaik Tiara, sontak dia langsung bangun dari rebahan nya dan langsung duduk bersila di hadapan istrinya. "Kau terlalu baik, sayang." ucapnya gemas.
"Aku tidak sebaik kamu, kau setiap bulan memberikan ku uang, bahkan keperluan harian pun kau yang bayar." Tiara kembali bicara dengan begitu polos.
Kenzo sampai tambah gemas dan langsung mencubit kedua pipi Tiara, "Itu namanya menafkahi, Tiara sayang." Heran sendiri, wanita ini pandai dalam segala hal tapi bisa-bisanya begitu polos dalam hal ini, dia jadi malu sendiri dibilang baik padahal itu adalah tanggung jawabnya. "Apa kita buat anak saja biar wanita cantik dan menggemaskan ini ada duplikat nya." ucapnya malah menggoda sang istri. Bahkan dia langsung bergerak mendekatkan wajahnya mengecup bibir yang sedang tertegun itu.
"Jangan sekarang, aku masih mau kuliah," rengek Tiara tidak bisa, dia akan memberikan apapun itu tapi dia belum siap kalau harus memberikan keturunan, "Aku ingin belajar dulu, agar bisa terus membantu mu dan Daddy di perusahaan." ucapnya lagi sudah kutar ketir karena Kenzo sudah merebahkan tubuhnya bahkan langsung menghimpitnya.
"Aku bercanda sayang, ayo lakukan sepuasnya karena aku akan memakai pengaman." Kenzo sampai terkekeh dan mulai meminta jatahnya yang seminggu kemarin tertunda.
bodoh y
nggak enak tau kak digantung 🥹🥹🥹🥲