Banyak peristiwa di luar nalar terjadi semenjak pasangan pengantin baru ( Safira dan Danu ) menghuni sebuah rumah yang baru mereka beli dari seseorang.
Menurut penduduk sekitar, rumah tersebut sudah lama kosong dan di tinggal kan pemilik nya.
Bahkan salah satu pemilik rumah tersebut pernah meninggal dalam keadaan tak wajar di sana. Tak ada kejelasan penyebab orang itu meninggal.
Nama nya Ningrum. Banyak orang percaya jika arwah Ningrum masih menghuni rumah itu.
Beberapa masyarakat setempat pernah melihat sosok Ningrum saat melintas di depan rumah itu.
Safira dan Danu awal nya tidak mempercayai cerita dari mulut ke mulut , mereka menganggap tahayul.
Namun kejadian demi kejadian mengerikan menteror mereka. Hingga ada nya Cleo teman dari Ragil ( adik Safira) menguak keberadaan Ningrum.
Apa yang membuat Ningrum menemui azal nya ?
Mengapa Ningrum menteror mereka ?
Simak cerita di setiap bab nya, jangan lupa tinggal kan jempol, komentar dan favorit. Happy reading 😱😱 !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keanu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Masih di rumah Safira, namun dalam dimensi lain, dimensi yang berbeda dengan Amara.
Cleo, Ragil dan Soni memasuki rumah Safira namun netra mereka menangkap kejanggalan di sini. Rumah Safira tampak gelap gulita tanpa ada penerangan sedikit pun, Ragil segera menyalakan senter berukuran sedang yang ia bawa.
Suasana rumah itu tak biasa, dinding nya berwarna putih kusam padahal mereka ingat betul telah mengecat ulang dinding rumah tersebut, namun kini kembali seperti semula, rumah ini bahkan lebih menyeramkan dari yang pernah mereka lihat sebelum nya.
Suara langkah kaki ketiga nya terdengar beriringan memecah keheningan. Pandangan mereka menyebar ke setiap sisi, begitu waspada.
'' Kita gak salah masuk rumah nih ? Atau jangan-jangan...'' Kalimat Soni terpotong oleh lengkingan tawa bergetar menimbulkan gaung di ruangan tersebut.
Langkah mereka terhenti, Soni dan Ragil memegang tengkuk nya yang meremang.
Srek..srek..srek...
Suara langkah terdengar tepat di belakang mereka, ketiga nya langsung saling menatap satu sama lain tanpa berani menoleh kebelakang.
Cleo memberi kode agar mereka serempak membalikan badan. Ragil dan Soni pun mengerti bahasa tubuh yang Cleo isyaratkan pada mereka.
Glek
Soni menelan ludah saat tak melihat siapa pun di belakang. Tapi jika ia dan yang lain nya menoleh ke belakang tanpa membalikan badan kemungkinan makhluk itu akan terlihat jelas oleh mata mereka. Untung saja Darsi sempat memberi tahu trik itu pada Cleo dan yang lain.
Tap
Ragil merasa sesuatu menepuk bahu, ia pun perlahan menoleh.
'' Se-se-setaaaan, '' teriak Ragil mengejutkan Cleo dan Soni yang segera menoleh ke arah nya.
Cleo memejamkan sejenak mata nya, sosok kuntilanak itu pun kini terlihat oleh nya saat kembali membuka mata. Sosok itu tengah memegangi bahu Ragil, namun kemudian terlepas saat Cleo menatap tajam ke arah nya. Kuntilanak itu pun lenyap seketika.
Hembusan angin kencang tiba-tiba saja muncul mengibaskan rambut mereka bertiga, semakin kencang hingga mereka menutup diri dengan tangan, seakan menahan hembusan angin yang terasa sampai ke dalam mata.
Soni, Ragil maupun Cleo menyipitkan mata, karena tiupan angin kian kencang. Helaian kertas berterbangan bahkan benda-benda kecil pun seolah tertiup saking kencang nya hembusan angin itu.
Beberapa saat kemudian angin pun mereda. Namun kini mereka terpisah secara tiba-tiba, padahal jelas sekali tadi mereka berdampingan tapi kali ini mereka bisa terpisah begitu saja.
Rumah Safira bak labirin, Soni berputar-putar menyusuri rumah itu sendirian kini Cleo maupun Ragil sudah tak bersama nya. Setiap kali Soni berjalan tetap saja ia kembali ke tempat semula. Seolah rumah itu tak ada ujung bahkan tanpa ada akses keluar.
'' Cleo,, Ragil,,, '' Soni mulai ketakutan.
Peluh mengucur di pelipis hingga membasahi wajah nya. Kini dia berjalan dengan penerangan dari ponsel yang ia bawa, karena senter di pegang Ragil yang entah dimana.
Soni yakin saat ini dia tengah berada di dapur, ia mulai menyusuri setapak demi setapak ruangan menuju ruang tengah namun aneh nya tetap saja ia kembali ke tempat semula. Akses menuju ruang tengah seolah hanya ilusi, dia terus berputar-putar di sana hingga letih.
Soni mengecek ponsel berniat menelpon salah satu teman nya yang hilang.
'' Apa-apaan ini kok gak ada signal ? '' Soni menepuk-nepuk ponsel nya seakan usaha nya itu dapat memulihkan signal, tapi sama sekali tidak berhasil. Dia kini berada di alam lain yang tentu nya tak dapat menangkap signal handphone.
Ia menelan ludah berulang kali, mencoba mengumpulkan keberanian nya dan berusaha mencari akses keluar dari ruangan itu.
Sesekali ia menggoncangkan ponsel nya kembali berharap signal muncul. Namun sorotan senter ponsel menyentuh sesuatu di atap sana.
Sepintas cahaya ponsel menangkap sesuatu, begitupun dengan netra nya. Tubuh Soni semakin bergetar, perlahan menyorotkan ulang senter ke langit-langit.
Saat cahaya ponsel tepat menyorot ke sana, ia pun terbelalak melihat sosok kuntilanak dengan wajah teramat mengerikan merangkak di antara langit-langit dan merayap turun melalui dinding.
Bibir Soni yang sedikit terbuka pun bergetar, seolah ingin berteriak namun tenggorokan nya tercekat.
Ia berjalan mundur menghindari kuntilanak yang semakin cepat merangkak ke arah nya.
Begitupun yang di alami Ragil, ia melihat sosok mengerikan serupa dengan yang Soni lihat.
Bruukk
'' Aaaaaaaaakkkk '' Soni dan Ragil berteriak saat punggung kedua nya bersentuhan.
Menyadari teman nya ada di belakang, mereka pun membalikan badan.
'' Soni ? ''
'' Ragil ? ''
Mereka berpeluk bahagia sesaat dan saling dorong ketika sadar tengah berpelukan.
Mata mereka berdua kembali waspada mengedar ke seluruh ruangan , mencari sosok kuntilanak tadi yang hampir mendekat namun kini lenyap.
Kedua nya pun kembali mengatur nafas yang seakan terhenti sejenak karena ketegangan barusan. Setelah yakin kuntilanak itu tak ada di sana.
'' Cleo, kita harus cari Cleo. '' Ragil panik saat menyadari Cleo tak bersama mereka.
Soni mengangguk, keberanian nya kini kembali muncul karena sekarang dia tidak sendirian lagi.
Mereka kembali melangkah, menyusuri ruangan demi ruangan yang kini kembali ke semula tidak seperti labirin lagi.
Mereka menaiki tangga saat mendengar sesuatu di lantai dua. Kemungkinan itu Cleo.
Langkah mereka kembali terhenti saat menapaki anak tangga teratas. Dalam ruang gelap yang membentuk sebuah koridor menuju kamar Safira mereka melihat satu wanita tengah berdiri di ujung sana.
Mata mereka tak bisa melihat dengan jelas karena cahaya ponsel tak mampu menjangkau sosok yang tengah berdiri sedikit jauh. Begitupun senter Ragil yang mulai habis batrai nya, hanya memancarkan sedikit cahaya.
Ragil menyipitkan bola mata nya, menyelidik siapa yang ada di sana berdiri membelakangi mereka.
'' Hmmpp,,'' Ragil menutup mulut Soni yang hampir saja bersuara memanggil nama Cleo.
'' Sssttt '' bisik Ragil.
Soni yang masih di bekam pun manggut-manggut memahami maksud Ragil yang kemudian melepas telapak tangan nya dari mulut Soni.
Perlahan mereka maju mendekati wanita itu, berjalan mengendap-endap agar tak di ketahui oleh nya.
Semakin dekat makin terlihat jelas pakaian yang di kenakan wanita itu. Sweater berwarna moca dan celana jeans persis dengan yang di kenakan Cleo.
'' Huft '' Ragil dan Soni kembali melegakan pernafasan nya yang tertahan saat mendekat kearah nya.
'' Cleo. '' Ragil menepuk pundak nya.
Namun wanita itu memutar kepala dan tertawa cekikikan, tanpa membalikan badan leher wanita itu bisa memutarkan kepala nya. Mata nya bolong bercucuran darah, muka nya begitu hancur hingga sulit membedakan yang mana hidung, mulut bahkan pipi sekalipun.
Kaki mereka terjingkat meloncat ke belakang saat mengetahui wanita itu bukan lah Cleo melainkan dedemit yang menjelma menjadi Cleo. Kembali mereka pun berteriak kompak dan berlarian menuruni anak tangga yang seakan tak menemukan ujung.
Sementara suara tawa hantu itu terus terdengar, seakan sedang menertawakan mereka berdua.
Alhamdulillah saya tempatin rmh ini ga ada apa².niat saya baik🤭 sekarang malah tetangga pada nanya dan sering pada main.dari awal saya beli sampeu mau 5tahun blm ada yg direnovasi
always gak di novel ataupun di film horor
apa jangan jangan dulu emak temanan sama penghuni lama rumah itu?
makanya kudu dengerin nasehat emak kalau gak mau kenapa kenapa
lama kelamaan bakalan kangen sama kehadiran kakaknya ntar
secara udah biasa berantem kesehariannya eh malah damai gak ada gelud
g d film2 ato d novel juga d dunia nyata pasti namanya ningrum. spt dgn sosok yg q jumpai d tmpt sblm pos 1 saat pendakian mt bekel. dia ngaku brnama ningrum tp lbih suka dan sering d panggil ningsih..dia mbk kunti yg brtempat d salah satu pohon besar dia atas pemandian jolotundo, sblm pos 1.