Pagi itu semua warga gempar setelah di temukan mayat seorang wanita dengan luka di sekujur tubuh.
warga melapor kejadian ini ke pihak berwajib,tak berapa lama polisi datang dan segera mengevakuasi korban,pak Adit salah seorang polisi yang menangani kasus ini ikut terseret di dalamnya,karena arwah wanita yang terbunuh selalu datang menghantuinya.
mampukah pak Adit mengungkapkan siapa pelakunya dan apa motif di balik semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Piscok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"aku ingat di depan rumah itu ada patung yang tingginya sekitar satu meter"
"patung apa mas"
"nah itu dia aku gak jelas juga lihat nya yu"aku pun tersenyum seraya menggaruk kepala yang tidak gatal
" ya sudah mas mungkin nanti malam mas bisa dapat pengunjuk lagi"ayu menghela nafas mendengar perkataan ku
"semoga saja yu".
akhirnya kami putuskan untuk segera kembali ke kantor karna jam makan siang sudah habis,aku antar ayu kekantor nya sedangkan aku tak kembali kekantor melainkan langsung pulang ke rumah karna rasanya kurang enak badan setelah sebelumnya menelpon pak Wisnu untuk mengkonfirmasi tentang keadaanku.
"lho kok tumben jam segini sudah pulang mas"bibi terlihat bertanya saat aku pulang sebelum jam pulang kantor.
"ia bi,rasanya agak gak enak badan jadi ijin pulang duluan"aku merabahkan badan di sofa panjang di depan televisi karna aku merasa sakit kepala yang lumayan mengganggu,mungkin ini karna aku terlalu banyak pikiran akhir akhir ini dan tertekan dengan masalah Indira yang terus mengusikku
"ini mas bibi buatkan bubur sama teh hangat"bibi datang dari arah dapur membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat
"maaf ya bi karna aku sakit jadi merepotkan bibi"aku merasa tak enak pada bibi
"enggak kok mas kan ini sudah kerjaan nya bibi ngurusin mas Adit"bibi menaruh nampan yang di bawanya tadi di meja dan membantuku untuk duduk
"makasih ya bi"aku segera menyuap bubur kedalam mulut sampai semua habis setelahnya aku juga meminum setengah gelas teh yang bibi buatkan tadi dan ternyata bibi juga sudah menyiapkan obat untukku segera ku minum obat itu dan kembali merebahkan badanku
"apa gak sebaiknya pindah ke kamar aja mas biar istirahat nya lebih nyaman"ucap bibi sambil membereskan mangkuk dan gelas kotor
"gak usah bi aku istirahat disini saja lagian aku malas untuk berjalan kekamar"aku tersenyum dan kembali merebahkan tubuhku.mungkin karna efek dari obat yang ku minum,aku mulai merasakan kantuk yang tak bisa tertahan dan akhirnya aku pun tertidur di sofa,
"tolong...tolong"
lagi aku bertemu dengan Indira dan kali ini aku memberanikan diri untuk menatapnya dan menanyakan secara langsung apa yang sebenarnya dia inginkan dan siapa yang membunuh nya
"Indira aku mohon padamu jika kamu memang ingin aku menolong mu,aku juga ingin kamu untuk menolongku juga"aku berhenti berbicara saat Indira menatapku dengan tajam membuat memundurkan langkah ku karena merasa ngeri dengan tatapan menghunus dari Indira dan memang benar kata ayu tatapan Indira penuh dengan dendam.
"tolong Indira beri aku petunjuk"kaki ini aku yang meminta tolong pada Indira karena aku pun merasa frustasi dengan kasus ini.
sedangkan Indira masih saja menunjuk pada rumah yang sama.
ah aku benar benar tak mengerti dengan semua ini dan ini kasus pertama ku yang harus melibatkan hantu.
"aaaaaa" jeritan Indira membangunkan ku dari lamunan dan dari mimpiku,ku lirik jam tangan benar saja waktu menunjukkan pukul 00:00 pantas saja aku mendengar jeritan Indira tapi yang membuat ku berfikir kenapa jeritan itu hanya terjadi saat tengah malam apa ini berkaitan dengan perkiraan kematian Indira.semua pertanyaan terus bermunculan membuat kepalaku semakin pusing.