Amanda, wanita yang menderita penyakit jantung bawaan, harus menerima kenyataan pahit saat dia baru saja sadar dari koma setelah melahirkan anak pertamanya, secara tidak sengaja melihat perselingkuhan Abimana, suaminya. Di samping ranjang rumah sakit tempat dia dirawat, suaminya melakukan perzinahan dengan kekasih gelapnya. Bahkan Abimana juga menukar bayi yang dilahirkan Amanda dengan bayi hasil perselingkuhannya agar warisan Amanda jatuh ke tangan anak tersebut.
Setelah menyadari jika Amanda telah sadar dari komanya, Abimana lalu berusaha membunuh Amanda melalui sebuah kecelakaan yang disengaja, namun tanpa Abimana tahu, Amanda berhasil selamat dan diselamatkan oleh Rayhan, pengacara yang menjaga Amanda.
Enam bulan kemudian setelah kecelakaan tersebut, Amanda pun kembali hadir menjadi sosok yang berbeda.
"Aku belum mati, suamiku," ucap Amanda saat berjumpa kembali dengan Abimana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
Inara pun kemudian memasukkan perut palsunya secara sembarangan dengan begitu cepat ke bagian bawah bajunya tepat di saat pintu itu terbuka oleh Rayhan. Inara lalu memegang perut bagian bawahnya karena perut palsu itu belum terpasang sempurna.
"Mas, bisakah kau membantuku?"
"Iya ada apa Inara?" jawab Rayhan sambil mendekat ke arah Inara yang masih memegang perutnya.
"Bisakah kau ambilkan obat sakit perut? Sepertinya tadi pagi aku terlalu banyak makan makanan pedas."
"Oh iya, sebentar Inara."
Rayhan lalu keluar dari kamar mandi untuk mencarikan obat untuk Inara. Melihat Rayhan yang sudah keluar dari kamar, bergegas Inara memasang kembali perut palsunya dengan begitu rapi. Setelah selesai memasangnya, dia kemudian keluar dari kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian berpura-pura kesakitan saat melihat Rayhan yang masuk ke dalam kamar tersebut sambil membawa obat sakit perut di tangannya.
"Ini Inara, minumlah."
"Iya, terimakasih banyak mas."
"Lebih baik kau istirahat saja."
Inara pun mengangguk sambil tersenyum.
"Aku keluar dulu Inara, aku ingin bertemu dengan kedua orang tuaku."
"Iya mas." jawab Inara sambil melihat Rayhan yang mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
'Sial, aku kehilangan saat-saat romantisku bersama dengan Mas Rayhan, dan kini aku harus menyembunyikan menstruasiku.' gumam Inara sambil menghembuskan nafas panjangnya.
🏡🏡🏡
Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, tapi Abimana sudah masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah yang begitu tergesa-gesa. Dia kemudian berjalan ke arah ruang perawatan Amanda sambil melihat sekelilingnya.
"Sepertinya para dokter itu belum datang, sekarang aku bisa melancarkan aksiku untuk menaburkan bubuk arsenik ini di sekitar tabung oksigen Amanda. Jika Amanda menghirupnya, maka tidak akan ada yang curiga karena racun ini tidak terlihat. Hahahaha." kata Abimana sambil berjalan ke kamar perawatan Amanda.
CEKLEK
Abimana pun masuk ke dalam kamar perawatan itu, dengan langkah hati-hati dia kemudian mendekat ke arah ranjang Amanda.
"Selamat pagi, Amanda. Meskipun kau tertidur, beberapa hari ini aku dibuat begitu bingung dan tidak berkutik oleh tingkah almarhum papa hingga aku benar-benar tidak berdaya. Tapi tidak untuk hari ini, Amanda. Hari ini akulah yang akan menjadi pemenangnya karena hari ini waktumu untuk hidup di dunia sudah habis, sekarang ucapakanlah selamat tinggal pada dunia yang indah ini. Hahahaha." kata Abimana sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya namun di saat itulah tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.
"Selamat pagi Tuan Abimana." sapa sebuah suara dibelakangnya.
'BREN*SEK!! Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini!' gumam Abimana sambil membalikkan tubuhnya.
"Kau?" tanya Abimana pada seorang lelaki yang memakai kemeja warna biru yang ada di belakangnya. Laki-laki itu kemudian tersenyum sambil mendekat ke arah Abimana.
"Perkenalkan saya Rayhan, saya pengacara Amanda yang ditugaskan oleh ayah anda untuk menjaga Amanda."
"Tanpa dirimu, aku juga bisa menjaga Amanda."
"Benarkah?" tanya Rayhan sambil mengerutkan keningnya dan tersenyum kecut pada Abimana.
"Jadi kau tidak percaya padaku? Aku suaminya, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk istriku."
"Yang terbaik? Apa kau yakin?"
"Tentu saja! Apa sebenarnya maksudmu mengatakan seperti itu padaku? Aku selalu menjadi suami yang baik untuk Amanda, aku juga selalu rutin menjaga kesehatan Amanda dengan menemaninya melakukan kontrol rutin setiap bulannya pada dokter jantung dan dokter kandungan di rumah sakit ini."
Rayhan lalu tersenyum kecut.
"Ya, kau memang selalu menemaninya melakukan kontrol rutin, tapi itu tidak menjamin jika Amanda mendapatkan penanganan terbaik. Bagaimana jika kalian semua bersekongkol untuk membuat keadaan Amanda lebih parah dibandingkan sebelumnya."
"Haiiii jaga kata-katamu pengacara bodoh, jangan asal berbicara dan menuduhku sembarangan! Lebih baik kau tidak usah ikut campur urusan rumah tanggaku! Sejak kecil aku sudah menjaga Amanda, aku tahu yang terbaik untuknya!"
"Aku tidak asal berbicara dan menuduhmu sembarangan, karena aku memiliki semua bukti kecurangan yang kalian lakukan di belakang Amanda." kata Rayhan sambil memperlihatkan beberapa lembar kertas berisi hasil tes laboratorium. Abimana kemudian merebut kertas itu dari tangan Rayhan lalu membacanya dan merobeknya.
"Brengsek! Ini semua pasti hanya akal-akalan kalian saja yang ingin menjebakku."
Rayhan pun tersenyum. "Apa untungnya aku menjebakmu? Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan kalian, bahkan sebelumnya aku pun tidak pernah mengenal kalian."
"Kalian pasti juga ingin menguasai harta Amanda!!! Iya kan??"
"Kau sedang membicarakan dirimu sendiri, Abimana?"
"Dasar bre*gsek!! Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku! Aku hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi milik anak kami."
"Memangnya kenapa dengan anak kalian?"
"Hei pengacara bodoh, sekarang aku bertanya padamu bagaimana jika Amanda tertidur dalam jangka waktu yang sangat lama? Coba kau pikir bagaimana dengan nasib anak kami?"
"Maksudmu kasih sayang dari Amanda pada anak kalian?"
"Kau memang benar-benar bodoh, aku sedang tidak membicarakan kasih sayang tapi harta yang ditinggalkan oleh Amanda pada anak kami!!"
"Apa aku tidak bisa berhenti sebentar saja untuk tidak membicarakan harta? Apa sebenarnya isi otakmu? Apakah hanya ada harta yang memenuhi isi kepalamu?"
"Lancang sekali kau berkata seperti itu padaku!"
"Memang itulah kenyataannya, sejak tadi hanya harta milik Amanda yang kau bicarakan. Sebenarnya kau mencintainya atau mencintai hartanya?"
"Sudah tidak usah banyak berbicara!! Aku hanya ingin anakku mendapatkan kepastian untuk tetap mendapatkan harta peninggalan dari Amanda jika dia tiba-tiba meninggal."
"Abimana, Amanda masih hidup, kau tidak pantas berkata seperti itu."
"Aku hanya ingin mendapatkan kepastian untuk anakku! Lebih baik mulai sekarang kau urusi saja balik nama kepemilikan perusahaan Amanda menjadi atas nama putri kami."
"Itu tidak akan kulakukan karena Amanda masih hidup."
"Bagaimana jika Amanda tertidur dalam jangka waktu yang relatif lama atau bahkan tertidur untuk selamanya!"
"Abimana!! Kau tidak pantas berkata seperti itu bagaimanapun juga Amanda adalah istrimu!! Kau seperti menganggapnya sudah mati!"
"Aku hanya ingin kepemilikan perusahaan itu diganti menjadi atas nama putri kami, ini semua kulakukan untuk kebaikannya karena melihat kondisi Amanda saat ini! Putriku juga butuh kepastian!!"
"Rayhan." panggil sebuah suara yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
"Ada apa Kak David?"
"Rayhan lebih baik kau turuti saja kata-katanya."
"Apa maksudmu Kak? Tidak semudah itu, lagipula putri mereka masih bayi."
"Lebih baik kau lakukan saja Rayhan, tapi Abimana juga harus menyertakan bukti berupa tes DNA jika putri mereka adalah anak kandung Amanda." kata David sambil tersenyum kecut.
Mendengar perkataan David, Abimana pun terlihat panik.
'Kurang ajar!' umpat Abimana di dalam hati. Melihat Abimana yang kini terlihat panik, Rayhan pun tersenyum.
"Baik Abimana, aku akan membalik nama perusahaan itu menjadi atas nama putri kalian tapi kau juga harus menyertakan tes DNA sebagai buktinya. Bagaimana Abimana?"
"Kenapa kau diam Abimana? Rayhan sudah menyanggupinya, kau tinggal melakukan tes DNA pada putri kalian."
"Bagaimana Abimana?" tanya Rayhan kembali.
"E.. E... Aku.."