"Apa kau tidak bisa sedikitpun memberikan rasa cintamu padaku?"
Lily Anastasya.
"Tidak karena aku sudah berikan seluruhnya pada gadis masa kecilku, aku sudah menyukainya sejak dulu dan aku tidak akan pernah bisa menyukaimu"
Jason Louvis
Lily Anastasya dikenal sebagai gadis yang ceria, dan dia bertemu seorang pria yang awalnya dia anggap khayalan hingga dia pun bertindak di luar kebiasaannya. Tapi siapa sangka jika awal pertemuan itu membuatnya benar-benar jatuh cinta pada pria itu.
Tapi bagaimana jika pria itu sudah mencintai orang lain yang tak lain adalah gadis masa kecilnya. Akankah Lily bisa memperuangkan cintanya, atau dia akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Al langsung menoleh pada Lily, setelah gadis itu mengucapkan kalimat yang membuat suasana hatinya berubah.
"Maaf bukan maksudku menjadikan Kak Al pelarian, tapi aku memang ingin melupakan dia, jadi maukah Kak Al membantuku melupakannya?" Tanya Lily merasa tidak enak tetapi juga penuh harap.
Al tiba-tiba tersenyum dan kemudian langsung menarik Lily dan mencium, tidak tapi mengecup bibir Lily sekilas. Membuat Lily langsung melotot, karena terkejut akan apa yang Al lakukan barusan.
"Maaf, aku pasti membuatmu terkejut, aku kelewat senang tadi jadi aku refleks saja," kata Al menjelaskan agar Lily tidak salah paham akan tindakannya tadi. Al benar-benar merasa bersalah.
"B*d*h kau Al! Bagaimana kalau nanti salah paham atas apa yang tadi kau lakukan, dan lebih parahnya lagi, bagaimana kalau Lily menarik lagi kesempatan yang telah dia berikan," Al merutuki perbuatannya dalam hati.
Lily mencoba menetralkan keterkejutan atas apa yang terjadi barusan. Bahkan dirinya menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali, Lily merasa kasihan dengan Al yang terus saja minta maaf dan merasa bersalah. Lily tahu Al pasti tidak ada maksud lain, tapi Lily benar hanya merasa terkejut saja, saat dia dicium oleh laki-laki lain selain Jason.
Lily menepuk kepalanya pelan,"Lupakan dia Lily! Laki-laki sepertinya tidak pantas untuk kau cintai, ingat dia sudah menyakitimu," kata Lily dalam hati saat kembali mengingat sosok Jason.
"Lily jangan seperti itu! Aku benar-benar minta maaf," kata Al semakin merasa bersalah saat dia melihat dengan tiba-tiba Lily menepuk kepalanya, ya walaupun mungkin tidak sakit karena Lily menepuknya sangat pelan, tapi tetap saja Al merasa bersalah, Al mengira jika Lily seperti itu karena apa yang tadi dia lakukan.
"Lily!" Panggil Al lagi saat tadi gadis itu tidak merespon perkataannya.
"Ah iya kenapa Kak? Oh soal tadi, lupakan saja, aku tahu Kak Al tidak bermaksud seperti itu," kata Lily setelah sadar dari lamunannya.
"Jadi…" Al tidak melanjutkan ucapannya, dia ragu untuk menanyakan jika Lily tidak akan kan mencabut kesempatan yang tadi dia berikan pada Al.
"Jadi.."Ucap Lily mengernyitkan dahi bingung sambil menunggu kelanjutan apa yang akan pria itu katakan.
"Jadi kamu tidak akan mencabut kesempatan yang tadi kamu berikan padaku kan?" Tanya Al ragu.
Lily tersenyum, "Tentu saja tidak, aku kira kenapa," kata Lily tertawa karena baru kali ini dia melihat Al begitu gugup, padahal biasanya pria itu terlihat tenang dalam keadaan apapun.
"Kau tahu Kak, kau terlihat lucu saat gugup," kata Lily melanjutkan tawanya.
Al menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat Lily menertawakannya.
"Sudah hentikan jangan tertawa terus!" Al kini mengerucutkan bibirnya, bukannya berhenti, tawa Lily semakin menjadi.
Al hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Lily ke rumahnya.
***
"Kemana dia?" Tanya Jason dalam kepada dirinya sendiri saat tidak lagi melihat Lily. Karena teringat kejadian saat bersama Lily membuatnya tidak fokus dan kehilangan jejak gadis itu.
Jason kemudian menanyakan pada pelayan yang lewat di depannya, dan kebetulan pelayan itu yang tadi melayani Lily dan seorang pria yang Jason yakini bernama Al, Al itu. Dan pelayan mengatakan jika tamu tadi sudah pergi 5 menit yang lalu.
Jason langsung berlari keluar menuju tempat parkiran mobil tapi dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan Lily.
"Kemana kau sebenarnya gadis aneh, kenapa kau masih saja berniat untuk menemui pria itu?" Gumam Jason sambil menengok kanan kiri.
Setelah dia tidak menemukan apa yang dicarinya, Jason memutuskan untuk menuju ke mobilnya untuk segera meninggalkan tempat itu.
Mood Jason benar-benar buruk, setelah selesai rapat di restoran dan melihat pemandangan yang membuat dirinya terasa ingin meledak. Bahkan yang lebih parahnya dia harus kehilangan jejak dua orang itu, saat dirinya mengingat kejadian bersama gadis yang tadi dia melihat berpelukan dengan pria lain.
Jason kini melajukan mobilnya untuk kembali ke kediaman William Anderson, karena Tuan Mudanya meminta dirinya untuk ke sana.
Tapi di jalan tepatnya saat lampu merah, Jason menghela nafas panjang, menatap sekeliling sambil menunggu lampu kembali berwarna hijau.
Jason melihat mobil di sampingnya, yang menjadi perhatiannya bukan karena mobil itu, tapi seseorang yang ada di dalamnya, dia mengenal seseorang itu, dia gadis yang tadi dia lihat di restoran, dan di kursi kemudi samping gadis itu gugup juga pria yang sama, pria yang dia lihat sedang memeluk gadisnya.
Bolehkah Jason menyebut Lily gadisnya jika pria itu sebelumnya telah menolaknya, bahkan berkata jika dia tidak mungkin menyukai gadis itu? Tapi kenapa sekarang Jason harus marah saat dia melihat tiba-tiba pria itu mengecup bibir Lily? Jason mencengkeram erat kemudi, kini dirinya semakin merasa kesal saja, ingin rasanya dia menghadang mobil itu dan membuka paksa pintu mobil kemudian menarik Lily dan membawa bersamanya. Tapi apakah Jason berhak untuk itu setelah dia menolaknya? Hingga akhirnya kemudian Jason langsung melajukan kembali mobilnya setelah lampu kini sudah berwarna hijau.
Jason bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan menyalip banyak mobil yang dirasa menghalangi jalannya.
"Berani sekali kau melakukan itu dengan pria lain selain aku?" Marah Jason dalam hati.
Perjalanan yang biasa ditempuh selama 30 menit kini bisa Jason tempuh hanya dalam waktu 10 menit.
"Kak," sapa Liora yang juga baru turun dari mobil.
Jason tidak membalas sapaan Liora dan berlalu begitu saja, tujuan utama hanya satu yaitu dapur, Jason ingin langsung mendinginkan isi kepalanya dengan meminum minuman dingin.
Liora menatap sendu, punggung Jason yang kini sudah berjarak cukup jauh dengannya. Kemudian Liora melangkah untuk mengikuti kemana pria itu akan pergi.
Begitu sampai dapur, Jason langsung meneguk segelas penuh air dingin.
Liora yang mendapati Jason di dapur sedang minum, langsung berjalan mendekat menghampirinya.
"Kak, apa terjadi sesuatu?" Tanya Liora yang berdiri di samping pria itu.
"Tidak ada," jawab Jason datar kemudian kembali mengambil air putih dan membawanya ke meja makan meninggalkan Liora.
Liora mengikuti Jason dan menarik kursi tepat di sebelahnya. "Apa Kak Jason lapar? Kalau iya biar aku buatkan makanan ya, jangan cuma minum air saja, nanti perut Kak Jason bisa-bisa kembung," kata Liora yang hendak bangun dari duduknya.
Jason kemudian menahan langkah Liora dengan memegang pergelangan tangan gadis itu. Liora terdiam apalagi saat tiba-tiba pria yang disukainya itu langsung memeluknya, tubuh Liora terasa membeku. Liora benar-benar tidak menyangka jika saat ini dirinya ada di dekapan Jason. Hingga tanpa sadar sudut bibir Liora melengkung ke atas.
Dan tanpa mereka sadari jika saat ini ada seseorang yang melihat apa yang mereka berdua sedang lakukan.