"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Suara Miranda
Hal yang paling menyakitkan dalam dunia percintaan adalah ketika perasaan cinta kita tidak mendapat balasan dari orang yang kita cintai, atau lebih tragisnya kita tak dapat memiliki raganya.
Begitulah yang kurasakan saat ini. Telah lama mencintai, namun tidak kunjung mendapat balasan dari orang yang kucintai.
Lelaki itu bahkan bisa sangat dekat jaraknya denganku, tapi sayangnya ia tidak pernah sekalipun memandangku sebagai perempuan yang patut untuk berada disisinya sebagai pasangan hidupnya.
Jonathan Prasetya, lelaki yang berhasil memenangkan hatiku sejak kami sama-sama berada di bangku SMA. Karena kebaikan dan perhatiannya, aku berhasil melewati masa-masa tersulit dalam hidupku.
Sebagai anak tunggal dari seorang pengusaha sukses di bidangnya, aku termasuk kategori anak yang beruntung. Begitulah pemikiran orang-orang. Namun tidak bagiku, nyatanya harta saja tidak membuatku bahagia. Sementara kasih sayang dan cinta tidak aku dapatkan sempurna dari kedua orang tua ku.
Hanya pertengkaran demi pertengkaran dari mama dan papa yang seolah menjadi sarapan setiap pagi untukku. Tidak pernah sedikitpun mereka terlihat akur di depanku. Selalu ada saja yang membuat mereka bersitegang. Membuatku semakin frustasi jika berlama-lama di dekat mereka.
Tidak ada perhatian layaknya orang tua kepada anaknya. Tidak ada ciuman selamat tidur dari mereka berdua seperti yang dilakukan orang tua lain kepada anaknya. Dan tidak ada pertanyaan untuk sekedar menanyakan bagaimana dan apa yang kulakukan selama di sekolah. Mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga lupa kalau ada hati yang harusnya mereka jaga.
Rasanya aku seperti hidup sendiri di rumah ini. Kecuali Bik Yanti seorang asisten rumah tangga di rumahku yang selalu memperhatikan setiap kebutuhanku. Tapi tetap saja itu tidak cukup bagiku.
Lingkungan ini membentuk kepribadianku menjadi seorang gadis yang anti sosial. Tak ada teman bahkan sahabat dalam kehidupanku. Setiap hari kuhabiskan waktu di sekolah hanya di kelas jika jam pelajaran sedang berlangsung dan kalau istirahat aku memilih pergi ke perpustakaan untuk sekedar membaca beberapa buku.
Hingga suatu hari terjadilah pertengkaran hebat antara mama dan papa yang berujung pada keputusan untuk bercerai.
"Aku ingin kita bercerai," teriak mama kala itu.
"Baik. Hari ini juga aku jatuhkan talak tiga padamu." Begitu jawaban papa selanjutnya.
Aku yang saat itu sedang belajar di kamar, hanya bisa menangis dengan menutup erat mulutku agar tidak terdengar oleh mereka. Namun apa gunanya juga, toh walaupun aku menangis sekeras-kerasnya dihadapan keduanya, tidak akan pernah merubah keputusan mereka untuk saling meninggalkan.
***
Hari ini mama dan papa telah resmi bercerai. Aku lebih memilih ikut mama dibandingkan papa yang saat itu telah menikah lagi secara sirih dengan istri keduanya. Yah, hal itu menjadi alasan terbesar mama untuk berpisah dari papa. Jika mengingat perempuan mana yang akan rela jika harus berbagi hati dengan perempuan lain.
Perceraian ini membuat aku depresi sehingga menimbulkan pemikiran buruk bagi diriku. Bunuh diri itulah pikiran buruk yang terlintas dalam benakku.
Berdiri di sisi jembatan gantung yang tak banyak lalu lalang kendaraan, aku mencoba mengakhiri hidupku. Air mata keluar begitu saja, mengingat segala kenangan manis saat aku masih kecil. Mama dan papa sangat harmonis, mereka terlihat begitu saling mencintai. Tapi kini mereka seakan seperti musuh bebuyutan yang tak akan pernah saling menyatu.
"Apakah cinta itu ada masa kadaluarsanya? Mengapa mereka kini saling membenci? padahal dulu mereka begitu saling mencintai," ucapku lirih dengan air mata yang terus jatuh dan membasahi wajahku.
Posisiku sudah berdiri tegap di atas besi jembatan. Merentangkan tangan bersiap untuk mengakhiri hidup.
Saat aku ingin menjatuhkan diri, tiba-tiba tangan hangat seorang lelaki menarikku secara kuat sehingga aku terjatuh dan masuk dalam pelukannya. Dialah lelaki yang kucintai sampai saat ini, Jonathan Prasetya yang merubah namanya menjadi Hafizh Prasetya.
***
Sejak saat itu aku dan Hafizh menjadi begitu dekat. Kehadirannya menjadikan hariku lebih berwarna kembali. Segala perhatian ia berikan padaku. Membuatku merasakan debaran cinta yang begitu kuat untuknya.
Namun aku tidak percaya diri mengatakan itu padanya. Dan memutuskan memendamnya serta menunggunya untuk menyatakan perasaan yang sama untukku.
***
Hari kelulusan pun tiba. Kami sama-sama merayakannya dengan memberikan kenang-kenangan berarti.
"Mir, setelah ini kau akan kemana?" Tanya Hafizh saat itu.
"Aku ingin melanjutkan studiku di bidang kedokteran spesialis kandungan Jo."
"Wah, sama dong Mir. Kita ke kampus yang sama yah?" Ia kini mengubah posisi duduknya menghadapku.
"Aku akan diajak mama pindah ke Paris Jo. Melanjutkan pendidikanku disana."
Seketika wajah Hafizh berubah pias. Ia seperti tidak rela jika aku pergi dari sisinya.
Berkuliah di Paris bukanlah keinginanku. Aku hanya mengikuti mama yang saat itu memutuskan untuk menikah dengan pria bule asal kota yang terkenal dengan menara Eiffel-nya.
"Kamu bakalan ninggalin aku Mir." Ia meletakkan tangannya tepat diatas kepalaku. Setelahnya ia menggenggam tanganku cukup erat.
"Maaf Jo. Aku terpaksa." Aku menatap Hafizh penuh arti.
***
Kini disinilah aku. Duduk ditepian ranjang dengan perasaan hancur lebur karena kekasih hatiku kembali menorehkan luka yang sama kepadaku.
Setelah dulu ia melukaiku dengan menikahi Amira, saat ini Hafizh kembali menyakitiku dengan mengatakan akan menikahi Rianti. Seorang karyawan perempuan yang bekerja di kliniknya.
Hafizh bahkan menampakkan kebahagiaannya di hadapanku saat menyatakan bahwa ia akan menikah dengan Rianti. Benar-benar membuatku begitu marah terhadapnya dan juga Rianti, perempuan janda yang menurutku tak punya harga diri karena berani merebut Hafizh dariku.
Kuambil ponselku dari nakas yang tidak berada jauh dari aku berada saat ini. Mencari kontak Hafizh dan menelponnya, berharap ia membatalkan pernikahannya dengan Rianti, dan kemudian beralih untuk menikahiku.
📞📞📞
[Halo] sapa Hafizh pelan.
Mendengar ia membalas telponku, membuatku sedikit bahagia.
[Jo, aku mohon datanglah padaku, sudah lama aku menunggumu]
[Tinggalkan Rianti, dan datanglah padaku, menikahlah denganku sayang] dengan percaya dirinya aku meminta ia meninggalkan Rianti.
[Maaf Miranda, saya tidak bisa] balas Hafizh. Yang berhasil membuat hatiku hancur remuk.
Aku semakin frustasi. Lelaki yang dulu pernah begitu menyayangiku, kini telah berubah. Mungkin aku terlalu bodoh, karena dulu pernah meninggalkannya. Tangisku tak terbendung, bersamaan dengan pikiran buruk untuk mengakhiri hidup.
Sekian lama aku tetap mempertahankan rasaku untuknya. Maka rasanya untuk apa lagi aku hidup jika ia bahkan tidak menganggapku ada lagi.
[Kalau kau tidak datang padaku, ma-maka lebih baik aku mati saja, huhu] teriakku dengan tangis yang pecah.
[Aku mencintaimu Jonathan, sejak dulu aku mencintaimu] aku semakin histeris karena penolakannya.
[Tapi saya tidak memiliki rasa seperti itu padamu Mir, saya menganggapmu hanya sebagai sahabat tidak lebih]
Apa? Bahkan ia berkata hanya menganggapku sebagai sahabat? setelah banyak waktu yang kita lewati bersama, ia sama sekali tidak memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat untukku?
[Kenapa Jo? Apa kurangku sehingga kau tidak bisa untuk mencintaiku]
[Kau tidak memiliki kekurangan Mir, hanya saja rasa saya hanya sebatas sahabat untukmu] ucap Hafizh.
[Dan harus aku kabari padamu, bahwa saat ini aku sedang bersama Rianti, istriku]
Deg.
Pernyataan itu, berhasil membungkamku. Pikirku setelah pernyataan cintaku beberapa hari lalu akan merubah pikirannya. Tapi ternyata tidak. Bahkan sekarang ia telah sah menjadi suami dari wanita yang sangat aku benci.
[Apa? Istri? Arrrrrghhhhh] erangku kuat sembari melempar ponselku hingga mengenai kaca rias yang ada di kamarku.
Tangisku semakin menjadi saat tau kenyataannya bahwa kini Hafizh telah menjadi milik perempuan lain. Lagi dan lagi aku harus menelan kenyataan pahit bahwa cinta lamaku saat ini berada dalam pelukan wanita lain.
"Arrrrrghhhhh, apakah saat ini kau sedang bercumbu dengannya Jo? Hiks hiks hiks." Nafasku memburu, amarahku membuncah.
"Baiklah. Berbahagialah dengannya Jo. Dan aku lebih baik mati saja, aaaarrgghhh." Batinku semakin sakit. Aku benar-benar tak mampu lagi untuk sekedar bertopang dengan kedua kakiku.
Dengan kekuatan yang masih tersisa, aku beranikan diri berjalan kearah dapur. Mengedarkan pandangan untuk mencari satu benda yang dapat merenggut nyawaku. Dapat!
Akhirnya aku menemukannya, pisau kecil yang biasa dipakai Bibi untuk memotong berbagai macam jenis sayuran dan buah-buahan.
Sebilah pisau kecil kini sudah tergenggam erat dalam kedua tanganku.
"Haha, kau akan menyesalinya Jo, setelah kau melihat jasadku sudah tak bernyawa. Haha," ucapku lirih sambil mendekatkan pisau tersebut pada pergelangan tanganku. Dan kemudian bersiap untuk menyayat beberapa nadi yang berdetak disana.
"Miranda!" Teriak mama yang kini sudah berada di depan pintu dapur.
"Jangan mendekat ma. Miranda mau mati saja!" Teriakku tak kalah keras.
"Apa yang kamu lakukan nak? Lepaskan pisau itu!"
"Tidak mau. Untuk apa Mira hidup, kalau Jonathan bahkan tidak lagi menganggap Mira ada ma. Bahkan kini ia sedang menghabiskan malam bersama perempuan lain!"
"Tapi jangan menyakiti dirimu nak. Ini salah!" Mama mulai terisak.
"Sakitnya raga masih bisa Mira tahan ma. Tapi tidak dengan sakitnya hati. Mama tau kan bagaimana perasaan Mira ke Jonathan?"
Mama kemudian berlari cepat kearahku. Memegang kedua tanganku dan memaksa untuk menjatuhkan pisau kecil dari tanganku. Namun sayang tenaga mama kalah kuat dari diriku. Dengan satu hentakan aku berhasil membuat mama terjatuh. Dan segera berlari menuju kamar serta mengunci diri di dalamnya.
"Nak buka pintunya. Mama mohon buka pintunya!" Terdengar suara rintihan Mama dari luar pintu kamar. Aku tahu Mama begitu cemas dan khawatir, bahkan sekarang, wanita yang sudah melahirkanku itu menangis terisak-isak, membujukku agar membuka pintu.
"Mira mau Jonathan ma. Hanya Jonathan," teriakku dengan posisi berjongkok di sudut ruangan.
"Iya nak, mama mengerti. Mama akan bujuk Jonathan nanti. Buka pintunya nak. Mari kita bicarakan semuanya dengan baik-baik." Mama masih terus berusaha membujukku. Namun tetap saja aku tidak peduli.
Hatiku semakin perih jika membayangkan Hafizh dan Rianti yang akan melewati malam pengantin mereka malam ini. Hati ini tentu tidak rela. Harusnya aku yang berada di posisi itu, bukannya janda murahan itu.
Tidak terdengar lagi suara gedoran pintu, pun suara mama hilang seiring hilangnya suara ketukan pada pintu kamarku.
Aku benamkan kepalaku pada kedua lututku. Menangis tersedu-sedu berharap Hafizh datang dan memelukku untuk sekedar mengobati luka di hatiku. Aku tenggelam dalam lamunan panjang yang membuatku sejenak berlayar dalam dunia mimpi yang fana.
***
Dor.... Dor... Dor
"Mira, buka pintunya."
Suara gedoran pintu terdengar kembali membuatku sedikit terkejut. Suara itu, aku sangat tau siapa dia. Dia Hafizh!
Setengah berlari aku membukakan pintu untuknya. Kemudian menjatuhkan diri dalam pelukannya.
"Aku tau kau mencintaiku juga Jo. Aku tau kau akan datang kepadaku!" Senyum bahagia terkembang dari kedua bibirku.
"Maaf Mira. Aku kesini karena kasihan pada tante Mariah. Bukan untuk hidup bersamamu," kata Hafizh yang berhasil menghapus lukisan senyum manis tadi di wajahku.
"Tega kamu Jo. Tega!" Aku tinggalkan dia dan berlari untuk menggapai pisau kecil tadi.
"Kalau begitu biarkan aku mati saja," ucapku mengancam.
"Lepaskan itu Mir. Masih banyak laki-laki yang lebih baik dariku. Jangan bodoh!" Teriak Hafizh.
"Iyah sayang, mama mohon kendalikan dirimu nak. Jangan buat mama khawatir."
"Tidak!"
"Mira, aku mohon. Lepaskan pisau itu. Dan kita bicarakan semuanya secara baik-baik."
Hafizh kini menatapku dengan memohon. Ia terlihat sangat mengkhawatirkanku.
"Asal kau mau berjanji padaku Jo."
Hafizh mengangguk paksa,
"Iya, aku janji." ujarnya.
"Kalau begitu, nikahi aku juga, Jo."
Ekspresi wajah Hafizh berubah, menatapku terkejut.
"Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu, Miranda."
"Aku sangat mencintai Rianti, istriku. Dan berjanji tidak akan pernah mengecewakannya."
"Baiklah, maka bersiaplah melihat kematianku Jonathan,"
"Jangan lakukan itu Mira!" Pekik Hafizh.
"Kalau begitu nikahi aku Jo. Tidak peduli kau mencintaiku atau tidak. Hanya nikahi aku saja."
"Aku tidak bisa Mira. Tidak bisa!" Mata Hafizh menatap penuh amarah kearahku.
"Kalau begitu aku mati saja!" Kembali aku mengancamnya dengan menempelkan pisau kecil itu tepat pada nadi yang berada di pergelangan tanganku.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Silahkan! Yang jelas aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Rianti. Aku hanya mencintai istriku Mira. Dan sampai kapanpun hanya dia ratu dalam kehidupanku," sahut Hafizh jelas.
"Tante mohon nak Jo. Setidaknya lakukan ini demi Tante." Mama menangis memohon pada Hafizh.
"Tante, maafkan Jo. Jo tidak bisa. Tante taukan bagaimana rasanya di khianati suami?"
"Bahkan Tante saja tidak terima dan memilih bercerai dengan om Frans, ketika tau om Frans telah menikah lagi. Begitupun denganku Tante. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur."
"Aku sangat mencintai istriku Tante Mariah. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menyakitinya."
Kata-kata Hafizh bagai busur panah yang mengarah tepat ke jantungku. Melukaiku bahkan mampu membunuhku secara perlahan. Tidak ada lagi harapan, Hafizh benar-benar memiliki pendirian yang kuat.
Sreeek.
Pisau kecil itu berhasil merobek nadi di pergelangan tanganku. Darah segar mengalir dengan begitu deras. Membuatku sedikit pusing dan sesaat kemudian jatuh tak sadarkan diri.
Bersambung 😁😁
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝