Tidak update harian 🙏🙏🙏
Adrian, seorang pria tampan yang mampu membuat siapapun terpesona saat memandangnya. Namun sikapnya yang dingin dan arogan membuat siapapun takut jika harus berhadapan dengannya. penolakan dari wanita yang dia cintai membuatnya menutup hatinya rapat-rapat.
Anindya, wanita muda yang ceria, penuh semangat dan selalu mampu membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Namun kepergian orang-orang yang di cintainya, membuatnya kesepian. Apakah ia mampu bertahan?
Mereka awalnya tidak saling mengenal. Namun karena suatu hal, mereka berdua terpaksa harus saling mengenal dan menikah....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa wanita itu?
Jika kamu ingin bahagia, jangan biarkan masa lalu mengusik mu. Kamu boleh melihat kebelakang, namun jangan membawanya kembali.
- Nazril irham
****************
Sebulan kemudian......
Adrian tampak sibuk seperti hari-hari biasanya. Ia selalu punya banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Sekalipun ia punya sekertaris dan asisten pribadi, ia tetap ingin turun tangan langsung pada perusaan yang diwariskan oleh orangtuanya itu kepada dirinya. Ia tak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa padanya. Perusahaan yang sudah berdiri sejak lama, yang kini semakin berkembang pesat semenjak Adrian memegangnya.
Selain bisnis pertambangan, ia punya banyak anak perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, resort dan juga kontruksi. Untuk urusan pekerjaan ia tak pernah main-main. Namun, jika menyangkut urusan asmara, ia rasanya tak punya hasrat lagi untuk mencintai seorang wanita.
Ia pernah merasa terluka begitu dalam. Namun, ia tak pernah berniat untuk mengobati luka itu. Hanya mampu menahan perih hingga akhirnya dirinya sendiri yang tersiksa.
Hari ini tampaknya pria itu tak terlalu sibuk, karena ia sedang sendirian saja di ruangannya tanpa ditemani Romi atau siapapun. Ia sedang menikmati secangkir kopi buatannya sambil sesekali menatap layar laptop yang sedang menyala dihadapannya.
Ia meletakkan cangkir yang dipegangnya itu kembali keatas meja. Tampaknya ia sedang tidak ingin menyentuh pekerjaan apapun saat ini. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan kearah jendela besar yang menampakkan pemandangan kota diluar sana. Sebagian didominasi dengan bangunan-bangunan tinggi.
Ia berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Entah apa yang sedang pikirkan. Namun seketika pandangannya teralihkan kepada seorang wanita yang tengah berlarian dibawah sana. Ia tampak tergesa-gesa dengan beberapa wadah minuman ditangannya. Belum lagi beberapa bungkusan plastik yang ia pegang di tangan satunya.
Sejak kapan ia jadi pesuruh di perusahaan ini? Bukankah aku menempatkannya di ruang penyimpanan? batinnya.
Ia lalu berjalan keluar ruangan untuk menemui wanita itu. Bahkan Maura yang sedang fokus pada pekerjaannya, sempat kaget melihat atasannya itu tiba-tiba keluar dari ruangannya.
"Ada apa, tuan? Apa anda butuh sesuatu?" tanyanya.
Adrian hanya mengacungkan tangannya seolah sedang memberitahu bahwa ia tidak sedang membutuhkan sesuatu. Maura yang kebingungan, memilih untuk duduk kembali ditempatnya dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Membiarkan atasannya itu melakukan keinginannya.
Adrian masuk kedalam lift dan turun ke lantai dasar. Entah kenapa ia bisa melakukan hal itu. Peduli dengan sesuatu yang sebenarnya tidak penting untuknya.
Adrian turun kelantai dua karena sepertinya wanita itu berada di sana. Sesampainya di sana, ia melihat wanita itu memberi makanan dan minuman yang dibawanya kepada beberapa karyawan yang sedang bekerja di sana. Namun, ia hanya mengawasinya secara diam-diam. Ia tidak menegur ataupun bertanya padanya. Ia hanya memperhatikannya dari kejauhan.
Setelah selesai, ia kembali ke lantai dasar. Adrian masih terus mengikutinya. Ia benar-benar penasaran dengan wanita itu. Ia masuk ke ruang kesehatan yang ada di ujung lorong. Menemui seorang pria paruh baya yang sedang duduk di atas ranjang dengan kaki yang bengkak. Ada dokter perusahaan juga di sana yang tampak sedang mengobati kakinya dengan mengoleskan krim pada area yang bengkak.
"Paman, aku sudah memberikan semua pesanannya pada mereka. Jadi paman tidak perlu cemas. Setelah ini, paman pulang saja ke rumah untuk beristirahat. Biar aku yang mengurus masalah perizinan paman." jelas Anindya pada pria itu.
"Tapi.. paman masih punya banyak pekerjaan, nona. Paman tidak bisa meninggalkan tanggung jawab paman begitu saja." bantahnya.
"Nona Anindya benar. Paman butuh istirahat agar bengkak di kaki paman bisa segera sembuh. Jika paman memaksakan diri untuk tetap bekerja, maka bengkaknya akan semakin parah. Perusahaan pasti akan mengerti dengan kondisi paman. Nanti akan saya buatkan surat keterangannya."
"Tapi...." Ia hendak membantah ucapan dokter itu namun terhenti begitu ia melihat seseorang masuk kedalam ruangan itu.
"Paman tidak perlu cemas. Pulanglah dan beristirahat! Ada cukup banyak karyawan yang bisa menggantikan tugas paman. Datanglah kembali jika keadaan paman sudah kembali membaik." perintah Adrian.
"Baiklah tuan! Terima kasih banyak." ucapnya setelah mengenali pria itu.
"Benarkan paman! Paman tidak perlu cemas. Ayo! Aku akan mengantarkan paman keluar." ucap Anindya hendak memapahnya.
"Tidak. Kau kembali keruangan mu. Nanti akan ada orang yang akan mengantarkan paman pulang." perintah Adrian.
"Baiklah. Jaga diri paman, ya! Aku kembali bekerja dulu." pamitnya.
"Iya. Terima kasih karena sudah membantu paman." ucap pria baya itu.
Anindya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia pamit pada pria baya itu dan juga Adrian. Begitupula dengan Adrian, ia juga pergi dari sana mengikuti Anindya yang berjalan mendahuluinya.
Gadis ini selalu membuatku terkejut. Entah sebenarnya dia adalah seorang gadis yang polos atau itu hanya sebuah topeng yang menutupi sifat aslinya.
Adrian kembali ke dalam ruangannya.
***********
"Apa anda yakin ingin ke sana, nona?" tanya seorang pria saat sedang menyetir mobil sport mewah berwarna silver itu kepada wanita yang duduk di belakangnya.
Wanita itu sangat cantik. Ia memiliki wajah putih mulus bak porselen tanpa cacat sedikitpun. Ia mengenakan kacamata berwarna hitam. Dengan bibir merah yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Waktu itu ia mengabaikan ku. Kali ini ia pasti akan menerimaku." Ucapnya yakin.
Tak berapa lama kemudian, mobil sport itu berhenti di pelataran parkir sebuah perusahaan. Perusahaan itu adalah milik Adrian. Dengan sigap pengemudi itu turun dari mobil dengan payung ditangannya. Ia membuka pintu belakang dan membuka payung itu untuk memayungi wanita itu. Menghindarkan wanita itu dari silaunya cahaya matahari terik siang ini. Wanita itu tampak memberikan sebuah kantong kertas berwarna coklat kepada pria itu agar ia membawanya.
Ia melenggang dengan sempurna, ibarat model yang sedang berjalan di atas catwalk. Ia meliuk-liukkan tubuh rampingnya dengan angkuh. Seperti tak ada satupun wanita yang bisa disejajarkan disampingnya.
Pria itu menutup payungnya saat mereka sudah memasuki area perusahaan. Karena ini jam makan siang, para karyawan tampak berada di luar ruangan mereka untuk makan siang. Namun mereka seketika menghentikan langkahnya begitu melihat wanita itu masuk. Seakan melihat bidadari yang baru saja turun dari peraduannya.
Siapakah wanita itu?
Pertanyaan itu ditujukan oleh sebagian orang. Dan sebagian lagi mungkin sedang mengagumi kecantikannya. Tak terkecuali Anindya yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya.
Ia tampak takjub melihat kecantikan sempurna wanita itu. Ia terdiam di tempatnya. Tidak berani bergerak sedikitpun. Wanita itu masuk kedalam lift yang dikhususkan untuk presiden direktur perusahaan ini.
Tampaknya ia begitu percaya diri. Mungkin ia ada janji dengan pria itu.
Siapa wanita itu? Apa dia punya hubungan dengan tuan Adrian? batinnya.
(Natasha)
************
*
*
*
*