Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Still With Me
Begitu menerima panggilan dari iblis lelaki itu, segera kumatikan daya pada ponsel berwarna rose gold milikku. Aku tak pernah menyangka bila ia akan berani menghubungi nomor ponsel ini, jangan ditanya ia bisa mendapatkan kontak teleponku darimana? 'Ku teringat beberapa waktu lalu pria itu dengan sengaja mengutak-atik isi gawai milikku, pasti ia dengan sadar telah menyalin nomer telepon yang kubawa saat ini.
"Mbak, ibu menyuruh kita pulang! Mbak Della mematikan telepon ya?" ucapan dari Panca mengacaukan lamunanku kali ini.
Kami berdua memang sedang mengistirahatkan tubuh kami dengan bersantai di depan sebuah outlet minuman dingin selepas berbelanja untuk kebutuhan budhe. Aku dan Panca bersedia membantu wanita yang bernama Retno tersebut untuk berbelanja beberapa kebutuhan dasar dalam membuat kue.
Sosok Budhe Retno memang sangat akrab denganku, beliau merupakan pemilik rumah yang selama ini kutempati. Dan Budhe Retno serta putra bungsunya Panca sering menolongku selama ini.
"Ya udah deh Pan kita pulang, toh sudah lama juga kita duduk di sini!" ajakku pada Panca untuk segera beranjak pergi keluar kedai kopi tersebut.
"Mbak Indah ... " Panca memanggilku dan mengulurkan sebuah helm yang tengah bertengger di kaca spion motornya.
Aku dan Panca keluar memang menggunakan motor kesayangan adik angkatku itu. Meski tak senyaman bila menggunakan mobil, namun berkendaraan dengan motor jauh lebih efektif untuk mengatasi kemacetan kota metropolitan ini.
Jarak toko bahan baku kue memang tak jauh dari rumah Budhe Retno, tapi yang membuat perjalanan kami berdua memakan waktu yang cukup lama yakni aku dan Panca mampir ke tempat asyik yang sering digunakan nongkrong oleh anak muda.
**
Kami berdua yakni Panca dan aku telah disambut oleh wanita yang sering kupanggil dengan sebutan Budhe itu. Wajahnya tampak berseri-seri sangat jauh dari kesan khawatir seperti yang dikatakan oleh Panca tadi di telepon. Apa Budhe Retno sengaja ingin memarahi kami berdua karena pulang terlambat? Beliau memang sering memarahi Panca, tak jarang Panca akan berlali ke rumahku untuk bersembunyi dari amukan ibunya.
"Maaf Budhe, tadi kami berdua mampir ngopi," Aku berinisiatif meminta maaf serta menjelaskan terlebih dahulu agar emosi dari wanita yang telah melahirkan Panca itu tidak meledak-ledak.
"Nggak papa," sahut budhe lalu membantu kami berdua membawakan belanjaan beliau untuk dibawa masuk ke dalam rumahnya.
Tak bisa diduga sebelumnya, aku dan Panca hanya saling pandang dan menatap punggung wanita paruh baya tersebut masuk ke dalam rumahnya.
"Kurasa Ibu sedang mempermainkan kita Mbak, mana mungin ibuku seperti itu?" bisik Panca pelan di sampingku karena tak ingin budhe mendengarkan perkataannya.
"Atau Budhe sedang kesambet Pan?" tebakku mengenai sikap budhe yang lain tak seperti biasanya.
"Nak Indah, tadi ada orang yang mencari kamu Nak. Dia mengatakan calon suami kamu!" ucapan dari Budhe Retno itu menghalangi langkahku keluar dari rumah beliau setelah meletakkan beberapa kantung berisi belanjaan.
"Andrian?"
"Bukan, bukan dokter gigi itu Nak! pria itu dokter dan menjanjikan akan menggratiskan semua tagihan pengobatan pada rumah sakitnya." Dengan berapi-api, Budhe Retno menceritakan perihal pertemuannya dengan pria yang mencariku.
"Jangan dengarkan ocehan pria sialan itu Budhe!" pungkasku menutup pembicaraan dengan budhe dengan arah tak jelas ini.
"Dokter yang waktu itu menerima panggilanku kala Mbak Indah berobat ya?" Panca seakan tak mau kalah, putra bungsu dari Budhe Retno itu menambah panjang pembicara tak bertepi ini.
"Udah deh Pan, jangan berurusan dengan pria jahat itu!"
Lalu kulanjutkan kaki ini melangkah keluar dari kediaman kedua orang yang saling pandang itu.
Entah mendapatkan keberanian darimana hingga Syadam pergi ke rumahku? Sudah kuputuskan bahwa aku tak ingin lagi bersinggungan dengan pria yang bernama Syadam itu. Lebih baik, aku tidak melihatnya sama sekali dengannya. Meski telah kutahu bahwa ia masih mencariku, hati ini masih bersikukuh tak ingin menerima kehadirannya kembali.
"Nduk, cah ayu! jangan mengutuk kebaikan orang Nak. Dia datang baik-baik ke sini, bahkan memberikan proyek pada budhemu ini. Kamu tahu sendiri bukan, bila budhe harus mencari banting tulang demi mencukupi kebutuhan anak-anak?"
"Tapi Budhe, Syadam sudah menyakiti hati Indah ... " Meski Budhe Retno berusaha meyakinkan aku bahwa Syadam telah berbuat tulus pada kami, namun hati ini masih enggan untuk membuka hati untuknya.
"Nak Syadam memberi budhe kesempatan untuk menyediakan snack sehat untuk pasien rawat inap!"
Nah ini, pasti Syadam telah menyogok Budhe Retno agar bersedia membujuk diriku. Dengan iming-iming proyek serta pengobatan gratis, budhe pasti akan berbalik dan berpihak mendukung Syadam daripada aku. Aku ini telah lama mengenal budhe, dan menganggap ibu Panca itu sebagai ibu kandungku sendiri. Tapi mengapa wanita yang telah menyewakan rumahnya padaku ini tega berkhianat?
"Ya sudah terserah Budhe saja,"
Dengan memendam perasaan dongkol, aku pun pulang menuju rumahku. Ku hidupkan gawai yang selama ini masih non aktif karena menghindari panggilan dari dokter sialan itu.
Betapa terkejutnya aku, bahkan diri ini tak mampu berkata-kata lagi melihat puluhan panggilan yang masuk ke ponselku. Bukan hanya panggilan suara saja, beberapa pesan juga masuk berturut-turut pada aplikasi perpesanan berlogo telepon itu.
"Mati aku .... "
Segera kusambar kunci mobil yang bersemayam pada laci mejaku. Lalu ku tarik sebuah sweater rajut buatan ibuku sendiri. Jantungku berdegup kencang, dan bergegas menuju Bandara. Karena kedua orang tuaku telah mengatakan telah berada di dalam pesawat beberapa menit yang lalu.
Ini semua gara-gara Syadam, dokter syaraf itulah yang menyebabkan aku menonaktifkan poselku karena gangguan darinya. Karena ia pulalah aku tak sempat bersiap-siap menjemput ayah dan ibuku.
"Mau ke mana Indah?" Budhe tampak mengkhawatirkan diriku kala melihat, kepanikanku.
"Ke Bandara Budhe, ayah dan ibu mau datang!" sahutku tanpa memedulikan wanita yang sedang menyiram bunganya tersebut.
"Loh, udah mau magrib loh! biar Panca temani ya?" Budhe menawarkan bantuan padaku, aku tahu beliau sangat mengkhawatirkan keadaanku. Bagaimanapun juga aku ini wanita tak baik bila malam-malam keluyuran sendirian! seperti itulah nasehat dari Budhe Retno padaku.
**
Aku dan Panca duduk di terminal kedatangan domestik menunggu kedatangan kedua orang tuaku. Panca bersenandung kecil sedangkan aku hanya mengayunkan kedua kakiku kedepan dan kebelakang mengikuti irama nada Panca.
Memang seperti itulah kami bila bersama, selalu saja ada hal tak penting yang kami lalukan bila sedang bete atau sedang gabut.
"Ehem ... " Suara deheman yang kukenal itu sungguh menganggu kegabutanku bersama dengan Panca.
Tuhan, mengapa iblis ini bisa sampai ke sini?
Akan lebih berbahaya lagi bila kedua orang tuaku melihatnya.
...****...
Ada mata yang tak mampu terpejam di ujung malam.
Ada seutas senyum yang begitu menawan terus datang menghampiri
Begitu indah namun hanya ilusi.
Ada suara memanggil tanpa rupa
Melambaikan tangan tanpa kata.
Ku kira nyata namun hanya fatamorgana.
Hai kalian wahai pasukan baver?
Sehat selalu ya kalian, aku hanya bisa memberikan hiburan ala kadarnya ini sebagai pelepas penat di kala kesibukan Anda semua.
Nggak bingung 'kan dengan sudut pandangnya? Sadar atau enggak juru ketik udah pindah PoV loh 🤭
"Wes ojo kokehan ngoceh thor, nulis wae sing akeh!" (Aku tahu iki mesti isi hati Mbak Masitah)
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻