NovelToon NovelToon
Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo

Status: sedang berlangsung
Genre:Petualangan / Misteri / Horor / Indigo / Eksplorasi-misteri dan gaib / Mata Batin / Anak Kembar / Hantu / Roh Supernatural
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: othor_si_tomboi

WARNING 📢📢

Dan karena ini lanjutan dari karya di akun sebelah.

Banyaknya keganjilan dari kematian sang ibu, membuat Araxi, Alexa, dan Alex berusaha keras untuk mengungkap segalanya. Selain itu, kemampuan yang diwariskan dari sang ibu membuat mereka bertiga bertemu dan membantu para arwah-arwah gentayangan yang datang.

Araxi si gadis tomboi yang terlihat maskulin mampu membaca pikiran orang lain dan tentunya dia juga dapat melihat makhluk tak kasat mata.

Alexa si gadis pendiam ini masih agak takut bila bertemu dengan para makhluk tak kasat mata, namun diamnya sang gadis tersebut ternyata dapat melihat kejadian yang akan mendatang.

Alex si bungsu yang dingin nan datar tersebut memilik sejuta misteri yang tak seperti ke dua saudara kembarnya. Namun ia juga dapat melihat makhluk tak kasat mata.

Dengan di bantu Albert dan Angel yang berupa arwah pernasaran mereka bertiga pun melewati banyak rintangan dan tantangan dalam hal berhubungan dengan makhluk tak kasat mata.

Ikuti petualangan mereka yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon othor_si_tomboi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Kematian Dukun Itu

Sembari berdehem membuyarkan lamunan dua orang rekannya, ia pun membuka suara untuk bertanya pada dua orang rekannya tentang seorang dukun. “Apa kalian tahu di mana tempat tinggal seorang dukun,” tanyanya dengan tegas.

Salah satu orang rekannya itu pun tersedak asap rokok yang membuatnya menjadi terbatuk-batuk.

Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...

“Apa kau bilang tadi rumah tempat tinggal seorang dukun?” tanyanya balik seraya tertawa cekikikan.

“Kalau nyonya mendengar hal ini, aku pastikan kau tak akan bisa berbicara kembali.” Ancaman bernada serius pada rekannya tersebut.

“Oke ... Oke ... Maaf!” sahutnya dengan mengangkat ke dua tangan. “Kalau untuk itu! Lebih baik nanti aku tanyakan langsung pada keluargaku, karena mereka sering mendatangi dukun tersebut. Yang sialnya seorang dukun yang terkenal tiada tandingannya.”

“Lalu selama ini, apa kau mempercayai ucapan dan tindakan dari seorang dukun itu?” tanya rekan lainnya yang sedari tadi diam menyimak.

“Sejujurnya aku tak terlalu mempercayai hal-hal yang berbau mistis, apalagi seorang dukun yang hanya manusia biasa.” Katanya sembari menghela nafas berat. “Kalau untuk hal-hal gaib aku masih bisa memaklumi, karena salah satu dari keluargaku bisa melihat mereka yang biasa kita sebut hantu.”

“Wah ... Wah ... Aku tak menyangka kau masih saja percaya dengan hantu-hantu itu,” ejek dua orang rekannya secara bersamaan.

Setelah dua orang rekannya tersebut mengejeknya setelah mendengar bahwa ia memanglah sedikit mempercayai kehidupan dunia lain itu ada.

“Tertawalah sebelum kau di pertemukan dengan mereka,” peringatnya dengan dengusan. “Nyonya sudah keluar dari gedung kantor, kalian kalau masih tertawa seperti ini. Aku tak yakin nyonya tidak akan mencurigai kalian.”

Tegurnya tanpa menolehkan dua orang rekannya tersebut berdiam diri, saat mereka mendengar bahwa nyonya mereka itu memang tengah berjalan menghampiri mobil yang di tumpangi oleh mereka.

Hingga beberapa menit kemudian tibalah sang nyonya mereka tersebut menatapnya dengan sorotan mata yang tajam.

“Apa kalian menungguku terlalu lama?” tanya Marista Mayang tanpa berbasa-basi.

“Tidak nyonya,” jawab salah satu di antara mereka. “Ke mana kita akan pergi nyonya?”

“Jalankan saja mobilnya,” perintah Marista Mayang dengan tegas. “Nanti aku yang menunjukkan jalan tempat tujuanku.”

Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi oleh Marista Mayang itu pun meninggalkan gedong perkantoran tersebut menuju rumah tempat di mana dukun itu tinggal.

Ya ia harus segera melenyapkan dukun tersebut, karena telah gagal membunuh seorang yang sangat ia benci. Agar ia bisa merebut posisinya dan mengganti dirinya menjadi istri dari seorang Raymond Wesley Wiratmaja.

Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama, di sebuah apartemen yang di tempati oleh Sean sahabat Raymond tersebut.

Tengah memikirkan perkataan yang mengganjal di pikirannya, entah mengapa ia mulai resah saat istri dari sahabatnya meminta bantuan untuk selalu menjaga dan melindungi sahabatnya itu di mana pun sang sahabat berpijak.

‘Semoga apa yang mengganjal di pikiranku saat ini, merupakan bunga mimpi. Meski pun hatiku mulai meragu semua tentangmu Ka’ bisik Sean dengan sendu sembari memainkan gelas kristal kesukaannya.

Karena pikirannya sedikit kacau dengan terpaksa ia menghilangkannya pikirannya tersebut dengan meminum kesukaannya.

Namun beberapa menit kemudian deringan panggilan masuk ke dalam ponsel pintarnya yang tergeletak tak jauh di mana ia tengah berdiri sambil memutar-mutar gelas kristal tersebut.

Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, mau tak mau ia pun mengambil ponselnya, melihat daftar nama kontak yang memanggilnya itu terkejut bukan main setelah ia membaca nama di dalam kontak tersebut.

Menempelkan ponsel pintar miliknya tersebut, mendengarkan sebuah laporan yang berhasil di dapat oleh anak buahnya yang mana ia perintahkan untuk menyelidiki tentang identitas dari Marista Mayang.

“Apa yang ingin kau laporkan padaku!” tanya Sean to the poin, tanpa bersapa pada seberang telepon.

“Begini bos ini, saya ingin melaporkan tentang penyelidikan yang tengah saya lakukan. Apa bos sudah membaca email yang masuk?” jawabnya sambil bertanya balik pada Sean.

“Aku belum membaca email yang masuk hari ini,” sahut Sean. “Memangnya kau berhasil mendapatkan identitas yang aku minta itu?” tanya Sean sembari memastikan suatu laporan dari anak buahnya tersebut.

“Saya berhasil mendapatkan identitas wanita itu, akan tetapi bos kau harus berhati-hati bila berdekatan dengannya!”

“Apa maksudmu?” beo Sean. “Cepat katakan padaku apa yang telah berhasil kau temukan dari identitas wanita itu,” desak Sean dengan tak sabar.

“Maksud saya tadi bos, hanya untuk mengingatkan pada Anda. Terutama tuan Raymond, karena dari penyelidikan yang berhasil saya dapatkan. Sepertinya wanita sudah lama mengincar tuan Raymond, saya menyelidiki lebih dalam. Bahwa wanita itu juga merupakan salah satu orang yang menyukai tuan Raymond sejak di bangku kuliah, hingga tuan Raymond menikah dengan istrinya. Wanita itu tak menerima semuanya bos, maka dari itu saya tak heran bila wanita itu mengejar tuan Raymond hingga sekarang, bahkan wanita itu melupakan statusnya yang telah bersuami dan mempunyai anak bos.”

Ujar anak buahnya dengan jelas dan padat. Namun yang membuatnya penasaran ialah nama dan anak dari wanita tersebut.

“Lalu apa kau mengerti siapa suami dari wanita itu

?” tanya Sean.

“Tuan Raymond sendiri pun bahkan mengenalnya bos, suami dia adalah tuan Kevin Morgan Adhitya. Rekan bisnis tuan Raymond sendiri bos,” jawab anak buahnya dengan mantap.

“Apa kau yakin dengan semua penyelidikanmu itu?”

“Saya sudah menyelidiki semuanya bos, dan juga saya sedikit heran dengan keadaan tuan Kevin. Seperti hilang bagai di telan bumi, setelah suami dari wanita itu terkena stroke yang di derita oleh tuan Kevin. Menurut saya ada sesuatu yang mengganjal dari sakit yang di derita oleh tuan Kevin.”

“Hem begitu ya!” beo Sean. “Ya sudah kalau begitu, aku minta padamu untuk pantau keadaan Kevin. Jika ada hal yang mencurigakan segera laporkan kembali padaku, juga awasi keberadaan wanita itu sangat berbahaya untuk kehidupan tuan Raymond.”

Perintah Sean dengan tegas serta memutuskan panggilannya secara sepihak, ia pun melamunkan sebuah nama yang terdengar asing di telinganya.

‘Marista Mayang ya? Sepertinya nama dia tak asing di telingaku. Jangan-jangan dia gadis pendiam yang dulunya selalu memperhatikan Raymond? Oh tuhan ini tak mungkin dia yang sekarang sedang mengincar Raymond kembali. Aku harus berbuat apa?’ bisik Sean dengan raut wajah yang terlihat bingung.

Entah mengapa ia semakin menjadi yakin tentang perkataan yang di lontarkan oleh istri sahabatnya menunjukkan tanda mengarah di mana, bahwa istri sahabatnya tersebut sudah mempersiapkan diri menghadapi kematian yang mengintainya.

‘Jika hal tersebut terjadi pada kalian. Aku bersumpah akan tetap mengabdi diriku pada kalian, serta aku akan menjaga dan melindungi anak dan suamimu. Seperti yang kau pinta padaku!’

Kembali lagi pada Marista Mayang beserta ketiga anak buahnya tengah membelah jalanan yang semakin sunyi, hingga kemudian terdengar nada suara dari sang nyonya tersebut.

“Oh iya ngomong apa kau sudah melakukan apa yang telah aku minta saat di telepon itu?” tanya Marista pada ketiga anak buahnya.

“Permisi nyonya, biarkan saya berbicara dengan keluarga saya terlebih dahulu. Untuk menanyakan alamat tempat dukun yang nyonya minta.”

Tanpa menjawabnya dengan gerakan cepat salah dari anak buahnya tersebut, menghubungi keluarganya untuk meminta alamat tempat tinggal dukun baru yang akan ia datangi.

Hingga beberapa menit kemudian mobil yang di tumpangi ya telah sampai ke rumah tempat seorang dukun yang akan segera ia lenyapkan itu.

“Apa kau sudah berbicara dengan keluargamu?” tanya Marista sebelum keluar dari mobil itu.

“Sudah nyonya, mereka mengatakan dukun itu masih menjalankan tugasnya,” jawabnya dengan ragu.

Mendengar hal tersebut sorotan mata Marista mulai tajam saat mendengar jawaban yang terdengar ragu dari anak buahnya itu.

“Kau dengan rekanmu tak perlu mencampuri urusanku, cukup tunjukkan di mana dukun itu tinggal. Jika kau membantah perintahku, tahu sendiri akibatnya,” ucap Marista dengan ancaman yang mematikan.

“Maaf nyonya!”

“Aku tak menerima apa pun dari seseorang yang berani mencampuri urusanku,” sahutnya kemudian. “Setelah dari tempat ini antarkan aku ke tempat dukun yang di katakan oleh keluargamu itu.”

Sahut Marista tanpa menolehkan ke arah anak buahnya yang menatapnya dengan raut wajah yang terlihat bingung.

“Apa di antara kalian ada yang membawa pistol?” tanya Marista.

Dengan patuh salah satu di antara anak buahnya, memberikan pistol yang selalu ia bawa pada sang nyonya itu.

Melenggang dengan santai tanpa ada rasa takut di dalam dirinya, saat berjalan menghampiri sebuah rumah yang terlihat kuno. Namun menyimpan hal mistis di dalam rumah tersebut.

‘Bersiaplah kau dukun sialan, apa kau pikir bisa hidup tenang setelah gagal membunuh wanita itu. Tak semudah itu, karena kau adalah orang pertama yang akan aku kirim ke alam baka untuk menemui istrimu. Sebelum aku melenyapkan wanita sialan itu dengan bayi yang ada di kandungannya’

1
Nindita Larasaty
Udah bunuh aja tuh Marista si pelakor
Silvi Vicka Carolina
kok gak di santet aja marista nya ama dukunya
Heny Yulifitria
baca berulang kali gk ad bosen nya ...di tunggu kelanjutannya kok mlah berhnti di jalan...nanggung thor
INDRA
2hari baca dr bab 1 sampai bab terakhir q kira bener da tamat trnyata thor nya sibuk buat cerita yg lain mlh di cerita yg lain juga mandeg,sukses buat thor ttp semangat&jangan setengah" dlm berkarya
INDRA
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Fuziie_aN
Luar biasa
Herlina Wati
Astaga gk ketemu ketemu thor ky sinetrin ikan terbang
Vina intan Pratiwi
baru kali ini bisa nge-like
dari pertama baca, like nya saya tekan2 tp gk bisa.
Positif heart
update thoooor
Andris Yuli Anto Poho
up lagi dong thorrr
⍣⃝𝐦𝐫.𝐚𝐮𝐥𝐢𝐚𝐧এ⑅⃝ⁿᶦⁿᵃ
loh bukan nya cuma diantar sama papa nya aja..ko tetiba mencium pipi kedua orang tua nya
Siti Munawaroh
cerita nya bagus tpi kurang serem menurut q
sukses selalu buat author
Tina
ribet banget sich thor..,jadi males mau bacanya 😓😓😓
Nanda Prameswary
kapan up lagi kak😭😭😭
Nanda Prameswary
lama banget thor nungguin ini🥺
Anonim
Msa Raymond mati jg sih kan kshan 4 anaknya
Novita Asya
baru baca lagi... maaf thor ga pernah komen...
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
d dunia nyata ada gk ya orang kyk mayang.. klo ada bner" menakutkan lbih menakutkan dr mahluk astral
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
sesama mahluk astral lagi curhat ..
Fitri Kurnia Sari
lanjuttt thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!