slow update !!!
Kisah tentang seorang laki-laki bernama David Fernandez dan seorang wanita bernama Renata Azaria Saputra.
David Fernandez adalah seorang pengusaha muda dan merupakan anak dari pemilik salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia.
Renata Azaria Saputra adalah seorang putri dari seorang pengusaha sukses asal Surabaya. ia juga merupakan seorang aktris tanah air yang terkenal. sudah banyak sekali sinetron maupun film yang ia bintangi.
siapa sangka ternyata kedua orang tua mereka merupakan sahabat karib dan sudah menjodohkan keduanya semenjak mereka masih bayi.
apakah laki-laki dingin seperti David bisa jatuh cinta pada wanita cerewet seperti Renata ??
apakah keduanya bisa menerima perjodohan itu ??
ikuti kisah keduanya dan lihatlah bagaimana kelakuan konyol mereka..
follow my Instagram @a.ayumie20
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ambarayu96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan 2
Setelah sepeninggal sutradara itu, Max menyuruh Rena untuk duduk di
kursi yang ada di sampingnya.
Rena pun hanya menurut dan mendudukkan tubuhnya di kursi lipat yang
terbuat dari kain itu. Kursi yang selalu di gunakan oleh para pemain sinetron
maupun film.
Max masih menatap ke arah Rena, melihat penampilan dari wanita itu.
lengkungan terbit di kedua sudut bibirnya.
“Penampilannya lumayan. Cantik sih, tapi pendiam sekali.” Batin Max
yang menilai Rena dari penampilan luarnya.
Sedangkan Rena yang ditatap seperti itu, hanya bisa menunduk sambil
berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang semenjak ia
menginjakkan kaki di sana.
“Siapa nama lengkapmu?” tanya Max.
“Re-renata Saputra.” Ucap Rena masih dengan nada gemetarnya karena
gugup. Max tidak habis pikir dengan wanita yang ada di sampingnya itu.
Bagaimana ia bisa bekerja di industri perfilman yang sangat keras ini jika
dirinya pendiam dan terkesan mudah takut.
“Dengar, aku hanya ingin memberitahumu.” Ucap Max kepada Renata. Renata
yang mendengar ucapan yang terkesan tegas itu terlihat sedikit mengangkat
wajahnya.
“Aku tidak berniat menakut-nakutimu, tapi aku hanya bicara kenyataan
saja. Sekali kamu menginjakkan kaki di dunia Entertainment khususnya industri
perfilman seperti ini, itu artinya kamu harus siap menerima konsekuensinya.”
Ucap Max. Mendengar hal itu, membuat Rena memberanikan diri untuk menatap lawan
bicaranya itu.
“Ma-maksudnya?” tanya Rena polos. Terdengar helaan nafas dari Max
mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rena.
“Sebelumnya aku mau tanya dulu sama kamu. Bagaimana kamu bisa
mendapatkan peran ini?” tanya Max. Karena ia yakin kalau Renata belum mengerti
tentang peran yang akan ia perankan itu.
“Em, itu karena beberapa waktu lalu aku memenangkan salah satu
kompetisi modeling di Jawatimur. Saat itu salah satu juri disana menawariku untuk
mencoba peruntunganku di dunia akting.” Ucap Renata. Mendengar penjelasan itu
membuat Max menganggukkan kepalanya mengerti.
“Dan kamu menerimanya begitu saja?” tanya Max lagi. Renata
menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku meminta waktu untuk membicarakannya dengan kedua orang
tuaku. Setelah menyankinkan mereka, aku baru mengiyakan tawaran itu.” Jelas Renata kepada laki-laki yang tengah menatapnya serius itu.
“Baiklah, kalau begitu. Apa kamu sudah memahami tentang peranmu nanti?”
tanya Max. Rena hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena ia sebenarnya juga
belum mengerti secara jelas tentang peran yang akan ia perankan nantinya.
Melihat gelengan kepala Rena, lagi-lagi membuat Max hanya bisa
menggelengkan kepalanya sambil memijit pelan pelipisnya.
“Mana skripmu?” tanya Max sambil mengulurkan tangannya ke arah Rena.
Dengan segera Rena mengambil skripnya dan memberikannya kepada Max.
Setelah itu, secara pelan-pelan Max menjelaskan rincian dari bagian
demi bagian yang akan diperankan oleh Rena. Rena memperhatikan Max yang tengah menjelaskan itu padanya. Dengan telaten ia mengajari Rena bagaimana caranya mendalami peran tersebut dan lainnya.
Flashback off
Kilasan ingatannya dengan Renata saat pertama kali bertemu, membuat Max
tersenyum. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Rena yang pertama masuk ke
dalam industri perfilman kala itu. Dengan menggunakan pakaian formal, Rena
datang ke tempat lokasi syuting dengan di antar oleh sopirnya.
Bahkan ia bisa melihat kerja keras seorang Renata yang beradaptasi
dengan kerasnya hidup sebagai seorang public figure dulu. Dari yang pertama kali berakting masih
sangat kaku, hingga bentakan yang wanita itu dapatkan dari sutradara karena
aktingnya yang buruk.
Namun berkat Max yang selalu memberikan dukungan padanya, membuat Rena
tak mudah patah semangat hingga membuatnya bekerja lebih keras lagi sampai
seperti sekarang. Karena dari bentakan sang sutradaranya dulu itu, membuat Rena
semakin bertekad untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang aktris tanah
air.
Latihan demi latihan Rena lakukan setiap scene-nya bersama
dengan Max yang mementorinya. Hingga membuat sinetron yang ia bintangi itu
mendapatkan apresiasi dari salah satu festival penghargaan yang di gelar setiap
tahun oleh salah stasiun televisi swasta saat itu. Apalagi itu adalah debut
pertamanya dalam sebuah sinetron. Dan karena prestasi itu juga membuat kedua
orang tua Rena mulai menyadari bakat putri mereka. Dan sejak itu juga Rena
mulai kerap kali mengisi beberapa acara sampai merambah ke dunia perfilman hingga sekarang.
“Aku merindukan saat-saat kita bersama seperti dulu, Ren.” Ucap Max
sambil memandangi setiap foto yang ada di dalam apartemennya itu. Apartemen
miliknya itu bahkan seperti milik Renata, karena banyaknya foto-foto wanita itu
di sana. Foto dari pertama mereka bertemu hingga saat ini.
Tak selang beberapa waktu kemudian, Max merogoh sakunya untuk mengambil
ponselnya. Setelah mendapatkannya, ia langsung mencari kontak seseorang.
“Halo”
“Aku ingin kau mencari tahu tentang laki-laki yang hari ini mendatangi
apartemen Renata.”
.....
TBC .....