Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Luka Bakar
Toilet Wanita
Natalie berjalan menghampiri bilik toilet Jesslyn. Di sana ia melihat wanita itu yang sedang membungkuk di depan toilet dan memuntahkan semua makanannya yang baru saja dimakannya tadi.
Padahal, Jesslyn hanya menelan beberapa suapan kecil saja tadi. Namun, sepertinya tubuhnya selalu menolak asupan makanan yang dikonsumsinya.
Membuatnya lemas dan pusing karena harus bolak-balik ke toilet dan memuntahkan semua makanan itu. Namun demikian, Jesslyn tidak menyesal mengandung janin ini. Ia hanya khawatir jika bayinya akan kekurangan nutrisi nanti untuk pertumbuhannya.
"Apa kau baik-baik saja, Jessy?!" tanya Natalie khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kak." Jesslyn pun segera menekan tombol flush. "Maaf membuatmu jadi mengkhawatirkanku."
"Apa yang kau bicarakan? Kita adalah rekan satu team. Jangan sungkan. Sekarang, ayo bersihkan dirimu." Natalie memapah Jesslyn agar wanita itu dapat berdiri dengan tegak.
"Terima kasih, Kak." Jesslyn tersenyum senang.
"Sudahlah. Rekan kerja bagaikan keluarga keduamu. Karena bersama mereka-lah kau banyak menghabiskan waktumu setiap hari. Jadi jangan sungkan denganku. Selama aku bisa membantu, maka akan aku lakukan," ucap Natalie tulus.
Jesslyn tak dapat menahan harunya. Hatinya menghangat. Ia sangat senang ternyata ada seseorang yang begitu memperhatikannya selain Martha dan ibunya, Beatrice. Padahal ia baru saja mengenal Natalie hari ini.
"Kak, kau kembalilah ke restoran. Aku akan beristirahat di ruangan saja."
"Apa?! Kau tidak lanjut makan?"
"Tidak. Aku takut mual lagi."
"Ya, sudah. Aku akan menemanimu kembali ke ruangan kita." Natalie menggandeng tangan Jesslyn, tetapi Jesslyn segera menolak ajakannya.
"Tidak! Tidak perlu, Kak. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin beristirahat sejenak. Jangan membuatku merasa jadi lebih tidak enak hati lagi kepadamu. Kembalilah ke restoran dan selesaikan makan siangmu. Jangan khawatirkan aku."
"Kau sungguh tidak apa-apa?"
"Iya. Aku baik-baik saja," ucap Jesslyn berusaha meyakinkan wanita berambut sebahu itu.
Merasa Jesslyn tidak akan bisa dipaksa lagi, maka Natalie pun hanya bisa menurutinya saja.
"Baiklah. Tetapi, kau harus segera menghubungiku jika kau merasa kondisimu semakin memburuk."
"Iya, aku tahu. Terima kasih, Kak." Natalie mengangguk dan menepuk pelan pipi Jesslyn.
Mereka pun akhirnya berpisah di dekat pintu lift. Natalie kembali ke restoran bersama dengan rekan-rekannya, sementara Jesslyn menaiki lift untuk kembali ke ruang kerjanya.
.
.
.
Jayden keluar dari ruangannya dan bersiap untuk makan siang. Karena ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikannya tadi, maka ia pun terlambat untuk makan siang tepat waktu.
Ketika Jayden hendak menuju lift, ia pun melihat Jesslyn yang sedang berada di pantry seorang diri. Merasa ada yang tidak beres karena Jesslyn terlihat sedang melamun, maka Jayden kemudian menghampiri wanita itu.
"Mengapa kau tidak makan siang?" tanya Jayden.
Namun, kemunculan pria itu yang tiba-tiba malah membuat Jesslyn yang sedang menuangkan air dari ketel listrik itu pun menjadi terkejut, dan tanpa sengaja menumpahkan air panas itu ke pergelangan tangan kirinya.
"Argh! Panas!"
Jesslyn meringis kesakitan, membuat Jayden terkejut dan cemas.
"Sial!"
Secepat kilat, Jayden pun segera meraih ketel listrik itu dan meletakkannya di meja. Jayden melepaskan jam tangan Jesslyn dan menggulung lengan baju wanita itu dengan hati-hati hingga sebatas siku.
Ia pun segera menarik tangan Jesslyn dan membawa wanita itu ke arah wastafel. Jayden kemudian menyalakan kran air dingin untuk mengaliri tangan Jesslyn yang memerah akibat luka bakar itu.
"Kau ini, mengapa ceroboh sekali?! Membuat orang selalu khawatir saja!"
"Apa? Mengapa Anda memarahiku?"
Jesslyn kesal karena Jayden memarahinya. Ia tidak tahu jika jantung Jayden hampir saja copot tadi karena terlalu cemas. Sehingga tanpa sadar Jayden pun meninggikan suaranya kepada Jesslyn.
"Maksudku, lain kali kau harus lebih hati-hati. Bukankah kau seorang calon ibu? Mengapa kau sangat ceroboh?"
"Itu karena Anda yang mengagetkanku tadi."
Jesslyn tidak terima karena Jayden terus menyalahkannya. Padahal semua itu adalah karena kesalahan Jayden, yang muncul tiba-tiba dan berdiri di belakangnya, sehingga membuat Jesslyn terkejut.
Melihat raut wajah Jesslyn yang sedang cemberut karena ia baru saja memarahinya, maka Jayden pun menghela napasnya. Ia sadar jika ia terlalu emosi tadi.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membentakmu."
Jayden meminta maaf dan mengalah. Namun, Jesslyn hanya terdiam dan mencebikkan bibirnya, kesal. Jayden pun tersenyum. Tingkah Jesslyn itu sungguh membuatnya gemas dan tidak tahan ingin mel*mat bibir mungilnya.
"Mengapa kau kembali begitu cepat? Apa kau tidak makan siang?" tanyanya lagi untuk mencairkan suasana. Namun, jawaban Jesslyn malah membuatnya kembali berang.
"Aku tidak lapar."
"Tidak lapar? Bukankah kau sudah muntah tadi pagi? Jadi mana mungkin kau tidak lapar? Jika kau tidak makan, maka dari mana bayimu akan mendapatkan nutrisi yang cukup? Lihat saja, aku akan membuat perhitungan denganmu jika sampai terjadi sesuatu dengan bayi itu."
"Apa?!"
Untuk kesekian kalinya Jesslyn kembali tercengang, dan tidak mengerti dengan tingkah aneh atasannya itu. Karena Jesslyn merasa jika Jayden terlalu ikut campur akan kehamilannya ini.
"Apa?" tanya Jayden yang juga terkejut, karena ia pun tidak menyangka akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Yang Anda bilang tadi. Apa maksud Anda?"
"Memangnya aku bilang apa? Aku tidak bicara apa pun. Kau salah dengar," kilah Jayden memutus perdebatan mereka.
Ia kemudian segera mengalihkan pandangannya ke arah jendela, untuk menghindari Jesslyn yang terus menatapnya dengan tatapan menyelidik dan penuh tanda tanya. Jayden pun menelan salivanya.
Belum pernah ia merasa gugup seperti ini saat bersama dengan seorang wanita. Ia terlahir sebagai seorang penguasa dan pemangsa. Namun, entah mengapa tatapan mata Jesslyn malah membuat jantungnya berdegup kencang.
Seketika, keheningan pun tercipta di antara mereka. Keduanya membisu. Hanya terdengar bunyi air kran yang terus mengalir membasahi tangan Jesslyn, yang kini menjadi pemecah kesunyian di ruangan luas itu. Jayden pun masih setia memegang erat lengan Jesslyn, seolah takut wanita itu akan terjatuh jika ia melepaskannya.
Sementara, Jesslyn merasa sangat canggung dengan posisi mereka sekarang. Jayden berdiri tepat di belakang Jesslyn dan menempelkan lekat dadanya di punggung kecil wanita itu. Terlebih lagi posisi tubuh Jesslyn yang agak condong ke depan, karena Jayden menjulurkan lengan Jesslyn agar tepat berada di bawah guyuran air wastafel itu.
Terhimpit di antara dinding wastafel di depannya dan Jayden di belakangnya, sungguh membuat Jesslyn sangat tak leluasa untuk bergerak bebas, karena kini Jayden seperti tengah menguncinya di dalam dekapannya. Posisi yang sungguh dapat membuat orang lain yang melihatnya menjadi salah paham dengan mudahnya.
Jesslyn pun hanya dapat menatap lurus kran air di depannya, karena jika ia menoleh maka dapat dipastikan bibir Jesslyn akan menyentuh pipi Jayden, atau bahkan mencium bibir pria itu jika Jayden juga menoleh ke arah Jesslyn.
Jayden tersenyum dan terlihat menikmati kebersamaannya dengan Jesslyn. Ia pun menyukai aroma lembut shampo Jesslyn yang menguar masuk ke dalam indera penciumannya. Membuat jantungnya terus terpacu cepat tak karuan. Ia hanya berharap jika Jesslyn tak mendengar debaran kencang jantungnya itu.
Jesslyn mencoba untuk sedikit bergeser ke samping, tetapi tubuh besar Jayden masih tetap mengungkungnya posesif.
"Presdir Zhou, lepaskan tanganku. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tidak. Kau terlalu ceroboh."
"Apa? Aku ceroboh?"
Jayden mengabaikan pertanyaan Jesslyn yang nampak kesal dengan perkataannya tadi. Namun, Jesslyn masih terus berusaha untuk menjauh dari Jayden. Berdekatan dengan pria ini sungguh membuatnya merasa tak nyaman.
"Presdir Zhou, kumohon bergeserlah sedikit. Aku mau duduk. Aku pegal."
Jayden pun melihat ke arah jam tangannya, memang sudah lebih dari 20 menit berlalu sejak pertama ia mengaliri air ke lengan Jesslyn. Karena merasa waktunya telah cukup untuk menetralkan suhu luka bakar Jesslyn, akhirnya Jayden pun menutup kran air itu dan kembali menarik lengan Jesslyn agar mengikutinya untuk masuk ke ruangannya.
"Ayo, ikuti aku."
"Tunggu ... tunggu dulu, Presdir. Anda mau apa?"
"Memakanmu," ucap Jayden pelan.
"Apa?!" Jesslyn berontak dalam genggaman Jayden.
"Mengapa kau selalu berkata 'apa'? Aku tidak tahu jika luka bakar di tangan ternyata dapat menyebabkan seseorang menjadi tuli."
"Apa?!" tanya Jesslyn kesal.
"Benar, 'kan, kataku? Kau baru saja berkata 'apa' lagi."
"Aku ...."
Jayden pun tertawa melihat tingkah Jesslyn. Ia sungguh tak tahu ternyata menggoda Jesslyn terasa sangatlah menyenangkan. Melihat Jesslyn yang kesal dan ketakutan karenanya, Jayden pun menghentikan ulah jahilnya.
"Aku bilang, aku akan mengobatimu. Kau dengar aku, Jessy?"
"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil. Aku bisa mengobatinya sendiri," tolak Jesslyn. Ia ingin menepis tangan Jayden karena takut jika pria itu akan berbuat macam-macam padanya. Namun, usahanya sia-sia karena Jayden memegangi lengan Jesslyn dengan sangat erat.
"Sudah, jangan marah lagi." Tanpa sadar, Jayden pun membelai lembut puncak kepala Jesslyn untuk menenangkannya.
"Jika tidak segera diobati maka lukanya akan mengalami infeksi dan meninggalkan bekas parut yang parah nanti. Kau mau seperti itu?" tanya Jayden dan Jesslyn pun hanya menggeleng pelan.
"Anak baik. Patuhlah. Aku akan mengobatimu."
Jayden tersenyum karena Jesslyn mengangguk setuju. Tangan Jayden pun masih terus membelai lembut rambut wanita itu. Tak ingin membuang waktu lagi, Jayden kemudian membawa Jesslyn masuk ke ruangannya untuk mengobati luka bakar Jesslyn sebelum luka itu terinfeksi dan bertambah parah.
Mereka pun tidak menyadari jika ternyata ada beberapa pasang mata yang tengah memperhatikan tingkah laku mereka sejak tadi.
"Ya, Tuhan, Presdir dan ...," ujar Tiffany tertahan seraya menunjuk ke arah Jayden dan Jesslyn yang telah menghilang dari balik pintu. "Apa mereka sedang berkencan?"
Tiffany menutup mulutnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Jayden bersikap begitu manis kepada Jesslyn. Walaupun Jayden adalah seorang pemain cinta, tetapi ia merupakan tipe pemimpin yang tegas saat berada di kantor.
Ia tidak akan mentolerir kesalahan setiap pegawainya apalagi sampai bersikap manis seperti tadi. Bahkan Diana pun sering mendapatkan kata-kata pedas dari Jayden saat di ruang rapat karena wanita itu gagal melakukan tugasnya. Maka saat Tiffany melihat Jayden yang memperlakukan Jesslyn dengan lembut seperti tadi, ia pun menjadi sangat terkejut.
Joana sangat geram melihat kebersamaan mereka. Ia sungguh tak mengerti mengapa Jayden malah menyukai Jesslyn yang baru saja ditemuinya dan bukannya dirinya yang sudah lama berada di sisinya?
Padahal, ia pun tidak kalah cantik dari Jesslyn dan sudah berpengalaman. Joana yakin, ia pasti akan dapat memuaskan Jayden. Namun, Jayden tak pernah meliriknya sama sekali. Ia pun menghentakkan kakinya kesal dan segera kembali ke ruangan mereka bersama dengan Tiffany.
Sementara, Natalie merasa sedikit bersalah karena ia tidak menahan kedua rekannya tadi sedikit lebih lama, saat mereka bilang ingin kembali ke ruangan mereka setelah selesai makan siang. Jika saja ia dapat melakukannya maka hubungan di antara kedua orang itu pasti masih akan tetap menjadi rahasia.
Namun, ia pun merasa hal ini cepat atau lambat pasti akan segera terungkap. Apalagi jika melihat perubahan drastis atas sikap Jayden. Mereka pasti akan segera mengetahui bahwa ada sesuatu di antara bos dan sekretaris barunya itu. Natalie hanya berharap jika Diana tidak akan menyakiti Jesslyn nanti, saat wanita itu juga mengetahui tentang berita ini.
'Presdir Zhou, sepertinya kau terlalu gegabah kali ini. Semoga saja kau dapat melindungi Jessy.'
Natalie pun menghela napasnya.
'Cinta memang dapat membuat orang menjadi berubah dan kehilangan akan jati dirinya.'
.
.
.