Jodoh itu misteri, siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak, tak seorang pun mengetahuinya.
Sejak masih belia, Rian dan Dina dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang berkawan baik.
Mereka tidak kuasa menolak perjodohan, hingga pernikahan pun terjadi dan membuat orang yang mereka cintai patah hati.
Maretha, mantan pacar Ryan, yang terpaksa harus menikah dengan calon suami kakaknya.
Serta Fardhan, yang setengah hati menerima pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya, berharap bisa segera move-on dari Dina.
Apakah Ryan jodoh sejati untuk Dina? Bagaimana dengan para mantan, Maretha dan Fardhan?
Akankah rumah tangga mereka bertahan atau berpisah menjadi keputusan akhir mereka?
Bagaimana dengan para mantan yang patah hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Kalau pengantin baru, hawanya beda ya, senyum-senyum sendiri terus."
Telinga Ryan sudah kebal mendengar ledekan teman-teman di tempat kerjanya.
"Makanya buruan nikah biar tahu enaknya pacaran setelah menikah..." Ryan membalas ledekan temannya.
"Cieeee yang sekarang bisa sombong."
Setelah itu Ryan menulikan telinganya, dia tidak pernah menganggap serius candaan teman-temannya karena memang sudah tradisi, bagi pengantin baru yang bekerja di sana, selama enam bulan pertama pernikahannya harus menebalkan wajah, menulikan telinga, menganggap masa bodoh karena mereka akan terus menggoda hingga berhenti dengan sendirinya.
Ryan berusaha fokus mengerjakan laporan yang ditujukan olehnya, namun semuanya ambyar saat bayangan peristiwa dini hari tadi melintas di benaknya. Pengalaman pertamanya menyentuh seorang wanita, merasakan manisnya surga dunia, tubuh mulus Dina, wajah Dina yang memelas saat dia berhenti, Gerakan erotis tubuh Dina saat dia menyentuh bagian-bagian tubuh Dina, dan Dina yang menggelepar saat puncak kenikmatan dia raih.
Semua datang silih berganti, membuatnya tak kuasa menahan senyum, ingin cepat pulang, rindu istrinya dan ingin mengulang pengalaman baru yang membuatnya ketagihan.
Ryan mengambil ponsel yang dia letakkan di sampingnya, mengetik pesan untuk Dina.
"Yan, hari ini kita ada survei ke daerah jalan kenanga." Tiba-tiba Agi datang ke kubikel Ryan.
Ryan yang sedang fokus melihat ponselnya mendongakan kepala melihat ke arah Agi.
"Jam berapa? sama siapa aja?"
"Berangkat jam sepuluhan, cuma kita berdua aja."
"Oke, thanks. Nanti ketemu di lobi." Setelah itu Agi meninggalkan kubikel Ryan menuju ke kubikelnya.
'Jalan Kenanga? Toko Dina hanya tinggal berbelok dari sana. Semoga kerjaannya bisa selesai sebelum jam makan siang, biar aku bisa ngasi kejutan ngajak Dina makan siang.' bathin Ryan senang tak sabar ingin segera bertemu dengan Dina.
Tadi pagi, Ryan sudah melarang Dina untuk pergi ke toko, dan istirahat saja di rumah. Tapi Dina mengatakan jika dia baik-baik saja. Seperti biasa, Ryan mengantarkan Dina ke tempat kerjanya, sebelumnya mereka mampir untuk sarapan lontong kari, Ryan tak tega meminta Dina menyiapkan sarapan setelah semalam mengerjainya.
Sempat, Ryan bertanya apakah sakit di bawah sana, dan Dina hanya menjawab dengan senyuman. Membuat Ryan mengasumsikan jika memang sakit, tapi Dina mencoba menyembunyikannya.
¤¤FH¤¤
Ryan bersyukur karena survei pada beberapa nasabah yang dia lakukan bersama Agi selesai dengan cepat.
"Kamu langsung ke kantor atau mampir dulu ke tempat lain?" tanya Ryan saat keduanya bersiap menaiki sepeda motor masing-masing.
"Aku mau ke kantor langsung."
"Kalau kamu nggak keberatan, boleh semua laporan kamu yang bawa? aku mau mampir dulu ke tempat kerja istri."
Agi hanya menjawab dengan anggukan.
"Makasi banyak ya, Gi..."
"Never mind," Agi mengibaskan tangannya.
"Gi..." panggilan Ryan menghentikan Agi yang sudah bersiap menstarter motornya.
"Kemarin, aku melihat Maretha... dia bersama seorang laki-laki dan seorang anak laki-laki. Apa itu alasan kamu bersikeras agar aku mengakhiri hubunganku dengan Maretha dulu?"
"Akhirnya kamu mengetahuinya juga, melihat dengan mata sendiri."
"Kenapa dulu kamu nggak bilang langsung saja?"
"Waktu itu kamu sedang dimabuk asmara, apapun alasan yang aku berikan pasti kamu nggak percaya."
"Sejak kapan kamu mengetahuinya?"
"Beberapa bulan setelah Maretha resign, aku sempat menyusulnya ke tempat kerja dia yang baru. Aku tahu alamatnya dari seorang teman yang kebetulan satu kantor dengannya, waktu itu teman aku memajang poto di sosial media dan ada Maretha di poto tersebut.
Aku berniat memberi kejutan, namun ternyata aku yang terkejut saat melihat dia dengan perut besarnya. Aku urungkan niat menemuinya. Saking terkejutnya aku lupa mempotonya untuk memberikan bukti pada kamu."
"Kamu benar, aku terlalu bodoh untuk menyadari kejanggalan saat LDR dengan Maretha."
"Tapi aku ikut senang sekarang kamu sudah mendapatkan pengganti yang jika aku lihat, lebih baik dari Maretha. Semoga selalu berbahagia."
"Thanks do'anya. Semoga kamu juga segera menyusul."
"Aamiin. Aku duluan ya." Agi berlalu meninggalkan Ryan yang masih memasang helmnya dengan sempurna.
¤¤FH¤¤
Ryan sampai saat adzan dzuhur baru saya berkumandang. Setelah mempertimbangkan, Ryan memilih langsung ke mushola, baru setelah itu menemui Dina di tokonya.
Setelah berwudhu, Ryan langsung masuk ke dalam mushola tanpa melihat kiri dan kanannya. Dia langsung melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah sampai di bilik shalat laki-laki. Begitu iqomah terdengar, Ryan langsung berdiri berbaris bersama jamaah yang lain dalam satu shaf.
Imam mengucapkan salam pertanda shalat berjamaah usai dilaksanakan, Ryan mengikuti mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri lalu mengubah posisi duduk bersila untuk melanjutkan dengan berdzikir.
Seseorang di sebelah Ryan mengulurkan tangan mengajak Ryan bersalaman, Ryan menerima uluran tangan laki-laki di sampingnya. Namun senyum yang Ryan berikan pudar saat melihat ternyata Fardhan yang duduk di samping dan mengajaknya salaman. Setelah menempel sebentar, Ryan langsung menarik kembali tangannya dan melanjutkan berdzikir.
Ryan kembali melaksanakan shalat dua rakaat, untuk menyempurnakan ritual ibadahnya. Setelah itu keluar dari mushola berjalan menuju toko Dina.
"Dina kemana?" tanya Ryan pada salah satu karyawan istrinya, karena tidak melihat Dina berada di kursinya.
"Teh Dina ke mushola, pak," jawab salah satu karyawan Dina.
Ryan mengernyitkan dahi mendengar jawaban karyawan Dina.
'Aku dipanggil pak? Emang wajah aku setua itu." Ryan mendumel dalam hatinya.
Ryan masuk lebih ke dalam toko Dina, mendudukan dirinya di kursi kebesaran istrinya, bahkan Ryan meminum teh dalam gelas di atas meja Dina.
Pandangan Ryan lurus ke depan menunggu kedatangan istrinya. Begitu melihat istrinya akan memasuki toko, Ryan bangkit dari duduknya menyongsong istrinya, namun langkahnya terhenti saat melihat Dina berhenti di ambang pintu karena Fardhan memanggilnya.
"Tasbih kamu ketinggalan." Ryan mendengar jelas perkataan Fardhan.
Dina menerima uluran tasbih dari Fardhan, mengucapkan terima kasih dengan seulas senyum dia berikan untuk Fardhan. Ryan melihat tak suka ke arah Dina dan Fardhan. Apalagi Dina tak langsung masuk ke toko, dia masih berdiri di ambang pintu menunggu hingga Fardhan berlalu.
Dina masuk ke tokonya, dan kaget saat melihat Ryan berdiri di depan mejanya, menatapnya dengan tajam.
BERSAMBUNG
dan adzan maupun iqomah hanya dilakukan laki2