Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam Menghindari
Nadin mengotak-atik ponselnya pagi-pagi. Dia membaca postingan di grup, yang ada pada sosial media.
"Lowongan kerja ini pas juga." Nadin memperhatikan dengan baik, tawaran tentang pekerjaan itu.
Dia berharap akan diterima, pada perusahaan itu. Argan yang memperhatikan dari kejauhan lumayan khawatir. Takut bila istrinya bisa melunasi hutang, lalu pergi dari rumah itu selamanya.
”Apa aku buat Nadin ditolak saja iya dengan perusahaan itu secara diam-diam. Tapi aku tidak tega rasanya, melakukan hal itu di belakangnya. Dia kan sudah izin padaku, dan aku memperbolehkan.” batin Argan.
Argan mendekati Nadin, dan duduk di sampingnya. "Sayang, kamu yakin ingin kerja?"
"Yakin sayang. Aku ingin sekali, mempunyai kegiatan yang super sibuk sepertimu."
"Apa kurang hartaku ini, untuk menjamin hidupmu?" tanya Argan.
"Tidak sayang, lebih dari cukup. Hanya saja, aku bukan perempuan yang suka mengandalkan orang lain. Kata Emak, aku harus bisa berdiri di telapak kakiku sendiri. Aku harus terbiasa hidup keras, agar aku menjadi kuat dan mandiri." jelas Nadin.
"Kalau kamu membutuhkan uang aku akan memberikannya." tawar Argan, dengan tulus.
Nadin menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang, kamu tidak perlu melakukan ini." Menghindar namun tidak diperlihatkan, menolak namun tidak diungkapkan dengan kasar.
”Tuan muda tidak perlu melakukan itu. Bahkan Vahisa sudah kembali, yang aku sendiri tidak pernah tahu dia siapa. Asisten Dera yang kamu beri bunga mawar, hanya untuk menemanimu saat patah hati kini terlihat dingin. Dia mungkin bisa saja menangis dalam diam, berapa banyak hati yang kamu ingin hancurkan. Kamu sengaja memberi perhatian lebih, supaya mereka menaruh harap. Apa kamu terbiasa menjadi penjahat perasaan. Hentikan tuan muda, aku tahu kamu konglomerat sejagat. Tapi jangan menjadikan kami makhluk yang bernama perempuan ini, sebagai budak permainanmu.” batin Nadin.
Sementara waktu, memang Nadin ingin menghindari Argan dulu. Itu sudah menjadi keputusan bulat, yang diambil olehnya. Sampai sekarang pun, Nadin belum tahu sifat murni Argan.
Argan menyentuh pipi Nadin, dan mencubitnya lembut. Dia menatap wajah perempuan yang satu-satunya dia sayangi untuk saat ini, setelah Sahara adiknya.
"Kenapa kamu seperti ini. Tatap aku Nadin, jangan terus menunduk." Argan sibuk untuk dituruti keinginannya.
Nadin memandang sepasang bola mata itu. Dia tetap harus sebisa mungkin, untuk bersikap biasa saja. "Tidak apa-apa."
"Luar biasa, kamu pasti ingin menghindari ku. Tatapan matamu itu tidak tulus adanya, kamu hanya tidak ingin aku tahu hal terselubung dalam batin." ujar Argan.
"Bicara apa kamu, aku memang seperti ini." Nadin tersenyum ceria, dengan mata terbuka lebar.
Sebisa mungkin untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. Seseorang akan tetap tahu bila kita hindari, apalagi dia merasakan menggunakan hatinya yang sangat tulus mencintai.
Helikopter terdengar suaranya, mendarat tepat di halaman rumah itu. Argan dan Nadin pulang hari ini, karena urusannya di Jepang sudah selesai. Argan sudah memberi tugas pada orang kepercayaannya, untuk menyelesaikan masalah penyusup itu.
Mereka turun dari dalam helikopter, tentu bersama kedua asisten pribadi tuan muda yang selalu ikut. Mulai melangkahkan kaki masing-masing, memasuki rumah.
"Hai Argan!" Sapa Vahisa. Setelah menghilang lama, dengan tidak malunya dia menyambut kedatangan Argan.
"Ke mana saja kamu selama 5 tahun? Kenapa muncul kembali sekarang." Argan menyeringai. Malas untuk melihat wanita di hadapannya, membuat selera hati tidak ada.
"Argan, aku bisa menjelaskan semuanya. Aku saat itu sakit, dan harus menjalani pengobatan di sana." Vahisa menunjukkan raut wajah sedihnya.
Argan terdiam, ada sedikit rasa iba. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Aku tidak ingin kamu mengkhawatirkan aku, karena aku tahu, kamu sangat mencintai aku." jawab Vahisa tanpa ragu, tidak ada perasaan tidak enak di depan Nadin.
”Mereka akan segera menjalin hubungan dekat lagi. Daripada aku merasa sedih menyaksikannya, lebih baik aku pergi. Aku tidak ingin melihat kedua insan yang saling merindukan ini.” batin Nadin, merasa sakit.
"Suamiku, aku kembali ke kamar dulu iya. Aku sudah lelah." ujar Nadin berpamitan.
"Iya Nadin, kamu naik mobil saja dengan Dera." jawab Argan.
"Tidak perlu, aku ingin berjalan saja." Nadin menolak. Dia melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan itu.
Argan masih menatap punggung Nadin. "Jauh sayang ruangannya."
Seseorang yang melihat dari kejauhan, sudah kesenangan saja. Dia melompat-lompat, menyaksikan raut wajah Nadin yang berubah.
”Rasain kamu Nadin, makanya jangan mimpi menjadi ratu sejagat. Ayo nona Vahisa, singkirkan istri tuan muda.” batin Niken.
Sepanjang perjalanan di dalam rumah itu, Nadin menangis tanpa ada yang tahu. Akhirnya lolos juga air mata, yang dia tahan sejak tadi. Berusaha menyangkal perasaannya sendiri, yang dari awal memang rencana pribadi.
Cairan bening penuh di pelupuk matanya. Nadin tidak menyadari bahwa ada yang mengikutinya sejak tadi di belakang. Nadin terduduk lemas dengan tumpuan betisnya, dia harus segera mengumpulkan banyak uang pikirnya. Tidak ingin hidup dalam budak permainan, apalagi ini soal hati.
"Nona muda bangunlah, kenapa kamu seperti ini?" Dera menepuk lembut pundak Nadin.
"Aku tidak apa-apa asisten Dera." jawab Nadin. Dia masih berusaha menyembunyikan, perasaan sedihnya.
"Nona mengkhawatirkan tuan muda bersama wanita yang tadi?" tanyanya.
"Aku tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Mungkin saja, asisten Dera yang merasa terpukul akan hal itu." Nadin segera bangun dari posisinya.
Dera merasa heran. "Kenapa harus aku yang terpukul, yang menjadi istri tuan muda 'kan kamu nona."
Kini posisi mereka berhadapan. Nadin menatap dalam-dalam, mata yang biasanya memandang tajam dan dingin itu. Kini mata itu sedikit bersahabat, ingin Nadin mengatakan sesuatu.
"Apa kamu juga kekasihnya? Dia memberimu bunga 'kan?"
"Hahaha, kenapa nona lucu sekali!"
”Baru sekali ini aku melihatnya tertawa.” batin Nadin.
"Selucu itu pertanyaan ku sampai kamu bisa tertawa?" tanyanya penasaran.
"Sangat lucu nona muda. Aku dan tuan Argan tidak memiliki hubungan asmara apa pun." jawab Dera, dengan jujur.
"Lalu bunga mawar yang terbungkus indah saat itu?" Nadin masih ingin mengetahui.
"Oh itu, aku hanya menjalankan tugas yang dia berikan. Aku pikir, kamu tidak perlu tahu tugasnya."
”Apa ini jebakan tuan muda lagi? Apa dia menyuruh Dera, untuk mengatakan hal ini. Sudahlah Nadin, jangan terlalu mudah percaya. Ucapan tanpa bukti langsung dari suamimu, tidak akan menghilangkan rasa bimbang. Kalau dia sungguhan suka, harusnya tidak menahan dalam hati.” batin Nadin.
"Baiklah, sepatutnya aku memang tidak perlu bertanya." ucap Nadin.
"Tidak masalah nona, hanya saja aku tidak bisa mengatakannya." jawab Dera.
"Iya sudah, tidak masalah. Aku akan segera ke ruangan kamar, aku permisi duluan." Nadin berpamitan.
"Jalan bersama saja, biar nona ada temannya." jawab Dera.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂