NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:752
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyuapan—35

Malam semakin larut di pinggiran London, namun riak kekacauan di luar sana belum juga mereda. Di dalam ruang kerja privat mansion milik Samuel, ketukan pintu yang memecah konsentrasi Danny yang sedang meneliti rute logistik Elysium Project.

Ody melangkah masuk dengan ekspresi yang jauh lebih dingin dari biasanya. "Tuan Danny, ada tamu yang memaksa bertemu. Dia menggunakan jalur diplomatik darurat untuk menembus perimeter luar. Protokol pengacau sinyal kita mendeteksi identitasnya sebagai utusan khusus dari konsorsium sayap hitam yang mendanai Wakil Perdana Menteri."

Danny tidak terkejut. Pria jangkung itu hanya menyandarkan punggungnya di kursi kerja, melipat tangan di depan dada sembari mengulas sebuah seringai tipis yang menawan sekaligus berbahaya. "Biarkan dia masuk, Ody. Gue mau liat seberapa putus asa tikus-tikus politik itu malam ini."

Pintu ruang kerja kembali terbuka. Seorang pria paruh baya berpakaian setelan jas yang sangat rapi melangkah masuk. Dari gestur tubuhnya yang angkuh namun menyembunyikan kegugupan, Danny tahu pria ini terbiasa bermain di balik bayang-bayang kekuasaan. Nama samarannya adalah Mr. Vance.

"Selamat malam, Mr. Danny Atonio Dirgantara," buka Vance dengan aksen Inggris yang kental dan senyuman formal yang dipaksakan. "Suatu kehormatan bisa bertatap muka langsung dengan kaisar bisnis muda dari Asia. Saya datang ke sini membawa pesan kedamaian dan... penawaran yang sangat menguntungkan dari atasan saya."

Danny tetap bergeming, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Vance dengan tatapan kaku yang mengintimidasi. "Gue gak punya banyak waktu buat basa-basi politik. Langsung ke intinya."

Vance berdeham kecil, melangkah mendekati meja kerja Danny lalu menaruh sebuah koper jinjing tipis berbahan titanium di atasnya. "Kekacauan di London hari ini bener-bener di luar kendali, Mr. Danny. Beberapa nama petinggi negara, termasuk Wakil Perdana Menteri kami, berada di ambang kehancuran karier karena dokumen anonim yang beredar di TV. Kami tahu... Dirgantara Group punya kekuatan untuk menghentikan aliran data tersebut di tingkat Interpol."

Vance memajukan tubuhnya, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan yang sarat akan intrik kotor. "Atasan saya bersedia melakukan apa saja untuk menyogok Anda, Mr. Danny. Kami mohon, tutup mata dan tutup mulut Anda mulai malam ini. Jangan besarkan kasus penculikan ilmuwan ini lagi ke media internasional. Biarkan kasus ini menguap sebagai isu siber belaka."

Danny terkekeh pendek—sebuah suara bariton yang rendah, dingin, dan sarat akan penghinaan. "Nyogok gue? Lo pikir kekuasaan Dirgantara Group bisa dibeli dengan segepok dokumen saham atau uang tunai di dalam koper itu?"

"Tentu saja tidak, Mr. Danny. Kami tahu uang bukan lagi hal yang menarik bagi pria di posisi Anda," sahut Vance dengan senyuman licik yang semakin melebar. Pria itu membuka koper titanium tersebut, menampilkan beberapa tablet digital yang memuat enkripsi akses kepemilikan aset-aset mewah terlarang di seluruh dunia.

"Kami menawarkan keuntungan yang jauh lebih... privat dan memuaskan bagi seorang pria dewasa seperti Anda," lanjut Vance, matanya berkilat penuh kemaksiatan. "Jika Anda setuju untuk menutup mulut, konsorsium kami akan memberikan akses tak terbatas ke fasilitas hiburan eksklusif kami di pulau privat Karibia. Kami menyediakan pelayanan 'hiburan wanita'—gadis-gadis muda pilihan dari berbagai negara yang siap melayani setiap fantasi terliar Anda tanpa ada hukum yang bisa menyentuh."

Vance menggeser layar tablet tersebut, memamerkan foto-foto vulgar dari jaringan prostitusi kelas atas dan berbagai bentuk hal maksiat lainnya yang biasa digunakan oleh para pejabat korup untuk memuaskan nafsu bejat mereka. "Tidak hanya itu, segala bentuk kesenangan duniawi, nark*tika kelas premium yang legal di wilayah hukum kami, hingga pencucian aset tanpa batas akan menjadi milik Anda. Anda adalah pria muda yang berkuasa, Mr. Danny. Anda berhak menikmati semua hiburan maksiat ini sebagai imbalan atas keheningan Anda."

Atmosfer di dalam ruang kerja itu mendadak turun hingga ke titik beku. Ody yang berdiri di sudut ruangan menempatkan tangannya di balik rompi, siap menarik senjata apinya dalam satu perintah.

Danny perlahan bangkit berdiri dari kursi kerjanya. Tubuh jangkungnya yang tegap menjulang tinggi di depan Vance, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat dan dominan hingga membuat Vance otomatis melangkah mundur karena ketakutan. Danny menatap jijik ke arah tablet yang menampilkan foto-foto maksiat tersebut.

"Lo... bener-bener gak tahu sedang berhadapan sama siapa malam ini, ya?" bisik Danny, suaranya mengalun sangat rendah namun terdengar seperti vonis mati yang mengerikan.

Danny melangkah memutari meja kerja, memperkecil jarak dengan Vance yang kini sudah berkeringat dingin. "Pelayan hiburan wanita? Hal-hal maksiat? Lo pikir harga diri dan integritas seorang Danny Atonio bisa disamakan dengan moral bejat para pejabat korup yang lo pelihara di London?"

Brak!

Danny menghantamkan telapak tangannya di atas koper titanium tersebut hingga menimbulkan bunyi dentuman keras yang menggema. "Gue gak butuh wanita-wanita mainan lo itu untuk membuktikan kekuasaan gue. Di sebelah gue, udah ada satu-satunya wanita yang punya hak mutlak atas seluruh hidup dan kehormatan gue. Dan duka yang dialami keluarga wanita gue selama dua tahun ini... gak bakal pernah bisa lo bayar pakai semua aset kotor di dunia ini!"

Vance menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya pucat pasi menyadari bahwa taktik sogokan paling ampuh milik organisasinya sama sekali tidak berguna di depan sang CEO. "M-Mr. Danny... tolong pertimbangkan lagi... menolak tawaran ini berarti Anda memilih jalur perang terbuka dengan konsorsium kami—"

"Gue yang memulai perang ini, bajingan!" potong Danny tajam, sepasang mata elangnya berkilat penuh amarah yang mutlak. "Sampaikan pesan gue ke atasan lo dan Wakil Perdana Menteri lo yang terhormat itu. Tutup mata dan tutup mulut gak pernah ada di dalam kamus hidup gue. Gue bakal mastiin setiap nama yang terseret di layar TV hari ini bakal membusuk di penjara internasional, dan seluruh fasilitas kotor lo itu bakal gue ratakan dengan tanah."

Danny berbalik memunggungi Vance, memberikan isyarat dingin kepada tangan kanannya. "Ody, seret tikus ini keluar dari mansion gue. Dan pastikan semua rekaman kamera tersembunyi di ruangan ini tentang percakapan sogokan tadi langsung dikirim ke Samuel untuk dilempar ke media satu jam lagi. Biarkan dunia tahu seberapa menjijikkannya moral para pemimpin mereka."

"Siap, Tuan," jawab Ody dengan senyuman dinginnya yang khas. Dengan gerakan kilat, Ody mencengkeram lengan Vance, memuntirnya ke belakang dan menyeret pria paruh baya yang terus memohon ampun itu keluar dari ruang kerja tanpa belas kasihan.

Setelah pintu ruang kerja kembali tertutup rapat, keheningan malam kembali menguasai ruangan. Danny menarik napas dalam-dalam, melonggarkan sedikit kerah kemeja hitamnya yang terasa sesak karena amarah yang sempat memuncak.

Cklek.

Pintu penghubung rahasia di balik lemari buku perlahan terbuka, menampilkan sosok Aletha Adinata yang melangkah masuk. Gadis berambut hitam itu ternyata sejak tadi berdiri di sana, mendengarkan seluruh isi percakapan dan penolakan mutlak dari Danny dari balik dinding kedap suara.

Aletha berjalan mendekati Danny dengan langkah kakinya yang santai, melipat kedua tangannya di depan dada. Sisa-sisa binar air mata harunya siang tadi kini telah sepenuhnya digantikan oleh tatapan matanya yang berkilat penuh rasa bangga dan kekaguman yang teramat dalam kepada pria di depannya. Mode Ratu Kampusnya kembali aktif dengan senyuman seringai tipisnya yang sangat memikat.

"Penolakan yang sangat seksi, Mr Danny" bisik Aletha santai, nadanya terdengar menggoda namun sarat akan kesungguhan hati. Ia berdiri tepat di depan Danny, mendongak menatap wajah tegas calon suaminya. "Hiburan wanita, pulau privat, hal-hal maksiat... lo bener-bener gak tergiur sedikit pun buat mencicipi fasilitas foya-foya itu?"

Danny menatap lekat ke dalam manik mata Aletha, rasa tegang di tubuhnya seketika mencair seutuhnya begitu melihat wajah cantik tunangannya. Ia mengulurkan tangannya, meraih pinggang ramping Aletha dan menarik tubuh gadis itu agar merapat ke dalam dekapannya.

"Gue udah bilang ke lo kan, Tha, di pesawat kemarin," sahut Danny dengan suara baritonnya yang kembali melembut, mengusap helai rambut maroon Aletha dengan jemari kekarnya. "Sejak cincin kontrak ini terpasang di jari lo, lo adalah satu-satunya wanita yang punya otoritas penuh atas diri gue. Semua kemaksiatan di luar sana gak punya nilai sedikit pun di mata gue dibandingkan dengan senyuman utuh lo dan nyokap lo hari ini."

Aletha tertegun, desiran aneh yang luar biasa hangat kembali bergemuruh hebat di dalam dadasnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Danny, mempererat pelukannya pada tubuh tegap sang penguasa bisnis. Di balik kekacauan politik London yang kian memuncak dan misteri laporan siber yang belum terpecahkan bagi dunia luar, malam itu Aletha tahu... dia telah menyerahkan seluruh hati dan masa depannya kepada laki-laki yang tepat. Seseorang yang tidak hanya memilik kekuasaan mutlak, namun juga memiliki integritas sejati yang siap melindunginya dari segala kegelapan dunia untuk selamanya.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!