WARNING!!! AREA 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Malik Mahardika seorang asisten berumur dua puluh enam tahun. Mendapat tugas dari majikannya untuk menemui seorang Hacker. Namun, siapa sangka Malik malah jatuh cinta pada Hacker yang baru saja berumur lima belas tahun bernama Susan Linch.
Kata orang, cinta tidak memandang umur, waktu dan tempat. Begitulah yang dialami oleh pemuda itu.
"Ma, kamu tahu 'kan aku umur berapa? Bagaimana bisa kamu suka dengan gadis kecil seperti 'ku?" Susan hanya ingin tahu alasan sebenarnya.
"Memangnya kita harus memandang umur seseorang untuk suka dan menyayangi. Bagiku asal kamu menerima, maka tidak perduli kamu umur berapa. Bahkan jika disuruh nunggu kamu dewasa pun aku bersedia," jawab Malik yang benar-benar terdengar gila, sepertinya pemuda ini sudah terkena virus cinta akut yang tidak bisa diobati.
"Kalau begitu, aku beri kamu kesempatan. Jika kamu bisa menungguku lima tahun lagi, aku akan bersedia jadi kekasihmu," ucap Susan kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah lain karena malu menatap Malik.
penasaran? baca selengkapnya di sini saja.
Picture from pinterest editing by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Apa aku salah?
Susan memacu mobilnya meninggalkan rumah majikan Malik. Wanita yang bernama Audrey mengatakan jika asisten suaminya itu ambil cuti beberapa haari untuk pergi ke makam orangtuanya.
Dalam perjalanan, Susan tertawa geli mengingat perkataan Audrey yang sangat bersahabat. Seakan tidak memandang status atau umur seseorang untuk bicara.
"Ingat! Jika sampai Malik kurang ajar, apalagi nyakitin kamu. Ngomong saja sama Kakak. Nanti biar aku remes dia kayak mie instan kering!"
Susan tergelak, sungguh tidak menyangka jika wanita yang terlihat begitu anggun, berwibawa serta berkarisma itu bisa mengucapkan kata-kata yang lucu.
Audrey memberikan alamat makam dan tempat lama Malik dulu tinggal, meski masih berada dalam satu kota, tapi entah kenapa Malik tidak mau pulang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam karena jalanan yang macet, Susan sampai di sebuah rumah yang terlihat sepi di pinggiran kota. Rumah minimalis dengan pekarangan kecil di depannya itu terlihat tampak rapi dan bersih, ia mengedarkan pandangannya sebelum turun. Tidak tampak mobil Malik di sana, ia jadi tidak yakin jika Malik di rumah itu.
Susan menghela napas kasar, ia berpikir untuk mencoba mencari pemuda itu di pemakaman yang disebutkan oleh Audrey.
Pemakaman itu tidak berada jauh dari rumah Malik, hanya butuh menempuh perjalanan sepuluh menit. Susan melihat mobil yang sering dipakai untuk pergi dengannya terparkir di depan area pemakaman. Gadis itu sedikit bisa bernapas lega karena bisa menemukannya.
Susan turun dengan paper bag di tangannya, ia melangkah masuk ke pemakaman itu serta langsung mengedarkan pandangan ke seluruh area yang ternyata begitu luas.
Di sisi lain, Malik sedang berjongkok di depan makam sang ayah yang tidak bersisian dengan makam ibunya. Telapak tangannya tampak meremas tanah yang sedikit kering, di tatapnya nisan bertuliskan nama Mahendra Mahardika.
"Yah, aku datang. Apa ayah bahagia di sana? Ya, pasti begitu, apalagi ayah pasti bertemu dengan ibu," ujar pemuda itu.
Malik menjeda ucapannya, ia seakan sedang menahan sesuatu untuk tidak keluar. "Yah, kamu ingat dengan orang yang minta untuk kamu tolong? Aku bertemu lagi dengan mereka, gadis yang aku tolong, kini aku menyukainya. Namun, aku merasa ada beban ayah. Masih tidak bisa mengiklhaskan jika meninggalnya ayah karena aku menolong mereka, apa aku salah?"
Tanpa Malik sadari, Susan sudah berdiri di belakang pemuda itu. Mendengarkan keluh kesah Malik, mengetahui jika ayahnya meninggal karena mereka, membuat Susan juga merasa bersalah.
"Jadi, itu alasan kamu mengabaikan semua pesan dan panggilanku?" tanya Susan tiba-tiba.
Malik terkejut mendengar suara Susan, ia langsung berdiri dan berbalik menatap gadis itu. Kini keduanya tampak saling tatap, manik mata mereka bertemu, sekilas terasa hening dan hanya ada suara desiran angin yang berembus menerpa dedaunan dan ranting.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Mengabaikan seolah aku ini tidak ada," ucap Susan mencoba menyelami isi hati Malik lewat tatapan matanya.
Malik mengalihkan tatapannya dari Susan, ia sedikit mengatupkan bibirnya dalam-dalam, tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata.
"Kamu tidak seharusnya di sini," ujar pemuda itu yang langsung berjalan melewati Susan.
"Aku akan ke Boston. Jika kamu mengabaikanku, maka aku akan benar-benar pergi!" teriak Susan yang membalikan tubuh untuk bisa menatap punggung pemuda itu.
Malik menghentikan langkahnya, kedua telapak tangannya terlihat mengepal di sisi tubuhnya. Ia menghela napas kasar, kemudian berkata, "Pergi jika itu bisa membuatmu bahagia."
Pemuda itu melanjutkan langkahnya, membuat Susan hampir menangis karena Malik tidak mencegahnya sama sekali seperti yang ia bayangkan.
"Oke! Aku akan pergi! Tapi, jika kamu menghindariku karena merasa kalau akulah penyebab kematian orangtuamu, aku minta maaf-." Susan berteriak kemudian menjeda ucapannya.
Mendengar kata yang keluar dari mulut Susan membuat Malik menghentikan langkahnya lagi.
"Jika kata maaf 'ku saja tidak cukup, kenapa tidak kamu bunuh saja aku agar puas, bukankah kamu menyesal karena telah menolongku?" Susan terisak, ia tidak menyangka akan mengucapkan kata itu karena merasa terabaikan.
"Jika nyawaku bisa membuat penyesalan itu hilang, maka aku terima! A-ku-." Susan terbata, ia lantas berlari kemudian berdiri di hadapan Malik, menatap pemuda itu dengan wajah yang sudah banjir air mata.
"Maaf dan terima kasih," ucap Susan kemudian yang langsung memberikan paper bag yang ia bawa dengan paksa, kemudian berlari meninggalkan pemuda itu dengan linangan air mata yang sudah menganak sungai di seluruh wajahnya.
Malik terkesiap, terutama ketika melihat gadis itu menangis. Ia membuka isi paper bag itu, di mana ada sebuah jaket yang ternyata adalah miliknya.
Mendengar suara deru mobil yang begitu kencang, membuat Malik terkejut. Ia berlari dan melihat mobil yang dikemudikan Susan sudah melaju dengan kencang.
Pemuda itu panik melihat Susan yang mengendarai mobil dengan menangis. Ia langsung masuk mobil dan tancap gas untuk menyusul gadis itu.
Malik mencoba menyalakan daya ponselnya, lantas menghubungi nomor Susan yang tidak mendapat respon dari gadis itu.
"Shit!! Maaf!" umpatnya sendiri karena tidak mendapat respon, masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa mengejar mobil Susan.
Di sisi lain, Susan tampak mengemudikan mobilnya dengan terisak, ia sesekali menyeka air mata yang terus luruh dari kelopak matanya.
Gadis itu melirik benda pipih yang berada di dasbord, terlihat Malik terus menghubunginya. Namun, entah kenapa Susan enggan untuk menjawabnya, takut jika kata yang akan ia dengar membuat perasaannya semakin kacau. Ia semakin mempercepat laju mobilnya.
"Angkat! Susan angkat!" Malik masih berusaha menghubungi Susan, berharap jika gadis itu mau menjawab panggilannya.
Melempar ponselnya ke kursi penumpang, Malik semakin menginjak pedal gasnya, mencoba menyalip mobil Susan agar bisa menghentikan gadis itu.
Kini mobil mereka saling menyalip, bak adegan kejar-kejaran di film action. Malik membuka kaca jendela pintu penumpang, ia menekan klakson berulang kali untuk menarik perhatian Susan.
"San! San, berhenti!" teriak pemuda itu.
Susan tidak menggubris, kini ia yang marah. Susan hanya melirik dan melihat pemuda itu masih mensejajari mobilnya, gadis itu tidak membuka kaca jendela mobilnya.
Malik masih tidak menyerah karena semua ini juga salahnya, sudah menyalahkan gadis itu atas kematian sang ayah. Bukan menyalahkan, tapi hanya merasa jika belum bisa menerima takdir yang ada.
Susan membuka kaca jendela, lantas ia berteriak, "Jangan mengejarku! Bukankah kamu tidak menginginkanku, hah! Pergi saja!"
"San! Berhenti dulu! Ayo bicara!" teriak Malik balik.
Susan masih belum mau bicara, ia menginjak pedal gasnya semakin dalam, membuat laju mobilnya lebih cepat dari Malik. Pemuda itu masih tidak menyerah, ia juga mempercepat laju mobilnya agar bisa menyalip dan menghadang mobil yang dikemudikan Susan.
Hingga tanpa mereka sadari, perempatan jalan terlihat di depan. Sebuah truk melaju dari sisi kanan, Susan yang menyadari hal itu berusaha menginjak pedal rem sekuat tenaga agar mobilnya bisa berhenti. Sama halnya dengan Susan, Malik yang menyadari kedatangan truk dari sisi yang berbeda juga terkejut, satu yang ada dipikirannya keselamatan Susan.
Sopir truk bak terbuka itu terkejut ketika ada dua mobil yang melaju sangat kencang dari sisi kirinya, pria yang mengemudikan truk itu panik, lantas menginjak pedal remnya dengan sedikit membanting stir ke kanan untuk menghindar. Namun nahas, sepertinya jarak yang terlalu dekat dan laju kedua mobil juga truk itu sama-sama tinggi, membuat benturan tidak terhindarkan.
BRAKK!!!!
_
_
_
_
Uhukkkk, bantu like dan komen ya, terima kasih 🙏🤗😋😋😋