sequel dari i love you om
Bagi Tasya cinta dan pernikahan cukup terjadi sekali dalam hidupnya, menikah dengan Arga Fransisco tidak pernah terbayang sekalipun di benaknya karena yang ia tau hatinya menyukai Kelvin Anggara namun ternyata ia salah hatinya sudah tertaut sejak lama untuk Arga, sejak ia di titipkan oleh sang papa kepada Arga atau sejak Arga mendonorkan darahnya untuk Sandra. Tasya tidak tau kapan cinta itu hadir, namun setelah cinta itu hadir begitu besar untuk Arga dalam pernikahan mereka, kasih sayang yang selalu Arga berikan ternyata banyak menyimpan kebohongan.
"Aku memang pernah terluka, tapi tidak akan pernah siap untuk terluka kembali."
~Tasya~
"Berhenti! jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
~Arga~
Sanggupkah Tasya bertahan atau memilih pergi meninggalkan Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu dimana?
Happy reading
********
Tasya menelusuri jalanan dengan perlahan, ia melangkah sesuai dengan kata hatinya, setelah ia menelpon Sandra bahwa ia akan pulang telat, dan mematikan handhonenya begitu saja saat sambungan telepon sudah tidak tersambung lagi. Saat ini, ia hanya ingin menenangkan hatinya, mungkin dengan membasahi tubuhnya dengan air hujan, rasa kecewanya akan hilang kepada Arga. Namun, tetap saja rasa kecewa itu menyapa telak setiap sudut hatinya, hatinya begitu sakit, saat ia juga pernah di merasa berada posisi seperti ini. Tasya tak tau dampak dari Arga bagi hatinya akan seperti ini, sungguh jika luka di hati bisa di lihat, mungkin hatinya saat ini sudah terluka parah. Tasya rersenyum miris, saat air hujan dengan derasnya membasahi tubuhnya bahkan handphonenya mungkin sudah tidak bisa di gunakan lagi, Tasya tak peduli, gadis itu tetap berjalan mengikuti langkah kakinya menyusuri jalan raya. Tubuh nya menggigil, namun Tasya tak merasakan apapun, seakan tubuhnya mati rasa dengan semuanya. Tasya benci Arga, ia benci lelaki pembohong yang hanya ingkar janji kepadanya. Ah, rasanya sangat aneh, Arga bukan siapa-siapa di hidupnya, tetapi mengapa rasanya sangat sakit?
Tasya menjatuhkan dirinya di pinggir jalan, ia menelungkupkan wajahnya melalui sela-sela kedua pahanya, tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Ah, dirinya tak boleh lemah seperti ini, hanya karena lelaki yang bukan siapa-siapa di hidupnya, bahkan bersama Kelvin saja, Tasya tidak pernah merasakan sesakit ini.
"Aku benci om Arga."teriak Tasya di bawah guyuran air hujan yang sangat deras. Tangannya memukul dadanya yang sangat sakit dan sesak sekali, Tasya Kembali bangkit dan melanjutkan langkahnya kembali, tidak ada lagi kendaraan yang lewat, hanya Tasya sendiri di sini. Namun, ia tak merasa takut sedikit pun, mungkin bagi orang dirinya sangat lebay. Namun, ia juga tak tau mengapa hatinya begitu rapuh, jika berkaitan dengan Arga.
*******
Arga menggenggam tangan seseorang yang sangat lemah, mata itu masih tertutup dengan rapat, bahkan dokter mengatakan jika kondisinya semakin lemah.
"Elena bangunlah, ku mohon."pinta Arga dengan lirih. Tubuhnya sama sekali tak beranjak dari ruangan Elena sedikit pun. Bahkan Arga melupakan makan siang dan malamnya. Arga menjatuhkan kepalanya di tangan Elena yang ia genggam, matanya terpejam, bibirnya pucat saat sepintas wajah bahagia Tasya memenuhi isi kepalanya.
"Tasya."gumam Arga yang baru mengingat jika ia melupakan janjinya kepada gadis itu, apa Tasya masih menunggunya di kampus gadis itu? Sungguh Arga sangat bodoh meninggalkan Tasya tanpa pesan sedikit pun, Arga mengecup kening Elena singkat, setelah bangkit dari duduknya.
"Aku pergi dulu."ucap Arga dengan panik keluar ruang ICU tempat Elena di rawat.
Bagai orang kesetanan, Arga mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, ia tidak memikirkan keselamatannya, yang ada di pikirannya hanya Tasya dan Tasya.
Matanya terus menelusuri jalanan, mencari-cari Tasya. Ah, Arga lupa, mengapa tidak menelpon gadis itu saja? Arga mengambil handphonenya, ia menghubungi nomor Tasya dengan hati yang begitu cemas.
"nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini, cobalah beberapa saat lagi."
Arga tak menyerah, ia terus menelpon Tasya, namun masih sama, suara operator lah yang menjawabnya, Arga membanting handphonenya begitu saja, sungguh Arga sangat khawatir dengan keadaan Tasya. Arga menghentikan mobilnya di kampus Tasya, hujan yang masih turun Arga abaikan begitu saja, tak peduli dengan baju nya yang akan basah, ia turun dari mobil, matanya mencari Tasya dengan tak sabaran.
"Tasya."teriak Arga dengan keras.
"Tasya."
"Kamu di mana?"
Merasa tak mendapatkan Tasya berada di kampus gadis itu, Arga mulai memasuki mobilnya kembali, menuju rumah Alex, mungkin gadis itu sudah pulang, di saat dirinya sangat lama datang. Membayangkan wajah kecewa Tasya membuat Arga merasa sangat bersalah.
Tak butuh waktu lama, Arga sudah sampai di rumah Alex, ia mengetuk pintu dengan tak sabaran. Hingga wajah Alex nya yang pertama kali ia lihat, saat pria itu yang membukakan pintu untuknya.
"Tasya, mana?"tanya Arga tak sabaran.
Alex mengeryit heran, bukannya Tasya bersama Arga, karena se-taunya Tasya meminta izin pulang telat, karena pergi bersama Arga. Dirinya tak salah dengar tadi, kan?
"Bukannya pergi bersamamu?"
"Tidak ada."
"Tadi dia mengatakan ingin pergi bersamamu, brengsek."
"Tasya tidak pergi bersamaku, memang iya awalnya aku berjanji akan mengajaknya ke rumah melihat taman yang ia tanam sendiri. Namun, aku ada kepentingan mendadak dan tidak jadi menjemputnya."
Alex menarik baju Arga dengan kuat, "Kau menyakitinya kembali, sudah berapa kali kau membuat Tasya kecewa? Katakan sudah berapa kali? Cari anak ku sampai ketemu, kalau tidak, kau tidak ku izinkan bertemu dengan Tasya kembali."ucap Alex dengan sangat marah mendorong tubuh Arga dengan sangat kuat dan menutup pintu rumahnya dengan sangat kencang, hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
"Kau dimana Tasya?"ucap Arga dengan sangat lirih. Ini semua salahnya, sekarang ia harus mencari Tasya kemana?
"Maafkan aku yang telah membuatmu kecewa untuk sekian kalinya."
********
Tubuh Tasya sudah sangat lemah, bibirnya sangat pucat, ia memandang pintu rumah mewah yang berada di depannya, Tasya mengetuk dengan sekuat tenaganya.
"Iya sebentar." dapat Tasya dengar suara yang berteriak dari dalam.
Ceklek.
"Siap...a?"
Bruk.
"Astaga Tasya."ucap seseorang itu dengan sangat panik saat melihat tubuh Tasya ambruk di depannya dengan wajah yang sangat pucat dan tubuh yang sangat dingin.
atsu adik sepupu