Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumit
Halo semuanya, emak hadir lagi dengan episode baru yang rasanya semakin rumit tapi masih tetap berharap kalian terhibur.
Enjoy!
Bagas menerobos rumah dengan tidak sabaran. Sepanjang perjalanan matanya menelisik seluruh jalan berharap dia dapat menemukan setidaknyaa mobil istrinya. Namun sampai diaa masuk ke dalam rumah jejak Alma sama sekali tak didapatinya.
“Re!” panggilnya dengan suara cukup keras.
Hening. Tak ada jawaban.
“Bagas!” Tiba-tiba suara dari arah belakang terdengar.
Bagas menoleh.
Di sana, Alma tampak kacau dengan lidah terjulur ke depan seperti anjing. Sepertinya Perempuan itu baru saja berlari cukup kencang.
“Kamu nggak apa?” tanyanya dengan nada super khawatir.
Alma tidak menjawab, melainkan perempuan itu masuk ke dalam rumah dan melempar dirinya ke sofa ruang tamu.
“Yonatan ngejar kamu?” tanya Bagas setelah beberapa saat membiarkan Alma mengatur nafasnya.
“Iya, astaga! Aku bahkan ninggalin mol-mol di depan kompleks masuk perumahan, bersembunyi, setelah mereka nggak ada aku memutuskan jalan kaki lewat jalur dua.”
Alma memulai ceritanya.
Tadinya perempuan itu pikir dia akan diculik atau semacamnya, akhirnya dia berpikir logis bahwa pak Yonatan hanya akan mencari tahu alamat rumahnya. Jadi dia memutuskan untuk menyembunyikan dengan keluar dari mobil dan meninggalkan mol-mol di depan kompleks.
Tenang aja, mobilnya sudah Alma kunci.
Tak lama berselang saat Bagas baru akan bertanya lagi, ponselnya berbunyi, dengan singgap laki-laki itu mengangkatnya dengan rahang mengetat dan amarah di wajahnya.
“Aku udah ngomong ke kalian jangan sampai perempuan itu menerobos sampai mengacau di keluargaku!”
Alma tersentak mendengar teriakan itu.
“Kalau sampai terjadi apa-apa sama keluargaku, katakan aku akan melenyapkan mereka semua!”
Bagas melempar ponselnya.
“Kamu nelpon siapa? Kok marah-marah gitu?” tanya Alma tiba-tiba.
Bagas menoleh dan baru sadar bahwa telah mendengar semua ucapannya.
“Miko, aku udah suruh dia cari orang buat jagain kamu, tapi nggak ada yang becus.”
“Eh? Tapi tadi kamu ngomong perempuan? Perempuan mana?”
Bagas tampak gugup.
Dia benar-benar keceplosan tadi.
“Eh? Bukan apa-apa. Kamu beneran nggak apa?”
Dengan cepat Bagas mengalihkan pembicaraan dengan sekali lagi menanyakan keadaan Alma.
“Ehh nggak apa-apa kok, cuman betis aku lelah.”
Bagas duduk dan mengambil kedua kaki Alma kemudian meletakannya di atas pahanya memijatnya pelan.
“Aku udah ngomong sebelumnya, lebih baik kamu resign aja dari sana. Yonatan itu berbahaya.”
Alma terdiam.
“Dia udah pernah khianatin aku dan aku benar-benar nggak percaya sama dia.”
Alma benar-benar tidak tahu selama 6 tahun ini Bagas punya sahabat semacam pak Yonatan. Padahal dia sudah cukup lama bekerja dengan Pak Yonatan. Meskipun dulu laki-laki itu sering keluar negeri setiap bulannya entah urusana apa, yang pasti itu urusan pribadi.
Tak ada dalam pikir Alma untuk resign dari sana.
Tapi sepertinya semakin hari Pak Yonatan semakin menjadi orang yang sama sekali tidak dikenalinya. Pak Yonatan yang harusnya baik dan ramah kini terasa sedikit menyeramkan. Baiklah dia akan memikirkan opsi resign yang diusulkan Bagas.
***
Bagas bangkit dari tidurnya saat merasa Alma sudah tidur pulas. Dia harus pergi menyelesaikan sesuatu malam ini sebelum semuanya terbongkar dan menjadi masalah dan kesalahpahaman.
“Maaf, aku benar-benar akan melindungi kamu,” ucap laki-laki itu lalu mengecup puncak kepala Alma sebelum beranjak keluar kamar mereka.
Oh iya untuk informasi kamar di rumah ini ada lima, tiga di lantai dua dan dua di lantai tiga. Kamar utama mereka ada di lantai 3 bersama dengan satu kamar yang dijadikan ruang kerja oleh Bagas Adiputra.
Sementara tiga kamar di bawah dikunci menggunakan password dan sidik jari Bagas. Awalnya Alma tidak setuju mereka sekamar, namun dengan berbagai alasan, bujukan dan rayuan akhirnya mereka tidur bersama. Hanya tidur oke.
“Halo, aku ingin bicara. Aku ke sana sekarang.”
Hal terakhir yang didengar Alma sebelum Bagas pergi.
Sedari tadi perempuan itu memang tidak tidur, ah lebih tepatnya belum bisa tidur. Pikirannya berkecamuk karena peristiwa hari ini. Apalagi mengingat keanehan yang ditunjukan Bagas. Entah apa itu, tapi Alma sangat penasaran.
***
“Aku udah ngomong ke kamu, jangan nemuin keluarga aku. Jangan coba-coba pergunakan Yonatan untuk itu. Cukup tante Yenla, Tania dan Mita yang kamu manfaatkan.”
“Tante? Kamu masih manggil tante? Sejak kapan ibu kandung kamu jadi tante kamu?”
Perempuan itu tersenyum miring.
Tidak mengira bahwa Bagas akan datang menemuinya secepat ini.
Tidak ada yang berubah, Bagas masih saja terlihat tampan sama tampan dengan Damian. Sifat mereka yang keras dan tak terbantah juga sama. Inilah mengapa Ganesa jatuh hati padanya.
“Nggak ada ibu kandung yang memberikan anaknya pada orang lain!”
Bagas berucap tenang, laki-laki itu menyesap segelas vodka. Menghadapi perempuan semacam Ganesa harus punya strategi unik.
“Perempuan itu cantik dan pemberani, tidak heran jika kamu dan Yonatan memperebutkannya. Padahal kukira Yonatan akan berakhir bersamaku dan bertanggung jawab terhadap aku dan Citra. Hingga dia menawarkan kamu yang langsung membuatku tertarik.”
Bagas nampak mengepalkan tangannya.
Mengingat peristiwa saat itu, dia benar-benar ingin membunuh seseorang. Lebih baik dia dipenjara daripada meninggalkan Alma sendirian saat itu.
Coba saja bukan anak Tante Yenla, coba saja dia memang anak mama dan papanya.
“Dengar Ganesa, kita sudah bercerai dan kisah itu sudah berlalu, kuperingatkan kamu jangan coba-coba mendekat ke areaku, aku tidak akan segan-segan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali,” tegas Bagas sebelum dia berbalik dan hendak pergi dari sana.
“Aku tidak akan berhenti Bagas. Tidak akan. Anak kita butuh ayahnya.”
Langkah Bagas terhenti.
“Anak Kita? Jangan bercanda Ganesa! Anak itu bahkan bukan milik kakakku.”
Ganesa terdiam dengan pelupuk mata yang berair.
“Harusnya kamu tahu, siapa yang harus bertanggung jawab atas anak itu!”
Setelahnya Bagas berbalik dan meninggalkan Ganesa yang sudah meraung dengan tangisannya.
***
Pagi yang cerah, Alma sudah siap dengan setelan kantornya.
“Setelah kejadian semalam kamu masih berani ngantor pagi ini?” tanya Bagas dengan nada tidak suka melihat istrinya yang sudah cantik bersama dandanannya pagi itu.
“Setidaknya Pak Yonatan harus tahu bahwa aku bukan perempuan lemah!” balas Alma.
“Tap-“
“Jangan lebay deh, ada Riando juga di sana,” potong Alma yang tak ingin mendengar kata-kata lagi dari bibir Bagas.
Pagi ini, dia tidak ingin bertengkar.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Alma yang masih mengunyah makanan melirik Bagas dan memberi kode agar laki-laki itu saja yang membukakan pintu.
Dengan langkah malas Bagas membuka pintu.
“PAPA!” teriak seorang bocah perempuan yang langsung menghambur dalam pelukan Bagas setelah laki-laki itu membuka pintu.
Teriakan itu cukup keras sehingga sampai di telinga Alma, perempuan itu memiringkan lehernya untuk melihat siapa yang baru saja berteriak itu.
Eh siapa itu?
Alma tampak tidak asing dengan bocah perempuan itu.
“Citra?” ucapnya kaget.
“Tante Alma!” pekik bocah perempuan itu girang.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Alma sembari menunduk mensejajarkan tinggi dengan anak itu.
Sementara Bagas melongo. Tidak mengira bahwa Citra dan Alma akan saling kenal. Di mana mereka bertemu? Sementara selama ini Citra berada di spanyol bersama Ganesa.
“Aku mau nemui papa,” jawabnya polos.
“Papa? Papa kamu di mana?”
“Ini papa aku,” bocah itu merangkul lengan Bagas.
“Eh?”