NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUMPAH DARAH DAN PENYESALAN.

"Sampai kapan kau akan menjadi hakim untuk dosa yang tidak pernah dia perbuat, Maheer?"

Langkah kaki Maheer Arasyid terhenti di lorong rumah sakit yang dingin. Ia menoleh perlahan, menatap kakaknya, Muzammil, dengan sorot mata yang sarat akan kebencian. "Buktinya sudah cukup jelas, Kak. Assel itu ular. Dia memanfaatkan kita, dan kau adalah korban paling bodoh karena mau menikahinya."

Muzammil mendekat, wajahnya tenang meski dadanya sesak. "Kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat. Teman-temanmu itu memfitnahnya karena dia miskin. Mereka tidak suka Assel berada di lingkaran kalian sejak SD. Aku punya bukti bahwa mereka yang menjebaknya, Heer."

"Bukti apa? Foto dia bersama pria lain di belakang sekolah itu palsu? Aku melihatnya dengan mataku sendiri!" Maheer mendengus sinis. "Berhentilah membela wanita itu. Karena dia, aku memilih pergi ke luar negeri. Aku muak melihat wajahnya di rumah kita."

"Maheer, tolong buka sedikit hatimu. Assel adalah istriku sekarang. Dia ibu dari keponakanmu."

"Dia hanya jembatan untuknya naik kasta, Kak. Jangan naif."

Perdebatan itu tertahan ketika mereka sampai di depan pintu ruang VVIP. Muzammil menghela napas, mencoba meredam emosi sebelum membuka pintu. Di dalam ruangan, seorang wanita paruh baya terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.

"Mama," panggil Maheer. Suaranya melunak seketika.

Wanita itu membuka mata. Air mata langsung mengalir di pipinya yang mulai keriput. "Maheer? Benarkah ini kau, Nak?"

Maheer berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Iya, Mah. Maheer pulang."

"Jangan pergi lagi. Ibu merindukanmu. Muzammil selalu menjagaku, begitu juga Assel. Kau tahu, Nak? Kau sudah punya keponakan yang sangat lucu. Razka sangat mirip dengamu saat kecil," ucap Ibu dengan suara bergetar bahagia.

Wajah Maheer yang semula lembut mendadak kaku. Mendengar nama Assel dan anaknya disebut di momen haru ini terasa seperti siraman air keras di atas luka lamanya. Ia melepaskan genggaman tangan ibunya secara perlahan.

"Maaf, Mah. Sepertinya Maheer butuh udara segar," ujar Maheer ketus.

"Tapi Maheer, Mama baru saja..."

Maheer tidak menghiraukan panggilan ibunya. Ia berdiri dan melangkah lebar meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi. Rasa muak menyumbat tenggorokannya. Mengapa semua orang di rumah ini seolah telah dicuci otak oleh wanita bernama Assel itu?

"Maheer! Berhenti!" Muzammil mengejarnya ke lorong, lalu menahan bahu adiknya dengan kuat.

"Lepaskan, Kak!"

"Jangan karena amarahmu yang salah tempat pada Assel, kau sampai mengecewakan Mama yang sedang kritis! Dia merindukanmu selama lima tahun ini!" tegur Muzammil dengan nada tinggi.

Maheer menyentak tangan kakaknya. "Amarahku tidak salah tempat. Kalianlah yang salah karena membiarkan wanita itu masuk ke keluarga kita. Aku pulang untuk Mama, bukan untuk mendengarkan dongeng tentang kebaikan istrimu."

"Kau keras kepala! Suatu saat kau akan menyesal karena telah membenci orang yang paling tulus pada keluarga kita."

"Aku tidak akan pernah menyesal membenci seorang pengkhianat!"

Maheer berbalik dan berlari menuju area parkir. Pikirannya kalut. Bayangan masa SMA, di mana teman-temannya menunjukkan betapa "busuknya" Assel, terus berputar seperti kaset rusak. Ia merasa dikhianati oleh lingkungan dan keluarganya sendiri.

Langkah Maheer begitu cepat menyeberangi aspal parkiran yang panas. Ia tidak memperhatikan sekeliling. Ia hanya ingin masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraan itu sejauh mungkin dari aroma rumah sakit ini.

"Maheer! Awas!"

Suara teriakan Muzammil membelah udara. Maheer tersentak, namun terlambat. Sebuah SUV hitam melaju kencang tanpa kendali, mengarah tepat ke arahnya. Ia terpaku, kakinya seolah tertanam di tanah. Kematian hanya berjarak beberapa inci darinya.

Bruk!

Satu dorongan kuat menghantam tubuh Maheer hingga ia terpental beberapa meter ke samping. Maheer jatuh tersungkur, merasakan perih di siku dan lututnya. Namun, suara yang menyusul kemudian jauh lebih mengerikan. Bunyi hantaman logam yang beradu dengan tubuh manusia.

Maheer bangkit dengan tubuh bergetar. Dunianya seolah berhenti berputar saat melihat pemandangan di depannya. Kakaknya, Muzammil, tergeletak di aspal dengan posisi yang tidak wajar. Darah merah segar mengalir deras, merembes di bawah tubuh yang biasanya tegap itu.

"Kak Muzammil!" Maheer menjerit parau.

Ia merangkak mendekat, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Ia mengangkat kepala kakaknya ke pangkuannya. Aspal yang semula abu-abu kini berubah menjadi merah pekat.

"Kak? Bangun, Kak! Kenapa kau lakukan ini?" tangis Maheer pecah.

Muzammil terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Matanya sayu, menatap Maheer dengan sisa-sisa kesadaran. "Heer... maafkan... aku..."

"Jangan bicara! Seseorang, tolong! Medis! Cepat ke sini!" Maheer berteriak liar, air matanya jatuh membasahi wajah kakaknya yang mulai pucat.

"Jaga... Assel... dan Razka," bisik Muzammil parau. Cengkeraman tangannya di baju Maheer terasa lemah namun mendesak. "Lindungi mereka... berjanji padaku..."

Penyesalan menghimpit dada Maheer hingga ia sulit bernapas. Hanya beberapa menit yang lalu ia membantah kakaknya, memakinya, dan mengabaikan nasihatnya. Kini, orang yang paling menyayanginya itu sedang meregang nyawa hanya demi menyelamatkan nyawanya yang keras kepala.

"Aku janji, Kak. Aku janji! Tapi tolong bertahanlah," raung Maheer.

Muzammil tersenyum tipis. Sebuah senyuman terakhir sebelum matanya perlahan menutup dan tangannya terkulai lemas di atas aspal yang bersimbah darah.

"Kak? Kak Muzammil!"

Hening. Muzammil tidak lagi bernapas. Maheer memeluk jasad kakaknya dengan erat, meraung dalam kehancuran. Di kejauhan, orang-orang mulai berkerumun dan petugas medis berlarian. Namun, bagi Maheer, semuanya sudah terlambat.

Ia membenci Assel, namun kini ia terikat sumpah darah untuk menjaga wanita itu. Ia membantah kakaknya seumur hidup, dan sebagai gantinya, kakaknya memberikan nyawanya.

"Kenapa harus kau yang pergi, Kak? Kenapa bukan aku saja?" bisik Maheer di tengah isak tangisnya.

Matahari siang itu terasa membakar, namun hati Maheer membeku. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya. Ada mahar luka yang harus ia bayar. Dan wanita bernama Assel Salsabila, musuh bebuyutannya, kini adalah beban sekaligus tanggung jawab yang harus ia pikul seumur hidupnya.

Maheer mendongak, menatap gedung rumah sakit dengan mata merah yang menyimpan badai. Di balik kepedihan itu, satu hal yang pasti: hidup Assel dan hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Pernikahan bukan lagi tentang cinta, melainkan hutang nyawa yang harus ditebus dengan air mata.

1
partini
lebih tau agama hemmm pintar kamu her
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih kesempatan dah langsung nyosor aja tuh 🤭🤭🤭lanjut thorr😍😍
Lia siti marlia
ok maherr ...semangat up nya thorrr💪💪💪😍
Radya Arynda
semangaaaat up💪💪💪💪
Nifatul Masruro Hikari Masaru: selamat berjuang
total 1 replies
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!