Read this prequel novel first : AKU HARUS BAIK
Berdasarkan kisah nyata atau tidaknya itu terserah bagaimana kalian mempercayainya
18 tahun keatas untuk bisa memahami cerita
Novel ini khusus buat yang open minded
[Peringatan : Diharapkan bisa dalam berpikir dua sudut pandang dan berpikir majemuk sebelum membaca]
[Dukung terus author dengan like, komen, vote, favorit, dan share. Terimakasih]
Ini cerita tentang suatu keharusan kita dalam berperan jahat, bahwa kejahatan dirasa adalah hal yang terbaik dan perlu dilakukan saat itu juga.
Tidak peduli sekeras apapun kita mencoba dalam menghindarinya, pastilah akan ada seseorang yang memang harus berperan jahat didalam kehidupan kita
Dan,
Inilah aku sekarang.
Aku Harus Jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon After.Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 - Jawaban Dari Perasaan
"Nik" ucap Safira
"Ceritain tentang dirimu. Aku pengen tahu, lagian, selama ini aku yang cerita terus. Gantian" ucap Safira
Aku menoleh kearahnya, "Kamu pengen denger? Bentar"
Aku menatap lurus kedepan, dan menghembuskan nafasku, "Kakek dari ibuku itu tentara, terus kakek dari ayahku itu polisi, singkat cerita ibu sama ayahku ketemu dan jadilah aku itu anak kedua dari tiga bersaudara. Disinilah aku sekarang"
"Selesai" tambahku
"Ngeselin. Cerita yang lengkap" ucap Safira
Aku hanya terdiam,
"Penasaran" ucap Safira
"Males aku cerita. Biar penasaran terus" ucapku
Safira menatapku lekat, "Kamu susah banget aku ngertiin. Semua yang kamu lakuin itu ngebuat aku tertarik. Kamu banyakan diem. Jarang ngomong, tapi, sekali ngomong itu bermakna"
"Tanpa kamu sadari" ucap Safira
"Beneran" tambahnya
Safira terus menatapku. Aku membalikkan badanku karena dia terus menatapku, kupikir, semua orang yang dilihatnya juga melakukan hal sama denganku, tatapan matanya itu membuat siapapun tenggelam dalam pesonanya, bahkan sampai orang itu melupakan dirinya sendiri disaat melihatnya. Begitulah. Safira yang terdiam saja mengundang seseorang untuk berniat mendekatinya, dan aku tidak bisa menghitung berapa orang yang sedang, pernah, ataupun ingin mendekatinya, kemudian muncul pertanyaan dihatiku yang terus menanyakannya, kenapa perempuan secantik dirinya itu memilihku, padahal ada banyak sekali orang yang mendekati, atau, malah ada yang sudah pernah mempunyai suatu hubungan dengannya.
Entahlah,
Mungkin aku berpikir.
Safira harusnya memilih orang lain yang jauh lebih baik daripada aku, dan menunggu orang sepertiku hanyalah membuang banyak waktunya, karena aku masih dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk bersama dengannya, terkadang, ungkapan waktu yang akan menjawab segalanya itu menurutku ada benarnya, waktu seakan ingin menguji seberapa lama kita bertahan menghadapinya, lalu, dia akan memberikan jawabannya dengan sukarela disaat kita sudah bertahan melampaui batas. Dipermainkan. Aku bukannya terbayang oleh masa lalu, tapi, aku hanya takut mengulangi kesalahan yang sama, kemudian dunia inipun tidak membuatku seakan menjadi tertarik menjalaninya, dan setiap hari rasanya itu kulewati begitu saja, tanpa adanya sesuatu yang membuatku terkesan, atau memang aku yang sudah mati rasa terhadap apapun dikehidupan.
...Semakin lama kita terus menunggu,...
...Semakin pula sedikit harapan yang kita miliki...
"Nik" ucap Safira
Aku menoleh kearahnya, dan menatapnya lekat,
Safira tersenyum manis, "Awalnya. Padahal aku gak mau ngelakuin, tapi, kamu itu udah ngebuat aku ngerasa hidup, makanya, aku mutusin buat ngungkapin perasaanku. Maksudnya. Aku cuman gak mau jadi cewek yang bisanya itu nunggu, dan gak ngelakuin apapun, tapi, berharap hidup bahagia sama orang yang kita sukai, gimana semuanya itu bisa terwujud kalau akunya gak ngusahain"
"Safira" ucapku
Aku menatap kosong, dan tersenyum simpul, "Mending kita temenan. Semua yang kita paksain itu berujung gak baik, dan jangan kamu ngerasa bersalah, sepenuhnya itu diakunya yang salah"
"Barusan aku ditolak?" ucap Safira
Safira menangis perlahan, "Yaudah kita temenan. Tapi. Aku gak mau bohongin perasaanku, walaupun kita temenan aku bakalan tetep nyimpen perasaan dihatiku, aku mau nunggu kamu sampai kapanpun. Cuman masalah waktu sampai kamu nerima"
"Aku jujur itu" ucap Safira
Ada beberapa hal yang memang tidak bisa kulakukan, dan menyembunyikan perasaan didepan orang lain adalah satu dari sekian banyak contohnya, misalnya aku sedang tidak menyukai seseorang, maka, aku pasti akan menunjukkan kepadanya betapa ketidaksukaanku secara langsung. Begitulah. Aku tidak bisa menghentikan perasaan seseorang terhadapku, karena itu adalah haknya dan satu hal yang kubisa hanyalah menyatakan sikapku atas semuanya, tapi, disaat seseorang itu memilih untuk tidak mengubah perasaannya kepadaku, artinya seseorang itu mengetahui betul tindakan yang dilakukannya terhadapku.
Safira.
Bukannya aku menolak.
Aku hanya tidak mengerti harus bagaimana untuk mengambil suatu keputusan, dan hanya maaf itulah yang kuharap bisa menjelaskan semua kepadanya, aku tidak bisa menjabarkan perasaan itu dengan rangkaian kata yang membentuk kalimat, maka dari itu, aku cenderung lebih banyak terdiam, daripada aku yang mencoba untuk mengatakan apa yang terjadi dengan buruknya penjelasanku. Pilihan yang terbaik. Diam adalah hal yang mudah dilakukan saat kita tidak mengerti harus bagaimana, tapi, disaat kita melakukannya secara berlebihan, maka kita harus siap untuk menerima apapun yang terjadi, serta, tidak diperbolehkan menyalahkan siapapun nantinya, karena saat itu kita seakan dianggap mengabaikan apa yang sedang terjadi, tidak peduli kita yang mungkin sedang memikirkan suatu rencana.
"Kadang aku ngerasa" ucap Safira
Safira menunjuk langit, dan tersenyum simpul, "Pastinya gak akan asyik, kalau, dari awal kita udah tahu gimana tujuan akhirnya. Makanya. Aku gak mikirin kita nantinya kayak gimana"
"Penasaran" ucap Safira
Terlihat dengan jelasnya. Siapapun pasti akan kecewa saat harapannya tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, dan wajahnya menyiratkan semuanya, tidak peduli sekeras apapun dia berusaha menyembunyikannya dengan senyuman, ataupun, tawa yang ditunjukannya kepadaku. Tetaplah aku merasakan. Safira mengikat rambutnya, kemudian berjalan menuju dapur, lalu, aku memilih untuk duduk mengamatinya yang akan memasak, dan begitulah sifatnya, aku yang datang kekosannya seringkali dimasakkan olehnya, padahal aku pernah mengatakan kepadanya agar tidak perlu melakukannya, karena aku tidak ingin merepotkannya setiap kali datang kekosannya.
Tidaklah aku mengerti,
Benar.
Sengaja. Aku belum terlalu mengenal Safira, dan justru itulah yang membuatku seakan terus penasaran tentangnya, mencari keseluruhan informasi dari seseorang itu adalah kegiatan yang melelahkan, karena sedekat apapun kita dengan seseorang itu pastilah tidak akan pernah bisa mengerti sepenuhnya tentang dirinya. Mengertilah. Safira meletakkan piring berisi sosis, nugget, serta mangkuk berisi sup dimeja makan, kemudian menuang air kegelasku, dan seperti aku biasanya, aku merasa sudah banyak merepotkannya setiap kali datang kekosannya, tapi, raut wajahnya itu seakan terlihat kecewa disaat aku pernah menolak untuk memakan apa yang sudah dimasaknya, makanya, jadilah aku sekarang dengan senang hatinya memakan semua masakannya, sedangkan dia yang berada disampingku hanya terdiam. Safira menopang dagunya.
"Kayaknya enak banget. Minta" ucap Safira
Aku langsung menyuapkannya, dan melanjutkan kembali makanku,
Safira beranjak dari tempatnya, lalu, berjalan pergi meninggalkanku, "Habisin. Semuanya aja gakpapa"
"Aku dikamar aja" tambahnya
kak thor ngulang baca lagi 🤗 setelah pernah usai
kan gelap....